Sikap Devan membuat Vania semakin kebingungan, gadis itu pun memilih diam, dari pada harus sakit hati karena merasa diabaikan. Tidak ada percakapan, bahkan sampai di apartemen pun Devan masih bersikap dingin.
"Aneh," ucap Vania dengan menatap punggung Devan yang terus berjalan semakin jauh menaiki anak tangga menuju kamarnya.
~~~~
Kediaman keluarga Atmaja yang saat ini waktu Jakarta menunjukan pukul tujuh pagi, bahkan Burhan saja baru masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Anna saat ini sedang memilah-milah baju kerja suaminya di depan lemari.
Terlihat ia menimang-nimang antara kemeja berwarna abu, atau kemeja berwarna hitam yang akan ia pilih untuk dikenakan oleh suaminya yang masih terlihat masih sangat tampan dengan postur tubuh seperti aktor terkenal yang bermain dalam film IMPOSIBLE.
"Sepertinya warna abu lebih menawan." Anna bicara sendiri.
Saat Anna meletakkan baju kerja Burhan di atas tempat tidur, saat itu juga ponsel milik Burhan yang kebetulan ada di sana berdering, terlihat Hani selaku sekretaris Burahan mengirim sebuah gambar yang entah gambar apa.
Baru saja Anna akan memeriksa, Burhan keluar dari kamar mandi, sehingga Anna pun mengurungkan niatnya, lalu meletakkan kembali ponsel itu di tempat semula.
"Baju ayah udah disiapin, Bun?" tanya Burhan sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, menghampiri Anna.
"Sudah, Yah," jawab Anna singkat,
Burhan memakai baju yang sudah disiapkan, lalu keluar dari kamar menuju ruang makan. Beruntung ia tidak membawa ponselnya, sehingga Anna pun dengan leluasa memeriksa pesan yang belum sempat ia buka.
Surat perjanjian jual beli Apartemen, atas nama Vania Atmaja.
Rahasia yang Burhan tutup-tutupi dari sang istri akhirnya terbongkar, setelah membuka pesan dari Hani selaku sekertaris suaminya.
Sejak awal Anna tidak setuju kalau Vania melanjutkan pendidikan di negeri orang, apa lagi tinggal di apartemen sendirian, dan kekhawatirannya terbukti dengan terjadinya beberapa insiden yang hampir saja mencelakai putrinya.
Maka, saat melihat bukti kalau Vania sudah membeli apartemen baru, Anna sangat marah, ia menghampiri Burhan sambil membawa ponselnya sebagai bukti kalau-kalau Burhan menyangkal.
"Maksudnya apa ini?" tanya Anna dengan kening mengerut, memasang wajah marah.
Burhan menoleh sambil mengunyah. Saat ia melihat apa yang Anna tunjukan, sketika itu juga ia menyemburkan isi makanan yang sedang ia kunyah, karena terkejut rahasianya diketahui oleh sang istri.
"Ayah apa-apaan sih?" Anna mendengus, sambil membersihkan baju yang terkena semburan, meletakkan ponsel itu di atas meja makan.
"Maaf, Bun. ayah nggak sengaja." Burhan berdiri, membantu Anna membersihkan bajunya, akan tetapi langsung mendapat penolakan.
"Awas ah!"
"Galak banget, Bunda. Ayah kan cuma mau bantu."
"Nggak perlu, nanti pegang-pegang yang lain," ketus Anna masih kesal, .embuat Burhan terkekeh sambil mencubit pipi sang istri, karena gemas.
"Bisa aja, Bunda."
"Udah, Ayah jangan mengelak dari pertanyaan bunda. Ini apa maksudnya? putri kita beli apartemen lagi? dia mau tinggal sendiri? Ayah mau putri kita diganggu berandalan lagi? Ayah mau putri kita kenapa-kenapa?"
Burhan dihujani pertanyaan, dan ia hanya diam, menunggu sampai Anna berhenti bertanya.
"Ayah jawab dong, kenapa diem aja?" geram Anna, lalu Burhan menuntun Anna untuk duduk di kursi agar lebih tenang, dan menyimak penjelasan darinya dengan khidmat.
"Sudah bicaranya?" tanya Burhan bijak, Anna bergeming dengan deru nafas yang memburu menahan kesal.
"Dengarkan ayah! putri kita merasa tidak nyaman tinggal bersama Devan." Burhan berkata sambil menggenggam erat tangan Anna juga menatap wajahnya lekat-lekat.
"Kenapa?" tanya Anna.
"Awalnya putri kita merasa tidak enak, karena Devan sering bertengkar dengan Megan, ditambah lagi sekarang mereka sudah berpisah, putri kita semakin tidak nyaman," ungkap Burhan.
"Kenapa nggak nyaman, Devan kan seperti om-nya sendiri, kecuali kalau mereka sepasang kekasih, atau dua lawan jenis yang mungkin menjalin hubungan. Lagian, di sana juga ada Sofia sama pembantu."
