Saat pistol itu mengarah tepat ke arahku dengan peluru yang ada di dalamnya, bukanlah kematian yang aku takutkan. Akan tetapi, air mata dan kesedihan dari orang-orang yang aku sayangi merupakan ketakutan terbesarku. -Rama- "Mati kamu, Rama. Mati!" teriak Pak Alfian lansung menarik pelatuknya. Dan seperkian detik kemudian terdengar suara yang sangat memekikan telinga. Dor! Dan suara tembakan pistol akhirnya pecah saat itu juga. Rama sontak memejamkan kedua matanya. Meski dirinya mendengar jelas suara tembakan pistol itu, dirinya tetap memohon untuk bisa diselamatkan oleh Tuhan. Beberapa detik setelahnya Rama tidak merasakan ada rasa sakit di bagian tubuhnya. Langsung saja Rama membuka kedua matanya dan saat itu juga dia melotot saat melihat Om Nathan yang tengah berdiri tak jauh darinya

