Selama di perjalanan, Yenny terus memasang senyum manisnya. Ia sangat bahagia sekali mengingat dirinya yang ditolong oleh sang pujaan hatinya malam ini, bahkan Harry dengan baiknya mau mengantarkan dirinya pulang. “Om,” panggil Yenny pelan, namun sekian detik kemudian tidak ada jawaban dari sang pengemudi. “Om!” Panggil Yenny sedikit lebih keras seraya menarik-narik jas hitamnya Harry. “Hah? Kamu berbicara pada saya?” “Iyalah Om, sama siapa lagi coba. Ishh ....” jawab Yenny seraya mencubit pinggang Harry. “Aw, aw. Kenapa kamu mencubit saya?” “Biarin.” Yenny terlihat mengerucutkan bibirnya sempurna dengan bola mata yang melirik ke arah lain. “Ya udah, kamu mau ngomong apa? Jangan ngambekan gitu, kayak anak kecil saja.” “Hm, aku boleh meluk Om ngga.” “Hah! Untuk apa?” “Nanti

