Angela dan Angelo

1045 Kata
Makan malam terburuk dalam hidup Mangata, ia tidak bisa makan dengan lahap, perutnya mengencang, tenggorokan menolak menelan makan yang ia makan, apalagi setelah beberapa kali menangkap basah Angelo yang menatapnya dengan berani, remaja itu seolah bisa membaca semua gerak geriknya. "Pak Gata bisa sekalian take away Sushi nggak? Mama nitip sushi tadi." Angela berseru di sela menikmati makanannya. Akibat pertemuan tidak terduga ini, akhirnya Mangata memutuskan mengajak mereka makan dia restauran Jepang, ia tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. "Tentu, Sami kamu juga bisa kalau mau take away, pak Fini juga." Mangata tidak mungkin pilih kasih pada dua sekretarisnya yang lain. "Wah, thank you pak." Sami berseru senang, bahkan wanita itu langsung memanggil pelayan. "Kamu nggak mau pesan lagi?" Tanya Mangata pada Angelo, ia hanya ingin mencoba membangun obrolan dengan puteranya, ia memiliki seorang puteranya juga. Kecanggungan masih terasa di antara keduanya, apalagi Angelo ia tidak terbiasa ada pria yang memperhatikannya seperti Mangata. Apa dia tertarik sama Angela? Batin Angelo bersuara, itu tidak boleh. Pikiran Angelo itu salah, mungkin bagi dia dan orang yang tidak tahu, mungkin mengira Mangata suka dengan daun muda, namun Mangata berbeda, ia tidak tertarik dengan Angela maupun daun muda yang lainnya, ia hanya tertarik dengan seorang wanita bernama Kemala. "Udah cukup kok pak, makan ini aja, kalori harian saya lewat dikit." Jawaban Angelo membuat Mangata tertawa, "Kamu persis seperti saya dulu, maunya jaga body terus. Saya kasih satu rahasia buat kamu, kalau mau makan banyak naikkin massa otot kamu," Angelo menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar, Mangata tertegun sejenak, kata orang Kenandra mirip dengannya, namun kalau di teliti tidak terlalu mirip, berbeda dengan Angelo, anak ini benar-benar mirip denganya. Sekali lagi Mangata yakin, kalau Angela dan Angelo memang darah dagingnya. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan Kemala. Setelah makan malam menyenangkan pada akhirnya, Mangata bisa makan dengan nyaman, diselingi obrolan kecil dengan Angelo maupun Angela. "Pak saya ijin pulang duluan, udah di jemput pacar." Mangata mengangguk kepala saat Sami meminta ijin untuk pulang lebih dulu, Fini sudah pulang mendahului, pria paruh baya itu di jemput anak bungsunya. "Kalian pulang naik apa?" Angela menatap Angelo, kedua saling menukar tatapan. Lalu menatap Mangata. "Naik Grab car pak, motor saya juga di kantor, motornya Angelo di bawa ke bengkel tadi." Mangata menggelengkan kepalanya, "Saya antar, kan juga searah." Bualan Mangata, padahal pria itu hanya ingin tahu di mana sebenarnya wanita idamannya tinggal. "Nggak usah pak, lagian saya mau anterin Angelo ke toko buku dulu, tujuan awal dia dateng ke sini kan cari buku," tolak Angela halus, gadis itu juga tau, tempat tinggalnya dengan Mangata itu tidak searah, Mangata tinggal di apartemen dekat kantornya. "Tidak apa-apa, saya juga nggak ada kerjaan di rumah." Angela dan Angelo saling beradu pandangan, keduanya ingin menolak, namun semua alasan yang di utarakan Mangata pasti akan tetap bersikeras untuk mengantar, pada akhinya Angelo menggangguk kecil, "Jangan marah kalau bensi bapak habis banyak, rumah kami jauh," seru Angela pasrah, "Nggak akan," jawaban Mangata yakin diiring senyum semringah. "Njel gue mau ke sana dulu," seru Angelo meninggalkan Angela dan Mangata. Setelah memastikan Angelo sudah pergi jauh, Angela mendekati Mangata,"Pak kalau saya kasih tahu Angelo rencana kita gimana?" Tanya Angela spontan, semenjak makan malam tadi, ia sudah berpikir untuk memberitahu Angelo tentang misinya, tentunya untuk tidak menimbulkan kecurigaan. "Terserah kamu Njel." Angela memutar bola matanya malas, semua pria itu sama, terserah katanya. "Pak Gata kok gitu sih, emang pak Gata mau punya dua anak sambung?" Mangata menghela napas panjang, puterinya ini tidak curiga sama sekali, dengan niat terselubungnya. "Kenapa tidak, apalagi di umur saya yang sekarang wajar saya punya dua anak seumuran kalian, nikah sama mama kamu langsung dapet bonus anak." "Bapak udah ngebet banget nikah sama mama saya --" "Siapa yang mau nikah?" Ya Tuhan bisa tidak Angelo tidak menyela perkataannya. Angela membalikan badannya, lalu menatap nyalang Angelo, "please siapa juga yang mau nikahin gue," ketus Angela. Angelo menatapnya datar, "gue denger lo ngomong gitu sama pak Mangata." Angela mendekat kearah Angelo, lalu menjewer telinga adiknya itu. "Bukan gitu konsepnya, pak Gata yang mau nikahin mama," kata Angelo. "Apa?" Angela membekap mulut adiknya, pengunjung lain mulai memperhatikan mereka. "Lepas njel," gumam Angelo. "Lo kok terkejut gitu?" Tanya Angela, apakah ada yang salah. "Ehh mau kemana?" Angelo menarik tangan kakaknya itu, mencari tempat yang sepi, Mangata juga hilang entah kemana, Angelo sempat melihat pria itu pergi sesaat setelah menjawab mendapatkan panggilan mendadak. "Maksud lo apaan Njel? Mana mungkin Pak Mangata mau nikahin mama, atau ini akal-akalan dia buat deketin lo." Angela mengerutkan dahi, kedua alisnya menyatu ketengah. "Lo kok punya pikiran yang sama kaya gue. Maksud gue, awal-awal gue udah pernah ngomong langsung ke pak Gata kok, tapi di bantah, dia pengen banget nikah sama mama, satu lagi mala gue jadi mak comblangnya." Angelo menyandarkan tubuhnya di rak buku yang ada di belakangnya. Angela terlalu polos atau bodoh, pasti ada sesuatu yang di rencana Mangata, ia bisa merasakannya. "Dan lo setuju nggak kalau pak Gata jadi papa kita?" Tanya Angelo hati-hati. " maksud gue suami dari mama?" ini masalah sensitif, ia tidak ingin Angela terluka, dengan harapannya. Angelo terdiam, pikirannya berkelana, ini pertama kali ia bertemu dengan Mangata, ada sesuatu tak kasat mata yang membuatnya senang, berbeda saat bertemu dengan Naratama. "Mama setuju nggak? Kita kan nggak mau mama nikah." Angelo mencoba menyadarkan kakaknya, sejak dulu Angela tidak ingin mama menikah. Angelo tahu mereka mencoba menghalangi kebahagian mamanya, namun beberapa calon yang dikenalkan mamanya tidak ada sreg di hatinya. "Gue udah mikir puluhan kali, kita uda besar sekarang, nggak mungkin selamanya kita bisa sama mama, gue nggak mau di masa tuanya mama sendiri, sedangkan kita udah punya pasangan masing-masing, seenggaknya menurut gue pak Gata calon paling potensial," jawab Angela, ia sudah memikirkan secara terperinci. "Apalagi nggak gosip yang aneh-aneh tentang pak Gata," sambung Angela lagi. "Potensial menurut lo gara-gara dia direktur utama?" Angela menggelengkan kepala, "Tanpa sosok laki-laki, finansial mama udah terjamin, tapi entah kenapa hati gue bilang pak Gata memang sosok yang harus mengisi Posisi suami dan papa di keluarga kita." Angelo mengusap pelan rambut kakaknya, menatapnya dengan lembut, memeluk Angela dengan erat. "Gue ngikut lo aja," bisik Angelo pelan, tentu Angelo ingin mencari tahulebih dalam tentang Mangata, sebelum itu ia harus bisa memiliki akses untuk bisa menjalankan misinya. TBC... Ada bisa nebak nggak apa misi Angelo hai semoga kalian sehat selalu...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN