Tersenyum Tipis

1004 Kata

"Tadi kamu bercerita pada Ibu dan Bapak perihal tempat yang indah ...." Herman belum melanjutkan kata-katanya. Mungkin ia sedang sibuk mengontrol suasana hatinya sendiri. Kini saya pun men gerti kenapa Herm an nampak begitu sedih. Saya telah mengerti sumber dari kesedihannya. Rupanya karena itu. "Apa itu benar? Kamu telah bertemu dengan ... dengan ... Nina dan Hanin. Lantas ... kenapa kamu tidak pernah bercerita pada saya ?" Herman urung menatap sa ya. Terhitung sejak di rumah Bu Marsin ah dan Pak Parjo. Semenjak saya bercerita tentang sala m dari Nina untuk mereka. Herman memang sama sekali tak bicara pada saya. Saya seharubsnya meny adari itu semua lebih awal. "Ya ... benar. Saya memang bertemu dengan mereka, Pak. Saya bahkan bicara dan berinteraksi singk at dengan mer eka. Maaf ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN