Ketika aku mencari informasi tentang Artemisia dengan barang-barang pribadinya, aku menemukan beberapa hal. Pertama, selera pakaian Artemisia sangat keren. Dia selalu memakai baju yang menunjukan bahwa ia kaya, cantik, anggun, dan elegan. Meski melakukan hal kotor, sebisa mungkin Artemisia akan menjaga nama baiknya agar tidak tercoreng. Baginya nama baik adalah hal yang utama dan segalanya. Karena itulah meski sangat membenci Ryhsand dan jijik pada laki-laki itu, Artemisia selalu bersikap mesra di depan ayahnya dan ditempat umum. Ketiga, Artemisia tidak suka banyak bicara atau melakukan hal yang merepotkan. Keempat, perempuan itu tidak ramah dan jarang tersenyum kecuali dengan selingkuhannya dan para sepupunya yang ia sukai seperti Rahel si antagonis dalam novel. Kelima, sebisa mungkin ia tidak ingin melihat Ryhsand.
Aku mengambil dompet dan tas lalu memakai heelsku. Anehnya, tubuh maupun pikiranku sangat singkron sehingga aku seperti menghapal seluruh tempat ini. Lihat saja, tiba-tiba aku sudah ada di tempat parkiran dan memanggil sopir untuk mengantarku ke Ryhsand.
Sampai dikantor, aku langsung masuk kedalam. Beberapa orang menyapaku lalu menunduk seolah memberikan salam. Sepertinya mereka mengenalku. Kalau tidak salah ingat, Artemisia sering kesini menemui papanya.
Ah ya, Pak Adi ya.. Aku harus menemui papanya Artemisia setelah menyelesaikan urusanku.
Anehnya, kakiku seolah tau kemana tujuanku dan aku tiba-tiba sudah sampai diruangan Ryhsand. Didepan ruangan Ryhsand ada Seketarinya. Sebenarnya, sama seperti Papanya Artemisia yang memiliki dua orang kepercayaan yang akan dijadikan penerusnya yaitu, Ryhsand dan Dante.
Seorang perempuan langsung menyapaku yang merupakan Seketaris ke-2 Ryhsand.
“Ibu, bapak sedang rapat. Silahkan ibu tunggu di dalam dulu. Saya akan panggilkan bapak.” kata perempuan itu.
“Rapatnya masih lama?”
“Kebetulan sebentar lagi selesai.” jawabnya dengan melihat jam tangannya.
“Kalau gitu biar saya kesana langsung.” jawabku yang kemudian menuju ruang rapat. Entah itu kebetulan atau takdir aku melihat Ryhsand didepanku bersama beberapa petinggi lainnya. Mereka baru saja menyelesaikan rapatnya.
Para petinggi itu langsung menyapaku. Sementara, Ryhsand menatapku terkejut.
“Kakak, ngapain disini?” tanya seorang perempuan yang langsung berlari memelukku. Wajahnya terlihat sangat cantik. Tapi, Artemisia lebih cantik lagi. Untungnya, aku sudah mencari tau seluruh keluarga Sia. Perempuan yang memelukku ini adalah Rahel. Rahel seperti yang digambarkan di novelnya. Sangat cantik dengan bentuk badan yang membuat seluruh orang iri.
“Rahel, jaga sikapmu. Ini di kantor.” kataku dingin.
“Ah, maaf kakak.” katanya yang kemudian melepaskan pelukannya. “Aku hanya penasaran, kakak tiba-tiba kesini.”
“Aku mau menemui suamiku.”
Rahel menatapku penasaran. Sepertinya aku sudah tidak terkejut melihat ekspresi itu. Rahel salah satu orang yang disayangi oleh Artemisia yang asli dan dianggap seperti adik kandungnya sendiri. Tapi beraninya Rahel mengincar suami Artemisia dan hartanya. Rahel adalah penyebab kematian Artemisia.
“Kenapa dengan ekspresimu itu?” tanyaku.
Dia terlihat panik. Aku langsung mendekati Ryhsand yang ikut kaget lalu merangkul lengannya mesra. Ryhsand menatapku.
“Sayang, aku kangen.” kataku. “Bisa nggak kamu luangin waktu bentar buat aku?” tanyaku padanya.
“Iya. Ayo pergi.” jawabnya yang kemudian langsung melangkah.
Sampai diruangan Ryhsand, aku langsung melepaskan tanganku dan duduk di sofa. Ryhsand juga ikut duduk disampingku.
“Apa ada sesuatu yang nona butuhkan? Oh ya, sebentar, saya keluar dulu mau bilang ke Meli buat bikinin minum.” katanya yang kemudian langsung keluar.
Bukankah dia sangat baik? Sia... Kamu benar-benar bodoh menyia-nyiakan laki-laki baik sepertinya.
Dan lagi panggilan nona itu- aku harus meminta Ryhsand untuk berhenti memanggil begitu nanti. Panggilan nona itu terjadi pada malam pertama kita. Setelah Sia bodoh itu mendeklarasikan ia tidak akan pernah mencintai Ryshand atau bahkan menganggap Ryshand sebagai suaminya sampai ia mati, ia pun melarang Ryhsand memanggil namanya kecuali mereka sedang di depan keluarga dan tempat umum. Jika sedang berdua dan di rumah atau mobil, Ryhsand harus memanggilnya nona.
Aku menghela nafas. Buruk sekali sikapnya.
“Apa terjadi masalah?” tanya Ryhsand yang duduk disampingku. “Atau nona mau keluar dari sini? Kita bisa ke restoran biasanya.”
“Ayo cerai.” kataku.
Aku sengaja mengatakannya.
Ryhsand mengalihkan pandangannya. Ia menunduk lalu memainkan jemarinya. “Maaf nona- saya tidak bisa.”
“Aku bisa memberimu separuh warisan nanti.”
“Saya tidak tertarik dengan harta warisan.” jawabnya cepat.
“Lalu, kenapa kamu menolaknya?” tanyaku lagi.
“Kesehatan papa sangat buruk akhir-akhir ini. Jadi saya mohon, nona tolong jangan seperti ini.”
Nyut...
Eh, Sakit. Aku memegang dadaku yang tiba-tiba terasa sangat sakit. Rasanya sesak seperti susah bernafas. Tapi kenapa, aku bisa setenang ini. Kenapa wajahku malah mengeras? Kenapa ini?
“Kamu serius mau nikah sama aku? Kita bahkan nggak pernah bicara meski beberapa kali bertemu.”
“Iya.” jawabnya dengan ekspresi datar.
“Kenapa?”
“Karena tuan menyuruhmu saya.”
“Hah? Jadi kalo papa suruh kamu masuk ke lubang buaya, bakal kamu turutin?”
“Iya.” jawabnya tanpa keraguan.
“Hah, lalu gimana menurutmu denganku?”
“Anda ... Cantik.”
“Hanya itu?”
“Iya.”
“Tch, oke.. Kamu suka sama aku?”
“Saya... ti- tidak membenci anda.”
“Aku tidak mau menikah denganmu! Aku sudah punya pacar!” ucapnya yang kemudian pergi dengan mengusap air matanya.
Apa itu tadi? Apa tadi kenangan Artemisia?
Aku menatap Ryhsand yang masih mengalihkan pandangannya.
“Kamu nggak benci aku? Aku selalu jahat ke kamu.” kataku akhirnya.
Dia menatapku kali ini. Tapi kemudian menunduk lagi. “Anehnya, saya tidak bisa membenci anda.”
“Kamu tidak marah padaku?”
“Bohong jika saya bilang saya tidak marah. Saya marah karena anda memiliki lelaki yang sangat buruk sebagai pengganti saya.”
Nyut...
Lagi? Kenapa perasaanku sakit lagi? Sebenarnya kenapa ini?
“Kamu punya buktinya? Jangan asal nuduh kalau nggak punya buktinya.”
Dia menatapku. “Banyak. Saya bisa menunjukannya.”
“Tunjukan kalau begitu.” pintaku.
Dia tersenyum lalu memutuskan menelfon seseorang. Aku mendengar dia memanggilnya Riel. Yah, sepertinya aku tau siapa orang itu. Azriel, salah satu orang kepercayaan Ryhsand. Dia orang yang menemukan bukti kejahatan yang dilakukan oleh keluarga besar Gennady. Bahkan dia yang menemukan bukti bahwa kematian Artemisia dan papanya sudah direncanakan. Azriel adalah Second Male Lead di novel CINTA CEO. Dia awalnya orang yang selalu menjaga Bella atas perintah Ryhsand. Tapi kemudian, Azriel juga turut jatuh hati dengan Bella. Sayangnya, seperti nasib tokoh utama kedua, Azriel di tolak Bella.
Nasib Azriel cukup jelek. Ia awalnya sangat setia pada Ryhsand, tapi kemudian ia berkhianat. Meski pada akhirnya Azriel kembali ke jalan yang benar. Aku sangat membenci tokoh itu. Tapi entah kenapa aku merasa kasihan dengannya sekarang.
“Tunggu sebentar. Saya akan segera membawakan buktinya.” kata Ryhsand dengan tersenyum.
Aku melihatnya penasaran. Kenapa Ryhsand tersenyum selebar itu?