SIAPA DIA?
Lelaki itu pun menoleh, dia kaget ketika melihat Alexandria berdiri di hadapannya. Tentu ini akan menjadi berita yang cukup menegangkan dan kemungkinan Dion akan marah melihat kedatangannya. Untung saja lift di kantor itu berbunyi, dia melihat Dion di sana.
"Nah itu dia Tuan Dion," kata Rafli langsung kepada wanita itu, dia mencoba menghindarinya.
Tanpa membuang waktu lagi wanita itu langsung menghampiri Dion yag terlihat cukup kaget dengan kedatangannya. Dia langsung memeluk Dion, nampak mesra sekali namun sepersekian detik Dion justru menunjukkan sikap sebaliknya. Dia menatap Rafli dengan pandangan murka, membuat lelaki itu berpura-pura tak tahu apa yang terjadi. Dion langsung menghela nafas panjang.
"Sayang aku kembali," kata Alexandra langsung memeluk Dion.
"Aku juga sangat merindukanmu. Apa kamu tak merindukanku? Bukankah hampir setahun kita tak bertemu begini? Aku benar-benar merindukanmu, maaf ya jika akhir-akhir ini aku terlalu sibuk sendiri. Apa kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.
Dion diam, dia memiliki wajah yang datar. Dia sama sekali tak meresponnya, membuat wanita itu melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah lelaki di hadapannya setengah tak percaya. Tak biasanya Dion akan bersikap sedingin ini meski pun biasanya Dion juga dingin..
"Apa kamu tidak senang melihatku, Sayang? Kenapa ekspressimu seperti ini? Aku telah menolak dua tawaran iklan besar loh untuk datang ke sini. Kenapa kau tak menghargainya? Aku berkorban banyak untukmu," katanya sambil memelaskan mukanya pada Dion. Tapi Dion tetap diam, ia tidak bergemi sedikitpun.
"Sayang kenapa kau seperti ini? Aku sedih melihatmu seperti ini," tanya Alexandria lagi sambil memeluknya dengan erat.
"Kenapa kamu manggilku seperti itu? Panggil aku Dion seperti biasanya. Aku risih dengan panggilan sayang darrimu," jawab Dion.
"Apa? Kenapa?" pekiknya kaget.
"Hubungan diantara kita sudah berakhir dan aku sudah menikah. Jadi hentikan semua ini," tegas Dion.
"Hahaha. Kau ini bercanda ya? Kau marah padaku karena aku sibuk? Sayang, jangan mengatakan seperti itu," sanggah Alexandria.
"Aku serius," sahut Dion.
"Kau ini lucu sekali! Berakhir apanya? Tidak mungkin kita berakhir semudah itu, Sayang. Bukankah kamu menyukaiku? Kenapa kau berkata seperti ini? Dion, kali ini benar-benar tak lucu, lagi pula kita sudah bersama dalam jangka waktu yang lama. Kau memutuskan semuaya dengan mudah? Apa karena pernikahan konyol itu? Sayang, dengarkan aku baik-baik, aku sangat mencintaimu. Amat sangat bahkan tapi kau tak boleh egois dong, kau juga harus mengertiku," jelas Alexandria.
"Pekerjaanku di dunia entertain menuntut tubuh yang bagus, ideal, dan cantik. Apalagi ketika ada rumor pernikahan akan dengan mudah menjatuhkan popularitasku. Bukan karena aku tidak bisa melahirkan, aku juga wanita normal yang bisa memberimu anak tapi di sisiku anak yang lahir akan mengganggu karirku dan itu juga yang membuatku untuk tidak bisa menikah dalam waktu dekat," sambungnya.
"Lagi pula bukankah aku sudah memberikan pilihan padamu juga? Kau bisa memiliki satu perempuan lagi untukmu, kau bisa menikah dengannya, memiliki anak tanpa harus merepotkan aku. Kita juga tetap masih bisa bersama. Bukankah ini sangat menguntungkan untukmu? Lalu kenapa kau tiba-tiba berkata hubungan kita berakhir? Apa kau melupakan semua kesepakatan yang sudah kita buat?" lanjutnya.
Dion tersenyum sinis penuh arti. Begitu lah Alexandria wanita cantik nan modis yang selama ini menjadi kekasihnya. Dia selalu mengesampingkan perasaan pasangannya, hanya memikirkan ego dan ambisinya sendiri. Awalnya Dion memang mencintai wanita itu namun lama-lama dia muak dengan tingkahnya. Dia hanya terus mengejar dan peduli pada karier ke artisannya tanpa pernah peduli pada hubungan mereka.
Apalagi ucapan Alexandria tempo hari yang menyuruh Dion menikah kontrak dengan wanita lain namun mereka tetap bersama. Bukti ke-egoisan Alexandria, hal itu langsung mengubah cara pandang Dion pada wanita itu. Dia bisa merendahkan kaumnya sendiri seolah semua bisa di beli termasuk perasaannya. Jadi tak berniat Dion menjalani hubungan toxic macam itu juga dengan wanita seperti Alexandria.
"Aku sudah menikah. Jadi hubungan kita berakir," ucap Dion.
"Apa? Kau sudah menikah? Apa kau yakin? Dengan siapa kau menikah?" tanya Alexandria.
"Ya, seperti katamu. Aku mencari wanita yang bisa menjadi pasanganku, melahirkan anak untukku. Persis seperti apa yang kau perintah dan katakan. Aku hanya menjalankan semua yang kau inginkan. Karena aku sudah menurut maka kau bisa melakukan apa yang aku inginkan, yaitu menjauhlah dariku," terang Dion.
"Bohong!" Teriak Alexandria.
"Untuk apa aku berbohong padamu? Lagi pula ternyaata menikah tak semengerikan itu. Aku senang dia bisa menjadi istriku. Jadi kita berdua sudah berakhir. Terimakasih karena sudah memberikan saran yang lumayan berguna dalam hidupku," ujar Dion.
"A...apa? Tidak mungkin! Tidak mungkin," kata Alexandria menggelengkan kepalanya syok.
"Sudahlah aku akan bekerja. Jika masih ada urusan cari yang lain saja," kata Dion meninggalkan Alexandria.
Ya Alexandria lah yang memulai semua ini dia memang tak ingin menikah apalagi memiliki anak tapi dia ingin hidup bersama Dion sebagai seorang pasangan kekasih tanpa ikatan. Sedangkan Dion sebagai penerus keluarga tentu saja memerlukan keturunan untuk sesuatu hal di masa mendatang, keluarganya juga menuntutnya memiliki keturunan dia. Padahal sudah percaya penuh kepada Alexandria tapi justru Alexandria memanfaatkannya.
Selama ini Dion selalu menurut padanya tetapi dia mengecewakannya dengan mudahnya. Alexandria memberikan tawaran kepada Justin untuk menikah dengan wanita lain tetapi mereka masih berhubungan. Hal yang sangat konyol sekali dan tak mungkin Dion lakukan.
****
Hari ini pertama kalinya Aruna bekerja, dia mengenakan setelan blazer pemberian dari Dion. Nampak cantik dan cocok sekali dengannya. Dengan polosnya dia berangkat bersama Dion, namun karena belum percaya diri dengan make up nya di lobby Aruna memilih untuk memisahkan diri. Setelah menambahkan lipstik nude, dia baru naik ke lantai sembilan belas dimana tempat dia akan bekerja.
"Ah, leganya. Hari Ini pertama kalinya aku bekerja. Ini seperti mimpi saja, hidupku bisa berubah dengan cepat," batin Aruna masuk ke kantor Dion.
Namun sejujurnya dia masih bingung dengan semua ini. Bagaimana bisa masuk ke kantor dan mengurus prosedur masuk kerja dari jalur orang dalam tanpa interview bahkan tak ada lamaran kerja. Mungkin ini juga yang di maksud dengan kekuatan orang dalam, apalagi suaminya adalah presiden direktur di perusahaan ini. Tak heran jika dia bisa mengubah aturan sesuka hatinya.
"Kenapa tadi aku tak bersamanya saja? Sekarang aku bingung. Apa dia sungguh berencana menjadikanku sebagai pegawainya? Aku harus kemana? Kenapa tadi aku tak menanyakannya lebih dahulu?" batin Aruna saat dalam lift, dia menghela nafas panjang sekali.
"Sudahlah ini jauh lebih baik daripada tinggal di sangkar emas milik Tuan Dion. Meski di sana bergelimang harta dan mewah namun aku tetap merasa tak nyaman. Hidup dengan belas kasihan dan akan terbayang balas budi. Aku tidak bisa berbuat apapun. Lagi pula mood ku sangat bagus juga mengenakan baju ini, selera Tuan Dion benar-benar bagus," kata Aruna.
AKANKAH JADI PERANG DUNIA DUA?