Tanpa banyak pikir, Risa mengangguk mantap.
Weni tidak bisa apa-apa selain ingin menenggelamkan Risa.
"Udah deh gue mau ke kelas Alga dulu," pamit Risa hendak berdiri.
Weni menarik tangan Risa, "Masih?" sewotnya.
"Iya gue mau ngasih biskuit ini buat dia," Ia mengambil biskuit dari sakunya. Setau Risa biskuit sereal coklat adalah kesukaan Alga.
Ingin rasanya Weni menjerit, tapi ia sadar itu adalah perbuatan sia-sia Risa akan tetap melakukannya meski ia sangat melarang.
Risa beranjak dengan kakinya yang masih tertaih-tatih, seperti niat awalanya ia ingin pergi menuju kelas Alga.
Bibirnya mengulum senyum saat melihat Alga berada di pojok kelasnya yang merupakan bangku Alga sendiri. Ada inti Zerros dan juga ada beberapa anak Zerros sepertinya mereka sedang merapatkan sesuatu hal.
"Alga," panggilnya.
Alga mulai menunjukkan wajah tidak sukanya dengan kehadiran Risa. Sampai kapan gadis ini menganggunya, yang Alga harapkan Risa pergi dari hidupnya.
Orion merasakan ada yang berbeda dengan Risa hari ini, dan ia baru menyadari cara berjalan Risa yang sedikit pincang.
"Kaki lo kenapa Ris?" tanya Orion. Seketika semua orang yang berada disana fokus dengan kaki Risa.
"Tuh gara-gara dia," Tunjuknya kepada Alga.
Merasa disindir Alga menoleh, "Lo yang bego." sengitnya.
"Tapi gakpapa kok Alga," ujar Risa buru-buru. "Eh iya ini aku bawain biskuit sereal buat kamu."
Karena kesabaran Alga yang mulai terkikis sejak kehadiran Risa, apalagi mengingat kekalahannya tadi malam karena cewek itu membuat darah tingginya naik lalu menyeret paksa Risa.
"Ash sakit Al," Risa meringis saat merasakan kaki dan pergelangan tangannya terasa sakit secara bersamaan.
"Alga lepasin!"
Alga tidak peduli dengan Risa yang kesakitan ia terus menyeret gadis itu tanpa ampun, letak empatinya memang perlu dipertanyakan.
Ternyata Alga membawanya di koridor lab ipa yang tampak sepi karena jarang sekali murid-murid di sekolahnya bermain disana, kecuali mereka sedang melakukan praktek biologi.
Tangan Risa dihempaskan begitu saja dengan kasar, "Jangan pernah deketin gue lagi!"
"Berapa kali gue bilang ke lo b**o!" amuk Alga kesetanan.
"Gue muak liat tingkah murahan lo! Dasar perempuan gak punya harga diri!"
"Sadar lo itu gak pantes buat gue, gue alergi sama perempuan murah kayak lo!"
Sakitnya menohok ulu hati Risa, tapi lagi-lagi gadis tersebut masih bisa tersenyum menganggapnya biasa, "Aku minta maaf Alga kalau kamu risih-"
"Iya gue risih. Risih banget sama kelakuan lo!" potongnya.
"Makanya coba deh kamu buka hati buat aku, pasti nanti kamu nggak bakal risih lagi,"
"Jangan berharap gue suka sama lo!" Alga tersenyum miring.
"Ya kalau ternyata kamu jodohku gimana?" kata Risa sambil mengedipkan mata.
Darah Alga semakin mendidih bila terus-terusan meladeni Risa, "Mimpi!" bentaknya lalu pergi meninggalkan Risa.
"Alga!" teriaknya. "Kamu lihat kakiku seperti ini karena ulahmu."
Alga tak menggubris Risa, bisa-bisa wanita gila menurut Alga itu semakin menjadi-jadi.
"Apa kamu mau aku bilang ke satu sekolah, kalau ternyata orang paling dingin yang diidolakan sekolah laki-laki tidak bertanggung jawab," sentil Risa.
Alga balik badan dan melihat Risa yang tengah tersenyum kepadanya, "Apa yang lo katakan hah!"
Laki-laki tidak bertanggung jawab? Alga benci kalimat itu. Meski dirinya terkenal dengan citra buruknya ia paling tidak suka dicap sebagai laki-laki tidak bertanggung jawab. Berani berbuat, berani bertanggung jawab, itu prinsip hidup Alga. Tapi dalam kasus ini berbeda tidak bisa dikategorikan Alga tidak bertanggung jawab, karena ini murni kecerobohan Risa.
Ia mendesis tajam, rupanya Risa mulai berani kepadanya, "s****n!"
"Bagaimana? Apa kamu mau tersebar rumor bahwa ketua geng yang digadang-gadang sebagi ketua yang bermartabat ternyata laki-laki tidak bertanggung jawab huh," cekikik Risa. Ah rupanya sekarang ia memiliki kesempatan untuk bisa mengancam Alga.
"Tutup mulutmu s****n!" Alga kembali mendekatinya dengan wajah dinginnya. Mungkin jika Risa laki-laki, ia akan menghajarnya sekarang juga.
Risa mengambil ponselnya lalu menujukkan video saat dirinya terjatuh di depan motor Alga tadi malam, entah tiba-tiba semalam ia ingin mengabadikan momen ini karena ini pertama kalinya ia melihat Alga balap motor dengan helm full face lengkap beserta jaket Zerros membuat ketampanan Alga jauh berlipat-lipat menurutnya.
"Aku ada bukti juga lo," ujarnya sambil kasih unjuk kepada Alga.
Alga semakin ingin mencekik leher Risa, bisa-bisanya gadis itu mengancamnya sekarang, "Hapus gak?" Intonasi Alga mulai meninggi lalu ia menghimpit tubuh Risa ke tembok dimana Risa tidak akan bisa kabur lagi.
"Enggak." Meski dengan perasaan yang takut-takut sebenarnya, karena posisi mereka berdua sangat dekat tidak membuat Risa lengah.
"Apa mau lo hah!"
Belum sempat Risa menjawab, suara teriakan yang memanggil nama keduanya membuat Alga dan juga Risa terkesiap.
"Alga Risa apa yang kalian lakukan!" suara bariton Bu Melly membuat keduanya mati kutu di tempat.
"s**l!" gumam Alga.
Karena Alga tidak ingin dihukum lagi oleh Bu Melly ia berlari menarik Risa dan kabur. Risa melupakan kakinya yang bengkak akibat tarikan Alga, mau tak mau ia harus ikut berlari bersama Alga.
Alga membawanya ke warung Bi Popon yang terletak di belakang sekolahnya. Nafas Risa terdengar tersenggal-senggal apalagi kakinya yang terasa semakin nyut-nyutan. Ia meringis sesekali mengusap lututnya berharap nyut-nyutannya segera hilang.
"Nih," Alga melempar botol mineral untuk Risa. Karena Risa belum siap botol tersebut mengenai dahinya.
"Aw!" jerit Risa. Rasanya hari ini Risa begitu amat sangat s**l. "Kalau nggak ikhlas gak usah di ambilin kali." sindirnya.
Alga tidak peduli dengan sindiran Risa, ia membuka tutup botolnya lalu meneguk air dingin tersebut supaya menghilangkan dahaganya.
Melihat Alga di jam pelajaran begini Bi Popon tidak heran, karena biasanya Alga yang notabennya murid bandel beserta anak-anak Zerros berkumpul disana.
"Sama siapa Al?" tanya Bi Popon dari dalam. Beliau belum melihat Risa, karena Risa duduk di depan warungnya.
"Sendiri Bi," dustanya. Seketika Risa melotot ke arahnya, masalahnya ia yang membawa Risa kesini.
"Tumben Orion sama yang lain nggak kamu ajak Ga?"
Alga hendak membuka suara Risa menyahut, "Soalnya Alga kesini sama saya Bi."
Mendengar nama perempuan yang menyahut, Bi Popon buru-buru keluar dan benar mendapati gadis cantik yang duduk di bangku depan warungnya, "Eladalah, ini siapa Ga? Cantik banget."
Risa tersenyum saat Bi Popon memujinya ia menatap ke arah Alga seakan berkata, "Tuh Bi Popon aja bilang aku cantik."
Alga mendengus, tidak setuju dengan pendapat Bi Popon.
"Halo Bi, kenalin aku Risa," ujar Risa lalu mencium tangan Bi Popon.
"Eh Neng jangan," cegah Bi Popon. Namun twk di idahkan Risa ia tetap menyaliminya. "Udah cantik, sopan lagi. Bi Popon baru tau kalau ada murid secantik Neng Risa di Sma Garuda. Gak salah nih Alga bawa kamu kesini neng,"
Risa malu terus-terusan di puji oleh Bi Popon, ia menoleh melihat Alga yang tampak tidak suka dengan pendapat Bi Popon.
"Yaudah Bibi balik ke belakang dulu ya, mau lanjutin goreng-gorengnya,"
Risa mengangguk kemudian Bi Popon masuk lagi ke dalam warungnya.
Suasana kembali hening, tidak ada lagi yang membuka suara antara Risa dan juga Alga. Sejak tadi ia juga berusaha mencari topik untuk mereka mengobrol tetapi Alga tidak peduli dan terkesan enggan menjawab.
Untuk Risa hal yang tersulit di dalam hidupnya adalah sadar diri.
"Pepet terus Ga!" teriak Bi Popon dari dalam warungnya. Risa terkikik pelan, selain lucu Bi Popon juga ramah. Pantas saja Bi Popon tidak pernah melihat Risa karena ya Risa tidak pernah nongkrong di warungnya, secara warung Bi Popon selalu disinggahi anak-anak Zerros. Dan Risa hanya mengamatinya dari jauh, jika ia dan juga teman-temannya sedang berada di warung ini.
Alga mengeluarkan rokoknya dari dalam saku seragamnya lalu menyalakannya. Ia menikmati hisapan nikotin tersebut. Jujur Risa sangat tidak betah dengan asap rokok, namun karena ini adalah Alga tidak apa-apa. Apalagi kesempatan untuk duduk lebih dekat dengan Alga tak akan ia sia-siakan.
Risa tak bisa mengelak dengan wajah tampan Alga, bagaimana bisa ada sosok laki-laki berparas tampan seperti dia. Tidak ada celah untuk Risa tidak menikmati pahatan sempurna itu, bahkan Risa tidak bisa melihat sedikitpun kotoran di wajah Alga. Mungkin jerawat yang akan muncul di permukaan wajahnya mendadak insecure karena kulit mulus dan bersihnya.
Kejadian tadi malam menjadi berkah untuk Risa bisa dekat seperti ini dengan Alga, meski kakinya yang menjadi korban. Ini pertama kalinya ia duduk bersama dengan Alga, ini pertama kalinya ia berbicara panjang lebat dan ini juga pertama kalinya Alga memberinya air. Biasanya hanya Risa yang selalu membawakan sesuatu untuknya meski berakhir dengan tolakan atau kalau nggak pasti Alga lempar ke tempat sampah. Miris.
"Semua ini gara-gara lo!" tunjuk Alga.
Risa menatap Alga tak suka, harusnya ia yang marah kepada Alga sebab ini semua ulahnya. Andai saja dia tadi tidak menghimpit Risa sampai dengan posisi intim yang membuat Bu Melly salah paham.
"Kok kamu jadi nyalahin aku sih Al, coba tadi kamu nggak kayak gitu," jelas Risa tidak ingin terus terusan disalahkan oleh Alga.
"Pokoknya semua salah lo!"
Oke baiklah, Risa mengalah.
"Iya salah aku. Oh ya Al, aku mau kamu tanggung jawab,"
Alga melotot ke arahnya, "Emangnya gue habis ngapain lo!" ujarnya menyolot.
Sebenarnya bisa tidak sih ia berbicara biasa saja dengan Risa. Kenapa harus mengeluarkan otot-otot rahangnya?
"Nih," tunjuk Risa di kakinya sebelah kanan yang menjadi korban Alga.
"Nggak!" tolaknya. "Itu bukan salah gue!"
"Oh gitu, jadi kamu mau video itu kesebar satu sekolah," Sekarang Risa bisa sedikit pandai bermain-main dengan Alga. "Dan gimana ya kalau Vano tau video ini?" ia semakin menggoda Alga. Sampai-sampai wajah Alga mulai memerah.
"Kamu nggak mau kan di cap sebagai ketua geng motor yang tidak bertanggung jawab kan?"
"s****n!" Ekspresi Alga sudah menunjukkan kemarahannya. "Apa yang lo mau sebenarnya!"
"Yang aku mau? Yang aku mau kan?" Risa meletakakkan jarinya di dagu seolah-olah ia sedang berfikir padahal ia sudah menyusun rencananya.
"Katakan secepatnya!" suara dingin Alga masuk ke dalam telinga Risa nyaring. Sejujurnya mana berani Risa seperti ini pada Alga, tapi hanya ini kesempatan Risa untuk menerobos hati Alga.
"Kamu jadi pacar aku!" seru Risa dengan wajah berbinar.