Lampu kuning kecil menerangi ruangan, memberi kesan hangat yang tidak benar-benar terasa hangat karena pikirannya berisik sejak sore.
Di depannya, kanvas besar yang seharusnya menjadi fokus justru terasa seperti dinding kosong yang menuntut jawaban.
Aruna memegang kuas, tapi tidak menggerakkan apa-apa.
Rama, Dava. Dua nama itu seperti bayangan yang saling menabrak di kepalanya.
“Kenapa semuanya jadi begini!” Aruna bergumam pelan.
Tidak ada jawabannya yang ada hanya getaran ponsel di meja.
Rama mengirim pesan. “Udah makan? Kalo belum, aku kirim makanan.”
Aruna membaca, tapi tidak langsung membalas.
Setengah menit kemudian, pesan lain masuk.
“Nggak perlu balas kalau lagi sibuk, aku cuma ngecek.”
Aruna tersenyum kecil, Namun sebelum ia sempat mengetik, sebuah notifikasi baru muncul.
Sebuah pesan dari Dava.
“Aku tau kamu butuh ruang. Tapi aku cuma mau pastikan kamu pulang aman nanti jangan lupa asih kabar ya.”
Aruna terdiam lama. Ia tidak pernah meminta dua laki-laki itu hadir di hidupnya seperti ini. Tidak pernah berniat merusak hati siapa pun. Tapi keduanya datang dengan cara masing-masing. Menyentuh bagian dirinya yang berbeda.
Rama menyentuh luka lamanya dengan hangat, pelan, dan penuh kesabaran.
Dava menyentuh harapannya dengan jelas, tegas, dan seolah masa depan sudah menunggu.
Aruna akhirnya mengambil ponsel dan menjawab singkat keduanya.
Ke Rama. “Udah makan, makasih. Kamu gimana?”
Ke Dava: “Aku masih di studio, nanti kalo pulang aku kabarin.”
Setelah menekan tombol kirim, ia mendesah panjang. Belum selesai meletakkan ponsel, pintu studio tiba-tiba diketuk.
Tok tok tok.
Aruna mengerutkan kening. Ini sudah jam hampir sembilan malam. Siapa yang,?
Ia membuka pintu perlahan.
“Ram?”
Rama berdiri di depan pintu dengan hoodie abu-abu, tangan memegang bungkus makanan. Napasnya sedikit memburu seperti habis berjalan cepat.
“Aku tahu kamu bilang udah makan,” katanya pelan, “tapi aku tetap bawain sup hangat. Kamu suka, kan?”
Aruna menatapnya tanpa kata.
Rama tersenyum canggung. “Kalau kamu lagi butuh sendiri, aku pulang. Cuma lewat sini tadi jadi sekalian aja singgah.”
“Rama,” Aruna menahan pintu, “kamu nggak lewat sini. Studio aku jauh dari indekos kamu.”
Rama terdiam dan ketahuan.
“Aku cuma nggak tenang,” akhirnya ia mengaku. “Kamu tadi keliatan rapuh banget siang itu.”
Ada sesuatu dalam cara Rama bicara yang membuat Aruna ingin menangis. Ingin jatuh dan ingin menyerah.
“Kamu mau masuk?” tanya Aruna lirih.
Rama mengangguk pelan.
Studio itu kecil, tapi suasananya hangat. Aroma cat, kertas, kopi dingin di sudut meja semua khas Aruna. Rama duduk di kursi kecil, sementara Aruna membuka bungkus makanan.
“Ram,” Aruna berkata sambil meniup sup panas, “kamu nggak harus selalu ada kayak gini.”
“Aku tau.” jawab Rama.
“Terus kenapa kamu tetap kayak gitu?”
Rama menatapnya dengan tatapan yang tenang. Tatapan yang bisa membuat orang runtuh.
“Karena aku nggak pernah bisa lepas kalau soal kamu.” jawabnya jujur.
Aruna terdiam, jantungnya berdebar.
“Rama, kita..” ia menelan ludah, “kita belum pernah ngomong serius soal masa lalu itu.”
Rama menunduk. “Aku tau, tapi kamu juga belum siap.”
“Dan kamu selalu nunggu.” ucap Aruna.
“Kalau soal kamu, iya.”
Kalimat itu menghantam tepat di d**a. Aruna mematikan kuasnya. Duduk di depan Rama dan menatap matanya.
“Aku takut, Ram.” lirihnya.
“Aku tahu.” ucap Rama.
"Aku beneran takut." Ucap Aruna.
“Aku juga tahu.” ucap Rama enteng.
Aruna menekan bibir bawah. Rambutnya jatuh ke wajah, dan Rama tanpa sadar merapikannya ke belakang telinga. Gerakan kecil yang membuat dunia seolah berhenti beberapa detik.
“Aruna,” ujar Rama sangat pelan, “kalau kamu mau nangis aku selalu ada.”
Aruna menunduk, air matanya turun begitu saja.
Ia benci dirinya sendiri yang terlalu mudah rapuh. Ia benci perasaan yang datang bersamaan. Ia benci situasi di mana dua hati baik menunggu jawaban yang ia tidak punya.
Rama maju sedikit, menunggu izin, dan ketika Aruna tidak menolak, ia memeluknya. Pelukan hangat, pelukan yang terasa seperti tempat pulang.
Aruna menggenggam hoodie Rama kuat-kuat.
“Ram, aku beneran nggak tau apa yang harus kulakuin,” bisiknya.
“Aku nggak maksa kamu milih,” jawab Rama. “Aku cuma nggak mau kamu ngerasa sendirian.”
Aruna menangis tanpa suara di bahunya, dan di tengah keheningan hangat itu suara dering ponsel memecah semuanya.
Aruna dan Rama spontan menjauh sedikit.
Dering itu berasal dari ponsel Aruna. Nama yang muncul membuat d**a Aruna mencelos.
Dava Calling!
Rama melihat layar, ia tidak mengatakan apa-apa. Tapi sorot matanya berubah. Ada luka kecil yang tidak sempat ia sembunyikan.
“Angkat.” Hanya satu kata dari Rama yang terucap.
Aruna menelan ludah, lalu mengangkatnya.
“Halo?”
Suara Dava terdengar rendah namun jelas.
“Kamu belum pulang.” tanya Dava.
Aruna mengusap sisa air mata. “Aku masih gambar.”
“Kedengeran suara orang tadi,” ujar Dava. “Kamu sama siapa?” tanya Dava penasaran.
Aruna terdiam.
Rama menunduk dan berdiri, memberi tanda bahwa ia akan keluar dulu.
Aruna menahan lengannya sebentar. “Jangan pergi.”
Rama berhenti. Tidak duduk, tidak maju. Tapi tidak pergi hanya berdiri menunggu.
“Aruna?” panggil Dava di telepon.
“Dava aku lagi sama Rama.” jawab Aruna akhirnya.
Ada jeda panjang di sana, jeda yang cukup membuat Aruna menahan napas.
“Aku jemput kamu.” Suara Dava berubah dingin. Tidak marah tapi terlalu terkontrol untuk dianggap biasa.
“Dava, nggak usah. Aku,” ucapnya langsung di potong Dava.
“Aku jemput.”
Klik, telepon ditutup sepihak.
Aruna menutup wajah. “Kenapa dia jadi gitu,” kesal Aruna.
Rama mendekat satu langkah. “Aku pulang sekarang, biar kalian ngomong berdua!” ucap Rama.
“Nggak,” Aruna menatapnya, “kamu jangan pergi.”
“Ar” ucap Rama.
“Aku nggak mau sendiri.” lirinya.
Rama terdiam.
Mata itu, mata yang selalu penuh kesabaran kali ini tampak lelah.
“Aku tetap di sini,” katanya akhirnya. “Apa pun yang terjadi.”
Lima belas menit kemudian, suara mobil berhenti di depan studio.
Pintu studio diketuk keras.
Aruna membuka pintu. Dava berdiri di sana. Wajahnya tidak setegang suaranya tadi. Tapi jelas ia menahan banyak hal.
Rama berdiri di belakang Aruna.
“Masuk,” ucap Aruna.
Dava masuk. Pandangannya langsung jatuh pada sup hangat di meja. Pada hoodie Rama yang sedikit basah oleh air mata Aruna. Pada jarak mereka yang terlalu dekat.
“Aruna,” suara Dava rendah, “ini apa?”
Aruna menghela napas panjang. “Dava, tolong jangan salah paham.”
“Aku nggak salah paham,” Dava menyela. “Aku lihat jelas.”
Rama maju satu langkah. “Dava, Aruna lagi nggak baik-baik aja. Aku cuma..”
“Cuma apa?” Dava berbalik menatap Rama. “Cuma nunggu kesempatan masuk lagi ke hidupnya?” ucap Dava sinis.
Rama menahan napas. “Ini bukan tentang kesempatan, ini tentang Aruna.”
“Aku juga peduli samamu.” Nada Dava sangat tenang.
Aruna berdiri di tengah keduanya. “Stop, kalian berdua duduk.”
Dua laki-laki itu tetap saling tatap beberapa detik sebelum akhirnya menuruti perintah Aruna.
Aruna berdiri di antara mereka, memegangi kepalanya yang pening.
“Dengerin aku, aku sayang sama kalian berdua.”
Keduanya terdiam.
“Aku nggak minta kalian nunggu. Aku nggak minta kalian perang. Aku cuma, aku belum bisa milih siapa pun.” ucap Aruna.
Aruna akhirnya duduk, suaranya pecah.
“Dan aku benci harus jujur kayak gini. Tapi ini kenyatannya.”
Rama menghela napas pelan. Dava menutup mata, seolah menelan rasa sakit itu.
“Jadi,” Aruna menatap keduanya, “kalau kalian mau pergi, pergilah. Tapi kalau kalian tetap di sini aku butuh waktu, dan aku butuh kejujuran kalian.”
Ruangan itu senyap.
Rama berkata lebih dulu. Suaranya tenang, meski terdengar goyah. “Aku tetap di sini.”
Dava membuka mata, tatapannya dalam. "Aku juga."
Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangan.