London Eye

1039 Kata
Melihat Vania diam duduk sambil melamun, ia memanggil gadis itu seraya menggeser berkas, menyisakan ruang kosong di atas meja. "Kemarilah!" perintah Devan. Vania yang sedang melamun pun terkejut. "Kenapa, Om?" "Jangan banyak melamun, nanti cepet tua loh," ejek Devan membuat gadis itu tersenyum, lalu berdiri menghampiri Devan. "Duduklah," titah Devan pada ruang kosong di atas meja yang sudah ia sediakan, gadis itu pun duduk. "Kenapa aku disuruh duduk di sini?" tanya Vania sambil mengayun-ayunkan kaki yang menjuntai ke bawah, memegang pinggiran meja dengan kedua tangannya. "Biar cepet selesai, kamu bantuin om baca berkas-berkas ini ya, supaya nanti om tinggal tanda tangan." Meminta bantuan kepada dirinya membuat Vania sedikit merasa aneh, karena sebetulnya ini adalah tugas sekretaris, tetapi Devan memilih Vania untuk membacanya. Gadis itu hanya mengikuti apa yang Devan katakan. Dia duduk di atas meja, lau mulai membaca surat perjanjian antara DA BROMFORD dengan perusahaan konstruksi lainnya. ~~~ Di tempat lain, Megan berteriak begitu sampai di apartemen, Leo yang juga ada di sana, datang menghampiri sang kekasih, berusaha membuatnya tenang, dengan menyerahkan segelas air minum kepada kekasihnya. "Kenapa? Devan menolakmu lagi?" tanya Leo seraya menghisap rokok, menghembuskan asap rokoknya jauh ke udara. Vania menenggak minuman itu sampai habis, lalu duduk di sofa menghempaskan kasar tas kecilnya di atas meja. "Dia menolakku, bahkan mengusir aku dari kantor." ketus Megan. "Lalu harta gonogini?" tanya Leo. Megan menatapnya tajam. "Gonogini? aku tidak perduli dengan harta gonogini, aku cuma mau Devan, aku menginginkan semua hartanya. Harta gonogini hanya sebagian kecil, dan akan habis hanya untuk bersenang-senang beberapa hari saja. Pikirkan bagaimana cara agar semua harta Devan jatuh ke tanganku." Mungkin bagi Megan harta gonogini tidak penting, tetapi bagi Leo, harta itu sangat berarti baginya, dan kalau dia sudah mendapatkan harta itu, Leo berencana akan menghancurkan Megan, lalu meninggalkannya dengan cara yang lebih menyedihkan. Leo memilih untuk bersabar, menjadikan Megan ratu, adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan harga yang diberikan Devan untuknya. "Kalau kamu kembali pada Devan, bagaimana dengan aku, Sayang," keluh Leo palsu. "Kalau aku akan meninggalkan kamu, pasti sudah aku lakukan dari dulu, Leo. Aku sangat mencintaimu, hanya kamu yang tau apa yang aku inginkan," ungkap Megan seraya menautkan kedua tangan di atas bahu pria itu, lalu menciumnya singkat. "Benarkah seperti itu?" "Kamu tidak percaya? bahkan aku sudah melangkah sejauh ini." "Aku percaya." Megan memeluk pria itu penuh kehangatan, kebebasan bersama Leo membutakan segalanya. Waktu berlalu, proses perceraian antara Devan dengan Megan saat ini sudah berada di tahap upaya pendamaian. Namun, karena kedua belah pihak tidak hadir memenuhi panggilan, maka pengadilan melanjutkan proses perceraian mereka ke tahap selanjutnya, yaitu pembacaan gugatan dari kedua belah pihak, yang akan dibacakan pada sidang minggu depan. Devan sengaja tidak pernah hadir ke pengadilan, dan selalu pengacaralah yang mengurus semuanya, karena ia ingin mempercepat proses perceraian agar tidak memakan waktu terlalu banyak. Di tempat lain, Vania yang baru saja melakukan transaksi pembelian apartemen dengan pihak penjual, pergi ke sebuah mall bersama teman-temannya untuk membeli beberapa jenis barang yang tidak tersedia di unitnya, lalu tanpa disengaja bertemu dengan Erlangga tepat saat mereka akan masuk ke sebuah Kafe. "Hai..." Ajeng melambaikan tangan, Erlangga pun menghampiri mereka. "Hai, Kalian ada di sini?" tanya Devan. "Iya, kita habis nganter Vania belanja keperluan," jawab Ajeng. "Kamu udah dapet apartemennya?" Kali ini Erlangga bertanya kepada Vania. Vania mengangguk. "Sudah." "Sekarang kita mau santai dulu di kafe, mau gabung nggak?" tawar Angel. Sebetulnya Erlangga baru saja datang hendak membeli sesuatu. Namun, karena bertemu dengan Vania, Erlangga menunda tujuan utamanya, dan memilih ikut bersama dengan mereka ke sebuah kafe demi bisa bersama dengan Vania. Erlangga mengangguk setuju, lalu mereka pun masuk ke dalam, memesan beberapa minuman, juga makanan. "Habis beli apa aja nih?" Erlangga mulai membuka suara setelah mereka sama-sama duduk, menunggu pesanan datang. "Selimut, handuk, sama apa ya ini? keperluan mandi, pokoknya lumayan banyak deh," jawab Vania. "Ada lagi yang kurang nggak sih?" tanya Angel kepada Vania sambil memperhatikan semua kantung belanjaan yang diletakkan di bawah kaki Vania. "Kayaknya enggak deh, sementara cukup segini dulu lah, sisanya bisa nanti," sautnya lagi. "Lain kali, kalau kamu butuh bantuan aku, aku siap ko bantu kamu," ucap Erlangga seraya meraih tangan Vania, tetapi gadis itu segera melepaskan tangannya perlahan, agar tidak menyinggung perasaan Erlangga. "Bohong banget," sela Ajeng. "Pada dasarnya cowok itu gak bisa diajak belanja apa lagi ke mall, ntar baru megang satu baju langsung bilang, udah itu aja, mau cari yang gimana lagi sih kalau ujung-ujungnya yang dibeli baju pertama yang dipegang," seloroh Ajeng membuat semua orang tertawa. "Bener banget tuh, kayak pacar gue," lanjut Angel. "Kamu sudah punya pacar, Angel?" Avantika menyela pembicaraan. Angel langsung menutup mulut dengan tangannya, karena sudah keceplosan dengan statusnya yang sudah punya pacar di depan Erlangga. "Hancur deh harapan gue pengen dapetin Erlangga." Semua tertawa terbahak, Erlangga hanya bisa menggelengkan kepalanya atas kekonyolan teman-teman Vania. "Sekalipun elo belum punya pacar, Erlangga nggak bakal suka juga kali sama elo, Ngel." lanjut Ajeng. "Udah tau gue, dia kan sukanya sama Vania." "Angel..." Vania melayangkan ptotes sambil menyenggol bahunya. Semua kembali tertawa, begitupun dengan Erlangga tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Vania. Asik mengobrol, ponsel milik Vania yang ia letakkan di atas meja berdering, Erlangga yang kebetulan duduk di samping Vania, melihat nama om Devan dalam layar ponselnya. "Om Dev kan?" ledek Angel. Vania tersenyum. "Iya, gue angkat dulu ya." Mereka kembali mengobrol dengan suara pelan, sedang Vania bicara dengan Devan lewat sambungan telepon. "Om Dev..." "Di mana?" "Aku di mall sama temen-temen, Om." "Lagi ngapain?" tanyanya lagi. "Lagi kumpul aja." "Ko nggak bilang sama om sih? tadinya om buru-buru mau jemput kamu ke kampus loh." "Maaf, Om. Vania lupa." "Ya udah, masih lama? atau udah mau pulang?" "Kayaknya bentar lagi pulang sih." "Om jemput ya sekarang!" "Jemput? sekarang? jangan, Om." Gadis itu menolak cepat, pasalnya Devan tidak tahu kalau Vania sudah membeli apartemen baru. Sikap Vania jelas membuat Devan curiga. "Kenapa nggak mau dijemput?" "Aku..." Teman-teman Vania menoleh ke arahnya yang terlihat bingung, begitupun dengan Erlangga. "Jawab apa dong?" tanya Vania kepada teman-temannya, mereka hanya menggidikan bahunya tidak tahu. "Vania, setelah ini kita jadi kan ke London Eye?" tanya Erlangga dengan suara lantang, agar didengar oleh Devan. Sebetulnya dia tidak bermaksud seperti itu, hanya saja timeing- nya yang tepat, karena saat ini Vania sedang membutuhkan alasan agar Devan tidak menjemputnya. "London Eye?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN