Part 09

1115 Kata
Risa masih menutup matanya rapat-rapat seolah pasrah di bagian mana nanti Darren menusuknya. Ia menghitung mundur dalam hati supaya tidak kaget saat tiba-tiba Darren menusuknya. Namun saat beberapa saat Risa menunggu ia dibuat terkejut sendiri, pasalnua bukan tusukan tetapi rasa dingin yang menyentuh kulitnya. Hampir saja ia mengira bahwa ia sudah berada di alam yang berbeda. Apa yang Darren lakukan? Karena penasarannya, Risa membuka matanya sedikit melihat apa yang telah dilakukan laki-laki itu terhadapnya. Seketika ia membuka matanya lebar-lebar, ternyata apa yang ia pikirkan tentang Darren yang akan membunuhnya ternyata salah. Laki-laki itu malah menempelkan sebuah kapas yang telah ia beri revanol untuk mengobati luka-luka goresan yang ada di kakinya. Dan rupanya gunting yang Darren bawa untuk menggunting plester luka untuknya. Ah Risa merasa bersalah sudah berfikir negatif kepadanya. "Ren," panggilnya pelan. Darren menoleh sebentar ke arahnya lalu kembali menutup luka-luka Risa. Bisa-bisanya laki-laki dingin bersikap hangat seperti ini, apa iya Alga juga bisa hangat seperti Darren juga nantinya? Tanpa banyak bicara juga, Darren mengoleskan sebuah minyak ke kaki Risa entah apa gunanya yang pasti Risa berterima kasih. "Nggak pernah lo obatin?" Risa terkesiap, ini benar Darren bertanya kepadanya. Mendadak Risa menjadi gugup, "Apanya?" Tanyanya seperti orang bodoh. Jelas yang ditanyakan Darren adalah kakinya. "Kaki lo," Risa menyengir lebar sambil menggeleng, "Enggak." "Jelas aja, kaki lo bakalan terus bengkak. Ini lagi luka-lukanya harus diobati juga biar kering, lo gimana sih?" Hampir saja Risa lupa cara menutup mulut itu bagaimana, sejak kapan Darren banyak omong seperti ini? Apa mungkin Risa saja yang nggak tau kalau Darren sebenarnya juga bisa berbicara panjang begini. Karena tidak ada jawaban dari Risa, Darren menoleh memastikan apakah gadis itu baik-baik saja. Ia melihat Risa menatapnya tanpa berkedip, "Kenapa?" sentak Darren Risa menggeleng pelan, "Kaget aja ternyata lo bisa ngomong sepanjang ini. Jujur ini pertama kalinya gue lihat lo ngomong panjang, jadinya gue kaget sekaligus terharu banget tau nggak." celotehnya. "Gue punya mulut," Sahut Darren kembali ke setel pabriknya. "Terima kasih ya Darren, ternyata lo baik ke gue," Darren hanya mengangguk. Tak lama Darren selesai membantu Risa ia mengembalikan lagi barang-barang yang ia gunakan ke tempatnya semula. "Nanti tuh plesternya sampai rumah lo ganti," "Siap bos!" Risa dengan gaya mengangkat tangan di depan Darren. "Lo istirahat aja, nanti gue ijinin ke guru mata pelajaran lo," Ujarnya setelah itu Darren melangkah ke pintu. "Darren!" cegahnya. Darren menoleh menaikkan sebelah alisnya, "Sekali terima kasih untuk semuanya." Ia hanya mengangguk lalu keluar. "Dasar es kutub!" maki Risa. "Tapi baik." Risa cekikikan sendiri. Setelah Darren pergi dan tinggalah dirinya seorang diri, Risa memilih untuk tidur. Biasanya di kelas ia mencuri-curi kesempatan untuk tidur, tapi kali ini ia memiliki waktu bebas dan jelas Risa tidak akan menyia-nyiakan waktu-waktu yang sangat berharga ini. Tak butuh waktu lama Risa sudah hilang kesadaran. Secepat itu memang dirinya untuk tidur, tidak perlu diragukan. Suhu dari segala suhu. Baru setengah jam ia tertidur pulas Risa harus kembali terbangun karena suara pintu berderit. Dengan muka bantalnya ia berusaha menoleh untuk melihat siapa yang datang. "Lo Wen?" "Dari tadi gue cariin ternyata lo disini, kalau bukan si Darren yang bilang mana tau lo disini b**o. Mana handphone lo tinggalin di meja," omelnya. Risa mengucek-ngucek matanya berusaha mengumpulkan nyawa yang baru setengah sadar. Mata Weni terfokus pada luka-luka Risa yang tertutup plester, "Jangan bilang Darren yang lakuin itu semua." "Iya Darren," sahutnya malas. Jujur ia masih ingin melanjutkan tidurnya mengingat satu jam lagi bel pulang berbunyi. "Serius?" ujar Weni tidak percaya. Risa mengangguk, "Terserah kalau lo nggak percaya juga." "Gila bisa baik juga tuh orang," "Wen lo bisa balik ke kelas aja nggak, gue ngantuk mau lanjutin tidur nih!" "s****n! Lo ngusir gue," "Iya," Risa terkekeh. "Yaudah gue balik, nanti kalau ada apa-apa lo telfon gue ya!" "Iya cerewet banget sih lo!" Weni tak menggubris lagi Risa. Risa tau sekhawatir itu Weni kepadanya, terkadang ia juga heran ketika Weni mulai posesif seperti doi padahal doi Risa tidak begitu. Memang Weni support system terbaik Risa sepanjang masa. Selepas Weni balik ke kelas Risa kembali melanjutkan tidurnya tanpa rasa bersalah telah korupsi waktu belajarnya. *** Sudah setengah jam lalu Risa bangun saat suara bel pulang berbunyi, ia menolak tawaran Weni yang mengajaknya pulang bareng. Risa ingin pulang bersama Alga, setelah tadi laki-laki itu menghilang entah kemana. Tiga kali ia berusaha menghubungi Alga namun sampai sekarang masih belum ada jawaban dari laki-laki tersebut. Ia sudah hampir menyerah menghubungi Alga, tapi dengan siapa nantinya ia akan pulang? Sepertinya mulai besok ia meminta Hasyim untuk mengantarkannya dan untuk pulang ia bisa meminta Alga untuk mengantarkan, itupun juga kalau laki-laki itu mau kalau tidak mungkin ia pulang bersama Weni sampai kakinya benar-benar bisa bersahabat untuk dirinya menaiki angkutan umum lagi. Risa mencoba menghubungi Alga lagi, kemana perginya laki-laki itu sampai mengangkat telfon Risa saja tidak bisa, "Mungkin kalau Kara yang hubungin kamu, kamu pasti langsung sigap ya Al?" monolognya. Menyedihkan sekali bukan? Jika ia kembali memilih, Risa tidak akan mau untuk jatuh cinta kepada Alga. Andai ia bisa memutar waktunya dulu, ia tidak ingin menatap mata legam milik laki-laki itu. Mencintai Alga itu tidak mudah, butuh waktu dan energi yang lebih. Satu lagi yang terpenting adalah mental. Risa tersenyum miris mengingat jika Alga membentak dengan kata-kata pedasnya di depan umum, jika ditanya malu atau tidak jelas Risa malu. Tapi entah hatinya masih mendominasi otaknya untuk tidak menyerah. Di percobaan kelima kalinya masih tidak ada tanggapan dari Alga, ini berharap yang terakhir untuknya menghubungi Alga. Bila Alga masih tidak mengangkatnya ia akan nekat untuk pulang sendiri nanti. "Apa!" Mata Risa berbinar, Alga mengangkatnya. Senyumnya mengembang, setidaknya Alga masih mau menjawab panggilannya, "Kamu dimana?" "Bukan urusan lo," "Alga anterin aku pulang ya, aku di uks sekarang nggak tau mau pulang sama siapa," "Lo bisa pulang sama temen lo kan!" "Yaa Alga, dia udah pulang sejak tadi. Ayolah Alga, jemput aku ya. Ya ya ya?" pinta Risa melas. "Kak, Kakak mau yang mana?" Suara itu, Risa kenal suara siapa itu. Suara gadis yang sangat ia benci. "Alah lo bisa kan pulang sendiri, nyusahin aja sih lo!" "Alga kamu sama Kara? Ya udah kamu nggakpapa sama Kara dulu tapi setelah itu jemput aku ya. Aku tunggu di uks, gakpapa kalau kamu masih lama. Alga aku tutup ya telfonnya, jangan lupa jemput aku," Risa mengakhiri panggilannya sepihak. Ia cemburu, sangat cemburu. Air matanya merembes, ia menangis sesenggukan. Menangisi laki-laki yang bahkan tidak pernah peduli dengannya. Risa hanya bisa berharap agar suatu saat nanti Alga bisa melihatnya, meski sekali saja tidak apa-apa. Ia ingin mendengar suara lembut Alga saat berbicara dengan Kara. Ia ingin melihat perlakuan manis Alga saat memperlakukan Kara. Ia juga ingin melihat perhatian Alga saat ia mengkhawatirkan Kara. Risa ingin satu kali saja Alga menjadi pangeran kuda putihnya, bolehkan jika Risa mendambakan itu semua?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN