MATA sembap, rambut berantakan, wajah pucat seperti tak bernyawa. Ariana memandang bayangannya begitu mengenaskan di kaca kamar mandi. Setiap pagi satu bulan terakhir adalah saat yang paling melelahkan untuk wanita menyedihkan sepertinya. Terlebih Ariana harus bekerja seperti biasa dengan memasang topeng baik-baik saja. Dengan berat hati ia melepas kaus putih besar milik Geo yang sudah begitu usang. Setiap malam hendak tidur, ia akan menangis merindukan pria berengsek itu sambil memeluk guling dan menenggelamkan kepalanya ke dalam kaus sampai ia tertidur. Hampir semua baju Geo yang ada di apartemen ini—walau tidak terlalu banyak, Ariana berniat untuk memakai semuanya setiap malam tanpa dicuci. Tetapi kaus yang ini sudah ia pakai berulang kali karena sebelum pergi Geo sempat memakainya s

