Chapter 4 : Sayonara

1998 Kata
“Jo-ah, kau tidak apa-apa?” Wanita itu berlutut di samping si anak, mengelus wajah polosnya seolah kulit di sana habis dicakar Tazza Choi. Oke, ada dua kesalahan yang dilakukan Tazza. Yang pertama, memaku tubuhnya sendiri. Yang kedua, menatap lama adegan dramatis bego itu. Seharusnya Tazza Choi mengambil banyak opsi yang tersedia, salah satunya adalah melarikan diri. “Nakal sekali, kau bisa-bisa tersesat di hotel seluas ini. Lain kali jangan membuat semua orang khawatir.” Alih-alih merespon, anak laki-laki itu malah menunjuk Tazza. Melepaskan diri dari Ibunya dan datang ke arah Tazza, memeluk kakinya lagi. Kalau saja Tazza membuka mulut, dari tenggorokannya pasti menyembur kobaran api. “Lihat, Daddy akhirnya pulang! Hore!” sambil melompat-lompat riang, “Ayo Daddy, ke kamar bersamaku.” “Ayo kembali Jo, jangan mengganggu orang. Paman itu bukan Daddymu.” Apa wanita itu baru saja menyebutnya paman? Tazza berdecak tak suka, bahkan umurnya belum mencapai 32 tahun. “Yuk,” namun anak laki-laki itu menepis ajakan Ibunya, dahi Tazza mengerut, harusnya anak itu ditarik pakai tambang. “Tidak, aku mau sama Daddy!” Tazza hampir saja berkata, tolong jauhkan benda ini dariku. Tapi untunglah akal sehat pria itu masih berjalan. “Anakmu pasti salah orang,” katanya serius. “aku jelas-jelas bukan Ayahnya.” Ya memang jelas bukan, lagi pula kapan dia membuatnya dengan wanita itu? Bertemu saja baru pertama kali. “Pokoknya aku tak mau pulang kalau tidak sama Daddy,” anak itu mulai menangis, suaranya mirip amukan kerang raksasa dalam serial Spongebob Squarpants. Air matanya berjatuhan dengan melankolis. “Kalau Daddy tak mau ikut, tak mau menemaniku, biar aku tidak usah makan seharian!” Ancamnya, membuat kedua orang dewasa yang ada di sana tanpa sadar mendesah keras-keras. Anak kecil memang terkadang menyusahkan, tapi yang ini agaknya harus dicekoki obat tidur. “Sorry, tapi ini semua urusanmu sebagai Ibunya, aku tidak punya banyak waktu.” “Tunggu,” baju Tazza ditarik saat langkahnya mulai menjauh. Pria itu lantas berbalik, disuguhkan dengan pemandangan sepasang mata yang sayu, menatapnya penuh permohonan. Sejenak, udara terasa membeku. “Tolong ikut dulu denganku, hanya sampai dia tidur kembali.” Lain daripada biasanya, Tazza Choi butuh sepuluh detik untuk memproses kata-kata itu di dalam otaknya. “Ya, ya? Tolong, sekali saja, 15 menit cukup, tak lebih. Aku janji.” Wanita itu mengangkat jari telunjuk dan tengah, wajahnya sendu. Tidak cocok dengan postur tubuhnya yang aduhai. “Aku banyak urusan,” suara Tazza Choi mengalun bass. “tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal-hal tidak penting, seperti kalian.” Ini ucapan paling jujurnya hari ini, dia tidak bermaksud menyakiti siapapun, tapi ingin siapapun mengerti bahwa seseorang tak selalu punya waktu untuk sebuah omong kosong. Wanita ini sama tak pantang menyerahnya dengan anaknya. “Please, jangan hancurkan harapan seorang anak kecil.” Kenapa dia harus menuruti hal itu? Tazza Choi bukan Jack Frost, atau Kelinci Paskah, atau juga Santa yang tugasnya memang menjaga perasaan anak-anak dengan sepenuh hati. Kan sudah dibilang, dia tidak punya hati. “Lebih baik bawa anakmu pergi.” Tazza Choi menaikkan alisnya sinis, seharusnya cukup ampuh untuk mengusir 100 ekor serigala. Tapi makhluk di hadapannya bukan binatang buas. Ini wanita, dan tubuhnya Tazza akui seksi. Damn s**t! Kenapa matanya harus berhenti di p******a wanita itu? “Aku harus pergi.” Tegasnya. “Please, hanya sampai dia tidur.” Akan lebih baik kalau struktur kalimatnya berubah menjadi; sampai kita tidur. “Mister,“ sekali lagi dipanggil, Tazza mungkin bakal naik pitam. “Aku mohon.” Ada sesuatu yang berbeda di manik mata wanita itu membuat Tazza Choi tergerak, ini aneh sekali. Mata itu sangat hidup dan membujuk, seolah-olah Tazza berkaca jauh pada dirinya sendiri, namun dalam sebuah versi yang lebih lembut. Ini seperti bukan dirinya, mana mungkin Tazza mengiyakan, dan rela dipanggil Daddy berkali-kali oleh si anak laki-laki yang kali itu sukses berada dalam gendongannya. Ya Tuhan, yang berjalan masuk ke dalam lift itu pasti bukan Tazza. *** Mereka tinggal di lantai 21. Ruang hotel yang cukup bagus, sewanya berada di kelas tiga, agak mahal. Ternyata wanita itu orang berduit, atau kalau tidak, suaminya pasti kaya. Sial! Kenapa ekspresinya pahit begitu memikirkan jika wanita berambut cokelat ini punya suami. Tapi mana suaminya? Anaknya sendiri malah memanggil dia Daddy. “Daddy, selama ini kau dari mana saja?” mulai mengoceh lagi, apa sangat tidak puas dengan hanya jalan bareng? Apa Tazza juga harus berakting? Pura-pura jadi Daddy yang manis, astaga! “Aku bukan Daddymu.” “Kau Daddyku, kau pake kaos hitam.” Petugas hotel juga pakai baju hitam, pria itu memutar bola matanya. Oke, anak ini pasti mengidap keterbelakangan mental, tak mungkin semua anak di dunia ini i***t. “Daddy selalu terlihat keren, sama seperti yang ada di dalam kepalaku.” Dengar sendiri, bahkan anak ini menumbuhkan delusinya. Dan selama perjalanan neraka menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh, wanita di sisinya itu dengan sialannya bungkam. Raut wajahnya susah ditebak, yang jelas ada yang sedang dipikirkannya. Mereka masuk ke dalam sebuah kamar yang dindingnya dicat cream, dengan wall berukir benda-benda laut macam kerang dan terumbu karang. Ruang tamunya luas, bersih, dan ada satu tv plasma keluaran baru menyala tengah menampilkan film kartun. “Daddy harus menemaniku nonton tv.” Tazza melirik Ibu si anak, dan dijawab dengan isyarat semacam; turuti saja apa maunya dulu, supaya semua ini cepat selesai, nanti aku akan menjelaskannya padamu. Tazza duduk di sofa dengan kaku, sementara anak laki-laki itu duduk di pahanya dengan gembira. Mulai mengoceh lagi, bertanya ini itu yang biasanya Tazza balas pakai gumaman singkat. “Kalau Daddy suka yang mana?” telunjuk anak itu terarah ke tv, di mana terdapat gambar binatang-binatang aneh sedang bicara. Tazza Choi menyipit, oke, di sana ada seekor panda. Besar dan gendut, tingkahnya bodoh dan menyebalkan persis seperti anak laki-laki ini. Lalu macan belang yang tomboy, dan—dan belalang sembah? Mereka semua belajar bela diri, jadi film apa itu? “Jo suka sekali nonton Kungfu Panda, dia penggemar berat Po.” Suara wanita yang terdengar unik memasuki indera pendengarannya. Tapi yang ada di dalam kepala Tazza hanya satu hal, Po itu yang mana? “Panda yang bulat itu.” Oh. Pantas saja anakmu dungu, suka berdelusi dan sangat dibenci banyak orang. Ralat, Tazza seoranglah yang membencinya. “Sekarang tidur. Daddy sudah ada di sini.” Wanita ini seenaknya mengambil keputusan, kapan Tazza setuju berperan sebagai Ayah biologis anaknya? “Aku mau ngobrol dulu sama Daddy,” anak itu merengek dramatis. “Daddy belum menjawab pertanyaanku tadi, Daddy suka yang mana dari semua binatang yang di tv itu?” sambil mengguncang lengan Tazza Choi dengan manja. “Aku tidak suka mereka.” “Mana mungkin, mereka kan hebat-hebat?” bola mata bening anak laki-laki itu menatapnya, mengedip dan menunggu. Ya Tuhan, ternyata ujian terbesarnya bukan pada kesabaran Tazza yang tipis dari tadi, namun letaknya berada dalam pandangan milik seseorang yang memaksamu untuk selalu luluh. Ini jelas-jelas tidak baik bagi arogansinya yang terpupuk sedemikian rupa. “Jadi Daddy suka yang mana?” “Po.” “Kenapa?” “Dia yang paling banyak disorot.” Ya ampun, ini obrolan paling tidak bermutu yang pernah dialaminya. Si anak laki-laki nampak berpikir sebentar. Dahinya berkerut. “Yeay! Ternyata kita sama-sama suka Po! Dia memang paling banyak disorot ya? Dia hebat! Pahlawan paling hebat yang Jo suka.” Tadi jantung Tazza hampir merosot ke dasar perut, anak ini lebih mengejutkan daripada seperangkat ranjau darat aktif. “Po hebat ya, sayang sama orang-orang walaupun orang-orang jahat padanya, jago bela diri, punya banyak teman, suka tersenyum, lucu. Mirip Daddy.” Tidak—kalimat itu tidak membuatnya marah. Tapi pikiran Tazza Choi jadi mengelana ke mana-mana. Ada sesuatu yang bergerak dalam dirinya, halus dan tidak bisa ditebak. Sebuah pikiran yang—kira-kiranya seperti ini. Apa nanti anaknya juga akan bilang seperti itu? *** “Aku punya air putih, kopi dan teh. Kau mau yang mana?” Tazza duduk di kursi bar kamar hotel itu, meja panjang berbahan dasar keramik di hadapannya diisi oleh macam-macam gelas. “Kopi saja,” jawabnya sembari memerhatikan setiap gerakan yang dibuat wanita itu. Dari mulai mengambil sebuah gelas, memasukkan kopi, menyeduhnya dengan air panas, memberinya sedikit gula dan mengaduknya. Rambut panjang wanita itu menyentuh punggung, berkilau ditimpa cahaya lampu. Ketika sosoknya itu berbalik, Tazza Choi serasa didekati wanita yang keluar dari rumah barbie. “Eh—aku tidak punya camilan.” Ujar wanita itu malu-malu, duduk di seberang, mereka dipisahkan sebuah meja yang menempel di akar lantai. “No problem,” Tazza Choi menyesap kopinya, ini biji yang dipanen di Madeira. Dia tak mungkin salah, ini kopi orang-orang Portugis. “Sorry, sudah merepotkanmu sampai sejauh ini.” “Selama anakmu kembali tenang,” kok jawabannya jadi romantis begitu? “Joshua bukan anakku,” wanita itu tertawa dengan anggun, matanya melengkung seperti bulan sabit. Namun kemudian ekspresinya berubah agak sendu. “dia anak kakakku. Dan seperti yang kau lihat tadi, Jo berbeda dengan anak-anak pada umumnya, di usianya.” Itu sudah diduga sejak awal. “Dia hyperactive dan otaknya agak lemah.” Tazza Choi berusaha keras untuk tidak terlihat penasaran, seperti dia yang biasanya, tidak punya rasa kasihan. “Well, apa alasan dia menganggapku Ayahnya? Keluarganya tidak harmonis?” “Dia tak punya Ayah sejak lahir, dan kakakku yang bego itu terus saja mencekokinya kalau Jo akan segera bertemu Ayahnya.” Itu kedengarannya buruk. “Kakakku bilang begini, Jo, Daddy itu tampan, mata dan hidungnya bagus, dan Daddy suka pakai baju hitam. Sejak dulu Jo hidup dalam bayang-bayang seperti itu, jadi jangan heran kalau dia begitu padamu, dia sudah sering salah orang hanya karena pakaian yang mereka kenakan.” Oke, jadi kesalahan terbesar Tazza adalah memilih pakai baju hitam hari ini. “Di mana kakakmu?” “Dia seorang kupu-kupu malam,” wanita itu memangku dagunya yang seksi. Tazza hampir saja bertanya, dan kau juga? kalau begitu ayo kencan denganku. “Tunggu, tapi aku tidak seperti dia.” Oh, itu mengecewakan tahu ia wanita baik-baik. “Aku di sini untuk bekerja juga, tapi untuk pemotretan. Kakakku ada di atas, di bar. Jo dititipkan padaku saat aku selesai bekerja.” “Kau model?” “Begitulah,” Wanita itu mengedikkan bahunya yang terbuka, bagian itu kini menyita perhatian Tazza Choi penuh-penuh. Putih dan nampak lembut, mungkin rasanya seperti marsmallow? “Cukup menjanjikan untuk sekedar beli sepasang Loboutin setiap minggu.” Tazza menyipitkan matanya ketika wanita itu meneguk espresso di permukaan cangkir. Oke, wanita ini memang cantik, pantas dia model, perawatan wajah dan tubuhnya pasti gila-gilaan. Tapi Tazza Choi berani taruhan jika aset yang menempel pada tubuh wanita itu bukan imitasi. Seperti bibirnya yang penuh, mata sayu yang mengundang, hidung mancung secukupnya, p******a dan pinggulnya—sialan, meja ini menghalanginya memandang bagian itu. “Dan kau sendiri?” “Ya?” Tazza Choi menaikkan alis, otaknya tidak fokus, harusnya wanita itu sadar karena ini semua berkat ulahnya. “Pekerjaanmu, Mister.” Punggung Tazza Choi menegang, jiwanya yang beberapa saat lalu diambil malaikat kembali merasuki. Pria itu tidak buru-buru menjawab, kepalanya mendadak kusut total kala memandang ke dalam jam tangan 500.000 USD miliknya. f*****g s**t! Dia membuang dua jam waktu berharganya! Tazza ingin menghubungi Marco lewat sambungan di telinga, tapi dia tak mungkin melakukan hal itu di sini. Astaga, kenapa semuanya jadi tak terkendali? “Kenapa?” wanita itu ikut berdiri ketika Tazza berdiri, “apa aku menyinggungmu?” “Tidak, tapi aku harus pergi sekarang.” Katanya sedatar lantai yang dipijak, sikap tak tahu sopan santunnya berada di titik kulminasi. Tazza menderap cepat seperti banteng marah. “Oh, oke aku mengerti. Biar kuantar kau sampai ke lift.” “Tidak perlu.” Tazza berbalik tiba-tiba dan kepala wanita itu hampir menubruk dadanya. “Kau diam saja di sini.” Wanita itu mengerjapkan matanya, kehilangan sosok cukup kooperatif yang beberapa saat lalu masih bisa berkomunikasi normal dengannya. “Ta—tapi—kau tamu.” Kebingungan nampak jelas terlihat di wajah cantik itu saat Tazza Choi berjalan ke arah pintu, menarik dan membantingnya dalam detik kedua. Lalu hening lagi. Ya Tuhan, apa laki-laki itu mengidap post power syndrome? Wajahnya boleh mirip malaikat, tapi jauh di dalam dirinya Kronos rupanya bersemayam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN