"Milla, kemari!" "Baik, Pak." Jemari Milla melepaskan tombol interkom di depannya dengan malas. Ini..., entah sudah yang ke berapa kalinya Mahesa memanggilnya untuk masuk ke dalam ruangannya hari ini. Belum genap satu hari ia menjalani masa jabatannya sebagai sekretaris baru Mahesa -karena kemarin ada kejadian yang tak diinginkan terjadi, membuat Milla harus pulang lebih cepat- dan kini, bos barunya itu telah membuatnya lelah. Lelah hati dan juga lelah pikiran. Bagaimana tidak? Jika sedari tadi Mahesa terus saja mencari-cari alasan agar Milla dapat masuk ke dalam ruangannya. Entah itu menyalin soft file, memilah dokumen, hingga membuatkan secangkir kopi manis yang tak terlalu manis. Karena kata Mahesa, cukup melumat bibir Milla saja sudah dapat membuat gula darahnya naik. Dan Milla sem

