Bab. 7 - Liburan dan Ciuman Manis

2660 Kata
Katanya, cinta itu sering membutakan Katanya, cinta itu sering membodohkan Dan katanya, cinta juga sering melelahkan Faktanya, meski semua terkadang benar adanya Cinta tetaplah bertahta bagi sebuah ketulusan dan kejujuran *** Sekitar pukul delapan lewat, Nathan sudah selesai mengecek ulang isi koper. Seharusnya hari ambil penerbangan pagi. Tapi karena sudah penuh, mau tak mau kebagian yang jam terbang siang. Selesai memastikan bawaannya tak ada yang tertinggal, ia berniat menghubungi Dira. Namun, ponselnya lebih dulu berdering nyaring. Dari mamanya Livia. Sebentar pria itu terpekur menerka-nerka, kenapa mamanya Livia menelepon di pagi hari begini? Ia pun mengangkat dan mengucapkan salam. Tidak dipungkiri kalau perasaannya agak tak nyaman. Biasanya kalau mamanya Livia sudab turun tangan, berarti gadis itu berbuat aneh-aneh. "Nathan, kamu di mana sekarang?!" Suara di seberang panggilan terdengar sangat histeris bercampur panik. "Saya masih di hotel, Tante. Ada apa ya?" "Livia semalaman menangis! Tante sudah tanya ada masalah apa berulang kali. Tapi dia nggak mau cerita dan malah mengurung diri di kamar. Barusan Tante cek mau ajak sarapan, dan-" Terdengar isakan dari seberang telepon. Sejujurnya, Nathan tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya bisa mendengarkan dan berharap tak terjadi hal buruk. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam. Setiap kali bertengkar hebat dengan Livia, Nathan memilih mengalah. Karena ia tau gadis itu akan melakukan kenekatan yang kadang bisa di luar batas. Ia pikir Livia sudah lebih dewasa dan tidak mencoba mencelakai dirinya sendiri lagi. Agaknya perkiraannya meleset. Sudah bisa diprediksi apa yang setelah ini akan didengar dari mamanya Livia. "Tolong, Nak, kamu ke sini dulu ya? Tante bingung sekali..." pinta wanita paruh baya tersebut di sela isakan. Namanya juga anak semata wayang, apapun selalu terbiasa keturutan. Mungkin ini salah satu sebab utama Livia jadi pribadi yang cenderung maunya menang sendiri dan agak manja. "Bagaimana keadaan Livia, Tante?" "Masih di kamar. Mau dibawa ke rumah sakit nggak mau. Dokter sudah mengobati lukanya. Tante pikir sudah lama Livia nggak begini, karena dia sudah baik-baik saja sama kamu." "Saya akan ke sana sebentar, sebelum kembali ke Kalimantan." "Ya, tolong bicaralah dengan dia. Tante rasa cuma kamu yang bisa memahaminya." Telepon diakhiri. Nathan mengurut kening setengah frustrasi. Tak terbayang kalau jadinya akan begini lagi. Seharusnya, dulu ia tak memberi kesempatan gadis itu masuk kembali dalam hidupnya. Terkadang, cinta memang membutakan dan membodohkan. Sampai akhirnya takdir membuat logikanya sadar mana yang benar dan salah. Nathan kehilangan rasa di hatinya untuk Livia secara perlahan. Tanpa ia sadari, dengan kehadiran Dira yang selama ini jauh lebih mengerti dan sabar menghadapi sikapnya. Tidak banyak menuntut berlebihan. Dan malah bersedia menunggu, meski Nathan menggantungkan hubungan mereka selama kurang lebih setahun. Pria ini sengaja ingin menguji kesungguhan dan ketulusan Dira. Ia tak mau lagi terjebak dengan hubungan yang mendominasi seperti bersama Livia. Di tempat lain, Dira dan Juna baru kelar meletakkan barang yang mereka bawa ke kamar. Lalu turun lagi ke bawah untuk cari makan bersama. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas siang. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," kata Dira memulai obrolan. "Ya, silahkan." "Sudah kupertimbangkan baik-baik. Aku akan bicara jujur dengan Nathan soal rencana kita. Kamu nggak keberatan kan?" "Baiklah." "Hanya itu?" "Apalagi? Kamu berhak jujur pada pasanganmu. Aku nggak berhak melarang." "Sekalian nanti kukenalin juga ya?" "Buat apa?" "Ya, biar kalian saling kenal. Aku nggak mau ada kesalahpahaman ke depannya. Daripada runyam ujungnya, mending terus terang apa adanya. Aku ngerasa bersalah kalau terkesan selingkuh, padahal jadian saja belum," seloroh Dira sambil membenarkan ikat rambutnya. "Kamu yakin dia nggak keberatan?" "Semoga saja. Aku rasa Nathan pasti mau mengerti." "Baiklah." Di tengah perjalanan menuju restoran, langkah kaki Dira mendadak terhenti. Begitu ia membuka pesan masuk dari seseorang. Seketika ekspresi wajahnya berubah agak lesu. "Kenapa?" tanya Juna ikut berhenti. "Katanya Nathan nggak jadi balik hari ini. Ada masalah penting gitu. Kemungkinan dalam beberapa hari belum bisa balik. Kenapa ya?" "Kamu nanya aku?" "Nggak. Nanya diri sendiri." "Kamu yakin dia nggak lagi bohong?" "Maksudnya?" Juna mengangkat bahu tak acuh. Ia kembali melanjutkan jalan kaki dan memilih kursi dekat jendela. Dira membuntuti, kemudian duduk di depannya. Seorang pelayan menghampiri, memberikan buku menu pada keduanya. Nathan memilah apa yang ingin ia makan. Sementar Dira yang masih fokus dengan ponsel pun meminta tolong untuk dipilihkan saja, dengan catatan bukan berbahan ikan dan sejenisnya yang amis-amis. "Habis ini rehat bentar nggak apa kan? Badanku rasanya pegel semua, ngantuk banget juga. Semalam begadang kelarin kerjaan," celoteh Dira tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel. "Dira, kamu tau latar belakang gebetanmu?" Pertanyaan Juna berhasil mengintimidasi kefokusan Dira. Gadis itu beralih pandang menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut. Seolah bertanya apa maksdunya? "Latar belakang yang bagaimana? Keluarga? Saudara? Aku tau," jawab Dira lugas. "Pacar." "Pacar? Nathan?" "Ya. Kamu tau dia single atau nggak?" Kali ini Dira terkekeh mengejek pertanyaan Juna, yang menurutnya menganggap remeh Dira. Ia pikir Dira perempuan seperti apa? Tak mungkin gadis ini mau mengejar bahkan rela menunggu kepastian dari seorang pria milik orang lain. Ia masih cukup waras untuk jatuh cinta dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Setidaknya itu yang dipikirkan Dira selama ini. "Aku nggak mungkin deket-deket sama dia kalau misal dia punya pacar." "Yakin?" "Kenapa memangnya? Setauku memang dia masih single. Dan aku sudah mengkonfirmasi hal itu ke dia langsung." Juna hanya mengangguk saja. Ia mengurut kening sejenak, seolah memikirkan sesuatu. Agaknya pria ini sudah tahu informasi lebih detail mengenai gebetan Dira alias Nathan. Ia ingat betul semalam Alfa memberitahu Juna perihal Nathan. Ia sengaja menyuruh kawannya mencari tahu, untuk jaga-jaga bila hubungannya dengan Dira menjadi bumerang bagi hubungan Dira dengan Nathan. Namun, fakta mencenangkan malah yang ia dapatkan. Niat hati ingin membantu keduanya, sebagai balasan ketersediaan Dira menjadi partner rencana Juna. Malah ia sendiri menemukan fakta yang sangat mengejutkan. "Cek ulang info yang lo kasih barusan," pinta Juna dengan lugas. Ia masih ragu dengan berita yang temannya bawa. "Buat apa? Udah gue kroscek tiga kali. Gampang banget ngeceknya. Nih ya, lo lihat pencarian di Ig, gue ketik nama akun si Nathan. Langsung muncul foto-foto sama ceweknya yang di Surabaya. Lo lihat juga tanggalnya. Trus, satu lagi, gue sampe iseng nge-dm nih cewek buat mastiin bener apa nggaknya hubungan mereka," kata Alfa menjelaskan. "Gila, keluarga mereka udah saling tau loh! Masa si Dira sebego itu sih sampai nggak ngeh sama sekali?!" Pria ini tampak tak habis pikir. Begitulah sekelumit ingatan yang membayang dalam kepala Juna untuk beberapa saat. Dan lamunannya buyar seketika, mendengar suara pecahan benda yang membentur lantai. Pria itu menoleh sumber suara, dua retinanya mendapati Dira sudah tergesan menghampiri sepasang kakek nenek yang kesulitan berjongkok. Gadis itu tersenyum ramah dan meminta agar dua orang yang agaknya adalah sepasang suami istri itu duduk saja, dan biar ia yang membereskan. Tak lama pelayan datang untuk mengambil alih pekerjaan. Dira mewakili meminta maaf dan berterimakasih. Sang kakek mengatakan ia akan mengganti kerugian. Sejak beberapa saat lalu, Juna hanya mengamati dalam kediaman. Sosok seseorang kembali mengusik nuraninya. Kenapa rasanya Dira jadi mirip seseorang? Pikirannya melanglangbuana dalam ketidakpastian. Ia berusaha mengenyahkan letupan bara di d**a, yang terus membuat jiwanya serasa terbakar akibat masa lalu yang tak kunjung usai. "Terimakasih, Nak," ujar wanita tua berambut keputihan yang disanggul rapi. "Sama-sama, Nek." "Kami baru saja membeli benda itu, karena teledor jadi jatuh." Dira hanya tersenyum. Ia paling tak tega bila melihat orang tua begini, rasanya jadi ingat almarhum neneknya yang sangat menyayanginya semasa hidup. "Saya permisi dulu ya, Nek, Kek." "Tunggu, tunggu. Siapa namamu?" "Dira, Nek." Kakek dan Nenek hanya mengangguk sekilas, keduanya tersenyum ramah pada Dira seperti pada cucunya sendiri. Gadis itu pun berlalu kembali ke mejanya. Tak lama rombongan pasangan seumuran kakek nenek pun datang. Mereka tampak bahagia dan saling bergandeng tangan. "Menyenangkan kalau bisa saling setia dan menemani sampai masa tua," ujar Dira terharu. "Temukan saja pria yang cintanya lebih dalam dari perasaan kamu." "Memangnya ada pria yang cintanya lebih besar dari perempuannya?" "Pasti ada." "Belum menemukan yang seperti itu." "Karena kamu terlalu fokus dengan satu pria saja. Seorang pria nggak akan membiarkan pasangannya menunggu, jika benar-benar mencintainya. Kecuali, dia punya maksud lain. Misalnya, menjadikan perempuan tersebut ban serep mungkin." "Ban serep? Cadangan maksudnya?" "Bisa jadi." "Aku rasa Nathan nggak gitu orangnya." "Aku nggak sedang membahas gebetanmu. Dan kamu langsung tertuju ke sana. Bukan kah itu menyatakan kalau kamu benar-benar hanya memikirkan dia?" "Kamu pernah jatuh cinta kan?" Juna mengangguk. "Apa yang kamu lakukan untuk perempuan yang kamu sayangi?" "Menjenguknya sebulan sekali." "Hanya itu?" Dira memicing heran. "Karena hanya itu yang bisa kulakukan sekarang." "Tunggu, kamu benar-benar punya pacar? Kenapa masih menyangkal kalau sedang sendiri?" cibir Dira seraya berdecak tak percaya. "Apa menyukai seseorang berarti harus pacaran?" Juna melemparkan pertanyaan balik. "Kalau satu hati saja yang menyukai itu namanya pengorbanan. Kalau dua hati itu baru perjuangan. Komitmen itu penting untuk berjalannya sebuah hubungan. Seenggaknya ini menurut pendapat pribadiku. Karena, bertepuk sebelah tangan bukan hal yang menyenangkan untuk diusahakan." Lagi-lagi Juna menahan senyum tipis. Teori yang bagus memang, ia jadi iba bila gadis ini nantinya tahu bahwa Nathan sebenarnya tidak sejujur yang dipikirkan. Pria mana yang tega berbohong demi menjaga hatinya sendiri? Egois namanya. Hidangan yang mereka pesan datang. Pelayan menata di atas meja dengan ramah tamah. Kemudian berlalu setelah menyelesaikan tugasnya. Juna dan Dira mulai sibuk menyantap makan siang mereka. Di meja lain, rupanya Alfa sudah sejak tadi menjempret dan mengabadikan momen keduanya. Selama rencana berlangsung, pria ini menjadi orang ketiga sebagai pendukung. Ia bahkan harus merelakan hari liburnya untuk menjalankan misi khusus dari Juna. Lumayan juga hasil usahanya tak main-main. Juna bukan orang pelit dan perhitungan. Ia selalu dapat gaji dan bonus lebih selagi pekerjaan berjalan dengan baik. Usai makan siang, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk menjalankan ibadah salat Dzuhur dan rehat sebentar. Setelah itu keduanya jalam-jalan, sekadar belanja dan menikmati waktu bersama. Menjelang sore baru mereka mengunjungi Pantai Lamaru. Menikmati semilir angin sambil berjalan-jalan santai. Meski tidak seperti pantai pada umumnya, yang airnya sangat jernih sampai pasir di bawah pun terlihat. Setidaknya untuk sekadar healing lumayan mengurangi penat. "Beberapa tahun lalu aku ke sini bareng teman-temanku. Tapi belum seperti sekarang. Dulu sepi banget, nggak ada orang jualan juga," tukas Dira membuka obrolan. "Kamu suka pantai?" Dira mengangguk. "Siapa sih yang nggak suka suasana pantai? Kurasa hampir kebanyakan orang menyukainya." "Kebanyakan mereka menyukai karena momen yang indah." "Ehm... aku suka karena anginnya." "Anginnya?" Dira mengangguk. "Angin di sekitar pantai kerasa beda dari angin biasanya. Entah cuma perasaanku saja mungkin ya..." Gadis itu merentangkan satu tangan ke atas. Merasakan sepoi-sepoi angin menyapanya dingin. Di sampingnya Juna hanya bisa tertegun memandangi ulah Dira yang agak absurd. Hingga sekelabat memori kembali mengusik hatinya. "Aku lebih menyukai pasir pantai daripada embusan anginnya." "Kenapa?" "Pasir pantai tetap tenang di tempatnya, bahkan ketika ombak menggulung dan menyapu. Tapi angin, bahkan nggak bisa disentuh, tapi terus-terusan menyerang sampai membuat dingin seluruh badan. Cuma bikin masuk angin dan sakit." Pria itu menghela napas pendek. Berusaha kembali pada kesadaran. Bahwa semua tinggal kenangan belaka. Dira mencolek lengannya, "Kamu tau nggak?" "Tau apa?" Rupanya ia tak mendengarkan perkataan gadis ini beberapa saat lalu. Dira hanya berdecak dan geleng kepala. "Lupakan saja," ucapnya. "Kenapa kamu lebih suka angin?" tanya Juna tiba-tiba. "Bukan kah angin di pantai bisa bikin sakit?" Dira tertawa. "Kalau waktunya sakit ya sakit saja. Nggak usah nyalahin angin. Lagian, walaupun bikin masuk angin atau meriang nih ya, gimana pun juga angin termasuk udara buatku. Udara bikin kita bernapas. Kadang sesuatu yang kita anggap sumber rasa sakit, juga membawa berkah untuk kita." Ya, benar. Dira memang berbeda dengan seserorang di masa lalu Juna. Ia tak bisa menyamakan gadis ini dengan orang tersebut. Seseorang yang sampai detik ini tetap menjadi penunggu dalam ruangan istimewa di sudut terdalam hatinya. Ia menepis ingatan berulang kali. Sekeras mungkin melupakan sisa rindu yang menyekat. Kembali menatap hamparan ombak yang berdebur di sana. "Eh ya, kufotoin yuk?!" tukas Dira. "Kamu saja. Aku nggak suka foto-foto kecuali emergency." "Ish ish ish, jangan sia-siakan karunia Yang Kuasa. Masa dikasih good looking begini malah dianggurin sih?! Kalau aku sutradara mungkin sudah kuajakin main film," timpalnya sarkastis. "Aku nggak tertarik jadi orang terkenal." "Kenapa? Takut jadi bahan gosip ya?" "Lebih khawatir susah dapat privasi." "Nah nah, bagus ini posenya. Diam ya! Jangan gerak!" celetuk Dira sambil mundur. Ia bersiap dengan ponsel untuk memotrest Juna yang berdiri dengan satu tangan di saku celana. Menghadap ke arah matahari yang hendak terbenam pulang ke peraduan. Tanpa sadar ia malah terbawa suasana, bukannya menolak lagi justru mengikuti setiap instruksi dari Dira. Sampai lelah barulah keduanya terduduk di sekitaran dekat pepohonan. "Apa ada yang sempurna di dunia ini?" tanya Juna tiba-tiba. Pandangannya menghunus lurus ke depan. "Apa ada?" Dira ikut menimbang. "Bahkan alam yang tampak begitu indah pun menyimpan ketidaksempurnaannya." Pria di sampingnya menoleh dengan kernyitan di dahi. "Coba bayangkan, laut tampak mengagumkan kan? Tapi, apa kamu tau seberapa dalam ia? Seberapa gelap ia di dasar sana? Seberapa menakutkan ombaknya?" Pria itu hanya mengangguk paham. Masuk akal juga apa yang dilontarkan Dira barusan. "Bukan maksudku nggak mengindahkan karya Sang Pencipta. Hanya saja, kita harus belajar melihat segala sesuatu nggak hanya dari satu sisi. Apa yang terlihat indah, belum tentu nggak menyimpan sesuatu yang bisa saja menakutkan. Sama seperti hidup. Kita dinaifkan oleh keadaan. Berusaha tampak sempurna hanya demi membuat kagum orang lain. Apa yang kita dapat? Pujian? Apa itu berguna buat kita? Sesaat hanya mengesankan, sisanya nothing." "Oh ya?" "Hmm..." "Jadi, menurut kamu apa makna kesempurnaan sebenarnya?" "Kesempurnaan adalah rasa syukur yang harus selalu ada dalam hati kita. Dengan bersyukur, bahkan semua kekurangan tak akan menjadi kendala besar buat kita. Lagipula, untuk apa memaksakan diri menjadi sempurna demi pujian orang lain? Hidup bukan hanya tentang itu. Lebih baik jadi diri sendiri, dan nikmati apapun keadaannya. Selagi kita nggak merugikan siapa-siapa." "Begitu ya?" Juna tersenyum simpul. Ia menemukan seseorang yang bisa diajak bertukar pikiran tanpa mendebat keras. Argumennya mendasar dan penuh makna. "Kenapa mendadak tanya soal kesempurnaan? Menurutku kamu juga nyaris sempurna." "Maksud kamu? Aku?" "Hmm, dari segi penampilan kamu juara. Dari segi kesopanan, juga plus. Dari segi kepintaran, kurasa kamu juga hebat. Soal kemapanan, sepertinya juga nggak ada masalah. Tapi..." "Tapi apa?" Juna menunggu kelengkapan kalimat Dira yang menggantung. "Kayak ada sesuatu yang hilang di mata kamu. Kadang tegas, kadang hampa. Lebih sering kelihatan hampa sih." "Sesuatu yang hilang di mataku? Hampa?" Dira mengangkat bahu sekilas. "Tatapan mata kamu sering kosong dan seolah nggak bertujuan. Kamu pernah lihat orang linglung karena patah hati? Sebelas dua belaslah." "Kamu menyamakanku dengan orang linglung?!" Wajah pria itu sedikit gusar dan agak memberengut kesal. Namun gadis di sebelahnya malah tertawa dan meminta maaf. "Hanya menerka-nerka saja. Jangan tersinggung. Hehe, maaf," balasnya. Dan tanpa sadar, senja menjadi saksi keduanya semakin dekat. Bercerita satu sama lain, tertawa bersama, menikmati indahnya sang surya yang berpamitan malu-malu. Menghadirkan rona jingga penuh kehangatan. "Kamu kok bisa sih dengan pedenya ngajakin aku pura-pura jadi pasanganmu? Maksudku, kok yakin banget aku bakal bersedia." "Nyatanya berhasil kan? Akhirnya kamu mau juga." "Ckck. Aku tuh aslinya pendendam tau. Tapi nggak tegaan juga. Aku dendam sama ibuku dan nggak tega sama kamu." Beberapa saat menikmati keheningan seja, dalam hati Dira bergumam, berharap pria yang ada di sampingnya sekarang adalah Nathan. Sedangkan Juna berpikir membayangkan gadis di sebelahnya adalah seseorang yang begitu ia rindukan kehadirannya. Keduanya saling menoleh bersamaan. Menatap lekat dengan cara masing-masing. Seakan harapan mereka menjadi nyata. Juna dalam bayangan Dira adalah Nathan. Dan Dira dalam pikiran Juna adalah seseorang dari masa lalunya. "Aku merindukan kamu..." lirih pria itu tanpa sadar. Bersama dengan tenggelamnya cahaya alam, satu tangan Juna menyentuh hangat pipi gadis di sisinya. Mengusap lembut bibirnya dengan hati-hati. Hingga tanpa sadar bibir keduanya sudah bertemu di satu titik tanpa sekat. Saling menyapu dan melumat perlahan. Embusan angin dingin seolah tak lagi terasa. Hanya menyisakan hawa hangat yang semakin memanas, menyelip di tiap rongga epidermis mereka. 'Tunggu! Apa yang terjadi?!' batin Dira tersadar kilat. 'Ini nggak bener!' Jiwanya memberontak, tapi tubuhnya justru menikmati segala yang terjadi. Mereka terhenyak dari alam bawah sadar, saling menatap dengan pandangan bingung satu sama lain. "Kenapa kamu melakukan ini?" Dira berusaha menenangkan lonjakan jantungnya. "Kenapa kamu nggak menolaknya?" Pertanyaa balik berhasil membuat Dira tergugu. Keduanya kembali saling terdiam tanpa suara. Apa yang terjadi dengan mereka? == DHSC ==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN