Hujan turun sejak sore gerimis yang panjang, seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. Aruna berdiri di balik jendela kamar kos, memandangi tetesan air yang berkejaran di kaca. Pikirannya ikut hanyut tidak ke mana-mana, tapi juga tidak tenang.
Ia belum menjawab pesan terakhir dari Rama sejak siang tadi. Bukan karena ia tidak mau, tapi karena setiap kali hendak mengetik, jari-jarinya berhenti di tengah jalan. Terlalu banyak hal yang ingin ia katakan, tapi tak satu pun terasa tepat.
Aruna tahu satu hal pasti ia sedang berjalan di tepi jurang yang ia buat sendiri.
Pada pagi hari, Aruna datang ke kampus dengan mata sedikit sembap. Ia tidak menangis semalaman tapi Aruna kurang tidur selalu meninggalkan bekas yang jujur. Studio seni sudah terlihat mulai ramai. Beberapa mahasiswa sibuk menyiapkan pameran kecil pada akhir semester ini.
“Aruna!” sapa salah satu temannya. “Kamu jadi ikut kurasi hari ini, kan?” tanya teman Aruna.
“Iya jadi,” jawab Aruna cepat. Ia butuh distraksi, apa pun selain pikirannya sendiri.
"Oke." Ucap teman Aruna.
Aruna hanya mengangguk.
Ia menghabiskan pagi dengan menilai karya, berdiskusi, dan berpura-pura baik-baik saja. Sampai pada akhirnya, di sela-sela keramaian itu, ia melihat Rama sedang berdiri di sudut ruangan, memegang sebuah sketsa sambil berbincang dengan dosen.
Aruna menelan ludah.
Rama terlihat sama seperti biasanya memakai kaus baju yang warnanya terlihat gelap, rambut yang sedikit berantakan, dan tatapan mata yang terlihat tenang. Tapi ada sesuatu yang berbeda jarak diantara mereka, bukan fisik, melainkan cara Rama yang tidak langsung mencarinya dengan pandangan. Itu membuat Aruna terus gelisah.
Saat Rama akhirnya mendekat, Aruna sudah lebih dulu menyapanya. “Hai.” Sapa Aruna.
“Hai,” balas Rama dan tersenyum singkat.
Senyum yang sopan.
“Kamu kelihatan sibuk banget,” ujar Aruna basa basi.
“Iya, lagi bantu dosen.” Rama melirik jam tangannya. “Aku sebentar lagi akan pergi.” lanjutnya lagi.
“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Aruna.
Ada jeda rasa canggung yang jarang terjadi di antara mereka.
"Aku kemarin mau balas pesanmu, Ram." kata Aruna akhirnya. “Tapi..”
“Nggak apa-apa,” potong Rama lembut. “Aku ngerti kok.” ucap Rama tenang.
Kalimat itu seharusnya melegakan bagi Aruna. Tapi justru malah membuat d**a Aruna semakin terasa sesak.
“Rama,” panggil Aruna pelan.
Rama menatapnya. “Iya, kenapa?” tanya Rama santai.
“Kamu marah?” lirih Aruna.
Rama tersenyum kecil, hampir tak terlihat. “Enggak kok, aku cuma lagi nyusun ulang jarak.” ucap Rama jujur.
“Oh,” ulang Aruna, kali ini dengan suara lebih lirih.
Rama mengangguk. “Aku nggak mau jadi orang yang bikin kamu merasa bersalah setiap kali kalau kita lagi ngobrol.” ujar Rama.
“Aku nggak pernah,” ucapnya terhenti karena Rama langsung memotongnya.
“Aku tahu.” Rama menahan napas. “Makanya aku mundur dikit dikit, biar kamu bisa dengar dirimu sendiri.” ucap Rama sambil melirik Aruna.
Aruna hanya diam tapi ia ingin berkata "Aku justru butuh kamu di sini, Ram!." Ucap Aruna hanya mampu bicara dalam hatinya.
Rama melangkah pergi setelah mengangguk singkat pada Aruna. Aruna berdiri mematung melihat kepergian Rama yang mulai tak terlihat di mata Aruna, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, ia tidak lagi punya Rama tepat berada di sisinya.
Pada sore hari itu, Aruna menerima telepon dari Dava. Ia menjawab tanpa harus berpikir panjang.
“Kamu lagi di mana?” tanya Dava.
“Aku di kampus, kenapa?” tanya Aruna cepat.
“Aku dekat situ, mau aku jemput?” tawar Dava.
Aruna ragu sejenak. “Aku bisa pulang sendiri, Dav” ucap Aruna akhirnya.
“Aku tahu,” kata Dava. “Aku cuma pengen ketemu.” kata Dava lagi.
Nada suara itu tidak menekan, tidak memohon, membuat Aruna mengangguk meski Dava tidak bisa melihatnya. “Yaudah.” ucap Aruna pada akhirnya.
Dava menjemput Aruna di depan kampus. Mereka tidak langsung pulang. Dava mengajak Aruna berhenti di sebuah kafe kecil yang jarang di kunjungi orang dan terlihat sepi. Hujan sudah mulai reda, meninggalkan udara yang lembap dan terasa dingin.
“Kamu kelihatan capek, Ar” ujar Dava setelah mereka duduk dan menatap Aruna.
“Sedikit.” jawab Aruna jujur.
“Kamu selalu jawab begitu,” Dava tersenyum tipis.
Aruna mengaduk minumannya. “Aku nggak mau bikin kamu khawatir.” ucap Aruna.
Dava menatapnya lama. “Aruna, aku mau jujur.” ucap Dava.
#Iya silahkan.
Jantung Aruna berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Aku sadar kamu lagi berdiri di tengah kami, Ar” lanjut Dava. “Dan aku nggak mau pura-pura nggak lihat itu.” ucap Dava lagi.
Aruna mengangkat wajahnya. “Aku nggak pernah niat..”
“Aku tahu,” potong Dava lembut. “Ini bukan soal niat, ini soal perasaan, Ar.” ucap Dava lirih.
Hening kembali menyelimuti suasana meja mereka.
“Aku nggak minta kamu untuk memilih hari ini,” kata Dava. “Aku cuma mau tahu satu hal, kamu masih mau berjalan ke arahku, atau aku cuma jadi tempat singgah sementara bagimu?” tanya Dava.
Pertanyaan itu menghantam Aruna tanpa kasih ampun.
“Aku,” Aruna menarik napas panjang. “Aku belum tahu.” lirih Aruna menunduk sambil meremas jari jarinya.
Dava mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang, tapi ada sesuatu di matanya yang mulai meredup.
“Kejujuran itu sudah cukup bagiku, Ar,” katanya akhirnya. “Meski bagiku rasanya itu sakit.” ucap Dava lagi.
Aruna menunduk. “Aku nggak mau nyakitin kamu, Dav.” ucap Aruna lirih.
“Cinta memang nggak pernah terlihat aman,” balas Dava. “Yang bikin sakit itu bukan soal perasaan, tapi soal ketidakpastian.” ujar Dava.
Kalimat itu terngiang lama di kepala Aruna.
Malam itu, Aruna pulang lebih cepat dari biasanya. Ia tidak punya energi untuk berpikir lagi, ia membuka buku sketsanya, lalu berhenti di satu halaman yang kosong.
Dengan tangan gemetar, ia menulis satu kalimat. "Bagaimana kalau aku mencintai, tapi tidak pernah berani untuk memilih?" Kata Aruna lirih.
Ia menutup buku itu cepat-cepat. Ponselnya berbunyi, ada pesan dari Rama.
Rama : Aku cuma mau bilang, apa pun keputusanmu suatu hari nanti, aku harap itu jujur sama dirimu sendiri.
Aruna memejamkan mata, air mata Aruna akhirnya jatuh tak bisa tertahankan lagi, pelan, tanpa terdengar isak.
Ia membalas.
Aruna : Aku takut salah. Rama.
Balasan Rama datang setelah beberapa menit.
Rama : Takut itu soal yang wajar, tapi bersembunyi terlalu lama juga bisa menyakiti perasaan.
Aruna meletakkan ponsel, tak lagi membalas pesan dari Rama. Ia sadar, tidak ada lagi tempat untuk ia bersembunyi.
Cinta yang tidak punya nama ini harus segera diberi arah atau semuanya akan hancur secara perlahan. Dan untuk pertama kalinya, Aruna mulai bertanya pada dirinya sendiri.
siapa yang benar-benar ia takuti, kehilangan mereka, atau dirinya sendiri?