"Abang, Kara minta maaf ...." Sebetulnya Daaron juga mau bilang gitu, tetapi gengsi mengawali. Soalnya ini Dikara. Namun, syukurlah bocah itu duluan yang minta maaf. "Iya, maaf juga ... kamu jadi luka." Dikara menunduk, menatap lukanya. Lecet sedikit. Di mana saat itu, Bang Daaron berjongkok, sedang Kara duduk di sofa. Kemudian Bang Daaron meniup-niup lutut Kara yang terluka. E-eh? "Ini angin ajaib," katanya, menatap mata Dikara. "Bisa bikin luka kamu jadi nggak sakit lagi." Daaron pun kembali meniup-niup lutut Dikara. Melihat itu, Niska ikut bergabung. Meniup-niup. "Kamu ngapain?" Daaron heran akan sosok Niskala yang mengikuti aksinya. Dengan lugu Niskala menjawab, "Aku bantu mempelbanyak telpaan angin ajaibnya. Semakin banyak angin beltiup semakin cepat hilang lasa sakitnya. Bu