"Ayah udah bilang seperti itu, Bun. Tapi putri kita kekeh mau tinggal sendiri."
"Lalu, kalau terjadi sesuatu sama putri kita bagaimana, Ayah?"
"Semoga saja tidak."
Anna kembali mendengus. "Devan juga kelewatan ini, bisa-bisanya dia mengizinkan Vania tinggal sendiri. Pasti Devan kan yang bantu putri kita cari apartemen?"
Burhan menggelengkan kepala. "Bukan."
"Bukan bagaimana?"
"Devan tidak tau kalau Vania beli apartemen lagi."
"Loh, ko bisa?"
"Rencanya putri kita akan memberi tahu Devan dalam waktu dekat ini."
"Lalu Ayah juga nggak bilang sama Devan?"
"Ayah rasa, itu bukan masalah." Dengan mudahnya Burhan berkata, membuat Anna semakin geram.
"Ayah rasa? kalau sampai hal yang buruk menimpa putri kita, bagaimana?"
Burhan diam, terus mendengarkan Anna bicara.
"Pokoknya bunda mau Kasih tau Devan akan hal ini."
"Jangan dong, Bun! Nanti putri kita marah, lagian Vania masih tinggal sama Devan, ko."
"Ayah gimana sih?"
Saat Anna hendak menghubungi Devan, Burhan langsung menyambar ponselnya. "Kasih kesempatan putri kita menjadi dewasa, ayah rasa Vania cukup dewasa menyikapi ini, biarkan dia sendiri yang bilang sama Devan. Oke?"
Anna coba mempertimbangkan apa yang suaminya katakan, memberikan kesempatan kepada putrinya agar terlatih menjadi anak yang mandiri, akan tetapi tetap mereka awasi walaupun dari kejauhan.
Waktu terus berjalan. Namun, sikap Devan tidak kunjung berubah, dan masih saja bersikap dingin, bahkan hampir tidak pernah lagi mengajak Vania berbincang, apa lagi bercanda. Sungguh hal itu sangat mengganggu pikiran Vania, juga kenyamanan dirinya tinggal bersama Devan.
Apa sebenarnya dia keberatan? atau mungkin perceraiannya dengan Megan membuat Devan terpuruk? atau ia sudah melakukan kesalahan?
Gadis itu terus berpikir keras, dan menduga-duga beberapa alasan yang mungkin menjadi pemicu utama atas perubahan sikap Devan terhadap dirinya.
"Ntahlah. Somoga aja om Dev suka dengan masakanku."
Walaupun mendapat perlakuan dingin, gadis itu terus berusaha memberikan yang terbaik untuk Devan, dia bahkan sengaja bangun lebih pagi, agar bisa memasak untuk mereka sarapan.
"Vania," panggil Devan yang baru saja datang.
Dia yang sedang sibuk memasak pun hanya menoleh sekilas, menjawab sapaan Devan. "Iya, Om?"
"Ko kamu masak?" tanya Devan seraya mendudukan diri di kursi meja makan, sambil menuangkan air ke dalam gelas.
"Iya, Om."
"Kemana Marta?" tanyanya lagi.
"Marta lagi sakit, Om. Jadi aku suruh dia istirahat."
"Oh."
Hanya sebatas itu percakapan mereka, Devan bangkit dari duduknya setelah menghabiskan satu gelas air putih. Gadis itu melihat bayangan tubuh Devan sudah melangkahkan kakinya hendak pergi, lalu gadis itu pun memberanikan diri memanggilnya.
"Om Dev."
Langkahnya terhenti, Devan pun menoleh ke belakang tanpa berkata.
"Om Dev mau ke mana?"
"Aku mau mandi," jawabnya singkat tanpa ekspresi.
"Aku buat Creamy Omelette untuk Om, sama Pancake untuk Sofia."
Devan hanya mengangguk, lalu kembali melangkah pergi, meninggalkan luka dalam hati gadis itu.
"Jahat banget sih," batin Vania terus menatap punggung Devan yang melangkah semakin jauh.
Lagi-lagi sikap seperti itu yang Devan tunjukkan. Namun, gadis itu tetap menyiapkan sarapan, menatanya sedemikian rupa di atas meja makan, lalu ia pun kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Selesai dengan ritual mandinya, Devan kembali ke lantai bawah dalam keadaan sudah berpakaian rapi, berdiri di dekat meja makan, memperhatikan menu sarapan yang sudah Vania sajikan di atas meja.
"Kamu sudah bekerja keras, tapi aku harus berhenti."
Devan memilih pergi tanpa menyentuh makanan yang sudah tersaji, jelas hal itu membuat hati Vania semakin terluka. Dia yang bersembunyi di balik pintu kamarnya, memberanikan diri memanggil Devan, untuk meminta penjelasan.
"Om Devan."