Chapter #6 - ENAM

2695 Kata
CHAPTER #6 ENAM               Sudah sebulan lamanya Nio kuliah pascasarjananya.             Pagi itu Nio yang baru saja sampai di kampus. Matanya melihat baliho yang tegak berdiri di pitu masuk kampus. Nio tertarik dangan baliho itu.             Setelah turun dari mobilnya dan didorong rasa penasaran Nio balik kembali lagi ke pintu gerbang.             Nio berjalan dengan santainya kearah baliho yang dilihatnya.             Seperti biasa semua yang dilewatinya menengok dan memandangnya terutama kaum hawanya.             Di depan baliho dia berhenti berjalan dan membuka kacamata hitamnya sambil mendongakan mukanya ke atas untuk membaca isi baliho.             “Hmm, Musik Kampus. Ada jazz juga, nonton ah” Bisiknya dalam hati Nio.             Setelah selesai membaca baliho Nio pun mengenakan kembali kaca mata hitamnya dan berjalan menuju ruang kuliah pascasarjananya.             Nio berjalan di trotoar kampus melalui beberapa ruang belajar mahasiswa jurusan lain yang ada dikampus itu.             Banyak mata yang memandangnya dari balik ruangan kuliah yang melihat Nio setiap hari termasuk sepasang mata yang bening di ruang jurusan sipil.             Mata itu sudah sering memperhatikan Nio bahkan mengenalnya dengan baik. Namun masih ditutupinya dari yang lain. Hanya dia selalu bergumam. “Mas Nio kapan kamu bicara jujur. Apa kamu memang suka dengan saya?” Begitu kata hatinya.             “Hey Ros”. Sapa seseorang kepada si mata bening itu.             “Hey!”. Balasnya sambil beringsut dari jendela ruangan kuliah ke tempat duduknya.             “Baru datang Mey?” Tanya Rostina. “Tumben telat biasanya suka lebih pagi,”             “Iya tadi aku berhenti dulu di depan gerbang masuk karena lihat ada baliho disitu. Ternyata ada Musik Kampus loh, Ros. Nanti hari sabtu malam. Nonton yuk Ros?” Ajak Meylani yang terlihat semangat.             “Ohh yaa! Kok saya tidak melihat tadi  padahal lewat depan kan?” Balas Rostina kelihatannya penasaran. “Ada jazz nggak Mey?” Tanya Rostina.             “Ada Ros, dari anak Jakarta kayaknya soalnya artis Bandung yang pentas cukup banyak yang sudah kita kenal.” Lanjut Meylani.             “Mau ah! Kita nonton bareng aja ya Mey?” Jawab Rostina memegang tangan Meylani.             “Iya Ros nanti kita bahas yah.” Tawa Mey gembira.             Sesi kuliah pun segera dimulai karena dosennya sudah masuk ruangan dan mengucapkan salam.             Waktu bergulir terus tiada henti. Dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari dan seterusnya berputar.             Hari Sabtu pun datang.             Nio yang sudah rapi berdiri di depan halaman rumahnya. Nio berencana berangkat ke kampus pascasarjananya karena ada Musik Kampus. Sengaja tidak naik mobilnya karena Nio tau kalau hari sabtu apalagi malam minggu hukumnya pasti macet kalau di Bandung.             Kedengaran suara klakson mobil di depan rumahnya Nio.             “Syukurlah taksi sudah datang.” Nio bergumam sendiri.             Nio pun berjalan kedepan menuju taksi pesanannya kemudian mengunci pagar rumahnya.             Taksi pun berangkat dari depan rumah Nio menuju ke arah kampusnya Nio di Ganesha.             Cukup lama di jalan dan hampir jam 20.00 taksi itu baru sampai di kampusnya Nio.             Setelah selesai membayar taksinya Niopun langsung berjalan kearah halaman kampusnya. Halaman kampus mulai penuh sesak oleh para mahasiswa dan pengunjung lainnya yang ingin melihat pentas Musik Kampus malam itu.             “Hey Nio.” Teriak teman-teman Nio memanggilnya. “Disini ada tempat.” Teriak mereka mengacung-ngacungkan tangannya.             Mereka itu adalah teman-teman jurusan pascasarjananya Nio yang pada nonton festival Musik Kampus.             “Hey.” Teriak Nio sambil berjalan kearah mereka melalui kerumunan mahasiswa lainnya yang sudah tambah memadat di lapangan kampusnya itu.             Mereka terlihat berbahagia sambil saling melakukan salam ala anak muda gaul yaitu dengan menepukan masing-masing telapak tangan.             “Sendiri Nio? Mana gandengannya?” Tanya salah satu dari mereka bertanya kepada Nio yang terlihat datangnya sendirian.             “Iya, aku datang sendirian. Belum laku euy.” Balas Nio tertawa.             “Loh gimana sih Nio? Bukannya Yane sudah mulai mepet kamu? Takut Arif ya?” Ujarnya lagi. Mereka sama-sama menggoda Nio.             Percakapan mereka terpotong karena MC sudah mengajak penonton untuk mulai menyaksikan pertunjukan Musik Kampus.             Mereka pun segera menyaksikan acaranya.             Sudah 30 menit Nio melihat acara itu dan rasa hausnya pun mulai menyerang tenggorokannya.             Nio melihat ada tukang jualan minuman dingin di pojokan lapang yang terlihat bersih tempatnya.             Kemudian Nio mengangkat tangannya memberi isyarat kepada temannya bahwa dia haus dan mau minum dipojokan lapang. Mereka menganggukan kepala mereka menandakan mengerti.             Nio segera menuju pojokan lapang dan langsung ketempat jualan minuman itu.             “Maaf satu pak, yang itu.” Kata Nio dengan sopan.             Penjual minuman itu mengambil minuman yang ditunjuk oleh Nio dan memberikan botolnya kepada Nio setelah dibuka tutup botolnya.             “Pak, ada tissue nggak ya buat membersihkan mulut botol ini?” Tanya Nio kepada penjual minuman itu.             “Yah., nggak ada atuh den.” Jawab bapak itu sambil tersenyum, “maaf yah.”             Nio terlihat bingung dan dengan nekad dia memegang kaos bagian bawahnya untuk dijadikan lap.             Namun sebelum melakukannya tiba-tiba ada yang menyela. “Ehh jangan! Itu kotor.” Katanya memegang tangan Nio dan menarik bagian bawah baju kaosnya. “Ini aku ada tissue.” Katanya lagi sambil menyerahkan se pak kecil tissue kering.             “Ehh Ros!” Kata Nio. “Kirain siapa. Sama siapa kamu datang? Aditya?” Tanya Nio menerima tissue dan mengelap mulut botol minumannya.             “Nggak. Saya sama Meylani teman sekelas. Mas Nio suka ya nonton yang begini?” Tanya Rostina.             “Saya sendirian. Kalau tau kamu suka nonton pentas musik pasti tadi aku tawarin bareng.” Ujar Nio.             Rostina tertawa.             “Oh iya Ros. Duduk disana yuk. Kaki saya tiba-tiba cape berdiri terus,” Ujar Nio mengajak Ros duduk.             “Boleh yuk.” Jawab Rostina.             Nio dan Rostina berjalan menuju pinggiran lapang mencari tempat untuk duduk.             Setelah mendapat tempat lalu merekapun duduk bersebelahan.                 “Oh iya. Mana teman kamu Ros. Dari tadi saya tidak melihatnya.” Tanya Nio.             “Iya tadi saya berdua sama Meylani tapi dia diculik teman lakinya. Tuh disebelah sana.” Kata Rostina menunjuk kearah lain sekitar lapang kampus.             “Oh gitu. Kasihan, sendirian dong. Makanya ajak pacarnya kalau mau menonton jangan malah membawa teman sejenis.” Canda Nio tertawa.             “Nah pacar mas Nio mana? Yane nggak dibawa? Kasihan dehh.” Balas Rostina yang gantian meledek Nio.             “Yane? Aku nggak ada apa-apa sama Yane, Ros. Diakan pacarnya Arif teman S2 nya juga. Tapi aku bawa kok pacar.” Ujar Nio.             Rostina kaget dan menundukan kepalanya. Hatinya menjadi sedih karena ternyata Nio sudah punya pacar.             “Mana? Coba aku ingin kenal kalau ada sekarang.”             “Ada dong Ros, ini disebelah aku.” Kata Nio menunjukan jari telunjuknya kearah Rostina.             Rostina kaget ditunjuk oleh Nio. “Hah! Kalau gitu mas Nio pacarku dong?” Sergah Rostina sambil tertawa. “Jadi aku bawa pacar juga dong.” Rostina tertawa lagi.             Mereka berduapun tertawa terbahak-bahak.             Mereka tenggelam dalam canda dan tawa berdua dan lupa akan tujuan mereka ke lapangan kampus malam ini.             Tanpa memperhatikan kembali festival Musik Kampus merekapun sepakat untuk keluar dari lapangan itu dan menuju ke pintu gerbang keluar.             Malam semakin larut Rostina dan Nio masih terlihat bersama di luar kampus.             Rostina kaget setelah melihat jam tangannya yang menunjukan jam 10 malam.             “Aduhh, sudah jam sepuluh mas Nio. Aku harus segera pulang.” Katanya berdiri dari duduknya di jembatan kampus.             Nio ikut berdiri dan menawarkan diri sambil menenangkan Rostina. “Tenang Ros.” Ujar Nio memegang pundaknya Rostina. “Saya antar pulang yah.” Kata Nio tersenyum.             “Tidak merepotkan mas Nio?  Ini kan sudah malam juga mas.” Tanya Rostina.             “Tidak Ros. Kita naik taksi saja. Lagi pula arahnya sama kan? Hanya beda tempat saja.” Nio menjelaskan rencananya. “Jadi saya antar kamu pulang dulu, baru taksi itu mengantar saya ke tempat saya.”             “Baiklah kalau tidak merepotkan mas Nio. Saya ikut saja.” Akhirnya Rostina menyerah kepada pilihan Nio.             “Nah, gitu dong.” Kata Nio yang terus melambaikan tangannya kearah taksi yang ada disekitar kampus.             Taksi itu datang lalu mereka berdua pun berangkat menuju tempatnya masing-masing.             Menjelang malam saat mereka akan tidur pikiran Nio dan Rostina melayang-layang membayangkan kejadian yang baru saja dialaminya oleh mereka berdua di kampus.             Mereka tidak menyangka akan seperti itu kejadiannya terutama Rostina.             Rostina meskipun sudah mengenalnya bahkan sudah menyuapi segala tapi tetap hanya memendam perasaan saja. Setiap hari Rostina selalu melihat Nio di jendela ruang kuliahnya dan perasaan keinginan taunya yang selalu ada dibenaknya. Apa Nio sayang dan cinta sama dirinya? Namun malam ini tiba-tiba saja menjelma menjadi kenyataan bisa merasakan getaran cinta Nio ada untuknya.             “Aneh, ah.” Bisik hati Rostina. Apa bisa ya?”             Lain lagi dengan Nio. Sepulangnya dari kampusnya, Nio langsung ke kamar mandi dan ganti pakaian kaosnya langsung menuju tempat tidurnya.             “Hallo!” Kata Nio.  “Hey Mah, apa kabar?” Sapa Nio yang menghubungi ibunya dengan telepon.             “Hallo! Hey Nio, belum tidur kamu?” Balas ibunya yang duduk di sofa tamu bersama suaminya.             “Belum Mah. Sebentar lagi. Aku telepon hanya kangen saja sama Ayah dan Mamah juga Kakek Hansen. Gimana pada sehat disana?” Balas Nio.             “Iya sama Nio. Kami juga kangen sama kamu. Kami semua sehat-sehat saja kok. Masih lama yah 5 bulan lagi baru ketemu kamu di Bandung.”             “Iya Mah. Masih lama tapi nggak apa deh yang penting nanti ketemu.” Ujar Nio menguap karena ngantuk. “Nio baru datang dari kampus Mah. Sudah nonton festival musik kampus.” Lanjut Nio. “ Terus hari Senin ada sesi pagi-pagi.  Nio hanya mau bilang itu aja kok Mah.” Sambung Nio.             “Oh gitu sayang. Sama siapa kamu perginya? Pacar ya?” Tanya ibunya Nio.             “Belum jadi pacar sih Mah. Masih pendekatan.” Nio tertawa. “Tapi kelihatannya anaknya mau sama Nio.”             “Halah sombongnya anak Mamah. Siapa bilang dia mau?”             “Nggak blang tapi dari perilakunya saja Mah.” Balas Nio ketawa lagi.             “Iya Nio. Mamah tantang kamu yah. Kalau nanti Mamah dan Papah kesana kamu sudah harus mengenalkannya sebagai pacar beneran. Giman setuju?” Tantang ibunya kepada Nio.             “Setuju Mah.” Nio semangat.             “Oke. Mamah tunggu ya. Kamu mau bicara sama Papa?” Tanya ibunya.             “Besok saja yah Mah. Nio sudah mulai mengantuk. Nio mau tidur saja. Titip salam saja buat Papah ya Mah.” Kata Nio menguap.             “Iya Nio. Nanti Mama sampaikan ke Papa kamu yah. Selamat tidur Nio dan janngan cape-cape yah.” Ujar ibunya.             “Terimakasih Mah. Selamat malam juga. Ich liebe mama und papa auch opa.” Balas Nio menutup teleponnya.             Niopun merebahkan badannya dikasur kamarnya.             Suasana malam minggu di wilayah rumah tinggalnya terasa sangat sepi namun Nio belum bisa tidur juga padahal kantuk sudah menyerangnya sejak tadi.             Diantara lamunan yang masih mengganggunya adalah kejadian tadi dikampus yaitu senyum manisnya Rostina yang giginya berderet rapih.             “Cantik juga kamu Ros.” Bisik hati Nio. “Apa betul ya dia suka aku?” Pikir Nio membalikan badannya.             “Ahhh!” Gumam Nio yang berusaha memejamkan matanya.             Jam 5 pagi Nio sudah bangun dan menggerakan otot-otot badanya dengan berolah raga di halam rumahnya. Kembali dia mempraktekan gerakan-gerakan beladirinya seperti biasa.             Nio berolah raga kali ini hanya satu jam saja. Badannya terasa agak cape dan pegal-pegal mungkin karena pengaruh semelam menonton musik di kampusnya.             Nio istirahat melemaskan badannya dikursi taman ditemani teh manis panas dan cemilan kue-kue jajanan pasar yang disediakan oleh Endah.             “Hari ini nggak kemana-mana mas Nio?” Tanya Danang.             “Nggak pak. Memangnya kenapa?”             “Saya ada perlu sama istri saya ke dokter kandungan untuk meriksa kandungan istri saya.”             “Istri pak Danang hamil?” Tanya Nio menegakan badannya.             “Aamiinn!” Ujar Danang. “Nggak mas Nio. Justru saya dan istri sedang dalam program agar istri saya hamil. Saya dan istri sudah 4 tahun menunggu kehamilan. Kalah sama Endah.” Ujar Danang memelas.             “Sabar pak. Belum saatnya mungkin. Tapi yakinlah suatu saat pak Danang punya anak.” Kata Nio membesarkan hati Danang.             “Iya mas mudah-mudahan saja.”             “Ya boleh pak Danang saya dirumah saja kok hari ini. Kecuali si manis itu menyuruhnya datang.” Ujar Nio tertawa.             Danangpun ikut tertawa.             “Jadi pak Danang pakai saja mobil saya. Kalau ada apa-apa saya bisa pakai motor BMW saya. Oke pak?”             “Ahh jangan mas. Pakai angkot saja, Nggak apa-apa kok.”             “Tidak usah berdebat pak. Sekali-kali menyenangkan dan membahagiakan istri itu kewajiban suaminya.”             “Kata siapa itu mas. Ya suami yang mampu. Kalau saya tidak kena itu.” Bantah Danang.             “Siapapun itu. Yang namanya suami ya harus begitu. Itu kata Papa saya. Sekarang pak Danang ada mobil yang nganggur. Ya pake saja dong.” Kata Nio. “Dan ini uang untuk membeli bensin, makan dan biaya dokternya.” Nio memberikan beberapa lembar uang kepada Danang.             Danang tidak berkutik lagi selain menerima apa yang dikatakan majikan mudanya.             “Iya mas. Terimakasih.”             Tidak lama kemudian mobil yang dikemudikan Danang sudah melaju dijalanan menuju dokter kandungan.             Nio tersenyum bangga bisa membantu Danang.             “Mbak Endah!” Teriak Nio.             Endah datang kedepan Nio.             “Mbak saya lupa membawa radio dikamar. Kaki saya masih cape. Bisa tolong ambilkan radionya mbak?”             “Bisa mas. Sebentar yah.”             Tidak lama Endah sudah kembali membawa radio. Kemudian Nio menyetel radionya dan mencari frekwensi yang biasa Rostina mendengarkan lagu-lagunya.             Beruntung hari itu Rostina juga sudah mengirimkan permintaan lagu kepada penyiarnya.             Pas dengan Nio mendapatkan frekwesinya, pas saat itu juga penyiar membacakan pesannya.             “Kemudian akan kami sampaikan juga permintaan dari Rostina. Buat yang semalam mengantar dan mengaku pacarnya Rostina di acara musik kampus, selamat mendengarkan. Semoga menjadi pacar beneran. Begitu buat Antonio Hasse di Riau yah. Selamat mendengarkan lagu I Love You dari Sofie ini.             Setelah itu mengalunlah lagu I love you yang dipesan oleh Rostina.             Nio meresapi setiap lirik dan bait dari lagu ini. Hatinya menjadi senang sekaligus sedih sebab ada lirik kesedihan dipenghujung lagunya.             Disaat yang sama Rostina juga mendengarkan lagu ini. Tanpa disadari airmatanya menetes membasahi pipinya.             “Nio. Inilah aku dalam lagu.” Bisik hatinya.             Diatas jendela rumah sebelah rumah Nio tersenyum melihat Nio yang mendengarkan radio. Seperti kelihatannya orang kuno.             “Hey mas Nio!” Ranti berteriak dari atas. “Enak lagunya?”             “Yah! Enak banget Ran. Menyentuh nih.” Teriak Nio menunjukan arah jarinya ke hatinya.             “Aku kesana yah mas?”             Nio menganggukan kepalanya.             Pling 2 menit Ranti sudah berdiri dihadapan Nio. Ranti memakai pakaian olahraga yang longgar kecuali bagian atasnya yang ketat. Nio melihat Ranti hanya tersenyum.             “Duduk Ran!”             “Iya mas.” Jawabnya dan duduk di kursi taman sebelahnya Nio.             “Makanannya dimakan yah kalau suka?”             “Iya mas. Tapi takut gendut ah. Ntar nggak laku lagi. Sekarang saja sudah kurusan dan menarik tapi nggak ada laki-laki yang mau.” Ujarnya kalem saja tanpa basa-basi.             Nio tertawa mendengarnya. “Siapa bilang tidak ada yang mau sama kamu? Itu tandanya orang berkacamata.” Ujar Nio bercanda.             “Masa sih mas?”             “Iya betul itu. Kamu tuh cantik. Mau kurus, mau gemuk sama saja. Cantik.” Lanjut Nio.             Mendengar itu tanpa dikomando lagi Ranti langsung meraih makanan yang ada di meja taman dan memakannya.             Nio tertawa lagi.             “Mas Nio! Mas Nio sudah punya pacar belum?” Ranti bertanya. Kali ini kelihatan serius dari sorot matanya.             “Sudah Ran. Kenapa memangnya?” Nio mengaku sudah punya pacar hanya ingin mengujinya saja.             “Ahh sudah yah. Keduluan deh aku. Padahal aku itu suka loh sama mas Nio.”             “Masa sih Ran? Aku kan tidak ganteng. Tidak kaya bule lagi.” Balas Nio yang terus memancing reaksi Ranti.             “Nggak ahh, nggak gitu. Mas Nio itu tampan. Badannya bagus, tinggi lagi. Makanya aku suka saat pertama kali melihat mas Nio.”             “Oh ya?” Nio jadi kaget dan agak menyesal mendengar pengakuan Ranti seperti itu.             “Ah sudahlah lupain ya mas. Aku ngomong ngaco. Udah ah aku pulang saja.” Kata Ranti berdiri. “Makasih kuenya. Enak loh. Kalau nanti-nanti mau berolah raga lagi ajak aku ya mas. Kita lari pagi di Gasibu.”             “Iya Ran. Nanti kita lari pagi disana kapan-kapan.”             “Oke.” Katanya dan berjalan menuju ke rumahnya.             Nio termenung mendengar kata-kata Ranti barusan. Ternyata semudah itu dia jatuh cinta pada orang yang belum dia kenal betul. Perasaannya mengatakan mungkin dirinya juga sama seperti Ranti yang mencintai Rostina dalam sekejap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN