BAB 1 PACAR ONLINE KU YANG SEMPURNA

1049 Kata
Hidupku, sebelum mengenalnya, bisa digambarkan dengan satu kata: biasa. Bangun pagi, kerja dari jam delapan sampai lima, pulang ke kosan, nonton drama, tidur. Ulangi besok. Begitulah hidup seorang Lara Ardelia, usia 24 tahun, staf administrasi di perusahaan agensi digital bernama ArkaVision yang terletak di pusat Jakarta. Namun semuanya berubah ketika aku membuka satu aplikasi chat online yang awalnya hanya iseng kuinstal karena rekomendasi Rani, temanku sekamar kos. "Siapa tahu dapet jodoh, Ra! Lagian kamu terlalu banyak nonton drama Korea, udah waktunya ngerasain drama sendiri!" Kalimat itu awalnya hanya mengundang tawa, tapi malam itu, aku benar-benar iseng membuat akun. Tanpa foto. Tanpa nama asli. Hanya username sederhana: MoonDaisy24. Tak butuh waktu lama sampai aku menerima pesan pertama dari seseorang bernama LeonHeart. > "Hai. Namamu manis. Aku suka bunga daisy." Itu awal dari semuanya. Entah kenapa, obrolan dengannya mengalir begitu saja. Tak seperti pria lain yang langsung menanyakan penampilan atau menyinggung hal-hal pribadi, Leon justru mengajak ngobrol seperti teman lama. Ia mendengar curhatku soal pekerjaan, bertanya tentang mimpi masa kecilku, bahkan mengomentari lagu-lagu kesukaanku di playlist Spotify. Satu minggu... dua minggu... satu bulan... dua bulan... Rasanya aku sudah kenal dia bertahun-tahun. --- “Aku suka cara kamu menjawab pertanyaan,” tulis Leon suatu malam. “Hah? Jawaban kayak gimana?” “Kamu nggak pernah jawab asal. Selalu jujur, dan terasa... manusiawi. Aku nyaman ngobrol sama kamu, Lara.” Aku terdiam membaca pesan itu. Di layar ponsel, balasannya selalu cepat, tapi tak pernah memaksa. Tak pernah mengganggu. Ia selalu hadir dengan kalimat-kalimat hangat yang membuat hati tenang. Ia tidak pernah mengirim fotonya. Dan aku tidak pernah bertanya. Karena tanpa sadar, aku mulai jatuh cinta. Bukan pada wajah, bukan pada gaya hidup, tapi pada bagaimana dia membuatku merasa berarti. Didengar. Dimengerti. --- Hari-hariku di kantor masih membosankan. Bos lama kami pensiun, dan perusahaan tengah menunggu CEO baru yang katanya masih muda tapi “super galak dan perfeksionis.” Rumornya, dia lulusan luar negeri, ganteng, kaya, dan dingin. Rani sampai bilang, “Dia lebih ke karakter bossy CEO di drama Korea sih. Tapi sayang, kayaknya nggak mungkin ngelirik staf biasa kayak kita. Siap-siap dimarahin aja!” Aku hanya tertawa. Karena pikiranku sedang tidak di kantor. Tapi di chat Leon. Suatu malam, aku iseng bertanya: “Kalau kamu punya kesempatan ketemu aku, kamu mau ketemu?” Balasannya sedikit lama dari biasanya. Tapi akhirnya masuk. “Aku ingin sekali ketemu kamu. Tapi aku takut. Kalau kamu tahu siapa aku sebenarnya, mungkin kamu nggak akan suka.” Aku terdiam. Kalimat itu terasa berat. Tapi juga... misterius. “Kenapa? Kamu pembunuh bayaran ya? Atau punya istri di tujuh negara?” Leon membalas dengan emoji tertawa. “Enggak. Aku cuma seseorang yang sedang mencoba mencari tempat untuk jadi dirinya sendiri, tanpa label, tanpa ekspektasi.” Aku tidak mendesaknya. Karena kupikir, jika saatnya tiba, dia akan terbuka. --- Hari Senin pagi, suasana kantor berubah drastis. Semua berdandan lebih rapi. Makeup lebih tebal. Suara ketikan keyboard lebih cepat dari biasanya. “Dia datang hari ini!” bisik Rani setengah panik. Dan benar saja. Pukul sembilan tepat, pintu kantor terbuka. Pria itu masuk dengan langkah tegas. Jas hitam pas badan. Rambut rapi. Wajah serius. Sorot mata tajam. Aura yang menyelimuti tubuhnya begitu dingin, tapi... karismatik. Aku nyaris tak bisa bernapas saat melihat wajahnya. Karena aku... pernah melihat senyum itu. Walau hanya dalam imajinasi. Namanya Leonardo A. Raditya. CEO baru. Dan entah kenapa, setiap kalimat yang ia ucapkan... terdengar familiar. Tatapan itu. Nada bicaranya. Bahkan ekspresi sinisnya yang tersembunyi... semuanya mengingatkanku pada seseorang. Tapi tidak. Itu tidak mungkin. Leon tidak mungkin dia. Leon bilang dia kerja remote. Freelancer. Kalem. Lucu. Hangat. Sedangkan pria ini... adalah es batu berjalan. Namun... Saat makan siang, ponselku bergetar. Leon ❤️ "Kamu pasti lagi pusing banget hari ini. Aku bisa ngerasain, sayang. Jangan terlalu keras sama diri sendiri, ya. Kamu pasti bisa." Aku menatap layar itu lama. Tak ada satu pun orang yang tahu aku sedang tertekan karena CEO baru. Bahkan Rani pun tak tahu betapa gugupnya aku sejak pagi. Tapi Leon tahu. Dan entah kenapa... firasatku semakin menguat. --- Hari-hari selanjutnya, rasa curiga itu terus tumbuh. Leonardo tidak pernah bicara langsung padaku, tapi ia beberapa kali melihat ke arahku saat rapat. Saat aku lupa membawa dokumen, ia hanya berkata pelan, “Besok lebih hati-hati.” Sikap yang kontras dengan rumor kejamnya. Di malam hari, Leon tetap jadi pelipur lara. Kata-katanya tak pernah berubah. Ia tahu aku suka hujan. Ia tahu aku takut petir. Ia tahu aku punya adik laki-laki di Surabaya. Bahkan ia tahu aku suka nasi goreng tanpa telur. Tapi bagaimana bisa orang asing tahu sedetail itu... jika dia tidak pernah melihatku langsung? --- Suatu malam, aku nekat mengirim pesan. “Leon, kamu punya waktu buat ketemu aku?” Lama tak dibalas. Hatiku penuh debaran. Akhirnya, satu pesan masuk. “Sabtu malam. Café Indigo jam tujuh. Aku akan tunggu kamu.” Tanganku gemetar saat membaca pesan itu. Aku tak tahu harus senang atau takut. Tapi satu hal yang pasti: malam itu akan mengubah segalanya. --- Hari Sabtu tiba. Aku memakai dress biru navy yang sederhana. Rambut digerai. Sedikit lipstik. Aku berdiri di depan café itu lima menit sebelum jam tujuh. Dan tepat pukul tujuh, langkah kaki familiar datang menghampiri. Dia mengenakan kaus hitam. Jaket denim. Dan senyum... senyum hangat yang hanya satu orang pernah berikan padaku. “Lara?” Aku hampir tak bisa bicara. Mulutku terbuka. Tapi suara tercekat di tenggorokan. Leonardo. Atau... “Leon?” bisikku. Ia tersenyum. “Akhirnya aku bisa bilang langsung. Ya. Aku Leon.” Aku duduk lemas. Dunia rasanya berputar. Tapi bukan karena kecewa. Justru karena lega. Karena setiap firasatku... benar. “Kenapa... kamu sembunyikan semua ini?” Leonardo menatapku serius, tapi hangat. “Karena kamu adalah satu-satunya orang yang melihat aku... sebagai aku. Bukan sebagai CEO. Bukan sebagai bos. Tapi sebagai pria yang kesepian, yang butuh tempat pulang.” Aku menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena aku tahu... aku menemukan rumah di balik layar ponsel itu. --- Hari-hari berikutnya menjadi kisah rahasia yang manis. Di kantor, aku tetap staf biasa. Ia tetap bosku. Tapi di malam hari, kami kembali menjadi Lara dan Leon, dua jiwa yang terhubung lewat kejujuran dan rasa saling percaya. Cinta... ternyata bisa hadir di tempat yang tak terduga. Dan pria yang kukira terlalu sempurna untuk jadi nyata... ternyata nyata adanya. --- Akhir Bab 1 ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN