Kebanyakan orang sering mengesampingkan love yourself. Hal itulah sering membuat dirinya merasa tak layak untuk dicintai. Maka dari itu, cintailah diri sendiri baru kemudian orang lain.
-Rama-
Udara sejuk di pagi hari ditambah kicauan burung-burung membuat suasana hati menjadi tentram dan damai. Bumi hijai dihiasi dengan dedaunan yang melambai-lambai ditiup aingin pagi, membuat tetesan embun jatuh mengenai bumi. Bahkan, beberapa ayam jantan tak ingin kalah dari burung, mereka dengan semangatnya saling berkokok bersahut-sahutan. Dan dipagi hari itu juga, disebuah rumah lebih tepatnya disebuah kamar seseorang, mulai terdengar beberapa barang yang dilempar kesana kemari. Menciptakan suara kebisingan dari dalam kamar. Membuat seorang ibu dari si pemilik kamar, mengernyit heran mendengar kebisingan itu. Bahkan, ingin memarahii perlakuan anaknya pun seperti tak tega.
"Vano bagong! Gue jadi telat gini gara-gara Vano. Awas aja, bakal gue kirim virtex tuh ponselnya. Biar tahu rasa," ujar Rama penuh u*****n kekesalan.
Sedangkan kedua tangannya sedang sibuk memasukan kancing seragamnya ke dalam lubangnya. Bahkan jika dilihat dari cermin, pantulan bayangan reflkesinya dari Rama bukan mencerminkan seorang siswa yang akan berangkat ke sekolah. Melainkan malah terlihat seperti seorang siswa yang akan tempur di jalanan. Mengambil sebuah jaket jeans, sebuah tas punggung berwarna hitam, dan ponselnya, Rama segera berlari keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Bahkan saat dirinya akan tiba di lantai dasar, dengan sengaja Rama melompati dua anak tangga, karena merasa terlalu lama jika berjalan menuruni anak tangga satu persatu..
"Ma, Rama berangkat dulu!" seru Rama yang sedang mengambil kunci motornya di atas meja.
Seekor kucing berjenis Persia, dengan bulu-bulu berwarna putih cerah di sekujur tubuhnya, ditambah dua pupil mata yang berwarna biru cerah itu adalah kucing peliharaan mamanya yang sedang duduk dengan santai di sebuah kursi di samping meja itu. Mengeong keras sebagai pertanda protes saat kaki jenjangnya Rama tak sengaja menabrak pinggiran kursi itu. Membuat Rama berdecak kesal karena mendengar suara ribut dari si kucing. Dengan kesal bercampur jahil, dengan sengaja Rama menekan kepala kucing itu dengan pelan dan tentu saja si kucing protes karena merasa terganggu.
"Meooonggg...."
"Dasar lo kebo, hidup lo enak mulu ya, bo kebo. Makan tidur makan tidur mulu kerjaannya. Kalo bosen, tinggal ngelirik kucing tetangga. Dasar lo kebo!" ujar Rama membalas dari protesan si kucing. Memang begitulah Rama, binatangnya kucing tapi dinamai dengan sebutan kerbau. Aneh memang dan itulah Rama. Rama terus berjalan cepat meninggalkan si kucing. Dan derap langkah kakinya ternyata mengintrupsi mamanya yang sedang menyiapkan sarapan untuknya. Mamanya segera berjalan cepat ke arah anak semata wayangnya dengan tergesa-gesa. Berjalan menuju ke arahnya Rama berada setelah menyempatkan diri membasuh kedua tangannya di wastafel.
"Kamu nggak sarapan dulu?"
"Entar aja Ma, di sekolah aja. Udah nggak ada waktu lagi," balas Rama yang kini sedang memakai sepatunya sendiri. Mama telah berdiri disampingnya setelah mengatur napas karena tadi berjalan cepat. Merapikan rambut yang sedikit panjang milik Rama yang masih terlihat acak-acakan karena belum sempat Rama sisir tadi. Beberapa kali tangan lentik mama membenarkan kerah seragamnya juga karena belum ditekuk dengan benar.
"Makanya, kalau begadang itu ingat waktu," nasehat mamanya perhatian dengan nada keibuan. Karena tadi malam, dirinya mendapati Rama yang pulang sangat larut malam. Bahkan mamanya sampai ketiduran di sofa depan televisi saat menunggui Rama pulang tadi malam.
"Rama kemarin diculik Ma, sama temen Rama. Makanya jadi pulang agak malem."
"Untung aja papa lembur. Kalo enggak, kamu bisa kena marah papa."
"Hehehehe. Iya, Ma. Nggak bakal Rama ulangin. Janji deh. Rama berangkat dulu. Assalammualaikum," pamit Rama menyodorkan sebelah tangannya ke hadapan mama. Mama segera menyalami tangannya Rama. Dengan hikmad Rama mencium tangan lembut sang mama. Begitupun dengan mama, beliau mengusap kepala Rama dengan sejuta kasih sayangnya.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, jangan ngebut-ngebut!" pesan mama karena Rama sudah berlari keluar rumah. Bagaimanapun, keselamatan anaknya adalah nomor satu untuk setiap ibu. Bahkan dalam keadaan genting seperti ini, si ibu tetap mengharapkan keselamatan anaknya.
"Nggak janji, Ma! Bisa masuk Bk kalo telat!" balas Rama ikut berteriak. Membuat mama hanya bisa mengelus d**a dengan sabar. Berdoa di dalam hatinya, agar Rama diberi keselamatan sampai tempat tujuan. Dan tidak terjadi suatu halangan apapun. Terdengar suara motor yang sangat bising, itu berasal dari motornya Rama. Setelahnya, Rama membawa pergi motornya menuju jalan raya. Mama menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah laku si anak.
"Ada ada aja tuh anak. Orang udah telat, segala pakai ngebut," gumam mamanya yang sempat melirik ke arah sebuah jam dinding berbentuk pohon di ruang tengah tepatnya disamping lemari kaca.
***
Bagaimana perasaanmu jika terlambat ke sekolah dan jalanan yang kamu lalui sangat ramai? Itulah yang Rama rasakan saat ini. Dirinya terjebak kemacetan di sebuah jalan raya. Namun, bukan berarti Rama akan diam saja. Tidak! Itu bukanlah Rama. Rama menoleh ke sekitarnya. Matanya dengan jeli menatap ke setiap jalan yang bisa menjadi peluang untuknya. Dan benar saja, peluang itu ada. Dengan cepat Rama menarik gas motornya menyalip beberapa kendaraan lain. Karena skill yang Rama kuasai dalam mengendarai motornya dengan cara ugal-ugalan, pada akhirnya Rama sudah sampai di sekolahnya hanya memerlukan waktu lima belas menit. Mengetuk pintu gerbangnya, membuat seorang satpam melongokan kepalanya keluar lewat celah kecil di pintu gerbang itu.
"Telat, Mas?" tanya Pak Supri, satpam sekolah yang sudah berkerja selama lima tahun. Pak Supri itu seorang pria yang sudah tua, dan umurnya sudah mencapai sekitar empat puluhan. Tapi jiwanya masih terlihat seperti anak muda. Dan itu karena beliau kebanyakan bergaul dengan remaja-remaja yang bersekolah di Angkasa Wijaya, salah satunya adalah Rama sendiri.
"Nggak, Pak. Saya kepagian," balas Rama dengan sebuah cengiran andalannya untuk bermaksud bercanda membuat Pak Supri geleng-gelengkan kepala dengan kedua tangannya yang ada di pinggang.
"Ya udah, Pak. Tolong bukain dong."
"Wait, Mas. Sebentar hehehe." Setelahnya Pak Supri membuka pintu gerbangnya perlahan dengan sangat pelan takut jika ketahuan oleh guru karena Pak Supri membukakan pintu untuk siswa yang terlambat. Karena di sekolah Angkasa Wijaya, peraturan tetaplah peraturan. Siapa saja yang membantu menolong siswa yang bermasalah akan mendapatkan sangsinya sendiri.
"Mas, untung saja sekarang lagi rapat guru. Udah bel tadi, tapi belum mulai pelajaran," ujar Pak Supri memberitahu. Rama mengangguk saja. Pasalnya, kemarin dia diculik oleh Vano dan baru dipulangkan saat menjelang malam hari. Rama tak sempat mengecek ponselnya sendiri, apalagi mengecek jadwal sekolah yang biasa dia lakukan setiap hari lewat meretas komputer milik sekolah. Bahkan, tadi malam pun Rama tidak mandi karena dirinya sudah terlalu capek dan langsung jatuh tertidur di atas kasur saat sampai di kamarnya sendiri.
"Iya, Pak. Saya udah tahu kok. Ini emang sengaja telat aja." Janganlah percaya begitu saja dengan perkataannya Rama. Ini adalah bukti pencitraannya. Sebenarnya Rama memang tidak tahu menahu soal rapat guru yang dilaksanakan pada pagi ini. Jika Rama tahu, sudah pasti dirinya tak akan mengebut saat mengendarai motornya tadi.
"Si Mas ini, nggak pernah jujurly sama Saya," balas Pak Supri dengan jiwa sok mudanya. Sudah dikatakan bukan, Pak Supri memang memiliki jiwa anak muda.
"Saya beneran loh Pak. Nggak boong."
"Serriyyusss?" Benar kan, Pak Supri ini jiwanya memang jiwa anak muda sekali. Bahkan dengan logat bicaranya pun mengikuti anak-anak muda jaman sekarang. Memang unik satpam sekolah Angkasa Wijaya ini. Jika orang lain yang baru saja mengenalnya pasti akan dibuat geleng-geleng kepala.
"Serriyyuss.... syuumpah..."
"Ya udah, monggo masuk," balas Pak Supri dengan gestur tubuh yang terlihat sedang mempersilahkan Rama masuk melalui gerbang.
[Silahkan masuk]
"Matur nuwun, Pak Supri," ujar Rama dengan ketulusan hati.
[Terima kasih]
"Iya, Mas. Sami-sami"
[Sama-sama]
"Hehehe, biasa Pak. Tolong nanti masukin motor Saya ya!" seru Rama dengan sebelah tangan melambai yang sudah berjalan memasuki gedung sekolah.
"Gampang itu Mas, kalo ada gininya," balas Pak Supri dengan mempraktekkan tangannya yang sedang merokok.
"Tenang aja. Entar Saya kirim seperti biasa."
"Siap Mas Bro!"
Rama terkekeh melihat Pak Supri yang mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. Rama merasa senang telah menjalin kerja sama dengan satpam tua sekolahnya itu. Untung saja Pak Supri tipikal orang yang ramah, suka melawak dan paling beruntung adalah beliau bisa diajak kerja sama seperti ini. Jika ada voting online satpam terfavorit, sudah pasti Rama memilih Pak Supri. Jika perlu Rama akan menyabotase sistem voting dan membuat Pak Supri menang telak.
Rama mulai berjalan santai saat menaiki anak tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua. Mengambil sebungkus permen karet dari dalam tasnya kemudian dia kunyah dengan gerakan mulut yang tengah menikmati permennya itu. Untuk menghilangkan rasa kejenuhan saat berjalan sendirian menuju kelasnya, Rama membuat gelembung dari permen karet yang sedang dia kunyah itu. Membuat suara letusan balon karet memenuhi lorong yang kosong. Jujur saja, Rama sangat senang ketika mendengar suara letusan balon dari permen karet yang dia buat. Apalagi yang meletus adalah balon karet yang sangat besar itu akan membuat Rama merasa sangat puas.
"Potong bebek angsa masak dikuali. Jomblo udah lama nyesek tiap hari. Galau ke sana galau ke sini. Lalalalalalalala babi!"
Terdengar aneh bukan, saat mendengar nyanyian itu? Jelas, sangat aneh dan sangat melenceng jauh dari lirik lagu yang seharusnya. Bukan Rama namanya jika tidak memvariasikan lagu-lagu yang dia nyanyikan. Nyanyian Rama diawal terdengar sangat bahagia dan diakhir dengan u*****n dari lubuk hati yang terdalam. Meratapi nasib dengan jalan cerita hidupnya. Rama memang terlihat baik-baik saja, tapi bagaimana dengan masalah percintaannya? Tidak, Rama tak pernah bahagia dengan kisah cintanya. Atau Rama belum menemukan kisah cinta yang tepat? Yang pasti rasa cintalah yang tidak berminat untuk mampir di kehidupannya. Memang Rama diciptakan untuk menjadi laki-laki yang hidup di kubu sadboy.
Apakah memang takdirnya Rama untuk berwisata ke masa lalunya atau tidak, intinya sekarang ini Rama mengalami hal yang sama dengan hari sebelumnya. Saat dirinya akan belok ke arah ruang kelasnya berada, Rama tak sengaja berpas-pasan lagi dengan Laras. Dan Laras juga terlihat berlari dengan tergesa-gesa seperti sehari sebelumnya. Tak ingin banyak menebak, akhirnya Rama memilih untuk membuntutinya lagi.
"Apes bener gue. Wisata masa lalu mulu. Pantessan gue gamon," rutuk Rama yang sedikit menyesal telah membuntuti Laras. Tapi bagaimanapun juga dirinya tetap penasaran dengan kondisi kesehatannya Laras. Maka dari itu, Rama tetap melanjutkan jalannya.
"Lanjut aelah. Nanggung juga udah sampai sini."
Langkahnya terhenti saat melihat Laras memasuki sebuah ruangan. Alisnya Rama mengernyit saat membaca papan nama yang menggantung di atas pintu. Mengumpat tanpa suara saat membaca nama tempat itu. Menutup kedua matanya berharap jika nama tempat yang ada di papan itu adalah halusinasinya saja. Namun sayang, saat dirinya membuka kedua matanya untuk melihat tulisan nama tempat itu, tulisan itu masih tetap sama, dan tulisan di papan itu adalah toilet.
"Toilet lagi?" gumam Rama gusar dengan kernyitan tipis di pelipisnya. "Kenapa harus toilet lagi? Kenapa nggak dilaboratorium kimia, lapangan, UKS, atau ruang kepsek sekalian."
Meskipun mengomel tak jelas yang entah ditujukan kepada siapa, Rama tetap berjalan mendekat dan menunggui Laras di depan toilet. Semakin terheran saat mendengar Laras yang muntah-muntah lagi seperti kemarin. Mengepalkan tangannya untuk menahan diri tak menerobos masuk ke dalam toilet menyusul Laras. Dan yah, usahanya berhasil. Masih di tempat yang sama, Rama bersabar menunggu Laras sampai keluar. Beberapa kali mengetuk-etukan ujung sepatu hitam putihnya di atas lantai yang licin untuk mengusir rasa bosannya. Tak berapa lama Laras pun akhirnya berjalan keluar dari dalam toilet.
"Kalo sakit nggak usah berangkat sekolah. Bandelnya nggak ilang. Bikin orang heran," kata Rama tiba-tiba membuat Laras mendongak dan terkejut melihat kehadiran Rama yang ada di depannya. Mengusap dadanya untuk menetralisir rasa keterkejutannya. Mencoba mengatur napas karena tadi sempat tercekat karena kaget.
"R-Rama, sejak kapan, k-kamu ada disini?" tanya Laras gugup terlihat dari tangannya yang bergetar. Bahkan, bibir pucat itu terlihat semakin bergetar ketika melihat Rama yang menatapnya kesal.
"Sejak tadi lo masuk toilet," balas Rama membuat Laras terdiam.
"Lo sakit kan? Ijin aja, ke UKS sana. Atau mau pulang sekalian. Biar gue anter, ayo."
"E-enggak. Aku nggak sakit."
"Kalo nggak sakit kenapa bisa muntah-muntah tadi? Kemarin juga kan."
Laras membulatkan kedua matanya, tak mempercayai ucapannya Rama barusan. Jadi, Rama memang memperhatikan dirinya sejak kemarin. Laras merasa tercekat, tahut sesuatu yang dia tutupi ketahuan oleh Rama. Berdoa dalam hati agar Rama tak mengetahui sesuatu yang dia sembunyikan dari orang-orang. Karena Laras tahu jika Rama sedikit bodoh.
Laras menggeleng pelan. "Nggak, aku cuma pusing aja. Aku--"
"Ras, jangan bohongin gue. Inget kan, gue udah kenal sama lo setahun lebih."
Laras terdiam sedikit lama kemudian mendongak menatap Rama dengan tatapan yang lain dari biasanya. Tatapan lain yang berbeda untuk Rama. Tatapan lain dari sorot matanya yang sangat asing bagi Rama. Terlihat seperti bukan sosok Laras yang berdiri di depannya kini.
"Karena Kamu udah kenal Aku lama bukan berarti Kamu tahu segalanya kan. Udah ya, Aku mau ke kelas. Takut dicariin guru," pamit Laras segera berjalan melewati Rama begitu saja. Tapi Rama merasa tak puas dengan jawaban dari apa yang telah Laras katakan. Rama berniat bertanya lebih jauh tentang kondisi kesehatannya Laras.
"Ras!"
Rama berusaha meraih lengannya Laras, namun dengan cepat Laras menghindar dan berlari kembali ke arah ruang kelasnya. Rama terheran dengan sikapnya Laras. Dulu, waktu dirinya masih duduk di bangku kelas sepuluh, Laras adalah siswa yang sangat anggun, lemah lembut dan penurut. Rama dibuat bingung karena tadi Rama melihat Laras yang terlihat seperti sedang menentang. Padahal, menentang bukanlah karakter dari seorang gadis bernama Laras. Seperti bukan sosok Laras yang Rama kenal selama ini.
"Udah kacau tuh anak. Kacaunya berimbas ke gue," gumam Rama lelah kemudian mengacak rambutnya kesal.
Entah mengapa melihat Laras yang tak mau terbuka dengan dirinya seperti dulu, membuat Rama kecewa. Rama memukul dinding yang ada di sampingnya sebagai bentuk rasa kesal dari dalam dirinya. Membuat seseorang yang melihatnya mengernyit terheran. Rama tak tahu, jika sedari tadi seseorang telah memperhatikan dirinya di sudut ruangan dengan membawa tumpukan buku. Berdiri di sana sejak Rama berbincang-bincang dengan Laras hingga sampai saat ini. Menatap heran ke arah Rama yang sedang terlihat frustasi.
"Kayak frustasi bener itu cowok. Masalah cinta tuh. Iya pasti," kata seseorang yang sedari tadi memperhatikan Rama. Berlalu pergi meninggalkan Rama sendirian. Dan orang itu adalah Sinta yang baru saja disuruh oleh seorang guru untuk mengambil buku-buku milik teman-temannya di ruang guru.
***
Sinta telah sampai dikelasnya setelah dirinya mengambil buku-buku milik teman-teman sekelasnya. Berjalan ke arah meja guru berada. Meletakkan buku itu diatasnya. Menatap ke arah teman-temannya yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang bermain game online di ponselnya ada yang sedang duduk melingkar membicarakan sesuatu bahkan ada yang duduk berbaris dengan sebuah laptop di depan mereka. Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan semua teman sekelasnya.
"Bukunya ambil sendiri ya, gue capek jalan dari ruang guru ke sini!" teriak Sinta yang berniat ingin berjalan menuju kursinya berada.
"Sekalian bagiin dong, Sin. Gue mager nih buat ambil ke situ!" teriak Jino yang terlihat masih sibuk dengan ponsel yang dia genggam dengam cara miring. Tanpa bertanyapun Sinta tahu jika dirinya sedang bermain game online bersama teman laki-lakinya yang lain.
"Iya, Sin. Gue mager juga nih!" seru Naya dari arah kursinya. Sontak membuat Sinta memutar kedua matanya. Dengan berat hati mengambil tumpukan buku-buku itu dan dia bagikan buku-buku tulis itu ke sang pemiliknya. Sinta mulai membaca satu persatu nama yang tertulis dibuku, saat dirinya akan berdiri tak sengaja Sinta menabrak seseorang.
Brak!
"Heh, kalo jalan lihat--" ucapannya terhenti saat melihat Rama yang berdiri di depannya dengan raut wajah yang terlihat bosan. Sinta melambaikan tangannya, malas berdebat dengan Rama. Segera pergi dari hadapannya Rama membuat alis Rama mengernyit dengan tingkahnya Sinta. Rama berjalan menuju kursinya, dengan sengaja Rama merebut sebotol air mineral miliknya Naya yang akan Naya minum sendiri. Tapi sudah kedahuluan oleh Rama.
"Heh, Rama! Itu minuman gue," greget Naya karena Rama menghabiskan minumannya hampir setengah botol. Rama hanya meliriknya karena dirinya masih meneguk air mineral. Tak berapa lama, Rama mengembalikan botol minum itu kepada Naya.
"Besok bawa yang lebih banyak," ujar Rama tanpa beban sekalipun membuat Naya kesal dan dengan segera melempar sebuah buku yang tadi dia gunakan untuk menulis. Sebelum buku itu mendarat mengenai wajah tampannya Rama, terlebih dahulu buku itu dihempas oleh tangan kekarnya Rama.
"Heh, orang gila. Enak aja ya lo, nyuruh gue buat bawa air lebih banyak lagi. Lo juga nggak bilang makasih ke gue," omel Naya berkacak pinggang di depan mejanya Rama. Rama tak peduli, dengan segera Rama mengeluarkan ponsel dari tasnya. Saat itu juga bertepatan dengan Sinta yang kembali duduk disampingnya Rama.
"Rama, kalo gue lagi ngomong itu di--"
Brak!
Perkataannya Naya terhenti saat tas punggungnya Rama terhempas diatas mejanya sendiri. Naya menghela napasnya, harus ekstra sabar jika berhadapan dengan makhluk bernama Rama.
"Sabar aja, Nay. Dianya habis perang tuh. Bawaannya kan pengen ngamok mulu," sindir Sinta sesekali melirik sinis ke arahnya Rama. Namun Rama tetap tak peduli, dirinya mengambil sebuah earphone dan segera Rama pasang di kedua telinganya.
***
"Eh gue pengen deh jadi kepompong," ujar Naya membuka obrolan dengan Sinta setelah bel berdering menandakan jika waktunya istirahat. Ya, baru saja bel berdering tepatnya tiga menit yang lalu. Sinta dan Naya membereskan peralatan sekolahnya terlebih dahulu. Berbeda lagi dengan Rama dan Dewa, bahkan saat ini kedua laki-laki itu sudah tak ada di kursinya dan pergi menuju kantin langganan. Sinta mendongak, menoleh ke arah Naya dengan alis yang terangkat.
"Kenapa?"
"Kepompong itu kan makan banyak, tidur sementara waktu, pas bangun langsung cantik," ucap Naya dengan senyuman yang mengembang sempurna, membayangkan jika dirinya bisa cantik seperti yang dia mau secepat itu. Andai manusia bisa cantik secepat itu laksana kepompong, pasti seluruh wanita yang ada di dunia ini akan cantik dengan porsi kecantikan yang sama. Dan bagaimana jika hal tersebut benar-benar terjadi? Bukankah manusia akan merasa bosan jika melihat seluruh wanita dengan standar kecantikan yang sama?
"Ya udah, lo lakuin aja seperti kepompong," balas Sinta sekenanya. Pasalnya dirinya sering merasa kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh Naya kepadanya. Dan jujur saja, Sinta pernah merasa kesal dengan pertanyaan konyolnya Naya itu.
"Kalo gue ngelakuin kayak apa yang kepompong lakuin, gue bukan jadi cantik. Tapi gue malah tambah gempal. Badan gue bakal melar semua," balas Nata memberengut kesal merasa tak puas dengan balasan yang Sinta berikan kepadanya. Naya, emang tipikal gadis yang suka insecure. Kalau Sinta melihat Naya itu memiliki berat badan yang standar. Ya, Naya memang terlihat standar dengan berat tubuhnya. Hanya saja tinggi tubuhnya Naya lebih pendek sedikit daripada tinggi tubuhnya Sinta.
"Nah, itu lo ngerti juga. Udahlah, kenapa juga pengen jadi cantik. Cantik itu nggak enak loh. Sering dituduh jadi pelakor sama cewek lain," nasehat Sinta sedikit melenceng. Tapi ada benarnya juga nasehat Sinta. Apalagi di era jaman sekarang, banyak kasus yang melibatkan wanita-wanita cantik di luaran sana. Naya hanya menggembungkan kedua pipinya merasa kesal. Mencoba bercermin beberapa saat di layar ponselnya yang berlogo Apple, membuat Sinta jengah dengan tingkahnya itu.
"Udahlah, Nay. Lo itu cantik kok. Porsi cantik lo emang begitu. Porsi cantik gue emang segini. Udah nggak perlu ada yang dirubah lagi." Naya hanya mengangguk-anggukan kepalanya setuju membuat Sinta menghela napas.
"Makanya, kurang-kurangin deh buka i********:. Lo bakal tetep insecure terus kalo lo lihat itu," saran Sinta membuat Naya menoleh tak percaya.
"Gue tuh nggak bisa sehari aja nggak lihat i********:. Gue di i********: juga lihatin cogan-cogan gue," balas Naya beralasan.
"Cogan sih cogan. Tapi jangan seenaknya lo klaim jadi cogannya elo ya."
"Nggak, nggak bisa. Cogan Bangtan punya gue semua. Aahh.... pokoknya gue nggak bisa kalo sehari nggak buka Instagram."
"Ya udah terserah elo deh," putus Sinta akhirnya. "Nay, ke kantin yuk."
"Kuylah."
***
Setelah lama mengantri di antrian seblak, akhirnya Sinta dan Naya berhasil mendapatkan dua mangkuk seblak pedas. Mengarahkan atensinya ke seluruh kantin, mencari tempat yang kosong. Dan saat itulah Sinta melihat bangku Rama yang masih sisa dua bangku. Buru-buru Sinta mengajak Naya untuk ke mejanya Rama dan kawan-kawannya.
"Ram, menurut lo definisi teman itu apa?" tanya Dewa melirik Rama yang duduk disampingnya.
"Sesuatu," balas Rama seadanya.
"Yang jelas, Rama!" kata Dewa greget sendiri.
Rama menerawang. "Definisi teman menurut gue itu, disatukan oleh pendidikan. Dipisahkan oleh masa depan."
"Nggak--" ucapan Dewa terhenti saat mencerna perkataannya Rama. "Ya bener juga."
"Nggak salah kan. Udah makan lagi lo, Wa. Rese banget lo kalo lagi laper. Bawaannya cerewet mulu kayak cewek."
Dewa yang dibicarakan hanya melempar senyum tak bersalahnya. Kini melanjutkan acara makan siangnya lagi. Rama ikut menundukan kepalanya melanjutkan acara makannya. Tak berapa lama terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat.
"Gabung ya, bangku lain pada penuh," ijin Sinta.Ketiga cowok yang sedang asyik memakan makan siangnya mendongak berjamaah. Dengan senyum jahil, Rama menoleh ke arah Sinta.
"Boleh tapi entar lo bayar," kata Rama memperbolehkan tapi dengan satu syarata.
"Iya entar gue bayarin lo bertiga," balas Sinta sekenanya kemudian langsung duduk di depannya Rama.
"Yang lo maksud bayar disini apa?"
"Jajanan lo bertiga kan?
"Nggak! Enak aja. Gue sendiri juga bisa bayarin lo berampat."
"Terus?"
"Bayar yang gue maksud itu, bayar kenyaman gue dengan hati lo. Gue udah nyaman sama elo soalnya," balas Rama cepat sembari mengedipkan satu matanya.
"Dih, panda oren! Gombal mulu lo. Udah punya pacar juga masih sering gombalin cewek lain. Urusin cewek lo sendiri sana. Kalo lo diputusin entar nanges," kata Sinta membuat empat pasang mata menatap ke arahnya dengan pandangan bingung.
"Ram, emang lo udah punya cewek?" tanya Dewa mewakili pertanyaan temannya yang lain.
"Nggak, gue PDKT aja, udah bubar duluan."
"Emang kapan lo PDKT?" Kali ini Naya yang bertanya dan Dewa mengangguk menyetujui.
"Itu, waktu kelas sepuluh. Gue pernah PDKT. Maksut gue Pernah Dipilih Kemudian Tereliminasi," balas Rama dengan raut sedih membuat Ketiga temannya mengangguk paham kecuali Sinta.
"Apaan, orang lo tadi sok ngedrama bucin ke pacar lo," seru Sinta memberitahu apa yang telah dia lihat tadi pagi.
"Nggak, cewek itu--" kata Rama ingin memberitahu tahu kebenarannya namun tak sengaja kedua matanya melihat Laras yang sedang berjalan mengikuti seorang laki-laki. Rama merasa familiar dengan remaja laki-laki itu. Segera beranjak dari tempat duduknya.
"Eh bentar, gue mau ke toilet dulu."
"Guys, yang bener Rama itu udah punya pacar apa belum sih?" tanya Sinta yang masih penasaran karena tadi digantungin sama Rama.
"Nggak pernah. Rama itu dulu pernah deket sama cewek. Tapi keduanya nggak dibolehin pacaran sama orang tuanya si cewek. Akhirnya mereka cuma freindzone doang. Ya gitulah, lo pasti nggak kenal sama dia," jelas Naya memberitahu sebuah fakta tentang Rama.
"Tapi kok gue nggak pernah lihat Rama deket sama cewek?"
"Ceweknya itu sekarang malah jauhin Rama. Denger-denger, juga dianya udah punya pacar," jawab Dewa.
"Ck, ngenes banget tuh cowok," komentar Sinta yang diangguki oleh Naya dan Dewa.
***
Lagi dan lagi, kini Rama berjalan mengendap-endap membuntuti Laras dengan seorang remaja laki-lqki. Bersembunyi di semak-semak belukar saat melihat dua orang itu duduk di sebuah bangku taman dengan sedikit menjaga jarak. Alis Rama berkerut, dia mengenal siapa laki-laki itu. Remaja laki-laki itu adalah Bima. Remaja paling nakal dan bandel dari kelas IPS.
"Mau mojok mereka berdua. Dosa tahu, mojok-mojok kok di taman sekolah. Bikin gue iri aja," gumam Rama yang masih bersembunyi di semak-semak belukar. Dari tempatnya Rama bersembunyi, terlihat Bima yang menatap ke arah Laras dengan tatapan marah. Sedangkan Laras hanya bisa duduk menunduk dengan pasrah. Seperti seorang ayah yang sedang memarahi putrinya.
"b**o bener tuh cowok, bikin gue heran. Cewek pasti nangislah kalo di bentak kayak gitu. Hati Laras kan kayak Hellow Kitty."
Rama masih asyik memperhatikan diam-diam. Hingga tak berapa lama terlihat Bima yang menyuruh Laras untuk pergi dengan gerdur tangannya. Dan benar saja sedetik setelahnya Laras bangun dari duduknya dan segera pergi meninggalkan Bima. Rama semakin merapat ke semak-semak saat melihat Laras yang berjalan melintas di depannya. Terkejut saat melihat air mata yang mengalir deras di kedua matanya Laras.
Sebagai mantan friendzone-nya Laras, Rama sangat merasa marah. Namun seharusnya itu bukanlah masalah untuknya. Mengingat jika sekarang dia tak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Laras. Dan pada akhirnya Rama memilih untuk mendatangi Bima.
"Cewek dibentak dikit aja nangis. Apalagi lo bentak, caci maki habis itu lo kasarin. Lo bakal jadi cowok terbrengsek kalo lo lakuin itu," ujar Rama dibelakangnya Bima.
Bima menoleh ke belakang. Menatap datar ke arah Rama. "Gue nggak kasarin dia."
"Gue cuma bilang kalo kan?" Bima hanya diam saja membuat Rama ikut terdiam. Mereka saling terdiam untuk waktu yang cukup lama.
"Tadi lo apain Laras?"
"Nggak gue apa-apain."
"Yang bener lo? Nggak usah bohong. Tadi gue lihat Laras nangis waktu pergi dari sini. Dia habis ngomong sama lo kan. Apa yang lo omongin sama Laras?"
"Gue bilang nggak ada, Ram! Cukup lo! Nggak usah urusin Laras. Lo udah nggak dianggep sama dia," kata Bima membuat Rama tertohok kemudian terdiam. Otak Rama menyuruhnya untuk menolak mempercayai fakta itu. Namun hatinya berkata lain. Dan faktanya Laras memang tak pernah menganggapnga lebih dari sekedar teman biasa.
"Sampai gue tahu, lo berani macam-macam sama Laras. Lo bakal gue buat sengsara," desis Rama kemudian pergi meninggalkan Bima sendirian di taman sekolah. Kedua tangan Rama terkepal erat. Emosinya tak stabil. Dia ingin membantu Laras, namun karena cintanya tak terbalas membuat Rama merasa sedikit kesal. Ya kesal dengan dirinya sendiri yang masih sulit melupakan seorang gadis bernama Laras.
'Gue bakal retas ponsel Bima dan bakal gue perlakuin seperti Queensha dulu, kalo sampai terjadi sesuatu sama Laras,' batin Rama yang berjalan pergi dengan emosi yang semakin membuncak.