Part 8

1080 Kata
"What!?" Teriakan yang memenuhi mobil itu membuat Kristal nyaris memutar bola matanya malas, mengabaikan tatapan tak percaya Yse dan Inggrid yang nyaris mengamuk saat tahu Kristal akan bersama Yse malam ini. "Lo gila!?" "Lah, kenapa?" "Lo ga lupa kan, Emak lo siapa!?" Inggris setengah berteriak, Yse mengangguk menyetujui. Kristal menghela nafasnya, bersandar pada kursi mobil lalu melempar tatapannya keluar mobil. "Gue cuma pengen coba kesana kok." "Udah deh gausah macem macem, gue ga mau disantet Bu Isabel!" "Iya, Kristal. Gimana kalau kita ke cafe aja?" Yse memberi saran, meskipun tempat yang ingin Kristal tuju adalah tempat yang tidak lagi asing baginya bahkan juga Inggrid tapi gadis ini sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya disana. Well, Bagaimanapun, mereka semua tahu siapa Ibu Kristal. "Gimana dong?" "Gimana apanya?" Inggrid mulai emosi, membulatkan matanya saat Kristal tiba tiba membuka jaket kebesarannya. Memamerkan tubuh moleknya yang dibalut dress hitam, Yse bersiul senang yang seketika mendapat pukulan telak ditengkuknya. "Mata lo!" "Blessed my eyes!" Yse nyaris mendapat serangan kedua dari Inggrid yang duduk sendirian dikursi belakang sebelum Kristal membuka suara. "Kalau kalian ga mau, gue bisa pergi sendiri." "No!" Yse dan Inggrid berteriak bersamaan, Kristal mengedikkan bahunya. Tidak peduli pada Inggrid yang nyaris menarik rambutnya sendiri ataupun Yse yang akhirnya menyerah dan menyalakan mesin mobilnya dan meraih paper bag di kakinya. "Lo lagi kesambet apa, sih? Setelah sekian lama jadi penunggu perpus bisa bisanya lo kepikiran ke club!" Inggrid kembali mengomel, berdecak kesal pada Kristal yang mengeluarkan heels salah satu brand mewah ternama yang tentu saja akan membuat wanita mana saja menelan ludahnya. Sialan. Jadi Kristal bahkan sudah merencanakan ini? Inggrid kehilangan kata katanya, cukup lega karna memutuskan tidak mengganti bajunya setelah mendengar Kristal akan mengunjungi tempat terkutuk itu dengan Yse lalu memilih membatalkan makan malamnya bersama Ayahnya disalah satu hotel ternama dan berakhir membuntuti keduanya. "Gue ga mau tau!" "Apaan?" "Lo harus tanggung jawab kalau Kristal kenapa napa!" "Lah, ko gue?" Yse menyahut kebingungan, mendengus kesal dan memilih turun dari mobil mengekori Kristal yang turun lebih dulu tepat di pelataran gedung salah satu club ternama di Ibu kota itu. "Lo beneran kenapa sih? Beneran lagi depresi lo yah?" Gadis itu tak menyahut, membuka cepolan rambutnya lalu memoles bibirnya bahkan tanpa melihat cermin dan melangkah begitu saja memasuki gedung. Benar benar. Dengan setengah hati Inggrid kembali mengekori Kristal, gadis cantik yang mulai mencuri perhatian berpasang mata itu benar benar terlihat cantik malam ini. Bagaimanapun. Tubuh wanita dewasa itu tak mampu membohongi siapapun jika Kristal tampak seksi dengan dress bertali spageti nya, bahkan jauh saat mereka masih duduk dibangku sekolah menengah tak ada yang menyangkal jika Kristal tak perlu bersusah payah untuk terlihat cantik dengan tubuh idealnya. "Easy, ladies!" Yse yang baru saja memarkirkan mobilnya mendahului Kristal dan Inggrid yang sedang menunjukkan kartu pengenalnya, pria jangkung yang terlihat tampan dengan kemeja hitam senadanya dengan Kristal tentu mencuri lebih banyak lagi atensi orang orang disana. Brengsek! Inggrid memaki saat Yse akhirnya memilih Open Table dan mengambil tempat terdekat dengan lantai dansa, seolah tahu jika Kristal mungkin akan menggila malam ini. "Lo ngajak temen lo yah?" "Engga dong, malam ini waktu gue cuma ada buat Kristal." "Najis!" Kristal dan Inggrid menyahut bersamaan, membiarkan Yse membayar semuanya lalu merangkul Kristal masuki ruangan tamaram dengan suara bedebum keras memekakkan telinga itu. "Gimana?" "Apaan?" Kristal mengangkat wajahnya, menatap Yse yang lagi lagi menatapnya lamat lamat terlihat begitu terpesona dengan Kristal malam ini. "Lo bener bener cantik." Kristal mengangkat alisnya mendengar bisikan Yse tempat ditelinganya, menarik sudut bibirnya dan tersenyum percaya diri lalu mengibaskan rambutnya dengan dagu terangkat. "Gue emang cantik dari dulu kok!" Yse tertawa senang, benar benar ingin menjatuhkan kecupannya di pipi Kristal yang bertingkah menggemaskan dengan dress seksinya. Well, Yse sepertinya harus bekerja keras malam ini, karna berpasang mata itu sudah tampak kelaparan saat melihat kedatangan Yse dan Kristal. "Kalian ngapain, sih? Ayo, buru!" Inggrid setengah berteriak, melangkah lebih dulu ke meja mereka. "Are you ready?" Yse kembali menatap Kristal, gadis tampak serius dengan tatapan meyakinkan saat membuka suaranya. "Yes, i am!" ** Malam semakin larut, ruangan tamaram itu mulai semakin sesak dengan tubuh tubuh kepanasan yang sedang mengguncang lantai dansa. Sama seperti ucapan Kristal waktu lalu, gadis cantik yang semakin terlihat menggoda dengan keringat dipelipisnya, jatuh menyusuri leher jejang dengan anak anak rambut nakalnya lalu kebalik dress hitam yang membungkus dengan sempurna tubuh moleknya. Inggrid dan Yse bahkan tampak kewalahan saat gadis itu mulai meminta minuman yang lebih keras dari pada sekedar liqor berkadar rendah. "Kristal, stop!" Yse meraih gelas anggur ditangan Kristal setidaknya dia masih cukup waras untuk tidak membiarkan Kristal menyentuh gelas vodka nya. "Tapi-" "Istirahat dulu, okey?" Gadis itu tampak menurut, entah karna mulai mabuk atau mengantuk Yse tak ingin tahu. Benar benar. "Lo kok ikutan minum juga sih!?" Inggrid mulai protes saat melihat Yse yang memilih menghabiskan minumannya sebelum Kristal kembali berniat mengambil alih gelasnya. "Lah, kenapa?" "Awas aja yah lo kalau mabok, gue tendang dipinggir jalan!" Inggrid yang memilih tetap waras dan tidak menyentuh minuman jenis apapun itu kembali bersidekap dengan wajah yang masih saja ditekuk, tentu saja gadis itu datang hanya untuk mengawasi Kristal yang tiba tiba kembali dari tempatnya dan meninggalkan meja mereka. "Eh, lo mau turun lagi!?" Inggrid setengah menjerit sayangnya, Kristal tak lagi mendengarnya saat ia menjatuhkan kakinya dilantai dansa yang menyambutnya dengan sorakan penuh antusias. "Kristal, Astaga!" "Udahlah, biarin aja." "Enak aja lo!" Inggrid melemparkan tatapan mautnya pada Yse yang tampak santai menikmati minumannya, masih dengan tatapan yang tak lepas dari Kristal dilantai dansa. Menyesap minumannya sekali lagi, Yse yang berniat ikut bergabung dilantai dansa tiba tiba menghentikan langkahnya. Tatapannya jatuh pada seorang pria di sebrang ruangan yang tampak begitu marah dibawah cahaya tamaram dengan musik yang semakin menggila dengan hentakan keras memekakkan telinga. Ah, apa Pria itu mengenal Kristal? Talunggu Bukankah itu pria di Restoran semalam? "b******k!" Umpatan setengah histeris Inggrid membuat Yse menoleh, gadis yang mengikuti arah tatapan Yse karna tingkah tak biasanya itu kini menutup mulutnya dengan tatapan tak percaya. "Lo kenal sama dia?" "Anj-" Inggrid kembali membekap mulutnya yang segera meluncurkan makian tak beretika saat tatapannya masih tak lepas dari pria yang tampak begitu panas dengan setelan kemeja yang digulung memamerkan lengan lengan kokohnya. Brengsek. Inggris bergegas bangkit, menelan ludahnya susah payah lalu mulai mendesak Yse agar segera menjemput Kristal dari lantai dansa. "Cepet!" "Kenapa?" "Kita pulang!" "Ada apa, sih?" Inggris terlihat semakin panik saat pria disebrang ruangan itu tampak menahan dirinya dengan rahang mengeras dan membuka kancing teratas kemejanya sebelum mulai melangkah menuju kelantai dansa. Sialan! "Kita pulang, sekarang!" **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN