15

1308 Kata
'Apa iya Ana separah itu? Padahal dia sendiri yang ngaku, tapi kenapa malah gue yang gak terima? Gak mungkinkan Ana sejahat itu pikirannya? Dan kenapa dia gak mau berubah, malah milih sendirian? Kenapa sih? Kalau kayak gitu, masa depannya kan bisa suram, meskipun dia udah kerja keras sekarang. Kayak nulis. Kalau dia banyak temen, pasti sekarang dia udah jadi penulis yang cukup dikenal, lewat bantuan temen-temennya. Tapi ini dia kerja sendiri.' 'Apa... Ana ngerasa gak yakin bisa berubah ya? Tapi kalau emang gak yakin bisa berubah, ya mana bisa berubah? Ck, diakan udah 20 tahun, masak masih kayak bocah sih mikirnya?' Jino menatap pantulan dirinya di depan cermin, yang baru saja selesai mandi. Hanya berbalut handuk di pinggang, dan rambutnya masih basah, karena hanya dikeringkan dengan handuk. "Waktu SMA gue kan nakal banget yaaa... sekarang gue udah jadi anak yang soleh," Jino mengusap-ngusap dagunya untuk memikirkan sebuah ide. "Aha! Gue tau harus gimana." To: Ana Hari ini mau ke perpustakaan kampus gue lagi gak? From: Ana Ngantuk. To: Ana Udah pernah nyobain starbucks belum? From: Ana Belum, mahal. To: Ana Gue teraktir, From: Ana Enggak, mahal. Mending uangnya buat nafkahin baby blue. To: Ana Lagi ada promo, 60 ribu dapet dua minuman. From: Ana 60 ribu itu bisa buat beli yang lain. Telur satu kilo 21 ribu, ikan kembung setengah kilo 18 ribu, sambelan 5 ribu dapet banyak cabe setan, itu aja masih ada kembalian. To: Ana -_- lo habis belanja di pasar ya? From: Ana Iya. Ini aja gue dapet harga murah, gue harus pinter-pinter ngatur uangnya, biar banyak sisanya, terus bisa gue tabung. To: Ana Starbucks sama belanja buat makan sehari-hari itu beda. From: Ana Beli kopi instan sasetan, serenceng harganya cuman 9 ribu, bisa buat minum sepuluh kali. To: Ana Na, seneng-senenglah sedikit. Cuman minum starbucks sesekali ini doang, lagian ini gue teraktir. Emangnya gue suami lo, uang gue jadi lo ikut atur-atur segala? From: Ana Gue gak rela ngeliat uang kebuang sia-sia huhuhu. Tadi gue haus pas di pasar, terus gue beli minuman jelly yang harganya 10 ribu. Gue masih galau. Sekarang lo ngajak gue minum, minuman yang harganya 30 ribu. Mending lo kasih mentahannya aja, buat gantiin 10 ribunya itu. To: Ana Kalau lo ada di deket gue, udah gue jitak lo. Ke pembicaraan awal, lo mau ikut gue ke kampus apa enggak?! From: Ana Enggak, males. "Bang....... sat..." desis Jino sembari menepuk keningnya. "Ya ampun kan, gue jadi ngomong kasar saking keselnya. Kok ada sih manusia kayak gini? Ting! From: Ana Beliin gue bakpao aja. Udah lama gak makan bakpao. Gue otw siap-siap, lo jemput ya? Senyuman lebar, seketika terukir di wajah Jino. 'Ana tuh emang unik ya,' ••• Ana dan Jino, sama-sama terkejut melihat penampilan masing-masing. Jino seperti preman, sementara Ana malah tampil manis dengan dress, yang panjang roknya sebetis, dan lengan seperempat. Makeupnya juga tidak tebal, dia pakai riasan dengan warna-warna pastel, dan menata rambutnya ke samping, jadi wajahnya kelihatan. "Kok penampilan lo gitu?" tanya Ana dan Jino serempak. "Ana kayaknya lagi suka cowok, biasanya kalau dia lagi suka sama cowok, penampilannya otomatis berubah di bawah alam sadar." Celetuk Ibu Ana yang tiba-tiba muncul di belakang Ana. "Iih, Mama apa-apaan sih? Aku gak lagi suka sama siapa-siapa. Emangnya akhir-akhir ini aku lagi deket sama cowok tertentu apa?" Ibu langsung memasang ekspresi malas. Sebenarnya Ana selama ini menganggap Jino apa sih? Batin Ibu. "Terus kenapa lo penampilannya kayak gini?" tanya Jino. "Ya pengen aja. Nah lo sendiri kenapa tuh kayak preman penampilannya? Gak ada rapih-rapihnya sama sekali. Emang boleh ke kampus pakai anting sebanyak itu?" "Gak ada yang berani sama gue, meskipun itu Dosen. Udah yuk, jalan sekarang. Lo pakai celana panjang kan?" "Iyalah! Ya gak panjang juga, selutut." Ana kemudian berbalik, untuk pamitan ke Ibu. "Ma, aku pergi dulu ya? Kalau Papa udah bilang kabarin, nanti aku cepet pulang. Terus bilang aja mau nitip apa, masih ada belanjaan yang kurang atau enggak." Tutur Ana. "Iya, iya. Tapi kamu udah gak papa? Katanya tadi panas banget." Kata Ibu. "Apanya yang panas Tante?" tanya Jino. "Cuacanya, mataharinya kan nyengat banget sekarang. Ana tuh gak kuat panas. Topi kamu kemana sih lagian?" "Rusak Ma. Aku cuman punya tiga topi, satu udah lusuh, yang satu kekecilan, yang satu lagi ujungnya moncong ke atas." Jino tiba-tiba melepas topi putihnya, dan mengenakannya pada kepala Ana. "Tuh pakai punya gue aja, gue soalnya nanti pakai helm." "Terus gue gak dikasih helm? Kan bahaya kalau gue gak pakai helm, gimana sih?" Jino menatap datar Ana. 'BAPER DIKIT KEK!' "Hah, ya pas naik motor lo pakai helm, nanti pas turun lo bisa pakai topinya." "Kan nanti ke dalem gedung, ngapain gue harus pakai topi?" "Ya udah sini topinya balikin!" seru Jino sembari hendak menarik topi yang Ana kenakan, tapi Ana menahannya. "Iya, iya, gue pakai! Baperan!" "Elu nyebelin! Nyebelin banget!" Ibu Ana tertawa. "Maaf ya Jino..." "Gak usah minta maaf Tante, bukan salah Tante. Kalau gitu saya sama Ana permisi dulu ya Tante." "Iya, hati-hati ya. Oh iya, Ana jangan lupa minum obat ya nanti." Ana seketika menatap Ibunya dengan raut wajah yang seolah mengatakan. 'Kenapa ngomong kayak gitu?' "Lo sakit?" tanya Jino. "Ka-kan gue udah bilang, gue diabet." "Oh iya." ••• Jino agak beda, dia ngomong keras dan kasar ke teman-temannya, bahkan gak hormat ke Dosen-Dosen yang ditemui di sepanjang koridor kampus. Ana jadi sedikit takut, karena Jino terasa berbeda. Apa lagi Jino juga tiba-tiba memukul seorang pria yang tidak sengaja menyenggol bahu Ana. "Jalan liat-liat dong! Punya empat mata juga gak guna, mending lepas matanya sekalian." "Jino, lo kasar banget sih, udah dong. Udahlah dia lo pukul, terus sekarang lo maki kayak gitu." "Gue kan belain lo." "Orang gue gak kenapa-napa! Kenapa lo lebay banget?" Ana menghampiri pria itu dan membantunya berdiri, juga mengambilkan kacamata pria itu yang jatuh. "Maaf ya," ucap Ana. "Ngapain lo minta maaf? Kan bukan salah lo." Sahut Jino. Ana berdecak. Ia kemudian manatap tajam Jino. "Gue gak tau apa yang terjadi sama lo, lo aneh hari ini. Lo mengerikan!" seru Ana. "Gue mau pulang aja, topi lo gue balikin." Ana melepas topi Jino yang masih ia pakai, kemudian melemparnya tepat ke d**a Jino, sebelum melangkah pergi. Tapi baru beberapa langkah, Jino tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat berhenti berjalan. "Gue dulu pas SMA kayak gini. Ini gue yang dulu! Beda banget kan sama yang sekarang? Gue dari dulu gak kayak yang lo kenal sekarang. Gue berubah, gue ngalamin perubahan, seiiring berjalannya waktu, dan kemauan gue yang emang pengen berubah. Karena gue sadar, dulu tuh sifat gue jelek banget." "Lo juga pasti bisa." ••• Ana sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Jino. Dia juga ternyata punya cara sendiri untuk memberinya pelajaran, tidak hanya sekedar omongan. Ditambah bakat dramatisnya, adegan Jino marah-marah dan kasar pada orang, jadi terasa benar-benar nyata. Atau karena memang sebelumnya aslinya begitu, makanya Jino jadi mahir seperti itu? Ana jadi tidak fokus baca buku, karena sibuk memikirkan Jino. Keningnya sampai mengkerut karena wajah dan suara Jino seolah ada di sekelilingnya. Kalau dipikir, apa yang Jino lakukan akhir-akhir ini, sebagai bentuk perhatian kan? Atau dia cuman merasa bersalah karena sebelumnya memanfaatkan dirinya hanya untuk motor ninja? Atau Jino benar-benar menganggap dirinya saudara kembar? Atau karena mereka tetangga? Berbagai spekulasi bermunculan di benak Ana. Seumur hidupnya, dia tidak pernah bertemu orang seperti Jino. Yah, memang Jino hanya satu. Maksudnya yang memberi perhatian seperti itu padanya. Cara Jino benar-benar berbeda. "Kak Jino kok jadi bawa pacarnya terus ya?" "Iya, penampilannya hari ini kayak preman lagi." "Gak cuman penampilannya kali, tadi dia juga kasar banget sama orang-orang." "Berarti pacarnya bawa pengaruh buruk dong?" "Hah, padahal gue pikir Kak Ana tuh orang baik, gak taunya cuman di dunia maya." "Lo tau dia?" "Ya taulah, gue penggemar tulisannya. Tapi sekarang males mau baca. Tulisannya juga sebenernya gak terlalu bagus-bagus amat sih. Sekarang numpang tenar sama Kak Jino. Liat kan kemaren Kak Jino baru share link video youtube Kak Ana. Pasti dia macarin Kak Jino biar vlognya sukses, soalnya dia emang udah sering bilang mau jadi vlogger." "Ehh, jahat banget sih mikirnya. Emang ini sinetron apa?" "Lo kebanyakan baca novel drama tuh." "Iihh, kok jadi gue yang disalahin? Yang bikin gue mikir kayak gitu, soalnya Kak Ana sering bilang gak akan pernah pacaran, tiba-tiba pacaran sama Kak Jino." "Siapa sih yang bakal nolak Kak Jino? Mungkin Kak Ana dulu punya prinsip kayak gitu, tapi sekarang, setelah ketemu Kak Jino, jadi goyah. Lagian kita sadar diri aja lah, kita bahkan masih maba, Kak Jino cukup tau nama kita aja udah sukur harusnya, soalnya dia kan populer. Aturan mah sombong, tapi masih mau nyapa kita." "Iya, udah deh, gak usah ngurusin atau komentarin hubungan Kak Jino sama Kak Ana lagi. Emang kita siapa?" Ana menopang dagunya. Kayaknya bakal susah jadi pacar Jino. 'Untung gue gak pacaran beneran sama Jino, jadi santai ajalah.' ••• Jino menguap begitu keluar dari kelas. Selesai menguap, ia baru sadar ada Ana di depan kelasnya. "Aduh! Ngagetin!" seru Jino. "Kagetan mulu lu." Timpal Ana. "Ngapain nyamperin ke sini?" "Jemput lo lah." "Ci-" Ana langsung meletakan jari telunjuknya di depan bibir Jino. Ia sudah tahu apa yang akan keluar dari mulut Jino. "Ngomong cie anting di bibir lo gue tarik nanti, sampe bibir lo robek." Kata Ana. "Iih jahat..." gumam Jino. "Udah yuk pulang, gue capek." Kata Ana. "Mau beli bakpao dulu kan?" Ana menganggukan kepalanya. Teman-teman Jino tak lama memenuhi pintu kelas, membuat Jino terpaksa menyingkir, dan akhirnya berdiri di sebelah Ana. "Halooo..." sapa teman-teman Jino. Ana hanya membalasnya dengan tersenyum kecil. Tapi Jino tiba-tiba menarik kedua sudut bibirnya dari belakang. "Senyum yang bener dong." Bisik Jino. "Alisnya jangan mengkerut, matanya jangan tajem gitu ngeliatnya." "Gue gak bisa senyum." Balas Ana. "Masak gak bisa? Coba senyum tiga jari." Ana menyingkirkan tangan Jino dari wajahnya, dan menuruti apa yang Jino katakan. "Halo," sapa Ana. Teman-teman Jino diam, dan tiba-tiba mengeluarkan ponsel masing-masing, membuat Jino langsung memukuli tangan mereka. "Udah, udah sana! Mau ngapain lo pada?!" "Cuman mau minta kontaknya." "Ada pacarnya loh di sini, kalian gak menghormati banget. Udah Ana, gak usah senyum lagi!" Ekspresi Ana langsung berubah jadi cemberut. "Aneh banget sih," gumam Ana. "Udah yuk pulang, banyak predator di sini." Jino meraih tangan Ana, kemudian menggandeng tangannya untuk pergi. ••• Ana melirik Jino yang tiba-tiba auranya jadi suram. Ana memilih mengabaikan Jino, yang dia juga tidak tahu merajuk karena apa. "Tiba-tiba banyak yang follow gue, kayaknya temen-temen lo tadi deh." Kata Ana. "Aktifitas mereka di akun lo dibatasi aja." Kata Jino. "Tanpa lo suruh udah gue lakuin. Semua cowok yang ngikutin gue, gak pernah bisa liat story gue." "Termasuk gue ya?" "Iya," "Pantesan! Pantesan selama ini gue cuman sesekali doang liat story lo. Padahal gue yakin lo sering pasang story, kenapa sih?!" "Soalnya gue risih kalau ada cowok sok-sokan bales story gue." "Terus lo risih juga sama gue?" "Gue kan gibahin lo, masak gue biarin lo liat?" "Gibahin gue atau cerita lo baper sama gue?" Ana memukul kepala Jino. "Gak boleh godain Kakak." Jino manyun. "Tapi anak-anak nanti gue suruh un-follow lo. Apa-apaan sih mereka? Mau jadi pebinor?" "Apaan pebinor?" "Perebut bini orang." "Emang kita kapan nikahnya?" Jino jadi lebih manyun lagi, membuat Ana memukul pelan pipinya. Bakpao yang tadi Ana dan Jino pesan, akhirnya selesai dipanaskan. "Lo mau makan di sini atau di rumah?" tanya Jino. "Di sini aja, soalnya Mama katanya mau nitip sesuatu, tapi lagi didaftar apa aja. Nanti mampir ke toserba dulu ya?" "Ya udah. Duduk di motor?" Ana menganggukan kepalanya. Jino duduk di bagian depan, dengan tubuh menghadap ke belakang, sementara Ana duduk di belakang, dengan posisi menyamping. Mereka sedang ada di dunianya jajanan kaki lima. Padahal bagi Jino, dengan panampilan Ana yang tidak biasa begini, mereka tidak cocok ke sini. "Btw emang lu lagi suka siapa dah?" tanya Jino. Ana menatap Jino dengan kening mengernyit. "Kok tiba-tiba nanya gitu?" "Ya, soalnya penampilan lo kan beda. Kata Mama lo, lo penampilannya kayak gini, kalau lagi suka sama seseorang." "Mama bercanda." Jino menyipitkan matanya. "Gak mungkin." "Ya lagian emang kenapa kalau gue lagi suka sama seseorang sekalipun?" "Siapa?" "Kenapa gue harus kasih tau lo?" Jino mengerucutkan bibir. "Perasaan lo ke gue gimana?" tanya Jino.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN