Orang Kaya Yang Dermawan

3221 Kata
Kadang, seseorang harus susah dulu untuk mengetahui seberapa susahnya mencari nafkah hanya untuk sesuap nasi. -Rama- "Aku belum mandi tak tung tuang tak tung tuang," Nyanyian Rama terdengar saat dirinya baru saja tiba di lantai dasar. Tepatnya berada di dapur. Mamanya yang sedang menumis sayuran, menyempatkan dirinya untuk melirik ke arah Rama kemudian melirik ke arah jam dinding yang terpajang di dapur. Mengernyitkan dahinya saat melihat jarum jam masih menunjukkan pukul setengah enam. Terlihat Rama masih menyanyikan lagu anehnya sembari membuka kulkas mengambil sesuatu dari sana. "Belum mandi aja bangga," komentar mama saat Rama masih mengulang lirik lagu yang sama sampai sepuluh kali. Membuat dirinya diam-diam merutuki anaknya yang memiliki sifat aneh yang sangat berbeda jauh dari dirinya dan suaminya itu. "Ya banggalah. Belum mandi aja Rama udah ganteng apalagi kalo Rama mandi. Apa nggak ketar-ketir tuh ciwi-ciwi," balas Rama setelah menuang minuman dari botol yang dia ambil dari kulkas. Meminumnya dengan cepat tanpa dia hangatkan terlebih dahulu. Mama yang melihat perbuatannya merutuki Rama. Merasa kesal karena Rama suka susah diingatkan untuk menghangatkan makanan ataupun minuman yang tersimpan di dalam kulkas jika dimakan atau diminum saat pagi hari. Katanya tidak baik untuk kesehtan tubuh. "Ganteng doang. Tapi belum punya pacar," sindir mamanya yang terlihat sedang kesusahan memindahkan beberapa piring berisi lauk pauk dan sayur mayur. Rama sebenarnya melihat jika sang mama sedang kesulitan memindahkan beberapa piring. Namun dengan kurang ajarnya, dirinya malah duduk di kursi pantry dengan sebelah tangan yang menopang dagunya. Memperhatikan mamanya dengan kedua mata yang berkedip beberapa kali. "Yu bisa yuu…. Rama bantuin doa aja," ujar Rama menyemangati mama. Membuat mamanya melemparkan tatapan tajamnya ke arah Rama. Setelah memindahkan semua piringnya sang mama menghadapkan tubuhnya sepenuhnya ke arah Rama. "Cari pacar sana. Daripada cuma jadi beban keluarga." suruh mama dengan bibir yang sesekali mencebik kesal ke arah Rama. Rama sontak terkejut dengan perkataan mamanya. Dengan hiperbola Rama memegang dadanya seolah sangat terkejut dengan perkataan sang mama. "Buset Ma. Kagak nyambung loh." "Suka-suka Mama lah." "Iya deh. Mak jago emang paling bener," kata Rama pasrah dengan segala kebenaran sang mama. Sedangkan sang mama yang mendengar panggilan lain lagi terlihat tak merasa heran ataupun terkejut. Beliau sudah memaklumi keanehan si anak. Setelah sarapan segala macam sudah tersaji di atas meja makan, Rama segera mendekat bergabung dengan mamanya. Memilih untuk duduk di depan mamanya. Mengambil sendiri sarapannya. Melirik sekali ke kursi sebelah mamanya. Menghela napas berat saat baru saja menyadari ada satu orang yang tak hadir disana. Rama mendongak ke atas, menatap ke arah lantai dua yang dapat dia lihat sebuah pintu bercat putih yang tertutup rapat dari dalam. Itu adalah kamar orang tuanya. "Ma," panggil Rama sembari mengunyah sarapannya. Mendongak ke atas saat tak mendengarkan balasan dari mamanya. Mengernyit saat melihat mama yang tengah melamun dengan kepala menunduk. Sedangkan kedua tangannya sedang asyik mengais-ais makanan yang ada di dalam piringnya. "Kanjeng Mami!" seru Rama sengaja untuk menarik perhatian mamanya. Mendengar Rama yang tiba-tiba berteriak mamanya mengerjab seakan linglung. Setelahnya dirinya mendongak dan menatap heran ke arah anaknya. "Ada apa? Kamu mau minta bubur ayam lagi? Beli sendiri sana. Mama capek buatin bubur ayam tapi malah buburnya kamu kasih ke ayam bukan malah kamu makan sendiri," cerca mama karena teringat dengan kejadian tempo hari saat Rama meminta dirinya untuk membuatkan bubur ayam.  Awalnya mama memang tidak mau membuatkan Rama bubur ayam. Tapi Rama mengancamnya jika dirinya akan menjadi beban keluarga seumur hidup. Mama yang tidak ingin hal itu terjadi, segera membuatkan semangkuk besar bubur ayam. Sejam setelahnya bubur ayam pun jadi. Setelah dia menyerahkan satu mangkuk bubur ayam ke hadapan Rama, Rama malah membawanya ke halaman belakang. Dan dengan santainya meletakkan mangkuk yang berisi bubur ayam itu di dalam kandang ayam jago peliharaan papanya. Membuat mama melongo dan juga marah diwaktu yang sama. Saat itu Mamanya merasa trauma jika diminta Rama untuk membuatkan bubur ayam.  "Nggak, Ma. Mama itu perlu dirukyah. Kerjaannya suudzon mulu sama Rama," balas Rama sedikit merasa kesal. "Ya kamu itu yang harusnya dirukyah. Nggak ngaca, sifat kamu itu terlalu ajaib," sindir mamanya. "Udah-udah. Rama cuma mau nanya. Malah diajak debat," kata Rama menyudahi acara debatnya dengan sang mama. Merasa was-was juga jika dirinya keceplosan dan menjadi anak durhaka. Apa kata tetangga, jika melihat seorang Ramawijaya yang terlihat sangat ganteng tapi durhaka kepada mamanya? "Rama mau tanya. Papa dimana, Ma?" tanya Rama merasa janggal saat tak melihat papanya bergabung untuk sarapan bersama. Mamanya yang mendengar pertanyaan tersebut segera merubah tatapannya. Menatap dengan sorot mata yang terlihat lembut ke arah Rama. "Papa masih tidur. Kecapekan dia. Tadi malam pulang jam tiga. Kerjaan di kantor banyak makanya jadi lembur. Udah kamu jangan pikirin papa. Habisin sarapannya terus bantuin mama beres-beres rumah." "Astaghfirullah, Ma, Rama baru inget. Rama pagi ini ada tugas penting, Ma. Rama absen nggak bantuin Mama beres-beres ya. Takut atuh Ma, kalo Rama nggak ngerjain entar Rama nggak dapat nilai," ujar Rama setelah menepuk dahinya sendiri bertingkah seperti baru teringat sesuatu yang penting. Padahal pada kenyataannya tidak. Segera berdiri saat makanan yang ada di atas piringnya sudah raip. Membawa piringnya dan juga gelas ke arah wastafel. Berniat kabur duluan sebelum ditangkap oleh mama. "Halah alasan kamu itu ya. Tadi mama ketemu sama Dewa waktu belanja di depan. Katanya hari ini nggak ada tugas. Sudah, kamu harus bantuin mama," kata mama final. "Ye, Mama salah ah. Nanya tuh sama Nakula bukan sama Dewa. Kalo Dewa ditanya ada tugas apa enggak hari ini? Pasti jawabannya nggak ada. Orang Dewa nggak pernah ngerjain tugas," alibi Rama sedikit menyalahkan Dewa agar menyakinkan mamanya jika hari ini dia memiliki tugas. "Terus tugasnya apa, disuruh ngapain?" tanya mama memastikan apakah benar Rama memiliki tugas sekolah apa tidak. "Tugasnya--" ujar Rama sengaja terputus. Setelahnya Rama segera berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya berada.  "DISURUH NGITUNG KENDARAAN LEWAT DI TAMAN KOTA!" teriak Rama yang sudah berada di lantai dua. Membuat emosi mamanya seketika naik. "RAMA! MAMA NGGAK IJININ KAMU KELUAR! HARI INI KAMU HARUS BANTUIN MAMA!" "NGGAK MAU MA! POKOKNYA RAMA IJIN KELUAR! ENTAR RAMA BAWAIN PENTOL MANG DENNIS DEH!" balas Rama dengan teriakan yang menggelegar membuat Mamanya hanya bisa pasrah dengan kelakuan anaknya itu. Tak berapa lama, sebuah senyuman terbit di bibirnya. Sebenarnya dieinya menyukuri dengan keberadaannya Rama. Mengingat jika tinggal Ramalah anak satu-satunya. Dengan adanya Rama, dirinya bisa merasakain keramaian dan kebahagian dirumahnya. Membuat suasana rumah tak lagi suram seperti setahun silam. "Sehat-sehat terus ya Nak. Semoga kamu bisa banggain mama sama papa sampai akhir hayat," doa mama dengan sepenuh hati. *** Taman kota, itulah tempat yang Rama datangi pada pagi ini. Menurunkan standar motornya agar motornya dapat berdiri sendiri dengan benar di tempat parkiran khusus motor. Mulai turun dari atasnya dan tak lupa dirinya menyampirkan sebuah tas punggung yang hanya berisi sebuah laptop dan sebuah earphone. Mulai berjalan dengan keuda mata yang menelusuri seluruh sudut di taman itu. Pagi ini Rama sengaja tidak menyeret Dewa ataupun Nakula untuk menemaninya. Dirinya ingin khusus hari ini, adalah hari self healing untuk dirinya sendiri. Ya meskipun itu hanya di taman kota yang hanya berjarak satu kilometer dari rumahnya sendiri. Hitung-hitung untuk melepas penat setelah seminggu dirinya disibukkan oleh rutinitas sekolah. "Pok ame-ame belalang kupu-kupu. Siang makan nasi kalo malam makan bab*i," senandung Rama dengan aneh. Ya, biarkanlah dirinya bersenandung sesukanya. Janganlah dihujat, karena dia akan membalas, mulut siapa? Dengan nada yang terdengar sangat marah. Jadi, memang lebih baik biarkan saja dirinya bersenandung apa saja yang penting dia senang. Tiba-tiba langkah kakinya Rama terhenti saat merasakan tarikan pelan bajunya dari arah belakang. Dengan segera Rama membalikkan tubuhnya. Mengernyit heran saat melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun. "Lo kenapa cil?" tanya Rama terheran. Melihat ke kanan dan ke kiri merasa was-was jika dirinya disangka penculik anak-anak. Karena wajahnya Rama memang terlihat seperti sedang memalak anak kecil. Wajahnya tak terlihat santai sama sekali. "Abang kok salah sih nyanyinya. Yang bener itu, siang makan nasi kalo malam minum s**u. Gitu Bang," ujar si anak laki-laki itu. Rama mendengus kesal karena seorang anak kecil yang mengoreksi nyanyiannya. Wajahnya seketika berubah delapan puluh derajat, dari yang semula berbinar senang kini berubah menjadi datar. Moodnya yang semula happy berubah menjadi badmood. "Emang tadi gue nyanyinya gimana cil?" tanya Rama dengan nada bosan. "Abang tadi nyanyinya gini. Siang makan nasi kalo malam makan bab*i." "Emang lo tahu bab*i?" tanya Rama dengan pendar jahilnya. "Enggak," balas si anak laki-laki itu. Sontak saja Rama membulatkan kedua matanya. Tak mempercayai perkataan si anak kecil itu. "Lo sok-sokan ngoreksi gue. Lo aja nggak tahu bab*i itu apa?" "Emang bab*i itu apa?" tanya Si anak kecil dengan tatapan polosnya. "Bab*i itu hewan lucu. Warnanya pink muda. Hidungnya maju. Kalo ngomong gini ngok ngok ngok. Gitu, itu namanya bab*i," terang Rama setelah mempraktekan suara hewan itu. "Jadi Abang juga bab*i dong?" tanya si anak kecil itu polos membuat Rama hampir saja khilaf ingin mengarungi si anak kecil dan melemparnya ke laut lepas. "Nggak cil. Gue nggak bab*i. Gue manusia, bab*i itu hewan. Inget baik-baik. Gue manusia," terang Rama mencoba untuk bersabar. "Tadi kata Abang, kalo ngomong kayak gitu." "Kayak gimana? Yang ngok ngok ngok?"  "Nah iya. Jadi Abang juga--" "Nggak. Gue manusia titik. Tahu ah cil, ngomong sama elo bikin gula darah gue naik. Bye bocil," ujar Rama kemudian berjalan menjauhi si anak kecil dengan lambaian tangannya. Rama memilih untuk mampir ke seorang penjual pentol langganannya. Siapa lagi kalau bukan Mang Dennis. Bertos ria saat Mang Dennis menyambut kedatangannyan.  "Heyo whats up brother," sapa Mang Dennis setelah bertos ala lelaki dengan Rama. Rama terkekeh senang karena melihat setumpuk pentol langganannya yang sudah matang. "Baik, Mang. Alhamdulillah baik." "Alhamdulillah. Kalo emak lo apa kabar?" tanya Mang Dennis dengan tatapan yang terlihat jahil. "Weits, santai Bro. Emak gue nggak doyan modelan kayak elo. Hati-hati lo Mang, bisa kena amok bapak gue entar," kata Rama santai kemudian duduk di kursi samping gerobaknya Mang Dennis. "Canda elah. Gue mah masih doyan yang segelan," balas Mang Dennis kemudian tertawa lebar sedangkan Rama hanya mendengus kesal. "Tumben, dua curut lo nggak diajak?" "Dewa sama Nakula?" tanya Rama dengan alis yang terangkat. "Ya siapa lagi kalo bukan mereka berdua." "Nggak Mang. Bosen gue ajak mereka mulu. Entar dikira gue homo, jalannya sama cowok mulu." "Makanya cari pacar sono," balas Mang Dennis cepat. Rama menoleh dengan tatapan datarnya. "Kayak sok iye aja lo Mang. Lo aja masih jomblo. Lo nyari pacar dulu, baru habis itu gue," tantang Rama dengan senyum smirknya. "Nggak deh. Mending gue nyari cuan," balas Mang Dennis yang sedang mengelap tutup pancinya. "Mang, beli pentol biasa. Pake saos sambal yak. Nggak pake lama. Perut gue udah lapar lagi nih," kata Rama setelah mengecek ponsel melihat apakah ada notifikasi yang penting atau tidak. Dan ternyata tidak ada membuat Rama merasa heran. "Asiap, Bro. Makan disini kan?" "Yoi." Mang Dennis mengangkat jempolnya sebagai tanda jika dirinya sudah mengerti dengan pesanannha Rama. Rama melepaskan tas punggungnya dan dia letakkan di sampingnya. Membuka ponselnya untuk melihat roomchat dengan kedua temannya. Saat akan mengetik sebuah pesan, seorang gadis mengintrupsi kegiatannya. "Permisi," sapa gadis itu. Rama menurunkan ponselnya mengernyit saat melihat dua orang gadis cantik berdiri di depannya. "Ada apa? Kalau mau beli pentol bukan di gue. Noh penjualnya. Gue juga pembeli disini," ujar Rama dengan jari menunjuk Mang Dennis. "E-enggak. Kita cuma mau minta nomor lo aja. Boleh?" tanya seorang gadis dengan baju lengan pendek warna lilac dan bawahan celana training. Sontak saja Rama menegakkan duduknya. Menyugar rambutnya ke belakang membuat dua gadis yang ada di depannya memekik senang melihat Rama yang terlihat keren di kedua mata dua gadis tersebut. Melempar senyum sejuta pesonanya, Rama menarik sudut matanya semakin lebar. "Boleh dong. Apa sih yang enggak buat elo berdua," ujar Rama dengan jurus gombalannya. Hitung-hitung mengisi waktu luangnya dengan menggombali para gadis. Jika gadis itu sudah terkontaminasi virus cintanya Rama akan Rama tinggalkan setelahnya. Dasar, Rama memang rajanya laki-laki tak berakhlak di taman ini. Kedua gadis itu memekik senang. Dengan segera menyerahkan sebuah ponsel dan langsung Rama terima. Dirinya segera mengetikkan beberapa digit nomor ponselnya. Setelahnya Rama menyerahkan ponsel itu. Namun sebelum benar-benar menyerahkan, Rama mengangkat ponsel itu dan mencium layar ponselnya sebentar. Aksinya membuat dua gadis muda yang ada di depannya kegirangan. "Nih, udah gue kasih nomor gue. Plus gua kasih cinta," kata Rama kemudian mengedipkan sebelah matanya menggoda dua gadis yang ada di sampingnya. Salah satu gadis menerima ponselnya dan tersenyum dengan sangat lebar. "Okey, thanks yah. Entar gue calling lo. Lo bales yah," ujar si gadis pemilik ponsel dengan nada yang berharap. "Tenang aja. Gue menerima semua panggilan kok. Kecuali panggilan Tuhan," canda Rama membuat kedua gadis itu terkikik senang. "Okey, see you. Bye," pamit kedua gadis itu yang bahkan sampai saat ini Raam tak mengetahui namanya. "See you too Honey!" seru Rama sengaja karena dua gadis itu sudah berlari menjauh darinya. Melihat kedua gadis itu membuat Rama tertawa lebar karena berhasil mengerjainya. Siapa yang menebak, jika nomor yang Rama ketik di ponsel milik gadis tadi adalah nomor tukang pijat urut. Tawa Rama bertambah kencang saat membayangkan bagaimana reaksi kedua gadis itu jika sadar jika nomor itu bukanlah nomornya. "Ketawa mulu. Seneng banget dapet dua cewek," goda Mang Dennis. "Nggak," balas Rama langsung menghentikan tawanya. "Beneran lo kasih nomor lo itu cewek?" "Lo percaya?" "Ya kagaklah." "Nah itu." "Itu gimana?" "Nggak gue kasih." "Terus yang tadi?" "Nomornya Pak Sukamdi. Tetangga gue yang jadi tukang pijat urut," ucap Rama santai membuat Mang Dennis tertawa seketika. Merasa tak habis pikir dengan jalan pikirannya Rama. Padahal jika dilihat-lihat, dua gadis tadi sangatlah cantik untuk ukuran anak SMA. Tapi entah mengapa Rama tak menyukainya. "Semborno lo! Kasihan tuh cewek. Padahal cakep eh malah lo kerjain." "Nggak minat gue sama cewek model gituan." "Terus minatnya yang kayak gimana?" "Kayak Mbak Rose Blackpink." "Yu bangun yuu…. Mimpinya udahan," komentar Mang Dennis dengan menepuk-nepuk bahunya Rama membuat Rama mencibir kesal. Dengan segera Rama berdiri dan mengeluarkan uang dari dompetnya. Setelahnya dia membayar pesananya. "Nih, Mang. Gue bagi-bagi rejeki," kata Rama meletakkan uang itu di telapak tangannya Mang Dennis. Setelahnya dirinya mengambil sebungkus pentol yang sudah disiapkan oleh Mang Dennis. "Matur nuwun yak." "Sama-sama. Udah dulu ya, Mang. Gue mau mojok dulu." "Mojok kok sendirian. Mojok itu ya berdua." "Gampanglah, Mang. Entar yang satunya setan," balas Rama kemudian tertawa terbahak-bahak. Segera pergi sana agar tak mendapat sabetan dari serbetnya Mang Dennis. Berjalan ke sisi lain dari taman ini. Berjalan untuk mencari kursi yang masih kosong. Entah mengapa dirinya ingin duduk menyendiri. Tak berapa lama dirinya menemukan sebuah kursi yang kosong. Rama segera berjalan mendekat. Meletakkan tasnya disamping tubuhya dsn segera mendudukan tubuhnya. Tak lupa menaruh sebungkus pentolnya juga. Membuka tasnya dan dia mengambil laptopnya. Memangku laptopnya yang masih dalam keadaan menyala. Jujur saja, Rama tak berniat untuk menyalakannya "Bosen banget dah. Mau ngapain ya? Mau ngehack juga bosen. Mau ngechat si Arber, dianya masih ngeghosting gue," gumam Rama yang bingung sendiri mau berbuat apa. Rama mendongak, menatap ke arah beberapa tempat yang merupakan titik-titik cctv berada. "Mau ngehack cctv juga buat apa? Kurang kerjaan amat," gumamnya lagi. "Tapi gue emang kurang kerjaan sih." Rama menulusuri seluruh sudut taman. Melihat orang-orang yang sibuk dengan aktifitasnya. Dari sekian banyaknya orang, fokusnya hanya tertuju ke arah seorang bapak dengan pakaian yang sangat sederhana namun dirinya membawa sebuah mobil berwarna hitam. Terlihat bapak itu yang sedang kesulitan mengeluarkan beberapa kantong makanan yang berukuran cukup besar. Terlihat juga beberapa orang yang mendekat. Rama terpengarah saat bapak itu membagikan satu kantong makanan untuk orang lain. Ternyata bapak itu sedang bagi-bagi sedekah. Melihat si bapak yang kualahan, Rama berniat ingin membantunya. Segera memasukkam laptop ke dalam tas dan mendatangi bapak itu. "Pak, biar Rama bantuin," tawar Rama dengan sopan. "Oh iya, silahkan-silahkan," balas si bapak itu dengan senyum senangnya. Sebelum terjun untuk membantu, Rama menyimpan tasnya dan pentolnya terlebih dahulu. Setelahnya dirinya membantu mengeluarkan beberapa kantong makanam dari garasi mobil untuk dia pindahkan di luar. Dan setelah selesai dirinya ikut membagikan sedekah itu kepada orang-orang yang membutuhkan. Setengah jam kemudiam, kantong makanannya sudah habis tak tersisa membuat Rama dan si bapak yang dermawan itu tersenyum puas. Rama berniat ingin memakai tasnya kembali namun dicegah oleh si bapak. "Terima kasih banyak ya, Nak. Sudah membantu Saya membagikan sedekah untuk orang-orang," kata bapak itu. "Iya, Pak. Sama-sama. Rama juga seneng, bisa bantuin Bapak hari ini." Si bapak tersenyum senang mendengar balasan dari Rama. "Sekarang kamu ada waktu luang?" "Ada. Memangnya kenapa ya?" "Tidak. Saya cuma mau berbincang-bincang sebentar sama kamu." "Oh iya Pak. Nggak papa." Si bapak itu segera duduk di sebuah kursi kosong yang langsung diikuti oleh Rama. Mereka terdiam beberapa saat. Tak berapa lama si bapak mengeluarkan dua botol air mineral dan memberikannya satu kepada Rama. "Ini buat kamu. Biar nggak haus." "Terima kasih, Pak." "Iya, sama-sama." Mereka terdiam lagi. Rama memang sengaja memilih diam karena merass bingung juga mau berbincang mulai dari mana. Namun dirinya merasa lega saat di bapak mulai bertanya kepadanya. "Nama kamu siapa, Nak?" "Rama, Pak. Ramawijaya Aksa Aryasatya." "Namanya cocok," balas bapak itu terkekeh senang. "Sama muka Saya?" tanya Rama terheran. "Bukan. Tapi sama anak Saya. Anak Saya gadis, namanya Sinta," kata bapak itu. Rama hanya beroh ria karena tidak tahu harus berkata apa. Mereka berdua terdiam lagi untuk waktu yang lama. Rama teringat sesuatu dan segera bertanya kepada bapak itu. "Bapak kenapa sedekah banyak-banyak seperti itu? tanya Rama membuat si bapak tertawa kecil. "Karena, Saya memang sudah niat untuk bersedekah. Jaman sekarang, kalo mau cari nafkah itu susah. Apalagi tenaga kerjanya semakin sedikit karena segala pekerjaan hampir seluruhnya dikerjakan sama yang namanya teknologi. Kasihan masyarakat ekonomi ke bawah. Mereka semakin tersiksa untuk mencari nafkah meskipun hanya sesuap nasi. Daripada banyak kasus kejahatan dan kriminalitas misal mencuri, Saya memilih untuk mensedekahkan sedikit rejeki Saya untuk mengurangi beberapa beban mereka. Dan Saya berharap semoga bisa mengurangi kasus kriminalitas sedikit menurun," papar si bapak membuat Rama terpengarah dibuatnya. "Bapak, cocok jadi motifator," ceplos Rama begitu saja membuat si bapak tersenyum. "Semoga kamu juga bisa mensedekahkan sedikit rejeki kamu kepada orang yang membutuhkan." "Iya, Pak. Saya usahakan. Terima kasih atas ilmunya Pak." "Tidak perlu berterima kasih. Saya hanya mengucapkan apa yang menjadi harapan saya selama ini." Rama tersenyum. Diam-diam mengagumi sosok laki-laki yang ada di sebelahnya ini. Kagum dengan harapan si bapak dan perbuatan terpujinya karena sudah bersedekah. Rama sadar jika selama ini dirinya hanya berfoya-foya dengan hartanya. Maka dari itu setelah ini Rama bertekad ingin merubah kebiasaannya. Si bapak mengecek jam tangan yang melingkat ti pergelangan gangannya. Terlihat raut wajahnya yang berubah. "Saya harus pulang. Ada sesesorang yang tengah menunggu saya dirumah. Ini kartu Saya, jika kamu ingin berjumpa lagi dengan Saya dan kita bisa berbincang-bincang lebih banyak lagi," kata si bapak setelah memberika sebuah kartu nama. Rama menerimanya dan alisnya mengernyit saat melihat sebuah gambar di pojok atas. Gambar itu adalah gambar sebuah berlian berwarna merah muda. Rama merasa tak asing dengan berlian tersebut. Saat Rama akan bertanya, si bapak sudah menepuk bahunya terlebih dahulu. "Saya pergi dulu." "Iya Pak. Silahkan. Terima kasih banyak." "Iya, sama-sama. Assalammualaikum." "Waalaikumsalam." Si bapak segera pergi dengan mobilnya. Meninggalkan Rama dengan rasa terherannya. Ditangannya masih tergenggam sebuah kartu nama. Dirinya masih menggali memori soal gambar berlian tersebut. Menyerah karena dirinya tak mengingat diman dirinya pernah melihat bentuk berlian seperti itu. "Palingan gue lihat ini berlian di televisi. Tau ah. Pulang aja dah," kata Rama kemudian berdiri dari duduknya. Dirinya berjalan dengan memasukkan kartu nama pemberian dari bapak itu di saku celana belakangnya. Sialnya, yang Rama tak sadari ketika kartu nama itu terjatuh karena belum masuk di kantong celana bagian belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN