Lutut Jenny lemas bagai jelly saat wajah mereka begitu dekat, terlebih ketika pria itu melayangkan death glare padanya. “Diam, tenang, jangan berteriak, maka akan kulepaskan.” Mulut dan mata pria itu hidup sekali ketika berbicara, menggambarkan emosi dan jiwanya yang tenang namun meledak-ledak sekaligus. Karakter yang kompleks. “Kau mengerti? Anggukkan kepalamu.” Perintah itu menuntut. Jenny melakukannya, dua kali. Lagipula siapa yang berani menentang iblis? Telapak tangan itu terlepas dari mulutnya dan Jenny terengah, tadi saluran napasnya tersendat, ditambah dengan Jenny sendiri yang menahan napas. “Kau menembak dan kau—membunuhnya!” tuding Jenny, suaranya seperti bisikan yang muncul dari lubang semut. Jenny berdiri seperti orang linglung, telinganya bahkan tak lagi berfungsi sempu

