Bab 46

1819 Kata

Apa itu, Mas?” Ningsih mendongak dan memperhatikan sang kekasih. “Aku yakin Mami akan merestui kita jika kamu hamil,” ujar Hendro yakin. Mata Ningsih terbelalak seketika. “Tidak, Mas. Itu dosa,” jawab Ningsih menggeleng. “Hanya sekali aja, Sayang. Mas janji!” Hendro memohon sambil berlutut di hadapan gadis itu. “Kamu mau, kan, kita bersatu?” pintanya lagi memelas. Ningsih meluruh dengan wajah memberengut. Takut akan dosa, namun dia pun kalah pada rasa cinta. ** “Maaf, karena aku, kamu dulu menderita bersama Al. Aku pengecut, Maria. Maka mulai sekarang, aku akan mulai memperbaiki segalanya. Tidak ada kata terlambat untuk kata cinta, bukan?” Hendro menatap wanita di depannya lekat. Ningsih tersenyum. “Minggu depan aku akan menikahimu. Surat gugatan cerai untuk Rita sudah ak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN