03. Paint

1979 Kata
Previous.... "Pintu bergambar kucing dengan cat biru. Itu kelas Tan dan Ron," jelas Vivi. Setiap pintu di Pet Hight School diberi gambar kepala anjing atau kucing dengan warna yang berbeda, tujuannya adalah agar para hewan mudah membedakan pintu disetiap ruangan. "Aku melihat pintu itu, diujung sana!" teriak Toben heboh. Membuat Vivi memandangnya tajam dengan Mongryeong yang binggung kenapa Vivi memandang Toben seperti itu dan mengapa reaksi Toben seperti itu? Toben tersenyum kikuk dan menggeleng. "Aku tidak akan mengulanginya lagi, yang tadi itu tidak sengaja," lirihnya dengan kepala menunduk. “Sungguh, deh.” Sebenarnya meski mereka berada di satu gedung yang sama. Tetapi, anjing dan kucing itu tidak boleh saling mengunjungi tanpa pengawasan. Byul pernah bercerita bahwa dulu pernah ada anjing dan kucing yang bertengkar hingga luka-luka, sejak saat itulah peraturan ini berlaku. Mengabaikan Toben. Bichon Frise itu berlalu memimpin jalan, Vivi berkata pelan, "Ayo kita—" "PENYUSUP!" EXCHANGE SOUL'S 03. ??? Ketiga anjing itu dikagetkan oleh suara seekor kucing yang tiba-tiba keluar dari balik pintu. Suaranya sungguh cempreng. Ketiga anjing itu bahkan sampai harus menutup telinga mereka karena takut telinga mereka akan bermasalah. "Katakan padaku, apa yang kalian lakukan—astaga, Vivi! Aku sungguh merindukanmu!" Kucing putih itu tiba-tiba berlari dan menerjang Vivi—memeluknya. Seakan mereka adalah kawan lama yang sudah tidak saling bertemu. "Menjauhlah dariku atau akan aku adukan pada Tan. Kalau kau adalah kucing genit," ancam Vivi. Kucing betina putih berjenis Anggora itu langsung melepaskan pelukannya dan menatap Vivi garang. "Jangan berani-berani!" ancamnya balik. Membuat Vivi tersenyum penuh kemenangan. Dilain itu, Toben dan Mongryeong binggung, mereka berdua tidak mengenal kucing putih ini. "Tidak berniat memperkenalkan diri pada teman-temanku?" kata Vivi memecah hening. Yang ditunjukkannya pada si Anggora betina. "Apa mereka teman Tan dan Ron Oppa juga?" Kucing bermata biru laut itu bertanya ragu. Sepasang netranya mencuri pandang pada 2 anjing berbeda warna dihadapannya. "Temanku adalah temannya dan temannya adalah temanku, juga" balas Vivi yang terdengar bijak ditelinga ketiga hewan itu. Mata biru si Anggora berbinar. "Woah, itu keren. Kalau begitu perkenalkan, namaku Snowie," ucap kucing bernama Snowie itu memperkenalkan diri. "Aku adalah calon istri Tan!" Toben dan Mongryeong agak binggung ketika Snowie menyebutkan bahwa dia adalah calon istri Tan. Meski begitu, pada akhirnya Toben menanggapi, "Aku Toben. Anjing paling tampan dan populer di Pet Hight School," narsisnya memperkenalkan diri, "salam kenal, Snowie," sambungnya tak kalah ramah. Senyuman seputih model pasta gigi tidak luput dari pesonanya. Ucapkan terima kasih pada Changyeol yang selalu melatihnya menggosok gigi sebelum tidur. Mongryeong tidak mau kalah, ia pun ikut memperkenalkan diri. "Namaku Byun Mongryeong, anjing paling mengemaskan di seluruh Pet Hight School. Jadilah temanku, Snowie." Mongryeong menawarkan pertemanan pada kucing putih itu yang langsung disambut dengan bahagia oleh Snowie. "Tentu saja aku mau. Semuanya, ayo berteman mulai sekarang!" seru Snowie. Tidak menyangka bahwa hari ini ia akan mendapatkan dua teman baru. "Ehem, baiklah, sudah cukup perkenalannya. Snowie, kau tahu di mana Tan? Kita ingin mengunjunginya." Vivi menjelaskan maksud kedatangan mereka. "Aku akan membawa kalian padanya, ikuti aku semuanya." Snowie berjalan pemimpin. "Tan tengah belajar melukis," infonya. Snowie pun membawa ketiga anjing itu menuju kelas melukis. Pintu bercat kuning bergambar kepala kucing itu tertutup rapat. Snowie masuk melalui cat flat—sebuah pintu khusus untuk anjing dan kucing bebas keluar-masuk rumah. Metiga anjing itu pun bermaksud mengikuti Snowie, namun sebelum kepala Vivi menyentuh ujung cat flat. Kaki depan Snowie berada tepat didepan wajahnya dengan cakar berkutek yang sengaja dikeluarkannya; ketiga anjing itu belum diperbolehkan masuk. Beberapa saat kemudian kaki depan Snowie kembali mencuat dari balik cat flat dengan gerakan maju-mundur; menyuruh ketiga anjing itu untuk mengikutinya. Ketiga anjing itu pun manurut, mata mereka disambut oleh ruangan yang didominasi warna putih dengan berbagai macam kuas, kanvas, cat air, dan jangan lupakan lukisan-lukisan abstrak beraneka ragam yang memanjakan keingintahuan mereka akan makna dibalik setiap lukisan tersebut. Mulut ketiga anjing itu kompak menggangga, selama ini mereka tidak menyadari bahwa kelas melukis begitu menakjubkan. "Ck, jangan seperti anjing bodoh begitu, memang kalian tidak memiliki kelas melukis, ya?" sinis Snowie. Sedikit banyak, kucing betina putih itu penasaran pada bangunan sebelah Timur Pet Hight School; tempat belajar dan tinggal para anjing. Jujur, Snowie belum pernah melanggar aturan seperti yang para teman-temannya lakukan. Vivi menatap Snowie sekilas. "Kami juga memilikinya, tetapi tidak ada diantara kita bertiga yang mengambil kelas itu," jujur Vivi yang mendapat anggukan dari Toben dan Mongryeong. "Kenapa? Padahal kelas melukis sangat menyenangkan, di sini kita bisa bermain cat warna tanpa kena marah," ucap kucing lain yang tiba-tiba datang ikut bergabung. Keempat kakinya dipenuhi warna-warna terang, telapak kakinya meninggalkan jejak berbagai macam warna pelangi dilantai. "Hai!" sapa kucing jantan berjenis Norwegian Wood tersebut. Bulunya lebat berwarna hitam berpadu putih, tatapannya tajam dan hidungnya sungguh mancung. "Tan? Kau terlihat semakin tampan," puji Vivi melihat tinggi badan Tan yang bertambah beberapa senti. Alih-alih Tan, malah Snowie yang tersenyum bangga. "Aku merasa iri," lanjut Vivi. Kucing jenis Norwegian Wood memang memiliki fisik yang bagus, tubuhnya tegap, bulunya lebat, dan mereka bisa tumbuh hingga 100 sentimeter dengan bobot delapan kilogram. "Ayo ikut aku, akan aku tunjukkan hasil karyaku," ajak Tan. Kucing berusia empat tahun itu milik Umin, anggota tertua OXE yang kini tengah menjalani wajib militer. Jadi, wajar saja kalau ketiga anjing itu mengenalnya, karena sebelumnya mereka beberapa kali sudah pernah bertemu di dormitory OXE. Di Pet Hight School, jarang sekali ada anjing dan kucing saling mengenal apalagi sampai saling mengunjungi. "Akan aku buat kalian tertarik dengan dunia seni lukis," seru Tan bersemangat. "Ron tengah berada dikelas memasak," ujarnya memberi tahu. Ron sendiri adalah kucing milik adik perempuan Umin yang berjenis Rogdoll. Ketiga anjing itu mengikuti kedua kucing yang menjadi penunjuk jalan mereka. Mata ketiga anjing itu tak henti-hentinya menatap tabjuk lukisan-lukisan yang ada. Namun, meski mereka tinggal di satu gedung. Insting kucing dan anjing yang saling bermusuhan masih berfungsi. Terlihat bagaimana beberapa kucing yang terang-terangan menatap ketiga anjing itu waspada. Ada yang menatap tidak suka, ada pula yang masa bodoh. "Rasanya aku sangat bersemangat!" seru Toben. Begitu melihat ada kucing lain yang menyambut mereka dengan senang hati. "Ini pasti akan menyenangkan!" sambung Mongryeong tak kalah heboh. Seakan ruangan ini milik mereka dan tak menghiraukan berbagai macam tatapan yang mereka dapatkan. "Kalian membawa anjing ke sini? Tan? Snowie?" tanya seekor kucing anggun berjenis Savannah. 2 kaki depannya sibuk mengaduk-aduk cat air didepannya. "Para pengasuh itu sangat menyebalkan." Kucing itu memperingati. Matanya yang tampak tajam menatap Vivi, Toben, dan Mongryeong menyelidik. "Mereka adalah teman-temanku, Stella," bela Tan, "tidak apa-apa, mereka adalah tanggung jawabku," lanjutnya. Tan paling tidak suka jika ada yang membeda-bedakan pertemanan hanya karena perbedaan spesies. "Iya, anjing-anjing itu juga temanku," seru Snowie membela Tan. Salah satu prinsip utamanya sebagai seekor b***k cinta adalah selalu berada dipihak sang pujaan hati apa pun yang terjadi. Kucing berbulu cokelat dengan bercak hitam itu mengedikkan bahunya tak acuh. "Terserah kalian saja." Si Savannah melanjutkan kegiatan melukisnya yang sempat tertunda, tanpa mempedulikan kehadiran ketiga anjing itu lagi. "Kemarilah." Tan menyingkap kain putih yang menutupi sebuah bingkai. Tampak sebuah lukisan seorang manusia bersayap dengan wajah buruk rupa tengah dalam keadaan sekarat, kedua sayapnya terluka parah, bajunya ternoda darahnya sendiri. Terlukis pula sekelompok pemburu berbadan kucing berdiri dengan kedua kaki belakangnya, sedangkan kedua kaki depan mereka pergunakan untuk mengangkat busur dan pedang. "Aku belum memberi lukisan ini nama." Tan mengamati hasil kerja kerasnya sebulan ini. "Lukisan ini adalah hasil mimpi burukku beberapa waktu lalu, yang berhasil aku ubah menjadi sebuah karya seni," ceritanya. Sepasang netranya tampak memancarkan binar bangga. "Itu menabjukkan, Tan," komentar Vivi. Ia tidak pernah tahu bahwa sahabatnya ini sangat luar biasa. "Waktunya melukis dunia!" Snowie berteriak. Kucing Anggora itu melemparkan beberapa kanvas dan kuas pada ketiga anjing tersebut. Tan menarik persediaan cat airnya, membagikannya pada ketiga teman anjingnya. Vivi, Toben, dan Mongryeong langsung larut kedalam imajinasi yang mereka tuangkan dalam bentuk lukisan. Hasilnya sangat amatiran memang, tetapi semangat dan kesungguhan mereka patut mendapatkan mendali emas. Beberapa saat kemudian, ketiga anjing itu—ah, ralat. Ketiga anjing dengan seekor kucing Anggora itu duduk berbaris dengan memegang hasil lukisan masing-masing dengan kepala tegak kedepan. Tan, selaku dewan juri yang bertanggungjawab atas semua kekacauan yang teman-temannya lakukan, berjalan mendekati Snowie yang berdiri paling ujung. Dengan khidmat Snowie menyerahkan hasil lukisannya pada Tan dengan mata berbinar senang karena Tan berdiri sedekat itu dengannya, hampir-hampir semua hewan melihat hati keluar dari mata kucing itu. Tan mengamati hasil lukisan Snowie; sepasang kucing berwarna putih dan hitam-putih tengah berciuman diatas bukit, dengan senja sebagai latar belakangnya. Tan menatap Snowie sinis. "Nilai Z." Nilai terendah. Lalu, kucing Norwegian Wood itu membuang lukisan tersebut kebelakang punggungnya, dengan mulut Snowie yang menggangga patah hati. Tan kemudian berlalu menghampiri Mongryeong, anjing Welsi Korgi berwarna kuning yang selalu tersenyum bodoh itu menyerahkan hasil lukisannya pada Tan. Selang beberapa saat Tan mematung, matanya yang lebar makin melebar, netranya berkaca-kaca, kedua pipinya muncul semburat merah jambu yang cantik, "A-apakah ... Leonardo Da Vinci sebagai inspirasi terbesarmu?" tanya Tan terbata. Lukisan Mongryeong begitu menabjukkan; tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Kucing Norwegian Wood itu terharu karenanya. "Inspirasiku adalah Mams Byun," jawab Mongryeong ceria dengan hati yang membesar. Mama Byun adalah Ibu kandung Baekgeom yang kini tinggal bersama sang kakak di kampung halamannya dikawasan Wonmigu, Provensi Bucheon, Korea Selatan. Tan mengedip sebelum akhirnya merespon kecewa, "Ooh.” Sangat tidak puas dengan jawaban Mongryeong yang dipikirnya akan seluarbiasa lukisan itu, tetapi ternyata malah biasa saja. Mongryeong masih tersenyum manis tanpa tahu bahwa kucing Norwegian Wood itu meremehkan inspirasinya. Setelah mengembalikan lukisan milik Mongryeong. Tan beralih pada Toben, anjing Toy Poodle itu tersenyum kikuk. Toben menyembunyikan lukisannya dibelakang punggungnya; tidak mau memperlihatkannya. "Berikan?" minta Tan. Tetapi, Toben bersikukuh dan tetap menyembunyikannya dibalik punggung. Alhasil, Toben dan Tan berebut kanvas tersebut, Toben menariknya, Tan pun tak kalah kencang menarik kanvas itu. Anjing dan kucing itu saling bersungut-sungut, tak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya .... Kreak! Kanvas itu pun robek menjadi 2 bagian. Tan memelototi Toben, akhirnya anjing Toy Poodle itu menyerahkan hasil lukisannya pada Tan dengan tidak ikhlas. Tan mengamati lukisan gunung, sawah, gubuk reyot, dan empat buah bus yang masing-masing berwarna biru, kuning, hijau dan merah. "Itu adalah Tayo, Lani, Rogi, dan Gani." Toben menjelaskan isi lukisannya bersemangat. "Tayo siapa?" binggung Tan. "Bus-bus kecil di kartun Tayo The Little Bus, masa kamu tidak tahu, sih?" kesal Toben. Bisa dibilang ia tidak terima temannya tak mengenal kartun favoritnya dan dibilang tidak populer secara tak langsung. Tan memutar bola mata malas, tidak menghiraukan Toben yang masih berkicau mengenai bus biru itu. Kemudian Tan menghampiri Vivi. Si Bichon Frise itu tersenyum miring memamerkan smirknya. "Aku mungkin saja penerus Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni yang telah lama dinanti." Vivi berkata congkak. "Aku memberikanmu kesempatan pertama untuk melihat keajaiban dunia yang terlahir dari cakarku." Vivi menyerahkan kanvas itu pada Tan. Tan menatapnya aneh, dilihatnya hasil lukisan Vivi. "Itu adalah lukisan seorang wanita tua berkerudung, yang tengah memangku seekor pangeran anjing yang tengah tertidur karena kutukan penyihir jahat," jelas Vivi detail. "Itu adalah Mama Oh dan aku," lanjutnya bangga. Namun yang dilihat Tan adalah coretan-coretan tak jelas. Tan mendengus kesal melihatnya. Ditatapnya Vivi sengit. "Jangan pernah perlihatkan aku lukisanmu lagi. Atau, akanku bunuh kamu dengan cakar Snowie!" ancam Tan, kedua mata tajamnya berkata bahwa dia tak sedang main-main. Snowie yang namanya disebut oleh Tan pun langsung tersenyum cerita; tak peduli dalam konteks apa. Seakan ada belangi yang baru saja menyambangi isi kepalanya. "Aku siap membantu Tan membunuh Vivi!" Vivi yang mendengar itu pun menggangga tak percaya. Direbutnya kanvas tersebut dari cakar Tan, dilihatnya sekali lagi lukisan miliknya. Mata Vivi melotot tidak percaya bercampur syok. "Kenapa lukisanku tiba-tiba jadi mengerikan seperti ini?" Vivi terduduk lemas. Padahal tadi ia yakin kalau lukisannya tidak kalah menabjukkan dari lukisan Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni. Mengapa dunia tidak selalu berjalan dengan apa yang dibayangkannya. "Astaga, kenapa ada anjing di sini?" Tubuh kelima hewan itu pun seketika menegang, mereka menoleh perlahan pada sumber suara yang tepat berdiri dibelakang punggung mereka. Seorang wanita dikucir dua tengah bersedekap menatap mereka tajam. ΘωΘ To Be Continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN