Albany menaruh handuknya di jemuran, lalu pergi ke area kolam renang. Hatinya masih sedikit kacau. “Mas … ish, malah nggak denger.” Za menyusul suaminya yang duduk santai di kursi pinggir kolam. “MAsih marah?” tanya Za dengan wajah menyesal. Albany bergeming, hanya menatap kilau air kolam. “Maaas! Iih, bikin kesel aja. Jawab dong,” ujar Za dan memepet tubuh sang suami dan menyenggol-nyenggol tubuhnya. “Apaan?” Albany malah menyenderkan kepalanya di sandaran dan membuat tubuhnya terlentang. “Maaf, aku kan lupa.” Za berucap dengan wajah memelas dan tangan yang ditangkupkan di d**a. “Bukan masalah lupa.” Albany masih ketus. “Terus apa, dong?” Za menelengkan wajahnya dan menatap sang suami yang masih terlihat marah. “Masalahnya, kamu itu nggak pernah percaya sama aku. Kamu ing

