17

2357 Kata
"Tumben kamu ngetik di teras." Kata Ibu yang sedang mengurus tanaman. "Lagi bosen ngetik di kamar, hehe." Balas Ana sambil duduk di teras, dengan meletakan laptop di pangkuan, sementara mug kopinya di sebelahnya. Ia melirik ke arah halaman rumah Jino, dan tak lama Jino muncul dari dalam rumah dengan membawa perkakas. "Oh, Tante sama Ana lagi ada di luar toh." Kata Jino. "Iya nih, Tante mah biasa, pagi sore ngurus taneman." Balas Ibu Ana. "Ana tumben," kata Jino. "Lagi bosen aja di kamar." Sahut Ana sambil pura-pura mengetik. Ibu Ana memasang ekspresi bertanya-tanya dan curiga, tapi memilih tidak banyak komentar. "Kalian tumben gak berantem? Biasanya napasnya aja yang ketemu berantem." Tutur Ibu. "Yahhh, masak mau berantem terus Ma?" "Kalian pacaran?" "AKHHH!" Jino tiba-tiba berteriak, setelah obeng yang ia pegang jatuh mengenai kakinya, saking ia terkejut mendengar pertanyaan Ibu Ana. "Eehh, Jino! Kamu gak papa?!" seru Ibu Ana. "Gak papa Tante, cuman gak sengaja kena obeng." Balas Jino. Ana mengepalkan tangannya, ia berusaha menahan diri agar tidak menghampiri Jino. "Aduh, kalau emang pacaran ya gak papa. Kok pada panik?" kata Ibu. "Enggak Ma! Kita gak pacaran!" balas Ana. "Gitu? Masak?" "Beneran. Ya kali aku pacaran sama Jino." "Emang kenapa kalau kamu pacaran sama Jino?" "Yaaa... anehlah." Nada suara Ana tiba-tiba jadi mengecil. "Aneh itu kalau kalian masih suka berantem, soalnya kalian kan udah dewasa." Kata Ibu. "Ya udah deh, Mama masuk dulu. Na, tolong lanjutin nyiram tanemannya ya, Mama sakit punggung euy." "Iya Ma," "Ehh, tumben langsung nurut." Kata Ibu yang membuat Ana menatapnya sambil manyun, sementara Ibu malah tergelak. "Ya udah ah, Mama masuk dulu." Ana mendengus, beberapa detik setelah Ibunya masuk ke dalam. Mama sengaja banget. Batin Ana. Ana akhirnya beranjak berdiri. Ia meletakan laptop dan mug berisi kopinya terlebih dahulu ke meja, sebelum turun ke teras, dan melaksanakan perintah Ibunya. "Motor lo diapain coba?" tanya Ana. "Gue mau ganti joknya." Balas Jino. "Gak enak ya kalau pacaran sama lo, motor terus yang diurus, nanti pacarnya dianggurin." "Yee, ya enggaklah. Justru karena gue jomblo, makanya yang sibuk gue urus motor. Kalau udah punya pacar yaa... gue bakal bagi waktu, lo tenang aja." "Lahhh? Ngapain lo nyuruh gue tenang aja? Emang gue bakal pacaran sama lo?" "Lo nanya gitu maksudnya mau pacaran sama gue kan?" "Heh, bener-bener lu ya, narsis akut." "Bilang aja lo ngode." "Elo kali yang ngode seharian ini." "Enggak ih ge-er!" "Jelas banget tau lo ngodenya." "Lah lo juga sama." "Gue sama sekali gak ngode." "Ya sama, gue juga gak ngode." ••• "Kak Ana disuruh nyiram taneman?" Ibu yang sedang menyiapkan makan malam, hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Putri keduanya itu. "Bukannya tadi Kak Ana kecapean ya? Habis diajak jalan seharian sama Kak Jino. Emang gak papa?" "Gak papalah, orang cuman nyiram tanaman aja. Sekalian Ana juga kayaknya lagi pengen sama Jino." "Kak Ana makin deket ya sama Kak Jino?" Ibu senyum. "Iya, mudah-mudahan Jino bisa bikin Kakak mu itu jadi lebih semangat buat hidup." "Hhmmm..." Adik Ana kemudian melihat lengannya sendiri yang penuh goresan, sebelum menutupnya kembali dengan lengan baju. "Oh iya Nani, Kak Ana kemaren nemu cutter di kamar kamu." Celetuk Mama yang membuat adik perempuan pemilik nama Nani itu terkejut. "Heum, emangnya kenapa?" Ibu terlihat menghela napas berat dulu, sebelum hendak mengutarakan inti pembicaraannya. "Kamu ngelukain diri sendiri?" tanya Ibu. "Hah?! Ya enggaklah! Mama pikir aku mental illness?!" "Eh gak gitu. Mama kan cuman nanya aja." "Pasti Kak Ana yang ngomong," "Ya soalnya Kak Ana ngeliat tangan kamu ada luka, dan Kak Ana nemuin cutter di tangan kamu." "Ada sedikit luka di tangan mah wajarlah." Kata Nani sambil beranjak berdiri, dan pergi dari dapur tanpa mengatakan apapun. Ibu menghela napas berat. ••• "Udah selesai mainin motornya?" tanya Ana. "Lo sendiri udah selesai nyiram bunganya?" Ana tidak menjawab. Sebenarnya dua-duanya sudah selesai dengan aktifitas masing-masing. Tapi tidak ada yang ingin beranjak dari tempat masing-masing. "Eeee... ngebakso yuk," kata Jino tiba-tiba. "Ayo!" seru Ana bersemangat. "Oke, kalau gitu gue ganti baju dulu ya?" "Iya, gue juga." "Gue masuk duluan." "Iya, ya udah masuk duluan aja, gue masih mau cuci tangan." Jino bangkit berdiri, kemudian jalan dengan lamban memasuki rumah. Sementara Ana memperhatikan melalui ekor matanya. Setelah Jino sudah benar-benar masuk ke dalam rumah, baru Ana ikut bergegas masuk. Tak lupa dengan membawa laptop serta sisa kopinya. Tapi baru sampai setengah ia di ruang tengah, ia mendengar Nani yang berteriak dari arah dapur. "Hah?! Ya enggaklah! Mama pikir aku mental illness?!" Ana mematung. Ia mendengarkan pembicaraan Ibu dan adiknya hingga selesai. Tak lama Nani keluar dari dapur, membuat mata mereka saling bertatapan untuk beberapa saat. Nani kemudian berlalu begitu saja, tanpa mengatakan apapun pada Ana, begitu pula sebaliknya. ••• "Kenapa ngelamun terus?" tanya Jino setelah sekitar lima menit ia dan Ana sampai di warung bakso. "Eung, gak papa." Kata Ana tanpa berani menatap Jino. "Waktu itu kan gue udah bilang, kalau ada apa-apa jangan disimpen sendiri." Kata Jino. "Gue siap dengerin." Ana terdiam sejenak, sembari menggigit bibir bawahnya, dan memainkan jari-jarinya. Dia mau bicara, tapi entah kenapa terasa sangat sulit, sampai-sampai bibir dan tangannya jadi gemetaran. Melihat itu, Jino langsung meraih salah satu tangan Ana dan menggenggamnya. "Gak usah dipaksa, kalau emang gak bisa. Tapi gue siap dengerin apapun yang mau lo ceritain ke gue." "Gue ceritanya habis ngebakso aja ya?" kata Ana, yang dibalas Jino dengan anggukan, serta elusan di kepalanya. "Maaf ya Jin, jadi gak enak gini suasananya." Ucap Ana. "Ahh, ngapain minta maaf? Emang kemauan lo suasana hati lo gini? Kan enggak." Balas Jino. "Malah harusnya gue yang minta maaf, karena lo keliatannya masih capek, malah gue ajak pergi lagi." "Makasih sih Jin udah bawa gue pergi." Kata Ana. "Ya udah mending sekarang di makan bakso lo, habis itu kita jalan-jalan aja muterin taman. Gimana? Mama lo bolehin kan?" Ana menganggukan kepalanya. "Tapi cuman boleh sampe jam delapan." "Sebelum jam delapan kita udah pulang." ••• Jino bisa merasakan kepala dan tubuh Ana yang langsung bersandar di punggungnya, begitu mereka naik motor. Apa Ana merasa begitu kelelahan sampai seperti ini? Tubuhnya benar-benar terasa lemah. "Na, mau langsung pulang aja?" tanya Jino. "Ke taman dulu." Balas Ana. "Gue mau es krim." "Tapi lo kayaknya kecapean banget Na," "Gak papa kok." "Ya udah lo pegangan yang erat ya?" Ana menganggukan kepalanya, sembari melingkarkan kedua tangannya dengan erat di pinggang Jino. Sesampainya di taman, Jino menuntun Ana untuk duduk di kursi. Jino bisa mendengar deru napas Ana yang memberat. "Lo jadi mau es krim?" tanya Jino sesaat setelah Ana duduk di kursi. Ana menganggukan kepalanya sebagai jawaban. "Mau rasa apa?" "Rasa buah," balas Ana dengan nada lirih. "Ya udah lo tunggu di sini aja, gue beliin dulu." Lagi-lagi Ana hanya menganggukan kepala untuk menjawab. Jino pun bergegas ke warung yang terletak tidak jauh dari taman. Begitu Jino pergi, Ana langsung mengambil sapu tangan untuk menutup mulut, dan ia batuk dengan terkendali. Tangannya yang tidak memegang sapu tangan, ia gunakan untuk memukul dadanya. Hingga beberapa menit Ana batuk, setelah reda. Ia langsung mengambil obat yang ada di saku celananya, dan menelannya. Jino tak lama kembali sembari menyerahkan salah satu es krim yang ada di tangannya pada Ana. Tanpa mengatakan apapun, Ana menerima es krim tersebut, dan memakannya dengan cepat, sampai sudah tinggal setengah, membuat Jino mengernyitkan kening. "Lo kenapa dah?" tanya Jino yang dibalas gelengan oleh Ana. "Serius? Wajah lo pucet banget." Kata Jino. Ana tidak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu mengelap peluh yang ada di keningnya menggunakan lengan baju. "Ekhem," Ana berdehem untuk menghilangkan dahak di tenggorokannya. "Gue gak papa. Bukannya gue udah biasa ya keliatan pucet?" "Yaa... iya sih..." gumam Jino. Ana memakan es krim dengan lebih tenang sekarang, membuat Jino akhirnya ikut memakan es krimnya juga. "Gue sebenernya ngerasa bersalah sama adek cewek gue." Tutur Ana. "Kenapa?" tanya Jino. "Dia itu kan posisinya adek gue, tapi justru kayak anak pertama, karena yang paling sering diandelin. Lama-lama dia kayaknya stress dan ngerasa kurang perhatian, sampe akhirnya dia ngelukain dirinya sendiri." Jino melebarkan matanya mendengar cerita Ana. "Serius?" Ana menganggukan kepalanya. "Gue nemuin tangannya banyak luka-luka gores, dan cutter di deket kasurnya. Gue jadi gimana gitu ngeliat dia, jadi canggung, karena gue otomatis jadi berusaha jaga omongan gue jangan sampe ngelukain perasaan dia. Gue juga udah berusaha kasih perhatian dan nurutin semua yang dia mau, cuman pasti gak cukup." "Nani juga suka ngeliat yang aneh-aneh di internet. Kayak yang pernah lo bahas waktu itu, harusnya kita lebih jaga apa yang diliat. Bacaan Nani aja tentang pembunuhan, dan temen-temennya toxid. Gue jadi pusing, gue kan gak bisa seenaknya ngontrol Nani, apa lagi dia udah gede. Dia juga gak mau terbuka. Gue harus gimana?" Ana hampir menjambak rambutnya sendiri, kalau saja Jino tidak dengan sigap meraih tangannya. "Lo tetep bersikap kayak biasanya aja, tapi tetep lebih ngasih perhatian ke adek lo, jangan sampe dia sendirian. Nanti lama-lama juga dia bakal sadar kok, kalau lo peduli sama dia." Kata Jino. Ana menghela napas. "Gue ngerasa udah jadi Kakak yang gak becus." "Kalau lo gak becus, gak mungkin lo mikirin adek lo sampe kayak ginikan?" Ana hanya diam. Jino kemudian mengusap kepala Ana, membuat Ana menatapnya. "Semuanya bakal baik-baik aja, asal kita berusaha buat perbaikin semuanya, percaya sama gue." Kata Jino. Ana tersenyum tipis. "Makasih ya," ucap Ana. "Terus gimana sekarang perasaan lo?" "Ya udah mendingan, tapi gak tau nanti kalau udah pulang." "Ajak ngobrol aja adek lo, ngobrol santai, ngobrolin apa yang biasa kalian obrolin. Biar kalian lebih deket, dan mudah-mudahan Nani setelah itu mau terbuka. Atau enggak malah berhenti ngelukain dirinya sendiri, karena dia sadar ada yang peduli sama dia." Ana menganggukan kepalanya. "Kalau gak ada lo gue kayaknya bakal kebingungan sendiri. Dulu tempat gue curhat dan cerita ini itu cuman Mama gue, tapi semakin bertambahnya adek, gue milih buat atasin masalah gue sendiri. Karena Mama gue udah repot, masak gue mau nambah-nambahin bebannya?" tutur Ana. "Yah, itu sebabnya lo harus punya temen Na," balas Jino. "Ya udah, lo aja yang jadi temen gue." Kata Ana. "Gue gak mau jadi temen lo." Jino tiba-tiba menatap Ana dengan tatapan lebih serius dari biasanya. Ana sendiri tidak merespon perkataan Jino, jantungnya mendadak berdebar lebih kencang dari biasanya. "Gue... gue pengennya jadi pacar lo." Kata Jino dengan cepat. Ana menatap Jino dengan mata melebar, dan tentu saja ekspresi tidak percaya. "Hah?" "Gu-gu-gue tau lo pasti kaget, gak percaya, da-dan yaaa... pasti lo kaget, gak nyangka. Kita jelas belum lama ketemu, pertemuan pertama kita juga gak enak, soalnya berantem. Ta-tapi gue serius. Gu-gue tuh, gue tuh suka sama lo, iya, iya, gue suka sama lo. Iya pasti aneh banget lo dengernya. Aduh udahlah, lupain aja, aaaaa..." Ana menatap Jino yang sedang histeris dan malu sendiri sampai menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, dengan salah satu alis terangkat. "Apaan sih? Lo serius nembak gue apa enggak?" tanya Ana. Jino menatap Ana melalui sela-sela jarinya sambil cemberut. "Iya, gue serius..." kata Jino lirih. "Kenapa lo suka sama gue? Aneh." Jino menurunkan tangannya yang menutupi wajahnya, kemudian menatap lurus ke depan. Ana bisa melihat telinga sampai wajah Jino yang merona karena malu. "Karena lo Ana." Ucap Jino. "Hah?" "Ya lo kan tadi nanya, kenapa gue suka sama lo. Ya gue suka sama lo karena lo tuh Ana. Gak ada alasan khusus. Gue cuman jadi suka waktu ketemu sama lo, waktu ngeliat lo, waktu... waktu ngobrol sama lo, waktu bisa ngehibur lo pas sedih. Gu-gue... dari yang awalnya gue gak ngerasa apa-apa pas ngelakuin itu semua, sekarang gue ngerasa seneng ngelakuinnya." "Lo yang bisa terima masa lalu gue, juga jadi salah satu hal yang bikin... yang bikin perasaan itu muncul. Meskipun kita suka berantem, lo tetep dengerin apa yang gue bilang. Entah itu cerita gue, nasehat gue, lo gak pernah ngabein gue." Ana terdiam. Jino kali ini menundukan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya. "Oy, coba liat sini lo." Kata Ana sembari meletakan salah satu tangannya di bahu Jino. Jino pun menolehkan kepalanya dengan ragu-ragu ke arah Ana. Dan matanya seketika melebar, saat bibir Ana tiba-tiba mendarat di atas pipinya sekilas. Ana kemudian menatap Jino yang tiba-tiba gemetaran. "Eh, lo gak papa?" tanya Ana. "L-lo terima gue?" "Menurut lo?" "Serius?" "Hhmm, iya." "Beneran?" "Ya udah gak jadi." "Jangan, jangan!" Jino memeluk Ana erat dari samping, membuat Ana melebarkan matanya sejenak. "Terus baby blue gimana?" tanya Ana. "Maaf ya Na, sebenernya lo gue jadiin selingkuhan." Ana menyentil kening Jino, tapi tidak terlalu keras. Jino tak lama melepas pelukannya, dan menatap Ana yang sedang menghabiskan es krimnya, yang tinggal sedikit. "Tapi... lo kok biasa aja?" tanya Jino. "Hhmm? Emangnya gue harus gimana?" "Gerogi, gerogi dulu gitu. Atau... gue kira lo tadi mau mikir-mikir dulu sebelum ngasih jawaban." "Sejujurnya kalau lo mau tau, gue bukan cewek normal yang bakal kayak gitu. Lagian ngapain gue perlu mikir-mikir, kalau gue udah tau gimana perasaan gue sendiri." "Ciaaaaa.... jadi selama ini lo emang suka sama gue ya? Gue kira lo sukanya sama tukang paket." Ana memukul kepala Jino. "Cinta gue sama lo dan tukang paket tuh beda." "Jadi gue diduain sama tukang paket?" "Emang gue gak diduain sama motor? Ya udah, sama-sama aja, kita seri." Jino manyun. "Beda lah. Tukang paket tuh beneran orang, motorkan bukan orang." Ana tidak menjawab, kalau Jino mulai ngedrama, Ana lebih memilih tidak banyak menanggapi. "Tapi... lo jadi cinta sama gue?" tanya Jino sambil mendekatkan wajahnya pada Ana. Ana mengusap-ngusap telinganya. "Apa sih? Gue geli dengernya." "Iihhh, tapi gue masih gak nyangka lo juga suka sama gue. Lo kan biasanya kayak benci sama gue. Lo lagi gak taruhan sama siapa gitukan? Buat mainin gue?" Ana menepuk keningnya. "Coba deh lo kurang-kurangin nonton drama sama sinetron, dan baca komik romantis." "Gue suka sama lo juga, gue sayang sama lo juga. Gue nyaman sama lo, gue jadi gak ngerasa sendiri sejak kenal lo. Dan gue gak pernah benci sama lo, cuman suka kesel aja, karena lo emang suka resek. Puas penjelasannya?" Jino menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Udah sana mukanya, jangan deket-deket." Kata Ana sembari hendak mendorong wajah Jino, tapi Jino sudah lebih dulu meraih tangannya, dan menggenggamnya. Ia kemudian menarik tubuh Ana untuk lebih mendekat padanya. Wajah Jino pun jadi lebih mendekat ke wajah Ana. Ana hanya diam, tidak berkutik. Sampai akhirnya jarak wajah mereka pun benar-benar terhapus. ••• "Gue sekarang beneran jadian sama Ana." Kata Jino sambil cengar-cengir. "Heh, serius lo?" tanya Ardan. "Gak kaget." Timpal Randy. "PJ! PJ! PJ!" teriak Han dan Bayu yang membuat ricuh kafe. "Woy! Diem! Tempat ini umum ini!" Jazmi memberi peringatan pada double H untuk diam. "Pj, pj. Gak ada pj-pj. Gue tuh sekarang harus berhemat." Kata Jino. "Lah, lagi berhemat tapi pacaran." Kata Felix. "Ana mah gak akan nuntut yang aneh-aneh." Balas Jino. "Kan lo baru saja pacaran sama dia, gak taukan gimana nanti? Apa lagi Ana katanya hobi belanja." Kata Ardan. "Ck, jangan ngomporin yang enggak-enggak deh." Sahut Randy. Randy kemudian melirik Tora yang dari tadi hanya diam. "Diem aja lo Min dari tadi, kenapa?" tanya Randy, yang dibalas gelengan oleh Tora. "Selamat ya, akhirnya lo jadian sama manusia, bukan sama motor." Ucap Jazmi. "Iya, gue padahal udah khawatir sama masa depan lo. Hah, lega deh gue sekarang." Timpal Bayu. "Mending lo khawatirin masa depan lo sendiri deh." Kata Randy. "Masa depan gue mah udah pasti cerah!" sahut Bayu. "Yang gak cerah masa depannya kan Han." "Wesshhhh ngomong apa lo?! Dompet lo sama gue, tebelan punya gue! Akhir-akhir ini lo ngajak ribut gue terus ya? Ada masalah apa sih lo sama gue?" kata Han. "Udah deh, kalian jangan keseringan berantem, entar ujung-ujungnya kayak Jino sama Ana." Kata Ardan yang membuat Han dan Bayu langsung memasang ekspresi horror.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN