Morning

1180 Kata
"Apa yang mengganggumu, Sayang?" Justin mencium leher Rena dengan mesra. "Tidak. Aku hanya merasa sedikit pusing." Rena memberi alasan agar Justin tidak mengajaknya bercinta malam ini. Ia takut janinnya kenapa-kenapa karena belum ke dokter kandungan setelah mengeceknya menggunakan testpack. Secepatnya Rena harus memastikan janinnya kuat atau tidak sebelum berani bercinta lagi dengan Justin, dan keberaniannya belum cukup untuk memberi tahu hal besar ini pada pria itu. Rena beranjak menjauhi Justin secara halus menuju kamar mandi, mengacuhkan kebingungan kekasihnya. Mengingat Geo bersama wanita berwajah Asia di kelab tadi, perkataan Geo di lift benar-benar menyinggungnya. Rena bertaruh wanita itu tidak mengerti bahasa Prancis. Ia memang terkesan mengatur hidup Geo, tapi itu karena ia peduli sebagai sahabat. Tapi ia tidak menyangka Geo mengatakan seolah dirinya pengganggu yang tidak memiliki hak apa pun untuk itu. Apa Geo tidak sadar kalau dia sendiri lebih parah mengurusi kehidupan asmaranya dengan Justin? Dan tentu saja Rena tidak percaya dengan kebiasaan impulsif Geo mengenai pernyataan cinta padanya tadi siang. Tak lupa ia melihat wanita bersama Geo tadi terlihat asing untuknya. Bukan seperti wanita kurang belaian yang akan menempelkan tubuh seperti siput untuk menarik perhatian Geo sepenuhnya. Di sisi lain, Justin yang melihat Rena menolak, membuatnya bertanya-tanya. Satu nama pun muncul di benaknya. Geo. Apa itu karena keberadaan Geo di kelab tadi membuat Rena seperti ini? Pikiran negatif selalu membanjirinya jika memautkan nama Rena dengan Geo dalam satu kalimat. Memangnya ada kata sahabat di antara wanita dan pria? Tangan Justin mengepal hingga memutih, rasanya ingin menghancurkan sesuatu yang keras sekarang juga. Jika Geo berada di lingkup yang sama dengannya, seperti mesin otomatis penumbuh rasa terancam pada Justin. Bukan merasa terintimidasi, tetapi karena Rena. Wanita yang sangat ia cintai hanya dekat dengan satu pria bernama Geo, dan status sahabat di antara mereka sangat mengganggunya. Api cemburu selalu membakar Justin jika melihat batang hidung pria itu. Perselingkuhannya selama ini tidak benar-benar Justin lakukan. Ia hanya ingin menunjukkan sebagaimana besar rasa cemburunya, karena Rena lebih memilih Geo daripada dirinya untuk berbagi keluh kesah. "Jika wanitaku berpaling dariku karenamu, kau akan menanggung akibatnya, Tuan Roussel," monolognya. ... Hangatnya sinar matahari pagi yang lembut membuat siapa pun bersemangat untuk menyambutnya. Berbeda dengan sepasang kekasih satu hari yang masih pulas di ranjang, yang berbagi selimut untuk menghangatkan diri dari dinginnya angin malam karena semalaman pintu penghubung balkon sengaja dibiarkan terbuka. Ternyata hanya Ariana yang masih terlelap, sedangkan Geo sudah terjaga beberapa menit yang lalu. Menunggu kelopak mata wanita itu terbuka, alih-alih mengamati wajah polos nan bodoh Ariana saat tidur. Mata itu tertutup rapat dengan bulu mata tersusun rapi, panjang dan lentik memberi kesan feminin dari sosok Ariana. Beberapa helai rambut mulai menerpa wajah pulas itu, membuat pandangan Geo terganggu karena angin berhembus dari pintu balkon. Perlahan tangan besar Geo menyingkirkan helaian rambut itu berusaha tidak mengusik dan nyatanya tidak berhasil. Ariana bergerak mengubah posisi. Mulut Ariana yang tadinya tertutup, kini terbuka sedikit seolah memohon untuk dicium oleh Geo. Tanpa ragu sedikit pun, Geo menyatukan bibirnya pada bibir Ariana. Ciuman di pagi hari terlalu menggoda untuk ditolak. Awalnya Geo hanya ingin memberi ciuman ringan dan lembut, tapi tubuhnya tidak sejalan dengan otaknya yang memberikan ciuman menggairahkan. Astaga, kenapa bibir wanita ini selalu membuatku lepas kendali?! "Nghh.." erang Ariana dengan mata tertutup. Sial! Itu sangat menggoda di telinga Geo. Wanita itu masih tertidur, tapi menggerang bahkan mengikuti pergerakannya sebagai respon. Apa Ariana pikir ini adalah mimpi? Jika benar, Geo ingin menguji sampai mana mimpi liar Ariana berlayar. Tanpa melepas tautan di bibir mereka, Geo merapatkan tubuh kekarnya pada tubuh ramping Ariana. Tangan Geo pun mulai menautkan jemari mereka hingga menggenggam satu sama lain. Alih-alih menguji, Geo terbuai dengan permainannya sendiri. Ini adalah ciuman terlama yang pernah Geo lakukan pada wanita. Karena biasanya Geo tidak suka berbasa-basi atau berlama-lama sebelum having s*x. Perasaan takjub muncul pada bibir manis Ariana, benar-benar membuat Geo betah berlama-lama mengecapnya. Rasa penasaran ingin menyicipi leher jenjang Ariana seperti menginginkan semangkuk air di tengah gersangnya padang pasir, dahaga yang luar biasa. Ia mulai menurunkan ciumannya perlahan, Geo menghisap lalu menggigitnya karena gemas. Drrrttt.. drrrttt.. Umpatan tercekat di tenggorokan Geo. Siapa pun yang menelponnya sekarang, Geo bersumpah akan mengutuknya jika ia diberi kesempatan memiliki sihir sesaat! Dengan enggan Geo menjauh dari Ariana, lalu megeluarkan umpatannya merentangkan tangan meraih ponselnya yang terus bergetar. Seolah baru disadarkan sepernuhnya dari mimpi, Geo terkejut melihat nama yang tertera di layar. Rena Laurent calling... Geo meneguk ludahnya dengan susah payah. Jempolnya terasa ragu menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Biasanya ia tidak pernah membiarkan Rena menelponnya sampai berdering tiga kali. "Jam berapa ini?!" Teriakan Ariana yang tiba-tiba membuat Geo terpenjat. "Kau ingin membuatku jantungan?!" balas Geo dengan nada sama tingginya sambil menoleh pada wanita itu. "Di mana Ayah dan Adikku?" Ariana melihat sekitar. Sangat berbeda dengan kamarnya, lalu menggeleng menyadarkan diri. "Astaga! Jadi kemarin kita benar-benar menjadi sepasang kekasih satu hari? Bukan mimpi?" tanya Ariana pada Geo yang masih menatapnya, enggan menjawab dan membiarkan otaknya berpikir sendiri. Hening beberapa saat membuat Geo menghela nafas lelah. "Kenapa aku harus mempunyai kekasih seperti dirimu, dan bodohnya aku menyukai bibirmu." "Apa?" "Lupakan. Sekarang kau harus mandi. Semalam kau kalah karena tidur lebih dulu. Jadi kau harus menuruti kemauan-ku hari ini. Jika kau lupa, aku akan menambah hukuman untukmu, Baby." Ariana mengalihkan pandangan mencoba mengingat apa saja yang sudah ia lakukan. Tidur seolah mencuci otak Ariana yang membuatnya lupa dengan hal-hal baru, berbeda dengan rutinitasnya. Ingatan itu pun berputar seperti film di mana ia sudah berciuman berkali-kali dengan pria tampan bernama Roussel. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus mengingat semuanya, ternyata itu bukan mimpi atau halusinasinya saja. Semua itu benar-benar nyata! Drrrttt.. drrrttt.. Getaran ponsel Geo membuat Ariana beralih pada suara itu. Geo kembali pada ponselnya yang sejak tadi ada di tangannya. Terlihat jelas Geo ragu untuk menjawab, tapi pria itu tetap berdiri menyambut sambungan itu di luar kamar meninggalkan Ariana yang bingung dengan tingkahnya. Walau belum sepenuhnya nyawa Ariana terkumpul, ia menuruni kasur berniat untuk menguping—oke ralat, Ariana hanya penasaran kenapa Geo sampai menjauhinya untuk mengangkat telpon. Bukannya melanjutkan langkah, Ariana menangkap bayangan dirinya terlihat mengenaskan dari cermin besar yang tergantung di dinding. Rambut berantakan dan mata sayu khas bangun tidur jelas tergambar di wajahnya. Ia yakin siapa pun melihatnya akan meringis, seperti dirinya sekarang. Namun, satu titik membuat Ariana melotot melihat biru kemerahan di area lehernya. Tangannya terangkat menyentuh, anehnya ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Ariana menatap luar balkon dengan ngeri yang ia ingat terbuka semalaman, lalu menatap tanaman penuh selidik. Ia bergegas menutup dua daun pintu kaca balkon itu beserta jendelanya. Geo mengernyit memasuki kamar yang tiba-tiba gelap dan tak lagi terasa sejuk angin pagi. "Apa yang kau lakukan?" "Aku menutupnya agar serangga aneh tidak masuk." "Serangga?" "Ya, serangga. Lihat leherku," Ariana menunjukkan lehernya pada Geo, "kau harus berhati-hati agar tidak sepertiku," ucapnya yang berkedik ngeri melihat sekeliling takut sebuah serangga luar negeri yang mungkin saja ia tidak tahu bentuknya membuat lehernya seperti ini. Mendengar dan melihat Ariana ketakutan seperti itu, Geo menutup mulutnya agar tidak tertawa terbahak saat itu juga. See? Inilah definisi polos dan bodoh itu hanya beda tipis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN