Ana hanya diam, menatap Jino dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya air mata mulai menggenang di pelupuknya. "Gue gak tau kenapa," ucap Ana lirih sembari menyembunyikan wajahnya di lutut serta lipatan tangannya. "Gue cuman capek, gue masih gak tau kenapa gue hidup, kenapa gue harus lahir. Gue udah berusaha mikir positif, gue udah berusaha buat ini dan itu, tapi gue ngerasa semua yang gue lakuin cuman sia-sia. Gue itu manusia gagal. Meskipun gue sayang sama lo, selama ini gue berharap lo gak sama gue, gue gak pantes. Bahkan gue gak pantes jadi anak orang tua gue, gue gak pantes jadi Kakak buat adek-adek gue. Gue..." kalimat Ana tiba-tiba tersendat. Dia bingung sendiri kemana arah bicaranya, dia hanya mengungkapkan apa yang ia rasakan seadanya. "Gue malu kayak gini, gue malu punya pikir

