Dipaksa Menikah Kilat

1093 Kata
"Pokoknya loe mesti nikah sama gue hari ini, Tha!" desak Indra Gustavo masih mendekap tubuh polos yang baru saja digumulinya di atas ranjang. Hari sudah pagi jelang siang, tetapi kedua anak manusia itu abai akan aktivitas rutin mereka masing-masing. Thalita bolos kuliah dan belum pulang ke rumahnya sejak semalam, sedangkan Indra tidak berangkat ke kantornya juga. Namun, bukan masalah bagi Indra karena dia sendiri bos di tempat kerjanya. Perusahaan kontraktor dan properti itu milik keluarga Gustavo yang diwariskan mutlak kepadanya karena dia anak tunggal tanpa saudara kandung. "Loe ini beneran sedeng deh, Ndra!" tukas Thalita yang sontak mendapat jitakan di kepalanya oleh kepalan tangan Indra. "Jangan asal panggil gue pake nama! Loe tuh jauh lebih muda dibanding gue keleus. Panggil Mas Indra Sayaaang gitu kek!" tegur Indra sambil mencubiti pipi Thalita dengan gemas hingga jadi kemerahan. Wajah Thalita mencebik menatap pria itu. "Emang loe siapa gue kok ngatur-ngatur?!" tolaknya judes. "Calon suami loe, udah lupa ya?! Gue udah bilang 'kan loe kudu mau nikah sama gue hari ini juga. Mau hamil tanpa ada lelaki yang ngakuin anak loe kalo udah brojol nanti? Gue ogah nikahin misal loe maunya tar sok tar sok!" tegas Indra berusaha membujuk Thalita agar masuk ke dalam rencananya. Intinya Indra harus mendapatkan istri kilat sama seperti Brian, rival bisnisnya sekaligus kakak kandung Thalita itu. Gesit sekali Brian mencari istri karena setahunya pria itu tak pernah berkencan serius dengan wanita manapun. Usut punya usut ternyata wanita itu seorang penari kabaret di The Glam Expat Night Club yang diincar oleh Carlos, putera Mister Rodrigo. Bagi Indra Gustavo, langkah menikahi Thalita akan menjadi keuntungan terbesar baginya. Dia bisa meraih tender kontrak mega proyek sama seperti Brian di Pulau Bali dengan memanfaatkan adik rival bisnisnya itu. Meskipun Brian pasti akan mengamuk, tapi tak ada gunanya. Indra pun tertawa riang dalam hatinya membayangkan segala hasil rencananya tersebut. "Lepasin badan gue, b******k! Gue mau pulang sekarang!" teriak Thalita meronta dalam dekapan lengan kokoh Indra. "Ckk ... bengal amat sih! Loe cuma jinak kalo lagi kawin doang. Hmm dasar parah!" seru Indra tak mau kalah dengan makian Thalita. Bibirnya segera mengisap daun telinga lalu turun menciumi pipi dan rahang perempuan itu. Keahliannya membuai wanita hingga lupa daratan tak perlu dipertanyakan lagi. Indra pun berhasil membuat adik rival bisnisnya h***y lagi di atas ranjang. Dan itu dilakukannya dengan sengaja. "Aaakkhh .... Mmmhh ... ooohh!" Mulut Thalita tak sanggup berbohong menikmati setiap sentuhan pria menyebalkan itu. Miss V-nya sudah sangat basah mendapatkan belaian jemari tangan Indra yang aktif menggoda organ intimnya. "Wah ada yang udah napsu banget nih buat diservis!" sindir Indra yang membuat wajah Thalita langsung merah seperti udang rebus. Malu sih iya, tapi sudah terlanjur gairahnya berkobar di dalam tubuhnya. Thalita serasa tak berdaya dipermainkan seperti itu oleh Indra. "Lanjutin apa udah aja, Thalita yang cantik ... sexy ... hornian?" goda Indra dengan sengaja sembari mendaratkan kecupan-kecupan nakalnya di buah d**a ranum gadis itu. Lidahnya pun berputar-putar di puncak merah kecoklatan gunung kembar Thalita. "Sshh ... lanjuuut Mass!" rintih Thalita saking inginnya disentuh lebih intim lagi di bagian kewanitaannya yang lembab dan panas. Indra bertekad kali ini perempuan itu harus setuju untuk dinikahinya. Maka ia pun membuat perjanjian, "Loe kasih gue kepastian buat nikah hari ini juga. Cepetan ngomong dulu!" "I—iiya, gue mau. Ayo lanjutin, Mass!" pinta Thalita yang sudah kepalang h***y karena sentuhan Indra yang begitu ahli membakar birahinya. Meriam laras panjang milik Indra bersiap di targetnya dan lancar menyerang dengan gagah perkasa. Desahan kencang Thalita bergema di dalam kamar hotel yang sunyi jelang siang itu. Dia sudah lupa daratan dan hanya menginginkan sentuhan intim dari Indra. Dengan penuh stamina sekalipun mulai lapar, Indra menggenjot tubuh Thalita. Dia pun tak mengelak kenyataan bahwa dirinya menikmati persetubuhannya bersama Thalita. Perawan yang masih ketat cengkeramannya dijamin bikin ketagihan. Nikmatnya hingga ke ubun-ubun kepalanya yang tengah terdongak ke langit-langit kamar bercat putih itu. Dua pasang mata itu saling bertukar pandang seakan berkabut gairah. Guncangan di atas ranjang yang berderit karena gerakan sensual Indra dia atas tubuh polos Thalita begitu keras. 'Wow jantan banget nih cowok! Bentar ... bentar harusnya 'kan dia kabur kagak tanggung jawab sesudah merawanin gue sih? Ini malah mau dinikahin gue-nya. Duh ... Tha, bego amat jadi cewek! Mau, gue harus mau dong!' batin Thalita seakan tersadar dari kebodohannya karena menolak tawaran Indra di awal tadi. "Mas Indra, kita mau nikah kapan jadinya?" tanya Thalita hati-hati karena takut pria ganteng macho itu berubah pikiran. "Hari ini 'kan? Gue tuntasin dulu bentar biar nggak sama-sama tanggung. Udah mau muncrat punya gue nih!" jawab Indra tak tahu malu. Dia mulai merem melek dengan napas memburu dan jantung berdetak kencang seperti genderang mau perang. Dengan segera Indra membalik badan Thalita hingga menungging di hadapannya. Dia melanjutkan pertarungan mereka dengan posisi doggy style. Jelas saja tusukan benda tumpul panjang berurat itu lebih dalam dan bertenaga, Thalita sebentar saja sudah kelonjotan menyemburkan cairan kenikmatannya hingga nyaris ambruk kalau tidak didekap dari belakang oleh Indra. Dia mendesah-desah pasrah ditubruk-tubruk bokongnya yang bulat oleh panggul Indra. Bibir pria itu menempel di lekuk leher Thalita mengisap kulit putih mulus itu kuat-kuat hingga meninggalkan tanda kepemilikan bulat merah yang sangat nyata di sana. Geraman maskulin itu menggema di dalam ruangan dingin berAC itu ketika Indra menyemburkan saripati miliknya dengan deras di dalam rahim perempuan yang akan dinikahinya tak lama lagi. "Tha, setelah kita nikah. Loe harus rajin layanin gue. Apa aja yang loe minta ntar bakal gue kasih asal loe nurut semua kemauan gue, paham?!" ujar Indra di tepi telinga Thalita sembari menindih tubuhnya. "Iya, Mas Indra. Gue janji bakal jadi istri yang baik!" balas Thalita patuh yang membuat Indra menyeringai puas. Mereka pun bergegas mandi setelah Indra memesankan menu brunch via room service. Di dalam shower box masih saja sempat-sempatnya Indra menghajar kembali Thalita di bawah guyuran air dingin hingga perempuan itu lemas bergelanyut di badan kekar calon suaminya. "Gue anterin loe ke bridal salon terus kita ke kantor catatan sipil buat nikah. Jangan rewel, loe udah setuju tadi!" pesan Indra dengan penuh antisipasi. "Iya, Mas. Tadi 'kan gue udah janji sih! Cuma gue minta 2 hal; satu jangan KDRT, dua jangan selingkuhin gue!" jawab Thalita menatap wajah Indra lekat-lekat. "Beres. Gue yang penting loe bikin puas pasti nggak bakal cari selingan di luar. Manjain tuh jagoan gue kapanpun gue minta, oke?" balas Indra ringan. Thalita pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan permintaan Indra. Dia hanya berpikir bahwa pria itu mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Hanya Indra yang tahu tujuan pernikahan kilat mereka berdua untuk saat ini. Dia tahu kakak Thalita akan sibuk mengawasi proyek di Bali. Rencananya akan berjalan mulus kali ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN