Mana ada wanita yang tetap baik-baik saja setelah dirinya melihat sebuah bukti bahwa lelaki yang semula dia percaya, ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi nya. Mana sudah jelas apa alasannya, ya dia sengaja pergi begitu saja tanpa sebuah kabar, jika memang dari awal kepergian nya hanya sementara ataupun mendesak, mengapa tak memberi kabar? Apa tidak ada rasa cemas pada istrinya? Mungkin memang tak ada kecemasan sama sekali dalam dirinya kepadaku.
Aku saja sampai bingung harus bagaimana, untuk pulang ke rumah pun rasanya tak bisa, barang-barang ku ada di mobil nya, lantas apa yang harus ku katakan jika kedua orang serta sanak keluarga bertanya, kenapa aku pulang lagi? Mana suamimu? Ada apa? Dan lain sebagainya.
Kebingungan ini terjadi sampai malam, sudah empat kali salat di masjid yang sama, tinggal menunggu subuh saja nanti. Ah, sudahlah mungkin lelaki asing itu memang berkata jujur, suamiku tak mungkin kembali lagi untuk menjemput ataupun menjelaskan.
Sungguh, terpaksa diriku meminta bantuan pada orang asing hanya untuk menjaga diriku malam ini, tak mungkin meminta bantuan pada yang lain, sudah sangat terlambat.
“Hmm, maaf, apa boleh aku ....”
“Minta tumpangan untuk pulang?”
Kenapa dia seperti itu? Kepedean sekali, mana mungkin aku mau satu mobil dengan lawan jenis yang tak ku kenal apalagi kini aku sudah bersuami, lelaki asing itu pun bukan mahram ku.
Buru-buru aku menggelengkan kepalaku, karena memang bukan itu alasan ku mau berbicara lagi dengannya, ada hal lain yang ingin ku tanyakan.
“Ning? Kenapa? Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?” Dia kembali bertanya.
Sedangkan aku ragu untuk memulai pembicaraan lagi, ini sudah larut malam, bayangkan saja sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam, serba salah jadinya, begitu baik lelaki itu tidak pergi, apa jangan-jangan dia sebuah perantara dari Allah? Untuk menolong ku? Serta membantu. Mungkin saja begitu, sedari tadi orang-orang hanya berlalu lalang tidak seperti dia, tetap diam seperti menunggu aku.
“Katakan saja, saya tidak akan keberatan,” ucapnya.
“Hmm, begitu, ya? Apa bisa kamu pinjamkan uang untuk aku pulang dengan taxi, emm.”
“Wah, kalau soal uang, sih, saya pasti pinjamkan. Tapi, alangkah baiknya kamu tidak naik taxi ataupun angkutan umum lainnya, ini sudah sangat malam. Sangat tidak mungkin aman, apalagi ... pulang dengan tangan kosong seperti kamu, Ning.”
Benar juga apa yang dia ucapkan, lalu aku harus bagaimana? Serba bingung, bisa saja aku menghubungi siapapun yang ada di rumah untuk menjemput, tetapi jika aku nekat melakukan itu, nama baik keluarga akan tercoreng dengan hal-hal negatif lainnya.
Harus bagaimana ya Rabb? Apakah harus aku ikut dengan lelaki itu? Orang asing? Yang bahkan aku sendiri tak tahu dia siapa sebenarnya, bagaimana orangnya saja tidak tahu.
“Lebih baik, saya antar kamu pulang sampai ke depan rumah, tenang ... saya bukan orang jahat, ataupun lelaki yang ada dipikiran kamu sekarang, demi Allah. Saya menunggu kamu untuk menolong bukan ada niat lain,” ucapnya lagi.
“Oh, iya? Apa alasan kamu menunggu sampai malam? Bahkan, kita tak saling mengenal satu sama lain sebelumnya, bisa aja kamu itu ....”
“Saya itu apa, Ning?”
“Hmm, tak apa-apa lupakan aja.”
“Baiklah, sebaiknya ayo, kita pulang sekarang, memangnya mau sampai subuh lagi diam di sini? Ya, memang ini rumah Allah sangat aman, tapi kita tak akan pernah tahu kejadian yang tak diinginkan bisa saja terjadi, kapanpun dan di manapun, oleh siapapun, benar begitu?”.
“Ayo, lebih baik saya antar kamu pulang.”
“Maaf, tapi terima kasih sebelumnya untuk tawaran dan niat baik mu, tapi aku benar-benar tak bisa menerima kebaikan itu, selain aku telah bersuami aku pun tak biasa satu mobil ataupun kendaraan dengan lawan jenis yang bukan mahram,” kataku, dengan meminta maaf.
Semoga saja dia tidak mudah tersinggung dengan segala ucapan ku, dan semoga saja dia langsung mengerti apa sebab dan alasannya, agar tak ada salah pada orang asing seperti dirinya.
“Ning, apa yang kamu katakan tadi semuanya benar dan saya mengerti, tapi ... kita tak akan satu mobil berduaan saja seperti yang kamu pikirkan.”
“Maksudnya ... apa?” tanyaku.
“Ayo, sebaiknya ikut saja dulu, nanti akan tahu sendiri apa maksud saya, tidak baik juga saya terlalu lama di sini,” sahutnya.
Aku masih belum mengerti apa maksud dari semua ucapannya kepadaku. Namun, aku langsung dikejutkan setelah ada seorang wanita sedikit tua dariku memakai pakaian seperti pengasuh bayi, dan tentunya wanita itu membawa bayi, dan sekarang sudah ada di hadapan kami.
“Maaf, Pak. Saya ke luar dari mobil, karena saya tidak tahan ingin ke kamar mandi, karena kalau saya ke luar dari siang kasihan Dede Ibrahim,” ucap wanita itu.
Dede Ibrahim? Oh, mungkin itu nama bayi yang dia bawa, tetapi apa maksudnya? Ku hanya diam sembari menunggu jawaban dari lelaki asing itu, agar aku tak dihantui dengan rasa penasaran.
“Baik, kamu silakan ke kamar mandi, kamu sedang tidak salat, kan? Langsung saja lewat ke arah belakang jika mau ke kamar mandi, biar saya yang gendong Ibrahim,” cecar lelaki itu.
Tak lama pun wanita itu menyerahkan bayi lucu itu kepada lelaki yang ada di hadapan ku, lalu wanita itu mengangguk padaku dan berlalu.
***
“Kenapa? Ini adalah maksud saya, kita tidak akan satu mobil berduaan, ada anak saya dan pengasuh nya,” ungkapnya.
Masya Allah, ternyata begitu kenyataannya. Ternyata dia sudah punya anak dan ada istri tentunya, aku jadi tidak was-was lagi dengannya, apalagi aku tahu ada pengasuh wanita tadi, yang menjadi penjaga ku.
“Maaf, karena sebelumnya aku telah salah paham dan salah menilai juga, tapi kenapa masih menunggu aku? Padahal jelas-jelas ada orang penting yang telah menunggu lama di mobil,” tanyaku lagi padanya.
Saat aku menatap ke arahnya, dia hanya tersenyum pada bayinya lalu tak lama dia juga menatapku, cepat-cepat ku alihkan pandangan ke arah lain.
“Karena saya tidak mungkin tega membiarkan seorang wanita sendirian saja menghadapi keheningan malam seperti ini, mana suaminya pergi begitu saja, ya semakin tak tega saya.”
“Aku sangat tak yakin dengan alasan kamu itu, seperti masih ada alasan lainnya, katakan apa itu? Apa alasanmu?” Ku berondong terus pertanyaan demi pertanyaan kepadanya.
Aku pikir dia akan risih ataupun marah karena ku sudah mulai banyak bertanya, tetapi yang ku dengar hanyalah tawanya, lalu terdengar suara tangisan bayi, refleks aku memegang bayinya seperti akan mengambil nya.
“Eh, maaf tidak bermaksud untuk ....”
“Tak apa, silakan. Kalau memang kamu mau menenangkan nya, saya tidak akan melarang.”
“Tapi, maaf, kenapa kalian hanya bertiga? Ke mana ibunya? Kenapa tak ada bersama bayinya?” Itulah pertanyaan yang ingin sekali ku tanyakan.
“Kamu bertanya apa? Ibunya ke mana?” Dia justru balik tanya.
Lalu, aku hanya mengangguk saja untuk menjawab dirinya, memangnya salah aku bertanya seperti itu? Aku rasa tak ada salahnya.
“Anak saya, sejak lahir sudah ditinggal ibunya, bayi yang baru dilahirkan ke muka bumi dalam waktu beberapa jam sudah ditinggalkan begitu saja oleh ibu kandung yang tidak punya hati sama sekali!”
“Ya Allah, sungguh? Tapi, kenapa dia melakukan itu?” Aku sampai tak tahu harus berkata apalagi.
“Karena dulu dia hanya menginginkan kekasihnya, dibandingkan anak dan suaminya.”
“Apa?” Lagi dan lagi aku refleks meninggikan suara saat berbicara, karena memang sangat terkejut mendengar itu semua.