Tanpa terasa tiga Minggu sudah berlalu, aku sengaja cermin di dalam kamar aku tutupi dengan kain. Aku tidak ingin melihat bentuk tubuhku yang gemuk. Setiap hari Sam membimbingku berbagai macam olah raga dari yang ringan sampai yang berat, dia juga setiap hari memasak menu diet berbagai macam varian membuatku tidak bosan.
Aku berdiri di depan lemari, menatap baju olah raga yang tergantung di sana. Aku merasa bingung, karena celananya terasa kendor di pinggangku. Aku mencoba memakainya, dan memang benar, karetnya terasa sudah melar. Aku tidak percaya, baru seminggu aku memakai baju ini, dan karetnya sudah rusak?
Aku mencoba mengingat, kapan terakhir aku memakai baju ini. Aku yakin, aku memakai baju ini beberapa hari yang lalu dan karetnya masih belum melar.
Aku memutuskan untuk tidak memakai baju itu, dan mencari baju lain di lemari. Aku menemukan baju olah raga lain, yang lebih ketat dan nyaman. Aku memakainya, dan merasa lebih percaya diri.
Aku keluar dari kamar, dan melihat Sam sudah menunggu di ruang tamu. "Kamu siap, Alesya?" tanyanya, sambil tersenyum.
Aku mengangguk, dan menunjukkan baju olah ragaku yang baru. "Sam, aku ganti baju, karena celananya kendor," kataku.
Sam melihatku, lalu tersenyum. "Alesya, mungkin berat badan kamu sudah turun," kata Sam sambil mengangguk.
Aku terdiam sejenak, apa maksud Sam? Aku tidak percaya, aku sudah turun berat badan? Ini baru seminggu, mana mungkin cepat sekali turunnya.
"Sudahlah, Sam. Tidak usah menghiburku," elakku, sambil mencoba menyembunyikan rasa tidak percaya. Aku tidak percaya secepat itu berat badanku turun.
"Apa kamu tidak pernah bercermin?" tanyanya, sambil menatapku dengan ekspresi yang serius.
Aku menggelengkan kepala. "Aku tutup cerminnya dengan kain. Soalnya setiap melihat cermin aku merasa bayangan diriku sedang mengejekku."
Sam tersenyum lagi. "Ya sudah, nanti saja bercerminnya kalau kamu sudah memakai ukuran baju yang paling kecil," katanya, sambil mencoba menahan tawa.
Aku merasa sedikit tersinggung. "Sam, kamu menghinaku!" kataku, sambil mencoba menunjukkan ekspresi yang kesal.
Sam langsung serius. "Alesya, aku tidak menghina kamu. Aku hanya ingin kamu percaya diri," katanya, sambil mencoba menenangkanku.
Aku merasa bersalah dengan Sam, dia sangat baik. Aku tahu dia bersungguh-sungguh ingin membantuku kurus. "Sam, aku minta maaf. Mulai sekarang aku semakin semangat diet dan berolahraga," kataku dengan semangat yang membara.
Sam tersenyum, lalu menarikku keluar dari Villa. Kami berlari kecil di jalan setapak yang dikelilingi oleh hutan hijau yang rimbun. Suara burung mengiringi langkah kaki kami, menciptakan irama yang harmonis dengan detak jantungku. Udara pagi yang segar dan sejuk membuatku merasa lebih bersemangat.
Aku menghirup dalam-dalam udara pagi, merasakan kesegaran yang menyegarkan tubuhku. Matahari pagi yang mulai terbit di ufuk timur, memancarkan sinar emas yang menyinari hutan. Dedaunan yang basah oleh embun pagi, memantulkan cahaya matahari, menciptakan efek yang indah.
Aku juga bisa melihat dari kejauhan rumah-rumah penduduk yang tersebar di antara pepohonan. Asap yang keluar dari belakang rumah mereka, menunjukkan bahwa penduduk sudah mulai beraktivitas. Suasana pagi yang tenang dan damai, membuatku merasa lebih dekat dengan alam.
Sam berlari di sampingku, sambil tersenyum. "Kamu hari ini sangat cantik, Alesya," katanya, membuatku terkejut dan membuat langkahku berhenti. Sam yang masih berlari ikut berhenti, sambil menatapku dengan ekspresi yang biasa saja.
Aku merasa seperti tersengat listrik, saat Sam mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, hanya bisa menatap Sam dengan mata yang terbelalak. Apa yang terjadi? Kenapa Sam bisa mengatakan itu? Dan kenapa aku merasa seperti ini?
Aku mencoba untuk mengontrol diri, tapi tidak bisa. Aku merasa seperti berada di dalam ruangan tertutup yang membuatku tidak bisa bernapas.
"Apa dia tidak tahu, pujiannya itu membuat seluruh tubuhku lemas?" pikirku dalam hati, sambil mencoba untuk mengontrol diri.
"Ada apa?" tanya Sam, sambil menatapku dengan ekspresi yang bingung. Aku bisa melihat kekhawatiran di matanya, tapi aku tidak bisa menjawabnya.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala, sambil mencoba untuk tersenyum. "Tidak apa-apa, Sam. Aku hanya... aku hanya sedikit kelelahan," kataku, sambil mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Sam menatapku dengan skeptis, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangguk, lalu melanjutkan lari pagi kami. Aku mengikuti di belakangnya, sambil mencoba untuk mengontrol perasaan yang masih bergejolak di dalam hatiku.
Kami terus berlari, sampai kami melihat seorang bapak-bapak membawa kayu bakar. Sam menyapa bapak itu dengan sopan, "Mang, wilujeng enjing. Kumaha damang?"
Bapak itu membalas, "Wilujeng enjing. Alhamdulillah, damang. Kumaha anaking?"
Sam tersenyum, "Alhamdulillah, damang, Mang. Hatur nuhun."
Lalu kami melanjutkan lagi. "Sam, kamu mengenal bapak itu?" tanyaku penasaran.
"Kami sering bertemu, dan bapak itu sering mencari kayu bakar," jawabnya.
Aku mengangguk. "Eh, kita mau kemana?" tanyaku. Karena aku merasa kami semakin jauh dari villa.
"Aku akan mengajak kamu ke air terjun, di sana sangat indah," jawab Sam masih sambil berlari kecil.
Aku jadi penasaran, dan aku mempercepat langkahku untuk mengikuti Sam. Setelah beberapa menit berlari, kami akhirnya sampai di air terjun yang asri dan indah.
Aku terpesona oleh keindahan alam itu. Air terjun yang jatuh dari ketinggian, menciptakan suara gemuruh yang menenangkan. Aku bisa melihat ikan-ikan kecil berenang di sekitar air terjun.
Sam tersenyum, "Alesya, apa kamu suka?" tanyanya sambil melihat kearah air terjun.
Aku tersenyum, sambil mengangguk. "Sam, tempat ini sangat indah. Aku tidak pernah melihat air terjun yang seindah ini."
Sam tersenyum, "Aku senang kamu suka." Aku melepas sepatu olah ragaku, lalu menaikkan celana sebatas betis. Aku turun ke dalam air yang jernih dan dingin, merasakan kesegaran yang menyegarkan kulitku.
"Alesya, hati-hati licin," ucap Sam, suaranya terdengar lembut namun penuh perhatian.
"Sam, sini turun airnya sejuk sekali," ajakku, sambil menciprati Sam dengan air. Dia hanya tersenyum tipis, sambil memandangi ke depan seolah dia sedang memikirkan sesuatu.
"Sam," teriakku, tubuhku tiba-tiba berputar-putar di dalam air. Dan, aku merasakan sesuatu di bawah air, seakan ada sesuatu yang menyedot ke bawah. Aku mencoba untuk berteriak, tapi air sudah masuk ke dalam mulutku.
Sam terkejut melihatku hampir tenggelam. Wajahnya berubah menjadi putih, matanya melebar dengan kepanikan. "Alesya!" teriaknya dengan panik. Dia langsung terjun ke bawah, air menyembur ke atas saat dia memecahkan permukaan air.
Sam memeluk tubuhku, lalu menarikku menjauh dari pusaran air. Aku merasa tubuhku diangkat ke atas, dan aku bisa menghirup udara segar lagi. Aku batuk-batuk, mencoba untuk mengeluarkan air dari paru-paruku.
"Alesya, kamu tidak apa-apa?" tanya Sam, suaranya masih bergetar terlihat ketakutan. Dia memelukku erat, seakan tidak ingin melepaskanku lagi. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang masih berdebar-debar.
"Sam, aku tidak apa-apa," kataku, mencoba untuk menenangkannya. Sam masih memelukku, dia bahkan sampai menangis.
"Aluna, jangan tinggalkan aku lagi," bisiknya, suaranya tercekik oleh air mata.
Tubuhku menegang, tanpa sadar Sam mengira aku adalah Aluna. Sekarang, aku mengerti kenapa Sam baik, perhatian karena wajahku mirip dengan mendiang istrinya. Aku saja yang kepedean, mengira Sam menyukaiku.
"Sam, aku tidak apa-apa," kataku sambil mendorong pelan tubuhnya, menciptakan jarak diantara kami. Sam melepaskan pelukannya, lalu menatapku dengan mata yang masih basah. Dia seperti tersadar, lalu wajahnya berubah menjadi merah karena malu.
"Alesya... aku... aku maaf," katanya, suaranya terputus-putus. Aku bisa melihat rasa penyesalan di matanya.
Aku tersenyum. "Tidak apa-apa, Sam. Aku tidak apa-apa," kataku, mencoba untuk mengalihkan perhatian.
"Ya sudah, lebih baik kita pulang," ajaknya. Sam membantuku berdiri, dia sudah tidak kesusahan saat aku menarik tangannya seolah tubuhku ringan.
Saat pulang, kami tidak berlari. Kami jalan dengan santai, menikmati pemandangan alam yang masih segar setelah hujan semalam.
"Alesya, apa ada yang sakit?" tanya Sam, suaranya terdengar lembut. Aku bisa merasakan tatapannya yang penuh perhatian, tapi aku tidak ingin menatapnya.
"Tidak ada," jawabku dengan singkat, mencoba untuk menyembunyikan perasaan yang bergejolak di dalam hatiku.
Sam tidak bertanya lagi, dia hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanan. Kami berjalan dalam keheningan, hanya terdengar suara burung yang bernyanyi dan gemuruh air terjun yang semakin menjauh.
Aku harus bisa melupakan perasaan ini, karena aku tahu Sam tidak pernah melihatku sebagai Alesya, tapi sebagai Aluna.
Kami tiba di Villa, aku langsung masuk ke dalam kamar, menutup pintu di belakangku. Aku duduk di tepi ranjang, dan terus membodohi diri kenapa aku memiliki perasaan lebih ke Sam. Perhatiannya, sikapnya, semuanya membuatku sangat nyaman. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap Mas Hanz.
Setelah membersihkan diri, aku keluar dari kamar. Kulihat Sam sudah selesai memasak, dia tersenyum kearahku. Wajahnya begitu tampan dan bercahaya, membuatku hatiku berdebar.
"Alesya, kamu pasti sudah lapar," ucapnya, suaranya terdengar lembut dan menggodaku.
Aku tersenyum, mencoba untuk menyembunyikan perasaan yang bergejolak di dalam hatiku. "Ya, aku lapar," jawabku, suaraku terdengar normal.
Sam menarik kursi untukku duduk, tapi baru saja kami ingin memulai makan. Dari arah pintu terdengar suara ada yang mengetuk, kami saling memandang.
"Sam, siapa yang datang?" tanyaku penasaran.
Sam mengangkat bahunya, tidak tahu. "Alesya, sebaiknya kamu bersembunyi," perintahnya, dengan ekspresi serius.
Aku mengangguk setuju, aku berlari bersembunyi ke lantai atas, tempat gym. Aku bersembunyi di balik lemari, menahan napas dan mencoba untuk tidak mengeluarkan suara.
Sudah sepuluh menit berlalu, Sam tidak kunjung datang. Aku semakin penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di bawah. Aku mencoba untuk mendengarkan, tapi tidak ada suara apa-apa.
Saat aku sedang berpikir banyak kemungkinan, terdengar suara langkah kaki menaiki anak tangga. Aku terdiam, sambil menahan napas. Hatiku berdetak kencang.
"Alesya," panggil Sam, membuatku menarik napas lega. Aku cepat keluar dari persembunyian.
"Sam, siapa yang datang?" tanyaku penasaran, suaraku terdengar sedikit bergetar.
Sam menatapku dengan ekspresi yang serius. "Polisi," jawabnya, dengan suara pelan.