"Pagi..."
"Pagi, Om.."
Devan menyapa Vania yang saat ini sedang duduk di kursi meja makan, sedang menunggu kedatangan dirinya, lalu ia pun duduk di sebelahnya.
"Ada acara apa nih?" tanya Devan seraya mendudukan diri di samping Vania, juga melihat begitu banyaknya menu makanan tersaji dengan sangat rapi di atas meja.
"Biar aku yang ambilkan." Dengan sigap gadis itu menyendokan nasik ke atas piring yang baru saja ia buka.
"Terima kasih. Kamu yang masak?" tanya Devan.
Vania menuangkan lauk di atas nasi Devan, lalu kembali duduk.
"Aku sama Marta." jawab Vania.
"Tidak, Tuan. Saya hanya membantu, Nona Vania yang memasak semuanya," sambar Marta yang saat ini sedang merapihkan dapur, yang memang letaknya tidak jauh dari meja makan.
"Wow. Keren," Devan memuji, seraya mengusap puncak rambutnya.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk berterimakasih sama Om Dev."
"Berterimakasih? berterimakasih untuk apa?" tanyanya lagi dengan kening mengkerut.
"Karna Om sudah membantu aku menyelesaikan tugas kampus." Gadis itu mentap Devan dari samping sambil tersenyum.
"Om akan membantu kamu, selagi Om bisa."
Mereka saling melempar senyum, Sofia pun datang menghampiri mereka.
"Daddy..." teriak Sofia dari kejauhan, berlari menghampiri Devan.
"Hai. Hati-hati, Sayang." Devan membawa Sofia ke atas pangkuannya.
"Sudah bangun sepagi ini?" tanya Devan seraya merapihkan rambut putrinya yang sedikit berantakan menutupi wajah imutnya.
"Sofia mimpi buruk."
"Mimpi buruk apa, Sayang?" tanya Devan.
"Sofia bermimpi mommy meninggalkan kita, Daddy."
"Mommy meninggalkan kita?"
Gadis kecil berusia empat tahun itu mengangguk. "Yes, Daddy."
"No, Honey. Tidak ada yang meninggalkan kita."
"Daddy berbohong, mommy sudah meninggalkan kita, mommy tidak ada di rumah, Sofia rindu mommy." ungakapan isi hati Sofia yang begitu merindukan mommy-nya.
"Tidak, Sofia. Mommy tidak meninggalkan kita, mommy sedang bekerja, sebentar lagi pulang. Daddy akan menjemputnya setelah kita sarapan."
"Promise?" lirih sofia.
"Promise, Honey." Jari kelingking mereka saling bertautan, lalu Devan membawa Sofia ke dalam pelukannya.
Vania yang menyaksikan momen itu, hanya bisa mengusap punggug Sofia, merasa kasihan.
"Kasihan, Sofia. Dia merindukan tante Megan, tetapi tante Megan malah sibuk dengan pekerjaannya," batin Vania.
Di tempat lain, dia yang sudah menghabiskan malam panjang dengan pria lain, bergegas turun dari atas ranjang segera membersihkan diri, lalu meninggalkan apartemen tanpa membangunkan kekasihnya. Namun, ia meninggalkan sepucuk surat di atas meja yang bertuliskan.
"Jangan menghubungiku, sebelum aku yang menghubungimu lebih dulu. Dari cintamu, Megan."
Menempuh perjalanan tiga puluh menit, akhirnya Megan pun tiba di unitnya, tanpa rasa bersalah, bahkan tanpa rasa malu, dia menyapa Devan, Shofia, juga Vania yang belum selesai menikmati sarapan.
"Morning..."
Megan menyapa seraya mendudukan diri di samping sang suami. Namun, saat ia hendak mencium pipinya, Devan menolak dengan menjauhkan wajahnya.
"Dev, whay?"
Devan bergeming. Kembali menyantap makanannya tanpa menghiraukan kehadiran Megan di sana. Dia hanya merasa lega saat melihat senyum di wajah Sofia yang rindunya sudah terobati dengan kedatangan Megan yang sangat ditunggu-tunggu oleh Sofia.
"Mommy dari mana saja? Sofia rindu, Mommy."
"Mommy juga rindu Sofia."
Megan hanya memeluknya singkat, lalu menyapa Vania.
"Pagi, Nia."
"Pagi, Tente." Vania menyahuti sapaan Megan ramah.
"Mommy sarapan bersama kami?" tanya Sofia.
"Iya, Sayang," jawab Megan dengan senyum palsu karena pada kenyataannya Megan tidak benar-benar menyayangi putrinya Sofia. Bagi Megan, lahirnya Sofia adalah penghalang bagi dirinya untuk bahagia.
Devan yang merasa muak dengan kehadiran sang istri, memilih menyudahi sarapan tanpa menghabiskannya, lalu berpamitan dengan putri tercinta. "Daddy berangkat kerja sekarang ya."
"Daddy belum menghabiskan sarapan?" ujar Sofia.
"Daddy sudah kenyang," jawab Devan seraya mengusap puncak rambutnya, lalu bicara kepada Vania.
"Nia..."
"Iya, Om?" Vania menyahuti panggilan Devan dengan mulut penuh makanan.
"Habiskan sarapanmu, Om tunggu di mobil," ucap Devan sambil berjalan, tetapi langkahnya terhenti saat Megan meraih tangannya.
"Mau ke mana?" tanya Megan.
"Bukan urusanmu," tegas Devan dengan mengibaskan tangan Megan kasar.
"Sekarang kamu ada di rumah, aku tidak mau mendengar Sofia menangis karena kamu pergi lagi. Kalau sampa hal itu terjadi, kamu bersiap-siap lah dengan konsekuensinya," tegas Devan, lalu ia pun berlalu pergi.
Baru kali ini Vania melihat Devan marah sampai matanya memerah menahan emosi. Ia tidak menghabiskan makannya, lalu berpamitan pergi kepada Sofia.
"Om Dev," Vania memanggil Devan sambail berlari kecil menyamai langkah kaki pria paru baya itu dengan melangkah lebih cepat.
"Tunggu, Om!"
Devan menoleh setelah membuka pintu utama.
"Kenapa, Vania?" tanya Devan.
"Kita berangkat sekarang,"
"Sarapanmu habis?"
"Tidak, Om."
"Kenapa? seharusnya kamu habiskan dulu sarapanmu. Nanti kalau sakit?"
"Om juga tidak menghabiskan sarapan, Om," ucapnya menyahuti ucapan Devan.
"Nia..."
"Om..."
Mereka saling melempar senyum, lalu berjalan beriringan menuju Basement Apartemen, menggunakan Lift.
"Om. Boleh aku bertanya?" suara Vania memecah keheningan di dalam lift yang hanya ada mereka berdua.
"Tanyalah."
"Kenapa Om pergi saat tante Megan pulang?"
"Tidak apa-apa." Devan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedang berbalas pesan dengan seseorang.
"Tapi, tadi Om sangat menakutkan."
"Manakutkan?" Kali ini Devan menoleh ke arahnya.
Vania mengangguk, Devan terus menatap wajah gadis itu dengan tatapan yang tidak biasa.
"Om Dev..." panggilnya lagi.
"Hhmm...?"
"Boleh aku memberi sedikit saran?"
"Boleh."
"Jangan bersikap terlalu kasar sama tante Megan, apa lagi di depan Sofia. Aku rasa itu kurang baik untuk mentalnya," ujar Vania, masih menatap Devan dari jarak yang lumayan dekat
"Om hanya merasa kesal, karena Megan terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dia mengabaikan Om juga Sofia yang sangat membutuhkan dirinya. Apa Om salah?"
Tidak bisa menjawab, gadis itu hanya bisa diam.
"Sudah lama Om berusaha bersabar, Nia. Kali ini Om tidak bisa," ucapnya sambil bersandar pada dinding lift, dengan melipatkan kedua tangannya di d**a.
"Seharusnya Om jujur sama tante Megan, kalau Om keberatan tante Megan bekerja."
"Apa menurutmu Om belum pernah mengatakan itu?"
Vania kembali bergeming.
"Om sudah melakukan banyak cara, dan Megan tetap seperti itu, Nia. Om lelah."
"Om tidak boleh lelah. Cari cara lain untuk membuat tante Megan berubah."
"Dengan cara apa lagi setelah semua cara sudah Om lakukan?"
"Ntahlah, aku bukan Psikolog," Selorohnya membuat Devan terkekeh.
Devan mengusap puncak rambut gadis itu, merangkulnya dari samping.
"Aku yakin, tante Megan punya alasan kenapa sebegitu terobsesinya bekerja."
"Menurut kamu?" tanya Devan masih merangkul gadis itu, menatapnya dari samping.
"Mungkin uang yang Om kasih tidak mencukupi kebutuhan tante Megan?" ujar Vania.
"Kamu bercanda? apa mungkin istri dari seorang pengusaha properti akan kekurangan uang?"
"Siapa tau ya kan?" balas gadis itu.
"Sekarang bilang sama Om, kamu mau dibeliin apa?" tawar Devan.
Vania menggelengkan kepalanya. "Aku sedang tidak menginginkan apa pun."
"Ayo lah, minta sesuatu yang menurut kamu Om tidak akan sanggup membelinya."
Gadis itu menatap ke langit-langit seraya berpikir. "Apa saja bukan?"
"Apa saja, asal jangan minta dibelikan mobil ya, karna itu sangat mudah," selorohnya membuat Vania tertawa.
"Kalau begitu, nanti saja aku mintanya. Sekarang aku belum menginginkan apapun."
Mungkin di lain waktu tawaran ini akan sangat bermanfaat, sehingga Vania menunda permohonan yang harus Devan penuhi.