Stars 6 - Holding My Breathe

2311 Kata
“Kita mau kemana?” tanya Rona sebelum memasuki mobil milik Bintang membuat Bintang yang ingin memasuki mobilnya berhenti, lalu meletakan tangannya di atas kap mobil seraya memandang Rona lembut dan penuh kasih sayang. "Kamu akan tau nanti, ayo masuk!" ucapnya lembut membuat Rona tersenyum cerah sebelum akhirnya memasuki mobil. Rona menatap tangan kiri Bintang yang menggenggam tangannya sambil sesekali mengelusnya, sedangkan tangan kanan Bintang masih berkutat dengan stir mobil. Digigitnya ujung bibirnya pelan menatap wajah tampan Bintang yang tak pernah bosan ia pandang. Kulit Bintang yang coklat eksotis terlihat begitu berbeda dengan kulit Rona yang kuning langsat, Rahangnya begitu tegas seolah menggoda untuk disusuri. Rona tersenyum melihat Bintang yang terlihat begitu fokus dengan jalan di depannya. "Berhenti menatapku seperti ingin melahapku," celetuk Bintang membuat Rona membulatkan mata indahnya. "Melahapmu. Siapa? Aku?" Tanya Rona menjauhkan tubuh, menatap Bintang geli. "Aku tau kamu terpesona dengan pesona yang aku punyai," ucapnya santai tanpa mengalihkan pandangan. "Idih pede," cibir Rona. Bintang membalikan wajahnya berpura-pura kesal melihat tingkah kekasihnya , sebelum akhirnya tertawa manis menampilkan gigi putih dan rapi yang ia miliki, menggeleng pelan melihat tingkah Rona yang terlihat begitu menggemaskan. "Aku tau apa yang ada di pikiranmu," ucap Bintang mengalihkan pandangannya yang menatap Rona yang sedang tertawa geli. Ia menatap bingung saat Rona melepaskan genggaman tangannya. "Kalau aku ingin melahapmu, apa yang akan kamu lakukan?" Goda Rona  merangkul tangan Bintang tiba-tiba sehingga membuat Bintang tersentak. "Berhenti menggodaku. Aku sedang menyetir, Rona..." geram Bintang saat merasakan Rona bergelayut manja di bahunya. Rona menengadahkan kepala menatap rahang Bintang yang terlihat begitu seksi dari jarak dekat. "Aku tergoda melihat wajah tampanmu yang terlihat begitu seksi saat menyetir seperti ini. Rasanya aku benar-benar ingin melahapnya. ~Aanng," canda Rona sembari berpura-pura ingin melahap Bintang. Bintang hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah Rona yang senang menggodanya. ia melepaskan tangannya dari rangkulan Rona sehingga membuatnya merengut. "Aku bersedia kamu makan asal jangan sekarang, aku lagi nyetir."  Bintang merengkuh balik tubuh Rona sehingga membuat senyum kembali tercetak jelas di wajahnya lalu membenamkan kepala di d**a Bintang yang sedang menyetir, sedangkan Bintang mengelus pelan rambut Rona. Hati Rona berbunga merasakan belaian tangan Bintang di rambutnya. Perlakuan lembut yang Bintang perlihatkan membuat harinya menjadi lebih indah, terlebih dengan keberadaan seluruh keluarga Bintang yang menerimanya membuatnya kembali merasakan kehangatan keluarga, yang tak ia dapatkan karena jauh dari mereka. Rona kembali menengadahkan kepala menatap wajah tampan Bintang yang sedang asyik menyetir. Tangannya yang sedari tadi di tahannya mulai menyusuri rahang Bintang yang begitu bersih dari rambut-rambut halus. "Kamu sering cukuran ya, Bin?" tanya Rona mengelus pelan dagu Bintang membuat hati Bintang sedikit berdesir. "kenapa? kamu nggak suka?" Rona membulatkan matanya lalu menggeleng pelan. "Bukannya nggak suka.. aku cuman penasaran gimana kalau dagu kamu di tumbuhi rambut-rambut halus itu, pasti kelihatan lebih seksi," ucap Rona lagi sembari menerawang membayangkan bagaimana seksinya Bintang dengan rambut halus di dagunya. "Kamu mau aku kayak gitu?" "Jangan!!" sontak Rona membuat Bintang terkejut. "Aku nggak mau kamu memperlihatkan sisi bad boy kamu sama orang lain. Itu hanya milikku," ucap Rona posesif membuat Bintang tersenyum senang mendengar ucapan Rona. "jadi menurut kamu aku Good Boy?" tanyanya yang dijawab anggukan lucu Rona. "Kamu kira aku anjing," ucap Bintang berpura-pura marah.  "Uhm.. Siberian Husky," balas Rona terkikik lucu menatap Bintang yang membulatkan matanya mendengar Rona menyebut salah satu jenis anjing besar yang mirip dengan serigala. "Oke, kalau kayak gitu kamu jenis Pomeranian. Lucu, imut, mirip boneka membuatku ingin terus mendekapnya seperti ini..." ucap Bintang mempererat dekapan tangannya di bahu membuat Rona tersenyum senang membalas dekapan Bintang.   ☆☆☆☆☆   Rona membulatkan matanya lebar saat melihat pemandangan yang ada di depan. Dengan cepat, ia melepaskan rangkulan Bintang lalu keluar dari mobil untuk mendekati fenomena alam paling menakjubkan untuknya. "Surprise!!" teriak Bintang sembari merengkuh pinggang Rona. "Kenapa kamu bawa aku kesini?" tanya Rona memandang wajah Bintang yang sedang menatap apa yang membuatnya terpesona. "Karena aku mengetahui 3 hal yang paling kamu sukai," ujar Bintang mantap membuat Rona memandangnya bingung. "3 hal?"  "Iya," angguk Bintang mengalihkan pandangannya menatap Rona dengan tatapan lembut. "Matahari terbit, matahari terbenam, dan.."  Bintang menggantungkan ucapannya. "Dan?” "Aku tentu saja... Bintang timur-mu."  "PeDe," cibir Rona. "Harus. Untuk berdampingan dengan wanita sepertimu aku harus pede," ucapnya sembari merapatkan rengkuhan lalu menaruh kepala Rona di bahunya. "Terima kasih sudah membawaku ke tempat indah seperti ini," ucap Rona kembali memandang ke arah matahari yang mulai turun dari peraduan. Tak pernah tau bahwa melihat matahari terbenam dari ketinggian akan membuat semuanya menjadi lebih indah. Pancaran warna jingga kemerahan berpadu dengan baik dengan hijau-nya dedaunan dari balik pepohonan yang berjajar rapi mematahkan kepercayaannya bahwa tempat paling sempurna untuk melihat matahari terbenam adalah pantai, baginya sekarang dataran tinggi yang rimbun dan lapang seperti ini tempat yang paling sempurna untuk menikmati moment indah ini. "Suka?" tanya Bintang sembari melingkarkan tangannya di pinggang Rona, memeluk tubuh dari belakang sehingga membuat Rona menahan napasnya saat merasakan hembusan hangat napas Bintang di belakang telinganya. Rona merapatkan tangan Bintang yang melingkar di pinggangnya sebelum akhirnya mengangguk. "Bagaimana kamu bisa mengetahui tempat seindah ini?" tanya Rona sembari terus menatap matahari  yang semakin turun ke peraduan. "Searching. menurut si mbah ada dua tempat yang paling cocok untuk melihat dua moment menakjubkan ini. Pantai dan dataran tinggi seperti ini, karena kita lagi tidak memungkinkan untuk pergi ke pantai makanya aku membawamu kesini," ucap Bintang meletakkan dagunya di puncak kepala Rona. "Mbah?" "Iya mbah Google," jawab Bintang kembali membuat Rona tertawa . Rona terdiam saat merasakan Bintang mempererat pelukannya. Menikmati saat  detak jantungnya dan jantung Bintang bergerak seirama, rasa hangat dan kasih sayang yang Bintang berikan kepadanya membuatnya seakan begitu berarti. "Aku berjanji suatu saat nanti aku akan membawamu ke pantai untuk menyaksikan matahari terbit bersama,"ucap Bintang mantap. Rona menggigit bibirnya pelan mendengar janji Bintang. Ia memejamkan matanya berusaha mengingat janji yang Bintang ucapkan untuknya.   ☆☆☆☆☆   "Mau bantu aku?" tanya Bintang melepas pelukan nya saat merasakan hari mulai gelap. Rona menatap bingung Bintang yang sedang membuka pintu belakang mobilnya. Rona terkejut saat melihat barang bawaan Bintang yang tersedia di bagasi mobilnya. "Aku bilang sama mama ingin membawa kamu kesini dan.. lihat apa yang mama persiapkan khusus untukmu.” Bintang  mengangkat  dua buah kursi lipat yang akan ia letakkan di depan mobil. "Aku sampai bingung yang sebenarnya anak mama itu aku atau kamu, sih? Kenapa mama sama Bulan malah cenderung lebih dekat sama kamu daripada aku," dumelnya sembari terus menyiapkan barang-barang yang telah ia persiapkan tadi. Rona hanya bisa tertawa mendengar ucapan kesal yang Bintang ungkapkan. Selama lebih dari 3 bulan mereka pacaran, Mama dan adik Bintang memang cenderung lebih dekat dengannya. Mama Bintang dan Bulan malah tidak canggung saat meminta Rona untuk mendesain ulang ruangan mereka, walaupun status Rona saat ini masih mahasiswi semester awal desain Interior. "Bulan menyukai kamar barunya?" tanya Rona  ikut mengangkat keranjang piknik lalu meletakkannya di dekat kursi lipat tadi. Bintang yang terlihat sedang mengumpulkan ranting kering untuk membuat api unggun menghentikan aktivitasnya lalu menatap Rona. "Bukan hanya suka. Bahkan, gadis manja itu mungkin mencintai kamar barunya. Ia tak ingin keluar dari ruangannya kecuali untuk makan." dumelnya lagi membuat Rona tertawa. "Duduk disini dan lihat pemandangan yang disuguhkan," ucap Bintang sembari menepuk salah satu kursi lipat itu. Rona berjalan mendekati Bintang lalu duduk di tempat itu. Kembali menatap takjub dengan pemandangan yang berbeda yang disuguhkan tempat ini. Jika sore tadi, ia melihat sunset yang begitu menakjubkan, maka malam ini ia melihat langit malam bertabur bintang serta lampu-lampu kota yang baru saja di hidupkan. "Aku seperti melihat dua hamparan bintang-bintang yang begitu menakjubkan." Rona memandang penuh pesona. "Aku tau kamu akan menyukai ini," ucap Bintang sembari kembali menggenggam tangan Rona lalu mengelusnya pelan. Matanya terfokus menatap Rona yang terpesona dengan taburan bintang yang jarang dia lihat di kota. Suara binatang-binatang malam dan hangatnya api ungun menambah kesan nyaman dan keromantisan mereka.  Bintang meraih selimut tebal yang ia bawa tadi lalu menyelimuti kaki Rona yang tidak tertutupi rok yang ia kenakan. Rona memandang Bintang sembari tersenyum lalu meletakkan kembali kepalanya di bahu tegap milik Bintang. Meremas pelan tangan Bintang yang menggenggam tangannya seolah tak ingin ia lepaskan. "Kenapa Orang tua kamu memberi nama kamu Bintang timur?" Tanya Rona sembari menatap ke arah dua buah bintang terang yang saling berdekatan. "Karena mama suka dengan langit malam," ucap Bintang singkat sembari mengecup pelan puncak kepala Rona. "Kenapa Bintang timur? kenapa nggak Sirius, Regulus, Alpha centauri?" tanya Rona dengan rasa ingin tau tinggi sembari menyebutkan nama-nama bintang paling terang yang ia ketahui. "Karena menurut mama Bintang timur adalah bintang yang paling terang. Bintang timur akan selalu ada menemani langit malam mu disaat bintang-bintang lain kehilangan cahayanya karena t tertutup awan mendung." jelas Bintang membuat Rona mengangguk membenarkan ucapannya. "Kenapa nama kamu Rona mentari?" tanya Bintang berbalik kepada Rona yang asyik menyandarkan kepalanya di bahu Bintang.  Rona terdiam mendengarkan pertanyaan Bintang. Ia menundukkan kepalanya, raut wajahnya yang tadi senang berubah menjadi sendu. Pandangan matanya memandang kosong seolah ada kejadian sedih yang ada di pikirannya. "Rona…" panggil Bintang lembut saat melihat Rona merubah raut wajahnya. "Karena mama menyukai mentari—“ ucap Rona dengan mata berkaca- kaca, "—atau  mungkin karena mentari pagi adalah hal terakhir yang dilihatnya," ucap Rona lagi membuat Bintang terdiam dan menatap wajah sendu Rona. Bintang meremas pelan tangan Rona, membuatnya tersadar lalu menghapus air matanya yang tanpa terasa terjatuh. "Maaf, aku nggak bermaksud," ucap Bintang pelan menyesal mempertanyakan pertanyaan itu. "Aku nggak papa."  Rona mencoba kembali ceria di hadapan Bintang,"lagipula sekarang aku mempunyai seorang ibu yang begitu menyayangiku," ucap Rona riang membuat Bintang merenyitkan kepalanya tak mengerti. "Papa menikah lagi saat aku berusia 2 tahun. Aku beruntung mempunyai ibu seperti beliau yang begitu menyayangiku, merawatku, memberikan kasih sayang seorang ibu yang tak pernah aku miliki. Beliau bahkan tak pernah membedakan kasih sayangnya antara aku dan anak kandungnya sendiri," ucap Rona dengan mata berbinar. "She's an amazing mom's like yours." Rona tersenyum menatap Bintang, kembali mengingat kebaikan mama Bintang yang begitu menerima dan menyayanginya. "Jangan terlalu memuji mama. Aku yakin dia akan terbang ke langit ketujuh mendengar pujian darimu," canda Bintang membuat Rona kembali tertawa. Rona merangkul lengan Bintang erat, lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Bintang. Merasakan hangatnya api unggun yang menghalau hawa dingin yang datang. Matanya kembali menatap langit cerah yang penuh dengan bintang. "Itu Bintang timur, kan?" tanyanya  menunjuk salah satu bintang paling terang yang menjadi pusat perhatiannya. "Sudah aku putuskan!" sorak Rona tiba-tiba melepas rangkulan tangannya membuat Bintang terlonjak kaget. "Apa?" ucapnya sembari mengusap dadanya karena sorakanku tadi. "Aku memutuskan bahwa bintang itu...." ucapnya sembari menunjuk bintang yang ia tanyakan tadi. "Akan menjadi bintangku dan tak ada seorangpun yang dapat memilikinya," lanjutnya lagi. Bintang menatap raut gembira yang Rona perlihatkan dengan hati bersorak-sorai. Ucapan itu seolah mengatakan kepemilikan Rona kepada bintang itu, Bintang timur. Bintang yang selama ini menjadi perlambang dirinya. Ia kembali menatap Rona yang asyik menyandarkan kepalanya di bahunya. Bintang mendekatkan wajahnya berusaha memancing Rona agar menatap ke matanya. Ada sesuatu yang sudah ia tahan dari dulu ingin ia lepaskan sekarang. "Ro.." "Bintang lihat!!!" sorak Rona kembali saat Bintang belum selesai memanggilnya. Ia terlihat bangkit lalu menunjuk ke arah langit. "Ada bintang jatuh!!" teriaknya lagi menarik perhatian Bintang melihat apa yang ia tunjuk. Mendesah kecil saat fenomena alam yang terlihat indah bagi sebagian orang malah menghancurkan moment yang telah ia tunggu-tunggu. "Make a wish.. make a wish," kata Rona tergesa membuatnya tertawa kecil. Bintang memasukan tangannya ke dalam kantong celananya kemudian menatap Rona yang memejamkan matanya lalu mengucapkan permohonannya dalam hati dengan begitu serius.  Ia tersenyum melihat Rona melakukan takhayul yang sering orang lain lakukan saat melihat bintang jatuh. Tiba-tiba, terlintas sesuatu di pikirannya yang akan membuat apa yang ia harapkan menjadi kenyataan. "Sudah selesai membuat permohonannya?" Bintang  tersenyum penuh arti saat Rona baru membuka kembali matanya. "Kamu tau ada satu hal lagi yang orang lakukan saat melihat bintang jatuh," kata Bintang menatap mata Rona yang berbinar menatapnya. "Apa?" tanya dengan penuh semangat. "Ini," Bintang menarik pinggang Rona sehingga ia dapat merasakan tubuh Rona menegang. "Ka-kamu mau nga-pain?"  Rona gugup saat Bintang mulai mendekatkan badannya ke tubuh Rona. "Katanya kalau berciuman sehabis melihat bintang jatuh, maka cinta kita akan selamanya," bisik Bintang pelan di telinga Rona membuatnya belingsatan. "Ka...mu per...ca..ya?" Rona kembali yang memalingkan wajahnya dari tatapan Bintang yang terlihat menggoda untuknya. "Sejujurnya nggak, tapi apa salahnya kita mencoba," ucapnya lagi lalu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Rona. Rona terkisap saat merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirnya. Ia menahan napasnya, merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, tubuhnya menegang.  Rasa bahagia membuncah di hatinya. Dapat merasakan debaran jantung Bintang yang teramat dekat dengannya. Betapa hangat dan lembutnya bibir Bintang yang bersentuhan dengan dirinya, hingga tanpa sadar ia mulai mengalungkan tangannya di leher Bintang dan mencoba membalas apa yang Bintang lakukan. Ia bahagia saat Bintang mencecap manis bibirnya dengan begitu lembut seolah dirinya adalah benda berharga yang harus ia jaga dengan begitu hati-hati. Perasaan bahagia begitu terasa di hatinya. Ini ciuman pertamanya. Ciuman yang akhirnya ia berikan kepada seseorang yang begitu ia cintai dengan sepenuh hatinya. Ciuman pertama yang dilakukan di tempat romantis, di bawah taburan bintang yang menemani kebersamaan mereka. ☆☆☆☆☆  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN