Nafasku tertahan untuk beberapa detik, masih mencari jawaban dari pertanyaan terbesarku saat ini. Apakah ini mimpi? Tapi kok rasanya tidak, apalagi sentuhan ini terasa begitu nyata. Tapi, tapi— akhirnya, dari pada pikiranku sibuk menerka-nerka ku gigit saja bibir Utha untuk membuktikannya. "Auwh!" jerit Utha menjauhkan wajahnya dariku. Aku menggaruk kepala, memperhatikan Utha yang kini meringis memegangi bibirnya. "Sa-sakit ya?" tanyaku ragu. Ia lantas menolehkan wajahnya padaku, masih dengan ekspresi yang jelas kesakitan, dan kini aku sadar bahwa yang tadi itu ataupun yang sekarang ini bukan mimpi. "Kamu tuh kenapa sih? Kok aku digigit?!" akhirnya suara Utha terdengar setelah cukup lama ia meredakan rasa sakitnya. "Eh, itu.. tadi, anu. Ya udah diulang aja gimana?" Aku tidak tahu apa

