Part 01

1673 Kata
Sepatu berwarna pink itu sengaja pemiliknya lepas, agar ia bisa lari cepat menyusul laki-laki yang kini berjalan menjauhinya. Meski setiap hari penolakan yang ia dapat, ia tidak menyerah. Bukan Risa namanya jika harus menyerah begitu saja. Sebenarnya wajar saja menyukai seseorang lawan jenis di umur-umur belasan seperti Risa. Gadis kelas dua belas Sekolah Menengah Atas itu menggilai teman angkatannya yang bernama Algantara Gasendra Loka. “Alga!” teriaknya sambil berlari mengejar Alga. Tangan besarnya hendak meraih lengan Alga, dan berhasil. Risa berhasil menggapai lengan Alga, “Alga kamu mau nggak anter aku pulang sekarang?” “Lepas!” hardik laki-laki yang bernama Alga itu dengan suara keras. Mendengar hardikan Alga, Risa menutup matanya barang sejenak. Bukannya takut gadis tersebut malah tersenyum sambil memamerkan deretan gigi putihnya di depan Alga. Tidak, Alga tidak tersipu melainkan ia muak dengan tingkah gadis di hadapannya. Gadis tak punya malu yang selalu mengejarnya, hidup Alga terasa sangat s**l jika ada gadis itu yang selalu datang merusak suasana hatinya. Ia menatap Risa dengan tatapan intimidasi, dimana jika ia sudah menatap lawan bicaranya dengan tatapan tajam seperti itu tidak ada satu pun orang yang berani melawannya, kecuali Risa. “Dengerin baik-baik, sampai kapan pun gue nggak sudi nganterin cewek gatel kayak lo!” Kemudian Alga pergi meninggalkan Risa yang masih mematung di tempat. Clarisa Dayana, gadis garang yang berubah manis jika bertemu Alga. Tak segan ia membully siapa saja yang berani-berani mendekati Alga. Hanya dia yang boleh dekat dengan laki-laki itu, sekalipun itu adalah Kara. Seorang gadis yang dikabarkan dekat dengan Alga, lebih tepatnya Alga yang menyukai gadis tersebut. Kara cantik tapi lebih cantik Risa. Dari segi fisik Risa tak ada tandingannya, bahkan satu sekolah pun mengakui tidak ada gadis cantik yang melebihi kecantikan Risa. Menurut teman-teman dekatnya kesalahan Risa hanya satu, yaitu mencintai Alga. Seorang Risa sebenarnya bisa mendapatkan laki-laki baik yang jauh daripada Alga. Akan tetapi Risa yang terlalu keras kepala, selalu berdalih jika nanti Alga bisa menerimanya. Harusnya saat Alga menolak, Risa tau bahwa bukan dirinya yang Alga mau. Tapi si keras kepala itu nyatanya tetap keukeuh ingin meluluhkan hati pangeran dingin tersebut. Ini kisah cintanya, bukan cerita-cerita novel yang sering ia baca, beberapa kali sahabatnya terus menyakinkan hal tersebut. Bahwa hidup tak seapik tulisan penulis saat mereka merangkai kisah demi kisahnya. Pundaknya ditepuk oleh seorang gadis menggunakan seragam yang sama dengannya, “Wen.” ujar Risa saat tau ternyata gadis itu adalah Weni teman sebangkunya. Weni memutar bola matanya, “Gue tebak, lo pasti baru ngemis-ngemis ke Alga kan?” Selalu tebakan gadis itu melesat benar, Risa heran darimana sahabatnya belajar ilmu membaca pikiran orang. “Enggak, gue cuma minta tolong ke dia,” dalihnya yang masih membela laki-laki itu membuat Weni gemas. “Emang dia mau nolongin lo?” sarkasnya. Risa menggeleng lalu menyengir lebar, “Enggak.” “Lo kan tau dia-,” Buru-buru Risa menempelkan telunjuknya di bibir Weni, “Hari ini dia nolak gue., belum tentu besok nolak juga kan? Siapa tahu besok dia udah cinta.” Siapa pun yang menjadi Weni jika mempunyai teman seperti Risa pasti ikut geregetan dengan tingkahnya, bukan apa-apa Risa itu cantik dan dia bisa mendapatkan laki-laki baik bukan seperti Alga yang jelas-jelas menolaknya. Alga itu dingin tapi Risa suka. Alga itu jahat tapi Risa sayang. Alga itu berandalan tapi Risa cinta. Seantero sekolah tau siapa Algantara Gasendra Loka, tidak ada yang tidak mengenalnya. Laki-laki berandalan dengan pengikut banyak, hobi tawuran dan juga balap motor liar. Sekali datang ke sekolah pasti selalu bermasalah dengan BK, tidak ada alasan seharusnya menyukai sampai-sampai mempertahankan laki-laki seperti itu. Tetapi di mata Risa, Alga berbeda. Mengenai keburukan laki-laki itu, ada banyak hal dari pihak sekolah yang memutuskan tidak mengeluarkan Alga. Meskipun seorang berandalan dalam urusan bidang akademik dan non akademik ia selalu berhasil mengharumkan nama sekolahnya memenangkan beberapa kali olimpiade serta turnamen basket. Alga adalah seorang ketua tim basket di sekolahnya, tak heran jika ia menjadi idaman gadis-gadis di sekolahnya. Namun berkat Risa, tak ada gadis-gadis yang berani mendekatinya. Alga tidak peduli soal itu, yang terpenting adalah Kara. Adik tingkatnya yang menjadi incaran Alga. *** Pagi-pagi sekali seperti rutinitasnya setiap hari, Risa memasak nasi goreng untuk dirinya dan juga membawakan bekal Alga. Hasyim sang ayah selalu berangkat pagi untuk mengawasi proyek yang berada lumayan jauh dari rumahnya, itu mengapa ia harus membuat sarapan sendiri setiap paginya. Kotak bekal untuk Alga sudah ia siapkan, dengan sangat hati-hati Risa memindahkan nasi goreng ke tempat bekal tersebut. Topping telur mata sapi menjadi hiasan di atasnya. Risa tersenyum sumringah saat melihat hasil karyanya pagi ini tersusun rapi. “Semoga kamu suka ya Al,” harapnya seraya menutup kotak bekal bewarna abu-abu. Bahkan karena semangatnya memberikan bekal itu kepada Alga, ia melupakan sarapannya yang sudah ia letakkan di piring. Tanpa peduli perutnya yang belum diisi, Risa pergi begitu saja. Tampak ia sedikit buru-buru sambil menenteng tas kecil yang berisi kotak bekal untuk Alga. Sesampainya di sekolah, ia berlari kecil menuju ruang kelas Alga. Bukan hal baru bagi anak-anak IPA melihat kehadiran Risa yang notabennya anak IPS. Ia tak sepintar Alga untuk masuk jurusan IPA, Risa akui ia lemah dengan hal-hal menghitung rumus-rumus semacam matematika dan jajaran-jajarannya. Saat netranya menangkap target utama, Risa mempercepat langkahnya untuk segera sampai di bangku belakang. Dimana deretan belakang itu adalah tempat duduk Alga dengan ke empat temannya. “Eh ada Neng Risa,” celetuk Orion, salah satu teman Alga yang bila bertemu Risa ia selalu bersemangat menyapanya. Andai aja sikap Alga seperti Orion ini. Risa membalasnya dengan senyum. “Pasti nyariin Abang Alga ya Neng?” tanyanya lagi. Risa bisa melihat guratan rahang tegas milik Alga, sedikit nyalinya pagi ini menciut. Tapi Risa mencoba untuk tetap biasa saja, bahkan senyumnya masih mengembang lebar. “Minggir dong dayang-dayangnya Alga,” tambah Orion kepada dua temannya. Menurut Risa dari tiga teman Alga hanya Orion yang ramah dan menghibur. Setidaknya jika ada Orion disana rasa deg-degan jantung Risa bisa terselamatkan. Berbeda dengan dua orang lainnya, yang sama-sama dingin seperti Alga. Tapi tetap jauh lebih dingin Alga. Derren yang berada di sebelah Alga langsung berdiri, namun ia urungkan saat sebuah tangan milik Alga mencekalnya kuat. Risa yang melihat itu menelan salivanya kasar, ia tau kesalahannya karena datang kembali seperti biasanya. Karena takut Alga semakin murka, Risa langsung menyodorkan bekal yang ia bawa kepada laki-laki itu. “Pagi ini aku bawakan nasi goreng, aku sendiri yang memasaknya. Semoga kamu-,” Alga berdiri dan melempar bekal pemberian Risa dengan wajah garangnya. Belum selesai Risa berbicara, bekal yang semula berada di tangannya kini mendarat mulus di tempat sampah. Ya benar Alga membuangnya di tempat sampah yang berada di belakang kelas. Hati Risa mendadak mencelos, meski ini bukan pertama kalinya Alga membuang makanan yang Risa beri. Risa berjalan dengan lunglai mengambil kotak bekal tersebut, untungnya kotak bekal itu tidak terbuka jadi masih aman. Keempat laki-laki itu melihat Risa yang kembali memungut kotak bekalnya. Rahang Alga masih mengeras, melihat wajah gadis yang selalu menganggu hari-harinya membuat emosinya terpancing. Apalagi saat ia mendengar gadis ini berani-beraninya membully Kara. “Kuping lo b***k atau gimana hah!” bentak Alga, sampai-sampai suaranya menggema di dalam ruang kelasnya. Banyak murid-murid lain yang melihatnya yang dipermalukan oleh Alga. “Ini yang nggak bakal bisa buat gue suka sama lo cewek murahan!” desisnya tajam. Jujur itu sangat menyakitkan, tapi Risa masih tetap tenang. “Berapa kali gue nolak lo tapi lo masih tetep keukeuh, jalang!” Sebelum perkataan Alga semakin menghunus jantung hatinya, ia membalas tatapan Alga dengan santainya, “Oh kamu nggak suka ya sama nasi goreng buatanku?” Semua yang mendengar jawaban Risa terhenyak, mereka pikir Risa akan menampar Alga yang sudah merendahkannya sedemikian rupa. Pun dengan Orion, Galang, dan juga Derren, yang tampak cengo mendengar jawaban santai dari Risa. “Ya sudah besok aku bawakan yang lain deh,” Gadis itu masih bisa senyum meski senyumnya tak selebar pertama saat ia datang. “Gak usah bawa apa-apa lagi buat gue!” Risa menangkap suara dingin milik Alga. Terlalu, Risa terlalu berani mengejar Alga yang jauh. Satu sekolah pun tau bagaimana Alga menolak Risa mentah-mentah. Mungkin jika Alga ditanya siapa manusia yang ingin ia lenyapkan dari dunia ini pasti jawabannya adalah Risa. Iya Risa tau Alga ingin dirinya enyah. Tapi tidak semudah itu, nanti ada saatnya Risa enyah. Tunggu saja, Risa juga tidak tau kapan ia harus berhenti. Apa iya sekarang? Tetapi Risa masih ingin meluluhkan Alga. Berjuang sedikit lagi untuk laki-laki yang tidak mengharapkannya Bahkan saat tadi Alga terang-terangan menyebutnya jalang, disaksikan oleh banyak teman-temannya masih tidak membuat Risa berhenti. Kadang cinta dan gila hampir mirip. "Lo keterlaluan tadi," ujar Orion. Bukan maksudnya ia membela Risa, iya tau sahabatnya itu risih dengn kehadiran Risa tapi tidak dengan cara begitu menghardiknya di depan banyak orang. Alga melirik sinis Orion, ia rasa apa yang ia lakukan itu benar, "Apanya yang keterlaluan?" "Risa itu cewek Al," Kali ini Randi yang bersuara. Alga mendengus, "Lo liat cewek murahan emang cocoknya dipermalukan!" "Udah deh gue mau cabut!" "Kemana?" kompak ketiga temannya. "Kara," sahut Alga. Ia berjalan santai hendak menuju kelas Kara. Sampai Alga berpapasan dengan Risa, gadis itu dengan senyum lebarnya menyambut Alga. "Alga mau kemana?" "Bukan urusan lo!" "Kamu mau nggak-" "Minggir!" ketusnya lalu melewati Risa begitu saja. Risa menatap kepergian Alga sambil mengawasi kemana perginya laki-laki itu tanpa ketiga temannya, tidak biasa Alga pergi tanpa embel-embel mereka disana. Senyumnya berubah menjadi senyum masam saat mengetahui ternyata Alga menemui Kara. Keduanya berjalan beriringan tanpa peduli ada Risa yang memendam rasa cemburu. Risa bisa melihat perubahan drastis Alga saat bersama Kara, tidak ada wajah sinis yang selalu ia perlihatkan ketika bertemu Risa. Hati Risa tercubit, harusnya ia tau resiko mencintai Alga adalah sakit. Matanya mulai berkabut, tapi tidak Risa tidak boleh menumpahkannya sekarang. Ia bukan Risa lemah yang butuh belasan kasihan orang lain, biarlah orang menilai dirinya baik-baik saja meski mendapat perlakuan seperti itu oleh Alga. Risa terlihat garang karena memang dirinya sengaja, agar saat Alga menghardiknya seperti tadi orang-orang yang tidak mengenalnya tidak menampilkan wajah ibanya kepada Risa. Ia benci ditatap iba oleh orang-orang sekitarnya. Biarkan hanya orang-orang terdekatnya yang mengetahui Risa nyatanya tidak baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN