Sunyi yang Tidak Meminta Izin

826 Kata
Kesepian yang Aruna rasakan tidak selalu datang dengan tangisan. Ia datang sebagai rutinitas yang merubah semuanya. Bangun pagi tanpa ada pesan “hati-hati di jalan.” Minum kopi sendirian tanpa suara motor berhenti di depan kos. Tidak ada jadwal yang harus di sesuaikan, tidak ada alasan untuk tergesa. Kebebasan yang dulu ia kira akan menenangkan, justru sekarang terasa seperti ruang kosong yang terlalu luas. Hari-hari Aruna berjalan dengan biasa. Aruna kembali fokus pada pekerjaan nya, ia mulai menyibukkan diri dengan hal-hal kecil yang dulu sering ia abaikan. Seperti ini ia merapikan kamar yang sedikit berantakan, mengganti seprai dengan yang baru, menata ulang meja belajar, menyapu dan ngepel serta membersihkan abu yang sudah mulai terlihat. Semua dilakukan dengan rapi dan bersih, seolah keteraturan itu bisa menggantikan rasa aman yang hilang itu. Namun setiap malam, ketika lampu sudah dimatikan, dalam pikirannya tetap ribut, memikirkan tentang Dava, cara ia pergi tanpa menutup pintu dengan suara yang keras. Dan tentang Rama, cara ia menghilang tanpa menghilangkan pengaruhnya. Aruna mulai memahami satu hal yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya. kehilangan tidak selalu berarti ditinggal. Kadang kehilangan berarti tidak lagi untuk dipilih. Ia mencoba berhenti untuk menghubungi siapa pun itu mau Rama atau pun Dava. Bukan karena ia ingin terlihat kuat, tapi karena ia uda sangat lelah untuk menjelaskan tentang perasaan nya sendiri. Teman-teman Aruna pada heran, ada apa dengan Aruna! Kepada teman-temannya, Aruna hanya berkata, ”aku lagi butuh sendiri, aku butuh waktu.” Mereka pun mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh lagi, mungkin itu privasi bagi temannya. Beberapa hari kemudian, ia kembali ke kampus. Studio seni masih tampak sama, tapi rasanya yang berbeda. Tidak ada suara Rama yang menggerutu soal cat habis, tidak ada diskusi kecil tentang makna pada warna. Aruna berdiri di ambang pintu, ia terlihat ragu untuk masuk, lalu ia memutuskan untuk pergi. Ia tidak siap untuk mengingat itu semua. Di luar, hujan turun deras dengan tiba-tiba. Aruna berjalan tanpa payung, ia membiarkan dirinya basah. Bukan karena ingin terlihat melankolis, ia hanya tidak peduli. Malam itu, Rama benar-benar menjauh. Bukan dengan memblokir dan bukan dengan kata kasar tapi ia hanya berhenti. Tidak ada pesan, tidak ada tanda online. Seolah ia menutup satu pintu yang sebelumnya selalu sedikit terbuka. Aruna menatap ponselnya dengan lama. Ia tidak mengirim apa pun. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan seseorang pergi tanpa mencoba menahannya. Itu menyakitkan dengan cara yang dewasa. Beberapa hari kemudian, Aruna bertemu Dava secara tidak sengaja. Di minimarket dekat kos. Dava berdiri di lorong minuman, memegang botol air. Mereka saling melihat dan terkejut, lalu terlihat sangat canggung. “Hai,” kata Dava lebih dulu dan tersenyum. “Hai,” jawab Aruna dengan senyumannya juga. Tidak ada pelukan yang habgat, tidak ada senyum lebar. Hanya ada dua orang yang pernah saling memilih dan itu gagal. “Kamu kelihatan lebih kurus, Ar.” ujar Dava menelisik tubuh Aruna. Aruna mengangkat bahu. “Kamu juga, kelihatan kurus.” ucap Aruna sambil tersenyum. Mereka tertawa kecil, tertawa dengan rasa yang lebih ringan, seperti tidak ada beban dan seperti tidak ada masalah dengan masa lalu. “Kamu baik?” tanya Dava. “Belajar,” jawab Aruna, mengulang kata yang sering ia dengar belakangan ini. Dava mengangguk. “Aku juga.” ucap Dava. Tidak ada permintaan untuk kembali, tidak ada penyesalan yang diucapkan secara gamblang. Justru itu yang membuat pertemuan itu terasa bersih. “Jaga diri kamu ya,” kata Dava sebelum berpisah. Aruna tersenyum. “Kamu juga,” balas Aruna. Dava mengangguk dan tersenyum ke arah Aruna kemudian dia pergi, meninggalkan Aruna yang masih berdiri di situ. Ia berjalan pulang dengan d**a yang berat, tapi tidak terasa sesak seperti dulu. Ada rasa sedih, dan ada rasa rindu, tapi juga ada penerimaan kecil yang baru tumbuh. Malamnya, Aruna membuka jurnal lamanya. Ia menulis tanpa tujuan jelas. Tentang ketakutannya pada kehilangan, tentang kebiasaannya menunda keputusan dan tentang bagaimana ia sering mencintai dengan setengah hati, berharap untuk tidak terluka padahal justru itu yang melukai semua orang. Ia menulis satu kalimat panjang, lalu berhenti. Aku tidak takut memilih, tapi aku takut bertanggung jawab atas pilihanku. Air mata Aruna jatuh begitu saja, tapi Aruna tidak menyekanya, ia membiarkan itu terus membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak menyalahkan pada siapa pun. Menjelang tidur, ponselnya berbunyi. Bukan dari Rama, bukan juga dari Dava. Tapi pesan dari nomor tak dikenal. Nomor Baru : Pamerannya laku keras, banyak yang nanya soal perempuan yang ada di lukisan itu. Aruna tahu itu siapa. Ia menatap layar dengan lama, jari-jarinya terlihat ragu untuk mengetik dan pada akhrinya Aruna berkata. Aruna : Kamu jawab apa? Balasan datang lama. Rama : Aku bilang, dia orang yang mengajariku rasa kehilangan tanpa harus membenci. Aruna menutup mata, dadanya terasa bergetar. Tidak ada ajakan, tidak ada harapan yang dijanjikan. Hanya pengakuan yang jujur dan jarak yang harus tetap dijaga. Dan Aruna tahu, fase ini belum sepenuhnya selesai. Ia baru saja memasuki bagian paling sulit dari cinta gila gilaan itu, mencintai tanpa harus memiliki, dan hidup dengan pilihan yang tidak bisa diulang lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN