Pagi sekali, Devan pulang sebentar ke rumah menemui putri tercinta, ingin meminta maaf atas janji yang tidak bisa ia tepati, karena semalam ia tidak jadi pulang. Bukan tidak mau, atau lebih memilih Vania, seandainya insiden itu tidak terjadi, dia pasti sudah pulang menemui putrinya Sofia. Devan pergi saat Vania masih tertidur pulas, dia hanya meninggalkan sepucuk surat, juga satu batang mawar merah yang ia letakkan tepat di samping kiri surat itu, dengan harapan saat kekasihnya bangun, dia bisa langsung menemukannya, dan membacanya. "Aku tidak berani membangunkanmu, Sayang. tidurmu sangat pulas, aku melihat senyum indah di wajah cantikmu dengan mata masih terpajam rapat. Apakah tadi kamu bermimpi indah?" Baru satu kalimat yang ia baca sudah membuat paginya berbunga-bunga, apa lagi dua k

