“Panji? Tumben kamu ke sini?” tanya Herlambang—sang Ayah yang saat ini duduk dihadapannya. Lita pun ikut duduk disebelah suaminya dan menatap wajah Panji yang saat ini duduk dengan terpaksa didepannya. “Apa kamu kehabisan uang? Bukankah Papa sudah kasih kamu blackcard, rumah, mobil dan motor kesayanganmu? Bahkan Papa membelikan apartemen dan rumah untuk kamu. Atau kamu kemari karena ingin kerja di perusahaan Papa? Menggantikan Papa?” tanya Herlambang menatap Panji yang saat ini duduk diam dan belum mengatakan apa pun. “Aku kemari ada perlu,” jawab Panji. “Kamu ada perlu apa?” tanya Herlambang. “Katakan saja. Apa pun keinginanmu akan Papa penuhi. Kamu adalah pewaris tunggal Papa. Adikmu tidak tahu tentang perusahaan dan dia tak tertarik pada perusahaan. Jadi, kamu lah yang harus menjadi

