Rona menatap Es Capucinno dan gelas berisi air putih di depannya. Selera pria itu tak pernah berubah. Selalu meminum air putih guna menetralkan campuran rasa manis dan pahit yang di tinggalkan oleh Capucinno. Sampai sekarang ternyata dia masih tidak bisa melupakan kenyataan bahwa dulu, dialah yang sering memesankan minuman sebelum Bintang datang. “B-bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Bintang berhati-hati membuka pembicaraan. Rona mengangkat kepala menatap wajah Bintang. Dia benci ini. Tatapan wajah Bintang yang selalu menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan membuatnya merasa patut untuk dikasihani. Tangannya bersilang di depan d**a, tindakan difensif yang memperlihatkan bahwa dia sudah berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja. “Aku ingin minta ma...” “Untuk apa lagi?” tanya R

