Asa bergegas memasang seatbeltnya lalu menatap wajah dingin suaminya yang tampak belum berubah. Kelihatannya ia masih terbawa emosi karena kejadian tadi. “Om, makasih ya tadi udah belain aku. Om keren banget deh! Udah kayak super hero yang di TV, seperti iron man.” “Hm, itu 'kan memang sudah jadi tugas saya. Lain kali kamu itu kalau jalan baik-baik. Lihat ke kanan dan kiri.” “Ya maaf Om. Habisnya ketampanan Om membuat sekelilingku menjadi buram dan aku hanya bisa menatap dirimu, ahayy ....” “Belajar dari siapa kamu ngomong kayak begitu?” “Ada deh, hehehe ... Udah ah yuk balik Om.” Jay langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan area sekolah Asa. “Oh, iya Om. Sepedaku jadi gimana?” tanya Asa di tengah perjalanan. Ia baru teringat dengan nasib sepedanya. “Sudah saya bilang ke Ra

