Langkah Aruna dan Rama menyusuri trotoar malam itu terasa lebih pelan daripada biasanya. Bukan karena lelah, tapi karena ada sesuatu di antara mereka yang belum punya nama.
Mobil Dava beberapa meter di belakang mengikuti dengan kecepatan sangat lambat, seolah memastikan tidak ada yang bisa mengganggu mereka. Lampu depannya menyorot jalan, menambah cahaya pada langkah Aruna dan Rama.
Aruna menarik napas pelan. “Malamnya dingin, ya.”
Rama menatapnya sekilas. “Dingin? Kamu biasanya nggak gampang kedinginan.” ucapnya heran.
“Beda,” Aruna mengusap lengannya. “Dingin yang campur sama takut.” tambah Aruna.
Rama menghentikan langkah, menoleh penuh ke arahnya.
“Apa kamu takut sama aku?” tanya Rama.
Aruna menggeleng cepat. “Nggak, kamu justru bikin aku tenang.” ucapnya santai.
Rama mengerjap. Ada kelegaan yang tidak berhasil ia tutupi. “Lalu kamu takut apa?”
Aruna menoleh ke belakang ke arah mobil Dava yang berjalan pelan, lalu kembali menatap Rama.
“Aku takut kalau aku mulai baik-baik saja.” ucapnya.
Rama mengerutkan dahi. “Kenapa takut membaik?”
“Karena aku takut aku bakal jatuh cinta lagi,” jawab Aruna jujur.
Rama terdiam.
Angin malam meniupkan rambut Aruna, membuat pipinya memerah. Di sekeliling mereka, suara kendaraan, dan aroma sate dari jauh bercampur menjadi latar yang samar. Tapi di antara semua itu, ada keheningan kecil yang hanya mereka berdua bisa dengar.
“Apa itu hal yang salah?” tanya Rama pelan.
Aruna memandang tanah. “Nggak cuma aku takut kalau cinta itu berubah jadi luka lagi.”
Rama memasukkan tangannya ke saku. Ia tampak berpikir, lalu berkata dengan suara yang dalam namun penuh kejujuran.
“Aruna, semua orang takut jatuh cinta. Tapi kamu, kamu takut karena kamu pernah mencintai seseorang dengan cara yang terlalu besar.”
Aruna mengangkat wajahnya pelan.
“Kamu mencintai dia lebih dari dirimu sendiri. Dan sekarang kamu takut mengulang kesalahan itu.” tambah Rama.
Aruna mengangguk kecil. “Aku nggak mau lagi kehilangan diri sendiri.” lirih Aruna.
Rama mendekat setengah langkah, sangat pelan dan sangat hati-hati.
“Aku nggak bakal biarin kamu kehilangan diri kamu, Ar.” ucap Rama.
Jantung Aruna bergetar. Kata-kata itu sederhana, tapi cara Rama mengatakannya membuatnya ingin menangis.
Sebelum Aruna sempat merespons, suara mobil berhenti terdengar. Dava mematikan mesin dan keluar, melangkah mendekat tapi tetap memberi jarak.
“Kalian baik?” tanya Dava, suaranya tenang tapi tatapannya mengawasi Aruna dari ujung rambut sampai ujung kaki, memastikan ia benar-benar tidak apa-apa.
Aruna mengangguk. “Iya, Dav. Kita cuma ngomong.”
Dava menatap Rama sejenak, bukan sinis, tapi penuh kehati-hatian. Seolah ia mengukur seberapa besar ancaman perasaan Rama bagi dirinya.
Rama membalas tatapan itu dengan ketenangan yang jarang terlihat dari anak teknik. Tidak ada persaingan eksplisit.
Dua laki-laki yang sama-sama melindungi seseorang yang terluka.
Dua cara berbeda dan dua dunia berbeda tapi satu tujuan yang sama.
Aruna merasakan panas di tengkuknya. Ia tidak ingin membuat mereka saling menantang.
Tapi ia juga merasa diperhatikan, dijaga dan disayangi. Dan itu, entah kenapa membuatnya takut dan hangat dalam waktu yang sama.
“Ayo lanjut,” ucap Aruna akhirnya, mencoba memecah ketegangan.
Mereka kembali berjalan. Rama di kiri. Dava berjalan beberapa langkah di kanan, sedikit di depan mobilnya yang bergerak pelan mengikuti.
Di jalan yang remang itu, Aruna merasa seperti ditarik oleh dua gaya berbeda. Rama dengan kehangatan yang tenang. Dava dengan aura kuat yang membuatnya merasa aman. Dua-duanya menuntun.
“Kamu mau makan sesuatu?” Rama bertanya tiba-tiba. “Biasanya kalau kamu banyak mikir, kamu lupa makan.”
Aruna tersenyum kecil. “Kamu masih ingat!”
“Aku ingat semuanya,” jawab Rama singkat.
Kalimat itu membuat Dava melirik Rama tanpa sadar. Tatapannya sedikit berubah, bukan cemburu tapi waspada.
“Aku bisa beliin kalau kamu mau,” Dava ikut menimpali. “Restoran buka 24 jam masih banyak.”
Aruna menggeleng sambil tertawa kecil. “Tenang, kalian berdua aku nggak mau makan aku cuma mau pulang.” ucapnya.
“Baik,” ujar Dava, “aku siap antar kapan pun.”
“Ya, tapi dia sama aku sekarang,” ucap Rama datar.
Nada itu membuat Aruna dan Dava sama-sama menoleh padanya.
Tidak keras namun tegas.
Dava tersenyum samar, seperti baru menemukan sesuatu tentang Rama yang sebelumnya ia lewatkan. “Bagus kalau kamu jagain Aruna.” ucap Dava akhirnya.
“Dari dulu,” jawab Rama pelan.
Aruna menahan napas. Itu bukan jawaban biasa. Ada emosi yang disembunyikan di sana.
Dava memandang Aruna. “Kamu tahu itu?” tanya Dava mencari kebenaran.
Aruna menggeleng kecil, jujur. “Aku nggak pernah sadar.”
Rama langsung menunduk, seolah menyesal telah membiarkan kata-kata itu keluar. Tapi Aruna tidak bisa berhenti menatapnya.
“Ram” panggil Aruna lirih.
Rama mengangkat wajah. Matanya terlihat seperti ada sesuatu yang ia tahan bertahun-tahun dan tiba-tiba hampir bocor begitu saja.
“Terlalu banyak yang kamu sembunyiin,” lanjut Aruna, saking pelannya seolah hanya angin yang bisa mendengar.
Rama membuka mulut ingin menjawab, tapi tak jadi. Ia menarik napas panjang dan menoleh ke arah lain.
“Bukan waktunya,” gumamnya.
Dava memperhatikan adegan itu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak. Ada sedikit kesedihan di sana, sedikit rasa bersaing semuanya bercampur jadi satu.
Mereka berjalan lagi. Rumah Aruna tinggal 10 menit lagi.
Di persimpangan dekat pohon kamboja besar, tiba-tiba Aruna berhenti. Rama dan Dava otomatis berhenti.
“Ada apa?” tanya Dava.
Aruna menatap keduanya bergantian. Dadanya naik turun cepat, seperti baru saja berlari padahal ia hanya berdiri.
“Aku harus bilang sesuatu.” ucapnya.
Rama menegakkan bahu. Dava memasukkan kedua tangan ke saku.
Aruna menelan ludah. “Aku bingung sama kalian berdua,”
Keduanya menunggu.
“Aku belum siap, tapi aku juga nggak bisa pura-pura nggak ngerasa apa-apa.” ucapnya lagi.
“Rama, kamu selalu ada di saat aku nggak sadar aku butuh seseorang. Dava, kamu muncul di waktu aku paling hancur dan kamu angkat aku. Kalian dua-duanya bikin aku takut kehilangan kalian.” lirih Aruna.
Rama menunduk, rahangnya menegang.
Dava menggigit bagian dalam pipinya, menahan sesuatu.
“Aku nggak mau kalian berantem,” lanjut Aruna. “Dan aku nggak mau kalian mikir aku manfaatin kalian.”
Rama akhirnya bicara, suaranya rendah tapi jujur. “Kamu nggak manfaatin siapa pun, Ar. Kamu lagi nyembuhin diri, itu beda.”
Dava mengangguk. “Dan kami datang bukan buat dapet balasan sekarang. Kami datang karena kami peduli.” sambung Dava.
Aruna mengusap wajahnya. “Aku cuma butuh kalian ngerti aku belum siap milih siapa pun.”
Rama menghembuskan napas berat. “Kalau gitu, jangan pilih.” ucap Rama.
Aruna menatapnya tak mengerti. “Apa?” tanya Aruna.
Rama bertatapan dengan Aruna, lalu dengan Dava.
“Aruna nggak perlu milih sekarang, biar waktu yang jawab.” ucap Rama.
Dava perlahan mengangguk, meski jelas keputusan itu pahit baginya.
“Terserah Aruna. Kalau kamu butuh waktu, aku kasih waktu.”
Aruna gemetar. “Kalian yakin?”
Rama mengangguk. “Selama kamu jujur sama diri kamu dan sama kami, iya.”
Dava menambahkan, “Aku nggak akan pergi.”
Aruna ingin menangis. Bukan karena sedih tapi karena merasa dihargai.
Rumah Aruna akhirnya terlihat di ujung jalan. Ia berdiri di depan gerbang, menatap kedua laki-laki itu.
“Terima kasih,” bisiknya lada kedua pria itu.
Dua kata sederhana yang memuat lebih banyak emosi dari yang mampu ia jelaskan.
Rama tersenyum kecil, senyum yang hangat, jujur, sedikit sedih tapi tulus.
Dava menatap Aruna lama sebelum berkata pelan, “Istirahatlah, besok kamu butuh tenaga buat hadapi perasaanmu sendiri.”
Aruna tertawa kecil sambil mengusap pipinya. “Kalian bikin aku tambah gila.”
Rama menjawab, “Cinta memang gila.”
Dava menambahkan, “Dan kamu layak dicintai.”
Aruna masuk, pintu menutup.
Di luar gerbang, dua laki-laki berdiri dalam diam menghadap satu pintu yang sama, dengan dua harapan yang berbeda.