(PART 19) Adakah yang lebih menyesakkan hati seorang laki-laki selain harga dirinya yang berserakan? Aku menatap langit hitam di atas balkon kamarku. Menatap ribuan cahaya bintang yang berserak di horizon luas yang melukiskan dengan sempurna salah satu keindahan ciptaan Tuhan. Semilir angin yang menyentuh pipi, tak membuat hatiku tenang. Sudah pukul sebelas malam anggita belum pulang. Bayangan perempuan itu bersama laki-laki lain di lobby hotel beberapa waktu itu sempurna membuat d**a bergolak. Aku murka. Maaf dan pengertian musnah seiring waktu. Aku memalingkan wajah, samar kudengar pintu kamar terbuka. Anggita pulang dengan kostum kekurangan bahan, wajahnya terlihat letih. Sedikit enggan dia langsung menghempaskan tubuh di atas kasur, melemparkan tas tangan dan membuka gawainya. T

