"Nanti Ibuk akan tahu sendiri." "Tapi kita mau ke mana, Yah." "Nanti Ibuk akan tahu jawabannya." Mengendus ada sesuatu yang tak beres, setan itu mulai meronta di pangkuan Ibuk. Ia nampak sangat marah. Namun di saat yang bersamaan juga tidak berdaya karena sakit kontraksinya. "Ramda ... kamu kenapa, Nak? Ramda kamu baik-baik aja, sayang?" Rasa khawatir Ibuk bertambah berkali lipat. Ia pikir Ramda seperti itu karena sakit Kontraksinya semakin parah. Sementara kami semua tahu setan itu sedang mencoba membuat sebuah perlawanan. "Ayah, ayo cepat yah. Ibuk nggak tahu pertolongan apa yang ayah maksud. Tapi apa pun itu, ayo cepat. Ibuk udah nggak sanggup lihat Ramda kayak gini." "Iya, Buk. Kita sedang menuju ke sana. Ibuk yang tenang, ya. Sabar." Setan itu meronta lagi. Jika sanggup mungki

