Peringatan Keras!

1043 Kata
PERINGATAN KERAS! "Bolehkah aku membaca pesan itu?" tanya Dion penasaran. Aruna pun dengan polos mengagukan kepalanya. Dion segera merebut HP Aruna, dia membuka beberapa pesan beruntun dari Revan. Lelaki itu membaca semuanya ucapan dan janji-janji manis Revan kepada Aruna agar wanita itu mau kembali padanya dan menjadi yang kedua dengan segala gombalannya. Dion memang tidak mencintai Aruna namun dia tak suka jika barang miliknya di sentuh oleh orang lain. [Hei! Aku mencintaimu, Aruna. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Percayalah ini semua adalah caraku agar kita berdua bisa bersama] [Sayang, Aruna. Tolong berikan aku kesempatan lagi, bertahanlah untuk jadi yang kedua sekali ini saja. Aku berjanji akan segera menyelesaikan semuanya,] [Bisakah kita bertemu? Aku akan memberikan semua penjelasannya. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Please, setelah kau mendengarkan semua penjelasanku maka kau bisa memilih sendiri jalan hidupmu nanti. Apakah kau tak akan percaya dengan semua ucapanku setelah kita sekian lama?] [Aruna, dengarkan aku. Aku bersama kakakmu hanya demi keuntungan semata. Tunggu sampai aku menjadi penerus keluarga Tjahyadi. Setelah semua aset itu aku dapatkan maka kita akan menikah. Apalagi kau kan sangat tahu statusmu dalam keluarga itu bukanlah anak kandung] [Aruna meskipun Tuan Dion itu memiliki banyak uang tapi apa kamu tahu apa yang orang lain katakan? Dia itu lelaki b******k. Kamu ditipu olehnya. Apakah kau yakin mempertaruhkan hidupmu hanya demi harta yang tak akan membuatmu bahagia dari pada cinta,] "Ck," decih Dion. Tanpa berkata lagi Dion segera menelponnya, tak membutuhkan waktu lama, Revan langsung mengangkatnya. "Hei Aruna, Sayang. Akhirnya kamu menelponku. Apakah kau sekarang sudah sadar?" sapa Revan. "Kenapa? Apa kau sudah menyerah? Apa kau sekarang sudah sadar bahwa lelaki yang menjadi suamimu itu tidak lebih ingin memanfaatkanmu saja?" sambung Revan. "Aruna, Aruna. Kau ini polos sekali! Ck, akan bahaya gadis polos dan baik sepertimu hidup di dunia ini. Ingat Aruna kau harus sadar dan menggunakan otakmu, bahwa tidak akan ada yang gratis di dunia ini. Seperti katamu, kita sudah bersama dala waktu yang lama, apa kau tak sadar hanya akulah yang benar-benar mau menerimamu? Kita ini realistis saja aku sudah dengar semuanya dari Tuhan Agung atau pun Tuan Tjahyadi bahwa kau adalah anak angkat mereka kan? Kau bukan anak kandungnya," jelas Revan. Dion tak menjawab, dia hanya diam membiarkan lelaki itu berkata semaunya. "Kita ini sama-sama dari keluarga miskin, Aruna. Bukankah lebih baik jika bersatu dan hidup lebih baik di dunia ini? Kau mencari keuntungan dengan menjadi istri ku, sementara dari Tuan Dion kau bisa mengambil hartanya. Lalu aku akan mencari cara untuk mendapatkan perusahaan Tuan Dion, kau hanya akan jadi hiasan, jadi pajangan saja. Sedangkan denganku? Kita bisa hidup bersama dan bahagia sebagai pasangan nantinya. Bagaimana menurutmu?" tanya Revan. Dia benar-benar tidak tahu kalau yang menelpon adalah Dion. Aruna menggelengkan kepalanya lemah, dia tak mengira Revan selama ini akan memiliki pemikiran sepicik itu, bahkan menurut Aruna sendiri Ini sudah terlewat batas. Tanpa membuang waktu lagi Dion segera memencet tanda video. Dia meminta panggilan video call untuk bisa melihat wajah b******k Revan. "Halo Aruna! Sayangku, aku sungguh merindukanmu. Apakah kau merindukanku?" tanya Revan. Dion menghadapkan panggilan kamera itu ke langit-langit kantornya. Aruna segera bersembunyi di balik tubuh Justin. Dia merutuki kebodohannya selamaa bertahun-tahun ini. Bagaimana bisa dirinya mencintai lelaki seperti Revan. "Kenapa dulu aku tidak menyadari jika dia segila ini?" batin Aruna. "Hei Aruna, kenapa diam saja? Kau mau menyiksaku seperti apa lagi? Bahkan aku sudah mengakui kesalahanku. Kenapa kamu masih tidak memaafkanku?" tanya Revan. Dion menampakkan wajahnya di kamera. "Karena dia wanitaku," jawab Dion. "Eh Tuan Dion," sahut Revan kaget sampai terduduk lemas di lantai. "Apakah kamu sangat senggang? Aku tidak keberatan untuk membuatmu menjadi sibuk. Apakah kau mau? Kau ingin ku buat seperti apa?" ujar Dion setengah mengancam. 'Tut' Dion segera mematikan telponnya. Sedangkan di sisi lain Revan kaget, dia pun langsung membanting HP nya di kasur. Kemudian dia menengguk minuman keras lagi yang ada di sampingnya. Dion memberikan HP itu kepada Aruna. "Aku sudah memblokirnya. Jika dia mengganggumu lagi katakan saja padaku," perintah Dion memberikan HP itu pada Aruna. "Terima kasih Tuan," jawab Aruna. "Ayo ganti bajumu. Aku sudah menyiapkannya, gantilah. Kita pergi makan," ajak Dion, dia meraih tangan Aruna. Tanpa Dion sadari perlakuannya itu memang simpel dan tak berarti tapi berbeda bagi Aruna. Entah mengapa dia baru merasakan di cintai oleh lelaki pertama kali. Ya, ini pertama kalinya bagi Aruna merasakan di sayangi da di cintai oleh lelaki, di perlakukan dengan baik. Ya, meskipun satu sisi dia sadar semua ini hanya ikatan kontrak saja. "Aku tak boleh terlalu terbawa perasaanku sendiri," batin Aruna. Mereka pun pergi ke salah satu restoran yang sudah di siapkan oleh Dion. Betapa terkejutnya Aruna melihat banyak hidangan di meja makan. Dia sampai heran, apakah mungkin Justin mengajak makan orang lain selain dirinya. "Tuan Dion? Apa kamu mengajak orang lain untuk makan kali ini?" tanya Aruna. "Kenapa memangnya?" sahut Dion mulai mengambil makananya. "Jika untuk dua orang saja bukankah ini terlalu banyak?" tanya Aruna melihat banyaknya hidangan di meja. "Apa seperti ini cara makan orang kaya? Meskipun keluarga angkatku adalah orang kaya juga tetapi dia tak akan membuang banyak uang untuk hidangan semewah ini," batin Aruna dalam hati melihat banyaknya hidangan di meja. Mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, bahkan hidangan penutup Dion memang memesan banyak sekali hidangan seafood. Mulai dari abalon, sushi tuna sampai unagi (Belut jepang), sashimi salmon bahkan kerang semua terhidang lengkap dengan croisan dan salad buah sebagai hidangan penutupnya. "Kenapa? Apakah menurutmu ini banyak?" tanya Dion heran, dia memang terbiasa makan dengan berbagai macam hidangan. "Tentu, Tuan. Bahkan menurutku ini bisa untuk makan lima orang," sahut Aruna. "Ini tidak banyak. Makanlah yang banyak biar tubuhmu lebih berisi, jadi lebih enak untuk disentuh," jawab Dion sambil memegang pipi Aruna lembut. "Hah? Lebih enak untuk disentuh? Apa maksud perkataannya?" batin Aruna dalam hati. Dia pun mulai menyantap hidangan itu. Enak sekali, benar-benar dia merasa keberuntungan sedang ada di tangannya. Bagaimana tidak? Hidupnya sekarang berubah 180 derajat. Dia bisa bebas makan apapun yang dia suka, bahkan dia rasa hidangan mewah pun terghidang di kamarnya. Padahal sebelumnya aruna harus makan dengan apa yang di berikan keluarga Tjahyadi. Makanan sisa makan malam keluarga besar mereka. "Hei Arumi, Sayang. Bagaimana rasanya menjadi Nyonya Revan?" SIAPA DIA? BERSAMBUNG Penasaran dengan Justin dan clarissa? Intip gambarnya di sosmedku ya ada igoy dan feboy atas nama Secilia Abigail Hariono/ Secilia_hariono
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN