Ancaman Rukmini

1163 Kata

"Itu untuk apa, Pak Herman?" Saya spontan bertanya. "Kita ke sana dulu. Nanti kamu akan tahu. Kita harus bergegas sebelum dia mengetahui kita ada di sini." "Baik lah kalau begitu." Kami berjalan cepat menuju pohon besar itu. Namun kami berusaha tak membuat suara. Jadi kami memperhatikan langkah dengan begitu teliti. Takut menginjak daun kering atau sampah plastik yang menimbulkan bunyi. Ah, sebenarnya itu khusus untuk Herman. Karena hanya dia yang berwujud nyata sebagai manusia seutuhnya. Saya dan Lazuardi tentu tidak akan terdengar langkah kami. Hanya saja saking tegangnya kami turut melakukan hal sama. "Assalamualaikum." Herman mengucap salam ketika pertama menunjukkan bahwa dirinya telah datang. Setan itu seketika berhenti berteriak kesakitan. Ia fokus menatap Herman. Ia juga meli

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN