New Boyfriend

991 Kata
"Astaga, kenapa mataku berair?" Ariana mengibaskan tangan pada matanya. Ia sudah di airport, duduk menunggu nomor penerbangannya diumumkan. Jangan tanya Geo ada di mana karena Ariana hanya sendirian. "Pria telinga lebar itu memang kurang ajar!" umpat Ariana menyeka air mata yang sudah terlanjur keluar walau sekuat tenaga ditahannya. "Kenapa juga aku bilang kayak gitu!" Tangannya merenggut rambutnya hingga berantakan, "Ariana bego! Bego!" rutuknya tanpa memedulikan orang berlalu-lalang menatapnya aneh. Setelah mulutnya yang lepas kontrol mengatakan kejujuran telah menyukai pria itu, respons Geo hanya terkekeh dan berhasil membuat Ariana malu setengah mati! Hanya berselang beberapa detik dari pengakuan perasaannya, Geo mendapatkan telpon dan Ariana mendengar nama 'Rena' lagi. Ia perhatikan, raut wajah Geo berubah marah dan khawatir. Setelahnya pria itu langsung pergi meninggalkan Ariana tanpa mengatakan apa pun, seperti kalimat pamit yang manis atau sejenisnya. Sangat jauh dari ekspetasinya mengenai detik-detik perpisahan mereka. Untungnya Geo sudah memberikan tiket dan amplop berisi sebuah cek salah satu Bank Indonesia. Ariana yakin ini adalah uang yang Geo pinta dari Tian kemarin, dengan kata lain itu memang uang Ariana yang Tian pinjam sebelumnya. Oh! Jangan lupa koper beserta tasnya, kembali dengan utuh setelah bertanya pada petugas setempat. Ternyata Ariana meninggalkan tasnya di depan toilet pria saat mencari keberadaan Tian. Ariana bersyukur tidak ada yang hilang, semua masih lengkap di tempatnya. Kesekian kalinya jika Ariana berurusan dengan pria, selalu berakhir menjadi sosok yang ditinggalkan. Mereka memang sudah sepakat hanya satu hari, tapi tanpa kalimat perpisahan yang manis serasa ditinggalkan tanpa kejelasan. Gilang, Putra, Tian, dan sekarang Roussel. Dari keempat pria yang pernah ia sukai, kenapa Geo yang membuatnya merasa benar-benar menyakitkan? Padahal waktu mereka hanya 24 jam untuk berkencan. Itu pun dengan cara yang sangat konyol yang pernah Ariana tahu. Bahkan anehnya lagi kenangan bersama Roussel terasa lebih banyak dari pria lain yang pernah singgah di hatinya. Hal yang tak pernah Ariana lakukan bersama pria lain, ia melakukan semuanya bersama Roussel. Dari paling romantis hingga mengesalkan sekalipun, termasuk ciuman terpanas yang pernah Ariana rasakan. Satu hari yang berkesan. Ya sepertinya terdengar benar, berkesan. Seharusnya ia sadar, ketika melihat foto wanita di wallpaper pria itu sudah cukup jelas untuk membentengi perasaannya yang terlalu baperan. Ariana menghela napasnya panjang. Ia berjanji akan melupakan semua tentang pria itu. Kenangan dan semua yang berhubungan dengan Roussel, termasuk menginjakkan kaki di negara ini. "Anggap saja semuanya hanya mimpi, Ari." Ya, mimpi indah berlibur di negara romantis dengan seorang kekasih tampan, lalu menyesal ketika bangun dan bertanya 'kenapa aku harus memimpikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi?' Ariana berdiri meraih koper beserta tasnya ketika nomor penerbangannya sudah diumumkan. Tidak peduli dengan mata-hidungnya memerah seusai menangis. Hhh~ Apa menyukai seorang Roussel juga termasuk kesialan untuk Ariana?  ... Tujuh bulan kemudian... "Kak, Paman sudah datang!" tariak Lucas memenuhi seisi rumah membuat Ariana tersedak s**u yang ia minum. "Uhuk-uhuk! Berhenti manggil dia Paman, Luc! Dan jangan berteriak pagi-pagi! Sudah berapa kali gue bilang sama lo?!" Tangan Ariana meraih tisu membersihkan bibirnya yang sudah dilapisi dengan lipstik merah muda. Sarapan di meja makan sebelum berangkat kerja yang siap melelahkannya seharian karena akan menemui klien yang paling cerewet mengenai desain kemasan mie instan terbaru. "I don't care. Uang jajan gue mana?" Lucas berkacak pinggang di depan meja makan menghadap Ariana, "kalo nggak, gue minta sama Paman lo aja." Ariana menatap tajam Lucas beberapa saat, adik laknatnya ini hanya mengangkat bahu tak peduli. Dengan kesal ia meraih dompet di tasnya lalu menyerahkan selembar uang seratus ribu. "Lo jahat banget, sih, sama adik sendiri yang belum berpenghasilan kayak gue. Lo pikir gue cuma beli bensin tanpa makan dan minum di jalan 'gitu? Nggak heran cuma Paman itu yang mau dekat—" BRAK Ariana menambah dua lembar di meja makan dengan kasar. "SUDAH CUKUP KAN? Sekarang pergi, jangan ganggu gue!" Lucas hanya tersenyum penuh arti menaruh uang pemberian Ariana ke dalam saku. "Apa ada terjadi sesuatu, Sayang?" Suara familier yang lembut penuh perhatian terdengar berjalan memasuki area dapur. "O-oh nggak ada, biasa... masalah kakak-adik." Ariana menoleh dengan senyuman lebar pada kekasihnya, Gabriel Bagaskara. "Paman, terima kasih uang jajannya." Lucas menaikan kedua alisnya menatap Gabriel tanpa rasa hormat sedikit pun. Ariana menatap punggung Lucas tidak percaya. Jika Gabriel tidak ada, mungkin rambut Lucas sudah ia jambak hingga rontok! Sekarang uangnya hanya tersisa dua ratus ribu rupiah di dompet, dan tanggal muda butuh waktu satu minggu lagi untuk menerima gaji. Cepat-cepat ia beralih pada Gabriel. "Gabby, maaf. Dia kebiasaan kayak gitu sama aku. Karena kita pacaran, dia jadi menganggap kita sama. Lain kali aku kasih tau lagi—" "Its okay, Sayang," potong Gabriel. "Perlakuan dia sekarang keliatan lebih mendingan dari waktu kami pertama kali ketemu, ingat? Tatapan dia udah kayak lagi menodong pistol ke aku," mereka spontan tertawa mengingatnya. Menyisakan tawanya Ariana mengangguk setuju, "Dia keliatan udah mulai menerima kamu, tapi pakai sogokan uang. Cuman masih songong banget, agak kurang ajar. Harusnya kamu nggak perlu gitu, nanti dia kebiasaan minta uang sama orang lain." Ia berdiri setelah menyelesaikan sarapannya lalu mendekat pada Gabriel menggandeng tangannya. "Aku bukan orang lain," ucap Gabriel santai, "aku kekasih kakak perempuannya yang sangat cantik." Pipi Ariana merona menerima gombalan Gabriel, memukul pelan d**a bidang pria itu. "Kamu selalu bilang aku sangat cantik setiap kali kita bertemu, Gabby!" suara Ariana meninggi tersirat malu-malu. Sedangkan Gabriel sengaja karena merasa lucu dengan reaksi Ariana. Sepasang kekasih itu tidak menyadari ada dua pria memasuki area dapur. Lucas yang melupakan sesuatu kembali ke area dapur bersamaan dengan Ario—Ayah Ariana—yang ingin mengambil segelas air. Ayah dan anak itu menatap jijik pasangan dimabuk asmara di depan mereka. Ketika Gabriel ingin mendekatkan wajahnya pada Ariana untuk mencium, dengan cepat Ario berjalan mendekat, lalu menarik Ariana ke sisinya agar tidak ada adegan ciuman. Ario benar-benar orangtua pada jamannya, tidak ingin melihat putrinya dicium oleh pria yang hanya berstatus pacaran dengan Ariana. "Halali dulu Putriku! Tak' potong bibirmu nyosor-nyosor ae!" Ariana dan Gabriel hanya tersenyum malu sambil menggaruk tekuk masing-masing yang tidak gatal sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN