"Cari uang itu memang perlu. Tapi jangan lupa juga sama Sang Pencipta hidup."
-Rama-
Di sebuah lapangan basket yang berukuran sangat luas, ada sekelompok pemuda yang sedang bermain dengan wajah yang sumringah. Memang terlihat raut lelah yang dipatri disana, namun itu tak seberapa dengan rasa puas dan rasa senang dengan permainan mereka. Merasa senang bisa menghambiskan waktu hampir tiga jam mereka bermain di sore hari ini. Mereka bermain dengan ditemani angin sore yang berhempus pelan menerbangkan rambut mereka.
Lapangan yang mereka gunakan memang tak terlalu ramai karena lapangan itu berapa di pojok perumahan dan sangat jauh dari jalan raya. Hanya beberapa anak muda dan mudi yang terlihat disana. Dan itu tidak mengganggu enam orang pemuda yang bermain basket bersama. Enam orang itu adalah Rama, Dewa, Nakula, Kris, Roy, dan Ben. Kris, Roy dan Ben adalah teman tetangganya Rama satu komplek dan mereka juga merupakan teman satu sekolah dengan Rama dulu waktu masih duduk di kelas sekolah dasar. Dan kini, Kris, Roy dan Ben sekolah di salah satu SMK jurusan teknik. Karena cita-cita tiga pemuda itu ingin bisa menciptakan sebuah alat mesin sendiri.
Bugh! Bugh! Dueng!
"Yes!" pekik Rama senang saat berhasil memasukkan bola basket ke dalam keranjang lawannya. Dia berlari memutari lapangan dengan kedua tangan direngtangkan. Kemudian mendatangi Dewa dan bertos ria.
"Performa lo tambah bagus aja, Ram," kata Kris yang sedang memungut bola basketnya. Kemudian dia pantul-pantulkan bola itu di lantai lapangan. Perkataan yang meluncur bebas dari bibirnya Kris mengundang senyum penuh kesombongan dari Rama.
"Ya jelas dong, Mas Rama gitu," balas Rama bangga dengan sebelah tangan yang menepuk dadanya sendiri membuat Dewa dan Nakula mendengus kesal melihat kesombongan temannya itu.
"Gue cocok juga kan ya jadi artis?" tanya Rama kepada lima orang temannya. Membuat semua temannya saling melirik tak mengerti dengan pertanyaannya Rama.
"Kagak nyambung, dasar bocah," ceplos Nakula membuat Rama sontak memicingkan matanya tajam ke arah Nakula yang malah dengan santainya memandang ke arah Rama dengan tatapan mengejeknya.
"Muka lo emang ngajak gelut ya, Na?!" tanya Rama dengan nafas yang memburu. Nakula menoleh ke arahnya, pada mulanya Nakula hanya memperhatikan Rama tanpa berkedip setelah itu dirinya hanya mengangkat kedua bahunya.
"Tampang gue emang kayak gini dari lahir. Kalo lo emosi lihat muka gue, jangan salahin muka gue," balas Nakula akhirnya, kemudian berjalan pelan ke arah kursi coklat yang ada dipinggir lapangan. Dirinya ingin mengambil sebotol air mineral.
"Terus gue nyalahin siapa?!" teriak Rama bermaksud agar Nakula mendengarnya. Nakula hanya menoleh sebentar kemudian melanjutkan jalannya menuju kursi.
"Salahin mata lo! Kenapa mau-mau aja lihat muka gue," jawab Nakula dengan kepercayaan dirinya yang besar yang sukses membuat Rama menggeram kesal dan empat teman lainnya tertawa terbahak-bahak.
"Awas aja, entar gue hack ponsel dia. Baru tahu rasa itu bocah," desis Rama kesal.
"Wey wey wey, santai bro. Kalem kalem, jangan erosi." Dewa berkata dengan nada yang dibuat jenaka agar Rama tak tersulut emosi. Bisa bahaya kalau seorang Rama sedang marah. Pasti esok harinya akan ada berita menggemparkan di dunia maya yang disebabkan oleh Rama.
Nakula yang merasa jika Rama diam-diam sedang mengancamnya, menoleh lurus ke arah Rama. Rama yang ditatap seperti itu segera melipat kedua tangannya di depan. Kemudian dia memasang wajah yang menantang.
"Hack aja ponsel gue. Lagian ponsel nggak penting banget buat gue," ujar Nakula membuat Rama mendengus kesal. Memang kenyataannya Nakula tidak maniak ponsel seperti pemuda kebanyakan. Dia bahkan jarang sekali terlihat bermain ponsel saat dirumahnya. Kegiatan sehari-harinya banyak dia habiskan untuk membaca buku atau mengerjakan tugas. Ya, tipikal laki-laki pintar.
"Ya iyalah. Lo aja mainnya Macbook sama laptop-an," cibir Dewa yang merasa jika kehidupannya Nakula sangatlah menyenangkan. Disaat dirinya senang bermain ponsel, Nakula malah bermain Macbook dan laptop, dalam tanda petik Nakula gunakan saat mengerjakan tugasnya dan perlu referensi dari Google.
"Apa? Lo mau?" tanya Nakula dengan gampangnya kepada Dewa. Membuat raut berbinar yang terpatri di wajahnya Dewa terlihat sangat cerah.
"Iyalah. Siapa juga yang nggak mau kalo dikasih Macbook sama laptop. Ya gue mau satu latopnya. Eh boleh dua dah, sekalian sama Macbooknya"
"Oke," balas Nakula singkat.
"Serius lo mau kasih gue Macbook sama laptop?" tanya Dewa dengan raut yang terlihat terkejut. Membuat Nakula melirik cepat ke arahnya.
"Siapa bilang? Gue cuma tanya doang."
Dan saat itu juga Dewa ingin rasanya menerjang Nakula dan akan Dewa mutilasi tubuh Nakula menjadi sembilan puluh sembilan bagian. Tapi saat dirinya baru saja ingin melngkah, tubuhnya segera ditahan oleh dua temannya yaitu Roy dan Ben.
"Sabar, Wa! Sabar. Itu temen lo sediri. Jangan kau makan. Sabar, Wa, sabar sabar," ujar Roy kemudian menutup kedua matanya Dewa. Tak berapa lama Dewa memberontak membuat tangannya Roy yang semula menutupi kedua matanya Dewa akhirnya melorot dan malah membekap mulutny Dewa.
"Woy, lepasin gue woy. Eh bentar-bentar. Kok gue ngerasain asin ya," ujar Dewa yang mulai tak memberontak lagi. Teringat sesuatu, Dewa segera melepaskan diri dari Roy dan Ben.
"Roy sialan! Keringat lo masuk ke mulut gue!" teriak Dewa penuh emosi. Kemudian tubuhnya meluruh ke bawah dan berakhir terlentang di atas lantai lapangan. "Woy tolongin gue. Gue mau sekarat! Panggilin ambulan, gue mau sekarat."
Dewa masih berteriak-teriak heboh sedangkan Rama dan tiga temannya merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Dewa. Dengan aba-aba dari Rama, empat pemuda itu dengan kompak menggotong tubuhnya Dewa membuat Dewa berteriak histeri.
"Woy turunin gue, Monyet! Lo semua mau bawa gue kemana? Heh turunin gue!" teriak Dewa membuat Rama, Kris, Roy dan Ben tertawa bersama diatas penderitaannya Dewa.
"Katanya lo mau sekarat, ya kita bantu kuburinlah. Na, lo ambil cangkul sana, terus gali tuh tanah kosong disamping lapangan disana," ujar Kris membuat bulu kuduknya Dewa berdiri seketika.
"Iya. Lagian hidup lo nggak berguna. Di dunia ini udah kebanyakan orang-orang freak kayak lo. Mending dikubur jadi pupuk kompos lebih bermanfaat itu," tinpal Rama kemudian menahan tawanya.
"Lo berdua kalo ngomong nyeremin. Heh turunin woy!" jawab Dewa dan dengan tanpa rasa bersalah, keempat pemuda itu menjatuhkan tubuhnya Dewa ke lantai lapangan. Menciptakan bunyi yang sangat keras.
BRUAK!
"Argghh! Sialan lo berempat, punggung gue. Heh lo berempat tanggung jawab kalo sampai ada tulang gue yang patah," ujar Dewa yang mencoba berdiri dengan kedua tangannya yang merabai punggungnya sendiri. Takut jika memang terjadi patah tulang di tulang punggung belakangnya.
"Tenang aja, Wa. Kalo ada tulang lo yang patah, entar gue bantu sambungin lagi pake lem," balas Rama membuat Kris, Roy dan Ben tertawa bersama.
"Apes banget hidup gue. Ternyata dari dulu, gue temenan sama psikopat," desis Dewa kemudian berjalan meninggalkan empat temannya. Berjalan tertatih-tatih menuju kursi yang Nakula tempati. Saat melihat Dewa yang datang dengan segera Nakula melempar sebotol air mineral ke arah Dewa. Membuat Dewa berdesis panjang.
"Empat psikopat, satunya nggak ada akhlak. Emang dunia itu indah. Tuhan menciptakan makhluk yang sangat beragam dengan sifat yang beragam pula," kata Dewa kemudian mendudukan tubuhnya tak jauh dari Nakula. Mulai membuka tutup botolnya. Saat dirinya akan memasukkan ujung botol ke dalam mulutnya, Nakula lebih dulu merebut sebotol air mineral itu dari tangannya Dewa.
Sret!
"Nggak usah minum," peringat Nakula karena merasa kesal dengan pembicaraannya Dewa tadi yang menilai soal dirinya.
"Ya elah, Mas. Baperan amat. Gue cuma canda, Mas Nakul," ujar Dewa dengan cengiran lebarnya.
"Panggil nama gue yang bener," peringat Nakula dengan tatapan tajamnya.
"Ah elah rempong banget."
"Nggak boleh minum," ujar Nakula dengan singkat. Memang pasalnya semua air mineral Nakula-lah yang beli untuk dirinya dan untuk lima orang temannya.
"Iya, iya. Ampunilah kesalahan hamba ya Raja Nakula," ucap Dewa dengan dramatis. Membuat Nakula memutar kedua matanya dan dengan segera melempar sebotol air mineral ke arah Dewa dan segera Dewa tangkap.
Setelah Dewa meminum air mineralnya dengan nikmat, teman-temannya yang lain datang untuk bergabung. Rama duduk di sampingnya Dewa, Kris memilih untuk berdiri menyandar pada sebuah tiang. Sedangkan Roy dan Ben duduk di lantai lapangan dengan kedua kaki lurus ke depan.
"Eh gue mau video call sama gebetan gue dulu. Pada diam lo pada. Awas aja kalo ngerusuh," peringat Ben kemudian dirinya menyalakan tombol telpon. Tak berapa lama tampilah seorang gadis di layar ponselnya.
"Hai, Ren. Habis ngapain? Gue nggak ganggu kan?"
"Habis main. Lo, ganggu gue? Serius lo nanya gitu ke gue?" tanya seorang gadis yang merupakan seseorang yang Ben sukai sejak dirinya masih duduk di bangku kelas sepuluh. Dan sampai detik ini, dirinya masih menyukainya. Tapi si gadis yang bernama Ren itu sangat susah untuk didekati. Atau mungkin karena tak menyukai Ben?
"Iya dong, Cantik. Mas Ben tanya padamu. Jadi, gue ganggu lo nggak nih?" tanya Ben dengan diam-diam berharap jika dia tak mengganggu waktunya Ren, agar dirinya bisa bertelpon ria dengan Ren dalam waktu yang lama. Karena hari ini hari Sabtu, sedari pagi Ben tidak bersekolah. Jadi tak bisa bertemu dan bertatap muka dengan Ren.
"Jawabannya, menggangu banget!" balas Ren dengan wajahnya yang memang terlihat kesal.
Rama, Dewa, Kris dan Roy yang mendengar balasan dari gadis yang bernama Ren itu sontak tertawa terbahak-bahak. Puas dengan jawaban si gadis. Sedangkan Nakula hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan semua temannya.
"Gue mau kenalin temen-temen gue. Ini namanya Rama," ujar Ben kemudian mengarahkan layar ponselnya ke arah Rama. Rama sengaja memalingkan wajahnya agar tak melihat ke arah layar. Dengan sengaja juga, dirinya menyugar rambutnya yang sedikit basah itu ke belakang. Namanya bukan Rama jika tidam tebar pesona ke gadis lain. Dan aksinya berhasil membuat Ren terpekik senang.
"Kyaa... ganteng banget temen lo," komentar Ren membuat Ben mendengus kesal dan menendang kakinya Rama yang ada di depannya. "Kenalin dong sama-"
"Nggak, nggak ada!" balas Ben cepat. Segera menggeser layar ponselnya ke arah lain. "Yang ini namanya Kris, satu sekolah sama gue."
"Hai, Ren," sapa Kris dengan riang. Kris memang terlihat ramah ke gadis lain. Apalagi papanya adalah orang Thailand, membuat Kris terlihat sedikit lebih sipit dengan pemuda kebanyakan. Karena dia memiliki mata yang sipit dan dimpel di kedua pipinya. Terlihat sangat imut.
"Hai juga Kris," balas Ren dengan riangnya. Dan lagi-lagi membuat Ben mendengus kesal.
"Kalo yang ini namanya Roy," kata Ben setelah menunjukkan wajahnya Roy di layar ponselnya. Roy menoleh dengan senyum menawannya.
"Yo girl," sapa Roy kemudian tersenyum lagi.
"Not bad," komentar Ren lagi.
"Kalo yang ini namanya Dewa," kata Ben setelah mengarahkan layar ponselnya ke arah Dewa yang sedang memakan ciki-cikinya.
"Kok gendut banget sih itu cowok?" tanya Ren membuat Dewa menghentikan kunyahan makanan ciki-cikinya. Memang Dewa terlihat sangat berbeda dari pada teman-temannya. Dirinya memang terlihat sedikit lebih gemuk karena senang makan camilan ringan. Kulitnya juga terlihat sedikit lebih gelap daripada teman kebanyakannya. Tapi bukan berarti si gadis yang bernama Ren dengan seenaknya berkomentar jelek kepada Dewa. Dewa maju dan segera merebut ponselnya Ben membuat Ben kesal.
"Bentar, gue pinjem ponsel lo dulu. Nggak gue apa-apain," kata Dewa memberitahu agar Ben mau meminjamkan ponselnya sebentar. Mengarahkan layar ponselnya menghadap wajahnya.
"Ulang coba. Tadi lo bilang apa?"
"Lo gendut," balas Ren cepat.
"Iya, gue gendut. Karena gue makan nasi bukan makan temen kayak lo," jawab Dewa dengan nada menyindir setelah itu dia berikan lagi ponselnya ke Ben. Membuat Ben syok dan tentu saja terkejut.
"Eh, Ren jangan marah. Dewa cuma bercanda kok. Jangan marah ya, besok gue traktir elo," kata Ben dengan wajah bersalahnya. Dewa mendengus kesal saat tahu jika Ben malah membujuk Ren.
"Ben, lo jadi cowok jangan b**o banget napa, heran gue sama lo. Lo kena pelet itu cewek apa gimana? Jelas-jelas itu cewek cuma manfaatin elo dari kelas sepuluh. Dia itu nggak suka sama elo. Lagian, itu cewek minim akhlak, pasti minim juga attitud," terang Dewa ingin menyadarkan Ben yang selalu mendekati Ren.
Bahkan Dewa masih hafal cerita-cerita Ben, yang bilang jika Ren mau saja menjadi kekasihnya Ben. Hanya saja ada beberapa syarat khusus yang Ren ajukan. Dan dengan mudahnya Ben menyanggupinya. Dewa sedari dulu memang tak habis pikir dengan Ben, sedari satu tahun yang lalu Ben selalu menuruti kemauannya Ren, salah satunya selalu membelikan sesuatu barang yang Ren inginkan. Namun saat beberapa hari yang lalu, saat Dewa bertanya kejelasan hubungan keduanya dan Ben bilang jika mereka berdua belum resmi menjadi sepasang kekasih, saat itu juga Dewa tahu apa motif dari perkataannya Ren. Yaitu ingin memanfaatkan Ben saja.
"Kalo gue emang mau manfaatin dia, lo mau apa?" balas Ren menantang.
"Cewek sialan, lo!" maki Rama marah segera merebut ponselnya Ben dan segera mematikan telponnya.
Rama menoleh ke arah Ben yang masih syok dengan perkataannya Ren baru saja. Dirinya tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi. Dirinya berharap jika dirinya hanya salah mendengarnya saja. Namun saat merasakan satu tepukan di bahunya dan melihat tatapan khawatir di wajah teman-temannya, Ben menjadi yakin jika apa yang baru saja terjadi itu adalah sebuah kenyataan. Sebuah kenyataan yang berhasil menyakiti perasaannya.
"Ben, muka lo nggak usah kayak gitulah. Cewek di dunia itu ada banyak banget. Kalo lo cuma ngejar dia yang cuma manfaatin elo, elo bakal nyesel nantinya. Lo harus cari cewek lain mulai sekarang. Cewek yang bisa menerima lo apa adanya," nasehat Rama menepuk bahunya Ben berkali-kali.
Ben mengerjap, kemudian menghembuskan napasnya yang terlihat berat. Menatap layar ponselnya yang masih memperlihatkan kontak dari gadis bernama Ren. Menghela napasnya sekali kamudian dia menekan tombol delete di nomornya Ren. Meletakkan ponselnya di lantai setelah berhasil menghapus nomor itu dari daftar kontak di SIM card-nya.
"Lo bener Ben. Lo udah bener kalo lo hapus nomor dia," kata Dewa menepuk bahu Ben dengan bangga. "Gue udah dari kemarin tahu kalo Ren, cewek yang lo taksir itu cuma manfaati elo. Gue cuma nggak tega kalo harus ngomong langsung ke elo. Dan jujur aja, gue nggak nyesel udah ngomong gitu ke dia tadi."
"Lo tahu kan, Wa. Ren itu satu-satunya cewek yang bisa buat gue jatuh cinta. Inget, satu cewek," balas Ben dengan hati yang nelangsa.
"Makanya, gue berkata kayak gitu. Biar dia jauhin elo. Dia nggak bakal berubah Ben. Elo yang harus cari cewek lain," kata Dewa memperingati.
Rama menganggukan kepalanya setuju. "Bener apa yang Dewa bilang. Lo harus cari cewek lain, Ben."
"Siapa? Siapa cewek yang mau gue deketin."
"Gue ada satu kenalan cewek di kelas gue, yang menurut gue cocok buat elo," kata Rama kemudian.
"Siapa?" tanya Ben bersemangat.
"Entar gue kirim kontaknya ke nomor lo," jawab Rama dengan senyumannya yang memberi kode kepada Ben jika gadis yang ingin dia kenalkan ini sangat cocok dengan Ben. Ben mengangguk senang dan secepat itulah hilang sudah wajah sedihnya.
Dewa menyikut lengannya Rama, membuat Rama menoleh ke arahnya. "Ram, emang siapa cewek yang lo maksud? Sinta?"
"Nggak," balas Rama dengan senyum yang masih bertahan.
"Terus?"
"Naya," bisik Rama tak ingin Ben mendengarnya. Kedua bola matanya Dewa melotot tak menyetujui dengan idenya Rama. Karena Dewa sangat mengenal bagaimana kepribadiannya Naya. Karena Naya itu, sangat banyak bicara, galak saat ada laki-laki yang mengganggunya dan kadang bisa juga diajak untuk bertukar pikiran.
"Lo bakal mampus sama Naya besok," peringat Dewa tapi Rama tak menanggapinya. Dan dengan pasrah, Dewa berharap jika dirinya tak terseret ke dalam masalah yang akan datang dan tak mendapat amukan dari gadis yang bernama Naya, teman satu mejanya.
***
"Jadi kan kumpulnya?" tanya Dewa diseberang telepon. Telihat Rama yang sedang memasukkan bukunya sembari menahan ponselnya diantara bahu dan telinganya.
"Iya jadi, gue lagi siap-siap. Mau otw setelah ini."
"Lo nggak masalah? Bokap lo?"
"Tenang aja, bokap gue baru pergi," balas Rama. Setelah semuanya siap, Rama mengambil kunci motornya dan segera keluar dari kamar.
Rama mengambil ponselnya,"Gue mau otw, gue matiin dulu telponnya."
"Wokey."
Rama segera mengeluarkan motornya dari dalam garasi. Setelah menghidupkannya, Rama segera melajukan motor sportnya menuju rumah Nakula. Berjalan mengendap-endap agar tak ketahuan dengan satpam rumahnya. Dua puluh menit perjalanan, kini Rama sudah sampai tepat di depan rumahnya Nakula. Berjalan memasuki rumah tanpa dipersilahkan.
"Assalammualaikum Mas Nakula, pangeran idaman datang!" teriak Rama sembari membuka pintu.
"Gue nggak ngundang pangeran kodok ke sini," balas Nakula saat Rama sudah sampai di kamarnya Nakula. Rama tak merespon, dirinya malah bersiul senang. Tiba-tiba Dewa datang dengan membawa ciki-cikinya.
"Aku dancow. Jelekan kau," nyanyi Rama diselingi dengan siulan andalannya.
"Ngapa tuh bocah?" tanya Nakula terheran yang melihat Rama senang melampaui diatas batas rata-rata.
"Dia. Nyam nyam. Lagi. Nyam nyam. Seneng. Nyam nyam," sahut Dewa yang masih berusaha mencerna makananya di dalam mulut.
"Telen dulu tuh makanan. Baru ngomong," ujar Nakuka malas.
Dengan cepat Dewa menelan makanannya, "Dia lagi seneng, bisa keluar rumah. Bokapnya lagi pergi."
Nakula hanya mengangguk-angguk. Kemudian dia membawa beberapa buku dari atas meja belajar ke meja yang sedikit lebih pendek untuk belajar bersama. Saat Rama sedang bermain dengan ponselnya, tiba-tiba muncul pop up pesan dari papanya yang dia namai dengan nama yang lain.
Kanjeng Papa
Mengetik...
Kanjeng Papa||Kemana kamu Rama! Kata mas Jono kamu tidak ada dirumah?
Rama yang membaca pesan dari papanya hanya mendengus kesal. Pasalnya dirinya sudah yakin jika satpam rumahnya itu tak melihat dirinya yang sedang berjalan mengendap-endap keluar dari rumah. Rama baru terpikirkan, pasti satpam rumahnya itu melihat cctv yang ada di rumahnya. Menyadari hal itu Rama mendengus kesal.
Kanjeng Papa
Mengetik....
Rama||Lagi belajar kelompok, dirumahnya Nakula.
Kanjeng Papa||kamu tidak bohongkan?
Rama||Tanya aja sama Nakula.
Belum juga sepuluh detik setelah Rama mengirimkan balasan, tiba-tiba papanya mem-video call dirinya. Meskipun malas, Rama segera membalas panggilan itu. Menjauhkan ponselnya, kemudian dia pegang tepat didepan wajahnya.
"Kamu dimana?" tanya papanya.
"Kan udah Rama bilang, lagi belajar kelompok di rumahnya Nakula." Rama memperlihatkan ponselnya ke seluruh ruangan milik Nakula.
"Mana temen kamu?"
Rama berjalan malas menuju teman-temannya yang sudah duduk di atas karpet berbulu. Kemudia memperlihatkan ponselnya ke hadapan kedua temannya.
"Nih Nakula," kata Rqma sembari memperlihatkan layar ponselnya ke wajah Nakula yang sedang menulis. Merada jika sedang diperhatikan, Nakula menghentikan acara menulisnya dan tersenyum menyapa papanya Rama. "Ini Dewa."
Papanya hanya menggangguk saja. "Nakula, Om minta kamu buat ngawasin Rama ya. Om minta, Rama dirumah kamu tetap disuruh belajar bukan hanya bermain terus."
"Baik Om, ini juga mau mulai belajarnya," balas Nakula.
"Ya sudah, jika ada Nak Nakula, Om jadi lega. Berarti Rama memang belajar."
"Iya Om."
Rama segera mengembalikkan lagi ponselnya ke wajahnya kembali. "Udah kan?" kata Rama.
"Ya sudah, kamu belajar sana. Nanti pulangnya jangan malam-malam. Kalau selesainya sampai malam, lebih baik nginep disana saja."
Seketika raut wajah Rama berbinar senang. "Okey siap Bos."
Papanya tak membalas, malah segera mematikan telepon. Rama tak mempermasalahan, yang penting untuk satu malam ini Rama bisa bebas. Rama merogoh tasnya, mencari permen karet kesukaanya, setelah ketemu langsung dia kunyah.
"Nggak takut diabet?" tanya Nakula. Pasalnya Nakula tahu jika Rama suka mengunyah permen karet yang manis setiap hari.
"Nggak," balas Rama santai kemudian membuat gelembung dari permen karetnya seolah menggoda Nakula.
"Ayok, kerjain tugas lo," perintah Nakuka yang sudah membuka buku tugasnya.
"Na, gue kesini niatnya bukan mau ngerjain. Niat gue ke sini cuma mau main. Kata pak ustadz nggak boleh nyalahin niat. Makanya gue sekarang nggak mau belajar."
"Terus kapan lo mau ngerjain tugasnya?!"
"SKS. Sistem Kebut Semalaman."
"Terserah lo!"
Rama tersenyum senang, dia langsung mengambil ponselnya. Ingin melihat situs khusus para hacker, ternyata malam ini tidak ada perlombaan lagi.
"Tumben tuh bocah nggak ngechat," gumama Rama tak menemukan notifikasi chat dari @Arber.
"Siapa?' tanya Dewa yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya.
"Bagong! Ngagetin gue aja lo!"
"Hehehe, elo sih sok serius. Gue dateng juga nggak sadar."
"Pergi lo, jauh-jauh dari gue. Kasta rendahan nggak level duduk sama pangeran."
Plak!
Setelah menggeplak kepala Rama satu kali, dengan santai Dewa meninggalkan Rama. Membuat Rama mengumpat tertahan.
"Anj-"
"Sesama hewan nggak boleh saling mengejek," lerai Nakula yang membuat Rama dan Dewa melempar tatapan permusuhan. Sedangkan Nakula hanya oh saja.
"By the way, lo berdua tahu nggak, kalau sekarang ada hot news paling hot sejagad raya." Dewa membuka obrolan.
"Ga." balas Rama dan Nakula kompak. Membuat Dewa mendengus kesal.
"Gue denger ya, katanya baru-baru ini ada kelompok mafia, yang keren banget. Saking kerennya, nggak ada seorang pun yang bisa menangkapnya. Keren sih, tapi bikin merinding aja."
"Karena?" tata Rama dan Nakula kompak lagi.
"Ya karena mereka suka ngerampok gitu. Nggak tanggung-tanggung, mereka suka ngerampok perusahaan-perusahaan gede. Misal bank, toko perhiasan, mall dan lainnya. Lebih kerennya lagi, mereka suka menghilangkan jejak pencurian tanpa seorang pun yang mengetahuinya. Dan ini paling bikin gue ngeri, mereka suka menyiksa orang. Ya semacam psikopat gitu. Orang nggak salah pun bisa dibunuh."
Rama dan Nakula menganggukkan kepalanya paham.
"Nama kelompok mafianya?" tanya Rama kepo.
"Screzer. Dan nggak ada seorang pun yang bisa mengetahui identitas mereka. Bahkan polisi sekali pun."
"Dimana?" tanya Nakula yang kini sudah mengganti tugasnya, sekarang dia membuka buka paket yang lain.
"Katanya sih di Solo, tapi nggak tahu Solo mana. Moga aja nggak sekitar sini," balas Dewa.
"Oh," balas Nakula.
Sedangkan Rama sudah fokus ke ponselnya lagi. Membuka suatu situs soal pengetahuan hacking.
"Oh iya Ram, gue minta tolong lo buat cek ponsel gue," ucap Dewa yang sudah mendekat lagi di samping Rama.
"Cek apanya?" tanya Rama.
"Ya pokoknya cek, kali aja ada virus di ponsel gue."
"Ya udah sini."
Dewa dengan senang hati menyerahkan ponselnya. Rama langsung membuka ponsel milik Dewa. Mengotak-atik setiap bagian ponsel. Tak berapa lama, kegiatannya selesia.
"Ponsel lo ada virusnya," kata Rama yang masih mengotak-atik ponselnya Dewa.
"What?! Serius lo. Yah padahal gue baru beli kemarin."
"Sombong!" sembur Rama.
"Pamer!" tambah Nakula.
Dewa yang mendengar sindiran kedua temannya hanya nyengir lebar. "Terus gimana cara ngatasi virusnya?"
"Tenang, selama masih ada gue, ponsel bakal lo aman," sahut Rama kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Rama mengambil sebuah kotak hitam yang berukuran kecil. Didalam kotak itu ada tiga chip yang Rama buat tempo hari. Rama mengambik salah satu chip dengan tanda tinda berwarna kuning. Karena chip yang satu ini berfungsi untuk menetralisir segala jenis virus.
"Apaan tuh?" komen Dewa.
"Chip," balas Rama malas.
"Oh." Rama segera menancapkan chipnya ke ponsel milik Dewa.
"Eh eh bentar. Aman nggak tuh?" tanya Dewa yang khawatir akan kondisi ponselnya.
"Aman seribu persen!" bentak Rama kesal.
"Okey silahkan."
Rama melanjutkan aksinya. Setelah chip tertanam, Rama segera membuka isi chipnya didalam ponsel Dewa. kemudian mengaktifkan alat penentralisir virus. Kini alatnya sedang berkerja, ditandai dengan hologram yang sedikit demi sedikit muncul. Memperlihatkan berbagai virus yang ada diponsel.
"Hem, ngeri juga virusnya," kata Rama.
"Kenapa, kenapa?" tanya Dewa panik.
"Virusnya kebanyakan iklan promosi obat kuat," balas Rama. "Lo suka buka situs gituan?" Rama sudah merasa heran, saat Dewa memalingkan wajahnya.
"Eng-enggak tuh. Gue nggak pernah buka kek gituan kok."
"Ngeles aja sampai mampus," gumam Rama kesal.
Setelah kurang lebih lima menit, akhirnya semua virus di ponselnya Dewa teratasi. Rama menyerahkan ponselnya ke Dewa.
"Udah?" tanya Dewa yang sudah menerima ponselnya. Rama hanya mengangguk.
"Tapi nggak geratis," imbuh Rama akhirnya kemudian tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah Dewa yang masam.
"Ya udah, berhubung lo best friend b****k gue, gue kasih free ke elo."
"Thanks my best friend b****k ," ujar Dewa senang sedangkan Rama hanya memandangnya dengan wajah flat.
"Ram," panggil Nakula dipojok ruangan.
Rama menoleh, "Ape?"
"Gue juga dong. Ponsel gue sering digunain buat buka situs ilegal sama sepupu gue. Gue nggak mau ada banyak virus yang bersarang di dalamnya," ujar Nakula memberitahu masalah ponselnya.
"Ya udah siniin ponsel lo." Nakula mengambil ponselnya kemudian dia lempar tepat ke arah Rama.
"Untung gue gercep, kalo enggak rusak repotasi gue sebagai pangeran tertampan."
"Tertampan sekerajaan kodok maksutnya," imbuh Nakula meledek dengan wajah datarnya. Memang terlihat tak sinkron.
Rama hanya mendengus kesal, memilih langsung mengeksekusi ponsel milik Nakula. Dan kegitaanya lebih lama, karena Rama melihat beberapa chat dari gadis-gadis yang suka dengan Nakula. Tapi tak ada satupun yang Nakula balas. Rama pun tahu apa sebabnya.
"Ckckck, kasiahan juga tuh bocah, gamon mulu dari dulu," gumam Rama kemudian tersenyum.