CINTA KEDUA 34 Oleh: Kenong Auliya Zhafira Mengetahui hal yang sama sekali jauh dari harapan terkadang seperti hujan badai di terik matahari. Ada keinginan tidak percaya, tetapi gerimis berwujud air mata begitu nyata menetes membasahi kedua pipi. Logika pun seolah-olah memberi pembenaran untuk segala kemungkinan. Nesha berusaha membaca pesan kedua kali dari nomor yang mengaku bernama Jasmine dengan mata berkaca-kaca. Ia masih tidak menyangka kalau pria yang selama ini begitu manis dan perhatian ternyata di belakang punggungnya menyelipkan sebilah pedang. “Aku kurang apa untukmu, Mas ... apa selama ini yang sudah kita lalui tidak pernah berarti? Padahal aku tidak pernah sekali pun mempersalahkan segala kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki. Atau ini balasan untukku yang hadir di a

